NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Masa Lalu

​Salju pertama musim dingin mulai turun di jalanan Zurich, menyelimuti atap-atap bangunan tua dengan lapisan putih yang bersih. Di dalam toko buku "The Quiet Corner", aroma kopi dan kertas tua memberikan rasa aman yang semu bagi Agil. Sejak telepon misterius itu terjadi seminggu yang lalu, Agil tidak pernah benar-benar bisa memejamkan mata dengan tenang.

​Laila, yang kini kandungannya memasuki bulan ketujuh, sering kali mendapati suaminya berdiri di balik jendela toko, menatap tajam ke arah trotoar yang sepi.

​"Mas, kopi ini sudah dingin," tegur Laila lembut, meletakkan cangkir di atas meja kayu. "Kau masih memikirkan siulan itu?"

​Agil berbalik, mencoba tersenyum meskipun matanya menunjukkan kelelahan. "Gito adalah pria yang logis, Laila. Jika dia selamat, ada alasan kenapa dia tidak muncul langsung di depan kita. Dan jika itu bukan dia... maka ada seseorang yang tahu terlalu banyak tentang kita."

​Tamu yang Tidak Diundang

​Pintu toko berdenting, menandakan seorang pelanggan masuk. Seorang pria tinggi mengenakan parca abu-abu tebal masuk sambil mengibaskan salju dari bahunya. Ia tidak menuju ke rak buku, melainkan langsung ke meja kasir tempat Agil berdiri.

​"Aku mencari buku tentang 'Sejarah Arsitektur Bunker di Asia Tenggara'," ucap pria itu dalam bahasa Inggris dengan aksen yang sangat netral.

​Jantung Agil berdegup kencang. Itu bukan permintaan buku biasa. Itu adalah kode yang sering digunakan Thorne untuk menandai subjek penelitian mereka. Agil tetap tenang, tangannya secara perlahan meraba laci di bawah meja di mana ia menyimpan sebuah pisau lipat taktis.

​"Kami tidak punya buku spesifik itu, Tuan. Tapi saya bisa memesankannya jika Anda mau," jawab Agil dingin.

​Pria itu membuka kacamatanya, menatap Agil dengan mata yang tajam dan tak asing. "Kau tidak mengenalku, Agil. Tapi aku mengenal ayahmu. Namaku Marc, aku adalah kurator dari apa yang kau sebut sebagai 'The Watcher'. Chen mengirimku."

​Pesan dari Singapura

​Agil memberi isyarat agar Laila masuk ke ruang belakang. Setelah Laila menghilang di balik tirai, Marc meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.

​"Konsorsium tidak mati bersama Thorne, Agil. Organisasi seperti itu tidak punya kepala tunggal; mereka adalah hidra," Marc menjelaskan dengan suara rendah. "Kematian Thorne menciptakan kekosongan kekuasaan, dan sekarang faksi yang lebih radikal—faksi 'Vanguard'—sedang mencoba memulihkan data Icarus. Mereka tahu tentang chip yang kau buang di tol Jakarta."

​"Aku sudah membuangnya. Chip itu sudah hancur di selokan," tegas Agil.

​"Masalahnya, mereka tidak percaya itu," Marc menunjuk ke amplop tersebut. "Di dalamnya ada foto-foto satelit dari sebuah lokasi di Pegunungan Alpen, hanya dua jam dari sini. Ada pergerakan unit Wraith di sana. Mereka sedang mencari sesuatu... atau seseorang."

​Agil membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat foto-foto pria berpakaian hitam yang sangat ia kenali. Namun, yang paling mengejutkan adalah satu foto tambahan: seorang pria yang wajahnya tertutup bayangan, duduk di sebuah kursi roda di dalam sebuah fasilitas medis rahasia.

​"Rina?" bisik Agil. "Tidak mungkin. Aku melihat ledakan itu."

​"Tubuhnya memang hancur, tapi teknologinya bisa mempertahankan nyawa yang paling rusak sekalipun. Vanguard membutuhkan ingatannya, dan mereka membutuhkan darahmu untuk menstabilkan sistem ekstraksi yang gagal di kapal dulu," Marc menatap Agil dengan simpati. "Kau tidak pernah benar-benar lepas dari mereka, Agil. Selama darah Baskoro mengalir di nadimu, kau adalah kunci biometrik berjalan."

​Strategi Bertahan Hidup

​Malam itu, Agil dan Laila berdiskusi di apartemen mereka yang hangat. Kedamaian yang mereka bangun selama enam bulan terasa seperti pasir yang tertiup angin.

​"Kita harus lari lagi, Mas?" tanya Laila, suaranya gemetar bukan karena takut, tapi karena lelah akan pelarian.

​"Tidak, Laila. Lari hanya akan membuat kita menjadi sasaran empuk," Agil menggenggam tangan istrinya. "Marc menawarkan sebuah solusi. Sebuah 'Benteng Perlindungan' milik The Watcher. Tapi itu artinya kita harus menghilang secara permanen. Dunia harus menganggap Agil dan Laila Baskoro benar-benar telah tewas."

​"Bagaimana dengan bayi kita?"

​"Dia akan lahir sebagai manusia baru, tanpa beban nama besar yang terkutuk itu," jawab Agil mantap.

​Tiba-tiba, suara kaca pecah terdengar dari ruang tamu. Sebuah kaleng gas air mata menggelinding masuk, mengeluarkan asap putih yang menyesakkan.

​"Wraith!" teriak Agil.

​Pertempuran di Apartemen Zurich

​Agil segera menarik Laila masuk ke dalam kamar mandi yang memiliki dinding beton tebal. Ia mengambil pistol Glock yang selama ini ia sembunyikan di dalam tangki air kloset.

​Dua sosok hitam masuk melalui jendela balkon, bergerak dengan presisi yang mengerikan. Mereka tidak menggunakan lampu, melainkan kacamata penglihatan malam. Agil melepaskan tembakan melalui celah pintu.

​DOR! DOR!

​Satu penyerang jatuh, namun yang satunya lagi melepaskan rentetan tembakan otomatis yang menghancurkan pintu kayu tersebut. Agil merunduk, menarik Laila lebih dalam ke sudut ruangan.

​"Agil! Keluar dan serahkan dirimu, atau istrimu akan kami jadikan subjek eksperimen menggantikan ibumu!" suara robotik dari alat pengubah suara terdengar dari ruang tamu.

​Tiba-tiba, sebuah suara siulan terdengar dari arah tangga darurat di luar apartemen. Tiga nada pendek, satu nada panjang.

​BOOM!

​Pintu apartemen diledakkan dari luar. Sesosok pria dengan jaket kulit tua dan masker hitam masuk sambil memberondongkan senapan serbu ke arah para anggota Wraith. Gerakannya cepat, brutal, dan penuh pengalaman.

​"Gito?" Laila berteriak penuh harap.

​Pria itu tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menoleh sekilas—bekas luka bakar hebat menutupi separuh wajahnya, namun matanya tetap sama. Mata seorang pelindung.

​Pelarian Terakhir

​"Ikuti aku! Cepat!" perintah Gito (atau sosok yang sangat menyerupainya).

​Mereka berlari menembus asap, keluar menuju tangga darurat. Di bawah, sebuah mobil van hitam sudah menunggu dengan mesin menyala. Marc berada di balik kemudi.

​"Cepat masuk!" Marc berteriak.

​Saat van itu melesat menjauh dari area apartemen, Agil menatap sosok pria yang menyelamatkan mereka. Pria itu kini membuka maskernya, menampakkan wajah yang hancur namun tenang.

​"Gito... bagaimana kau bisa selamat dari pusaran air itu?" tanya Agil dengan suara serak.

​"Air laut memang dalam, Pak Agil, tapi kemauan untuk menyelesaikan tugas jauh lebih kuat," jawab Gito dengan suara yang lebih parau dari biasanya. "Thorne tewas, tapi dia sempat mengirimkan sinyal darurat ke faksi Vanguard sebelum kapal itu tenggelam. Saya menghabiskan enam bulan terakhir untuk menyusup ke dalam jaringan mereka."

​"Jadi mereka tahu lokasi kami karena..."

​"Karena mereka memiliki sampel DNA Anda dari chip yang Anda buang. Chip itu tidak hancur, Pak. Mereka memungutnya dari selokan Jakarta. Mereka tidak butuh datanya, mereka butuh struktur biologis Anda untuk membangun 'Kunci Biometrik Sintetis'."

​Menuju Pegunungan Alpen

​Mobil van itu melaju menuju pegunungan. Agil menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah lingkaran setan yang tak kunjung usai. Rina masih hidup dalam kondisi yang mengerikan, Konsorsium berubah menjadi Vanguard, dan rahasia ayahnya masih menjadi incaran dunia.

​"Gito, ke mana kita akan pergi?" tanya Laila sambil membelai perutnya.

​"Ke sebuah tempat di mana matahari tidak pernah benar-benar terbit, Ibu," jawab Gito misterius. "Sebuah fasilitas bawah tanah di Alpen. Kita akan memberikan mereka apa yang mereka inginkan, tapi dengan cara kita sendiri."

​Agil menatap ke luar jendela, ke arah puncak-puncak gunung yang tertutup salju. Ia tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi babak terakhir. Ia bukan lagi hanya membela dirinya sendiri atau istrinya, tapi juga masa depan anaknya.

​"Laila," Agil berbisik. "Kita tidak akan lari lagi. Kita akan menghancurkan mereka sampai ke akarnya, kali ini selamanya."

​Di kejauhan, lampu-lampu helikopter Vanguard mulai terlihat menyisir pegunungan. Perburuan di Eropa telah dimulai, dan kali ini, Agil memiliki 'hantu' setianya kembali di sisinya.

1
ayu cantik
suka
Rhiy: Terima kasih Kak
total 1 replies
Yeni Nofiyanti
novel yang sangat bagus. cocok di filmkan💪😍
Rhiy: Makasih my reader, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!