Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadapi Dengan Kepala Dingin
Niken telah mengetahui rencana Anya secara detail Dia sangat puas dengan ide brilian yang dikemukakan oleh perempuan itu.
Walaupun disisi lain, Niken merasa ngeri. Untungnya, Orang gila seperti Anya berpihak kepadanya.
"Habis kau Nurmala. Kamu benar-benar akan hancur dan masuk penjara! Huahahahaha"
Niken merasa sangat senang sampai lupa menahan tawanya.
"Kenapa Kamu ketawa sendiri begitu?" Yusuf yang hendak pergi mengambil air minum didapur pun mengerutkan keningnya saat melihat Niken tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Nggak apa-apa, lagi nonton video lucu di tok-tok"
"Ck! malam ini bereskan barang-barang Kamu, besok subuh kita pulang ke Jakarta"
"Kok mendadak mas? Bukannya Kamu bilang mau di Bandung dulu selama beberapa hari?"
"Nggak jadi, soalnya weekend nanti ada acara penting"
"Acara apa?" Niken penasaran karena sebelumnya tidak ada pembicaraan tentang acara penting yang akan datang.
"Udahlah, jangan banyak tanya, Kamu mau ikut pulang enggak?" Yusuf bertanya dengan tidak sabar. Meski sudah mulai terbiasa, tapi Niken tetap merasa sakit hati. Yusuf akhir-akhir ini semakin kasar padanya, tidak ada lembut-lembutnya sama sekali, padahal Niken tengah hamil muda dan butuh lebih banyak kasih sayang.
"Ya ikutlah mas, kalo Aku nggak ikut Kamu terus Aku gimana pulangnya, masa Kamu tega mau ninggalin Aku di Bandung sendirian?"
"Ya udah makanya jangan banyak tanya. Ck! Bawel banget jadi perempuan. Nyebelin!"
Yusuf pun kembali ke kamarnya tanpa memperdulikan Niken lagi.
Sementara Niken, diam-diam segera menghubungi Anya, memberitahu tentang kepergiannya kembali ke Jakarta.
[Tenang saja. Kita masih punya banyak waktu. Santai saja]
Begitulah balasan dari Anya. Niken pun merasa lega.
Keesokan paginya,
Nurmala menemui Dewangga ke ruangannya, Dia bermaksud meminta izin untuk kembali lebih awal pada hari Jum'at nanti karena akan pergi ke Jakarta.
"Aku udah lama nggak ketemu anak-anak..Dan mas Yusuf bilang, Anak-anak mau ketemu sama Aku, jadi Aku mau izin Jum'at nanti Aku pulang lebih awal ya, setelah makan siang. dokter Anita udah bersedia gantiin Aku"
"Ok Kak, nggak masalah. Mau Aku temenin nggak?"
"Nggak usah, Kamu kan juga sibuk"
"Enggak kok, kebetulan Ergi juga pengen pergi ke Dufan. Gimana? Bareng sama Aku aja ya?"
"Mmm, tapi ada Retno juga loh"
"Nggak apa-apa kan jadi cuma ber 5, Aku, Kak Nurma, Kak Retno, Ergi sama baby sitter Ergi.
"Ok deh, kalau gitu nanti Aku kabari Retno"
"Ok. Oh iya, terus Bu Aminah nanti sama siapa Kak?"
"Sama Uwa nanti, Aku udah minta Uwa nginep sampai hari Minggu"
"Oh ya udah, yang penting Bu Aminah ada yang jagain" Ucap Dewangga seraya tersenyum. Nurma bisa merasakan ketulusan dari senyuman itu, dan sejujurnya Ia merasa terharu, karena Dewangga begitu memperhatikan Ibunya.
"Ngomong-ngomong Kak, apapun yang terjadi nanti saat ketemu Anak-anak, hadapi semuanya dengan kepala dingin. Aku yakin nanti ada yang bikin emosi. Tapi, Kak Nurma harus tetap tenang"
"Jangan khawatir, Aku udah ahli kok sekarang. Ngomong-ngomong, Dewa, maaf banget ya, Aku mau tanya, Kenapa adik ipar Kamu kayaknya benci banget sama Aku ya? Aku tahu dia posesif sama Kamu, tapi kan Dia nggak kenal sama Aku"
Mendengar pertanyaan Nurmala, Dewangga menarik nafas dalam-dalam, merasa tidak enak hati.
Dia sudah lama merasa bersalah dan tidak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa atas perbuatan Anya, karena takut Ergi akan terkena imbasnya, juga karena keluarga Anya dan Reva bukanlah orang biasa. Mungkin jika Dewangga sendirian Dia tidak akan takut akan apapun dan bisa melakukan segalanya tanpa memikirkan resikonya asal bisa menghukum Anya.
Tapi, Dewangga memikirkan orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya dan putra semata wayangnya yang bisa saja dalam bahaya jika Dia bertindak tanpa persiapan yang benar-benar matang.
Namun sekarang, ada Nurmala juga. Yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga Anya, dan juga tidak tahu apa-apa.
Jika Dewangga juga tidak bisa melindungi Nurmala, seperti saat Dia kecolongan hingga tidak bisa menyelamatkan Reva, maka Ia benar-benar tidak berguna sebagai seorang Pria.
"Anya itu berbahaya kak, Dia memiliki gangguan mental, Dia pernah di vonis skizofrenia dan juga bipolar disorder. Keluarganya sudah melakukan pengobatan secara rutin, itu sebabnya Anya jarang berada di dalam negeri, Dia lebih sering di luar negeri setiap kali penyakitnya kambuh. Salah satu alasan kenapa Dia bisa lolos dari semua kejahatan yang pernah dilakukan meskipun sudah pernah kali dilaporkan oleh beberapa korbannya karena pembullyan saat kuliah, penyiksaan ART, membunuh hewan peliharaan tetangganya dan masih banyak lagi, ya itu, karena dia divonis mengalami gangguan mental. Setiap terkena kasus, keluarganya akan melemparnya ke luar negeri dengan alasan diobati, lalu memberi uang pada oknum-oknum yang berkaitan agar anaknya bisa terbebas dari tuntutan"
"Ya Allah, sampai separah itu?"
"Ya, dulu Aku juga mengancam akan mengusut kasus kematian Reva. Tapi Mamanya Reva mengancam balik kalau Aku melanjutkan kasusnya, Mereka akan membawa Ergi"
"Astaghfirullah, kok Mereka begitu sih, Skizofrenia kan bahaya banget, bisa aja nanti keluarganya sendiri yang celaka. Itu kan harus diobati secara rutin sampai benar-benar bisa terkontrol, itu juga masih ada kemungkinan kambuh, lah ini malah dibiarin..."
"Yang penting sekarang Kak Nurma udah tahu, jadi kedepannya sebaiknya hindari Dia, apalagi, kalau boleh jujur, Anya cemburu sama Kak Nurma"
"Cemburu?sama Aku? Cuma karena ketemu Kita pas mau makan seafood? Yang bener aja..."
Nurma masih tidak tahu kalau Anya sudah membuntuti Dewangga ke acara reuni juga.
Ehem!
Dewangga berdehem beberapa kali untuk meringankan ketegangan di hatinya. Dia takut untuk bilang sejujurnya pada Nurma kalau Dia menyukai Nurma, dan Anya tahu itu.
Dewangga takut Nurma akan marah dan menjauhinya. Dia tidak mau kalau sampai itu terjadi. Saat ini, Nurma adalah salah satu penyemangat hidupnya selain Ergi. Cahaya hidup yang datang padanya setelah sekian lama merasa kesepian dalam kegelapan setelah Reva pergi untuk selamanya.
"Maaf ya kak, ini semua karena Kak Nurma dekat denganku, jadi..."
"Heiiii, jangan begitu! Ini bukan salah Kamu, tenang aja, Aku bukan orang yang lemah, lagipula ada Allah SWT, jangan takut, selagi kita tidak berbuat jahat, insya Allah, Allah SWT akan selalu melindungi Kita dari marabahaya apapun, Ok?"
"Ya, Insya Allah. Makasih kak udah mau ngertiin"
"Udahh jangan begitu, lagipula Aku dan Ibu juga sayang banget sama Ergi yang udah bikin Ibuku ceria lagi, dan rumahku jadi lebih berwarna, itu semua kan berkat persahabatan Kita..."
Sahabat....
Nggak apa-apa, pertama-tama sahabat, Insya Allah lama-lama bakal naik tingkat.
Dewangga mencoba menyemangati diri sendiri. Dia tidak boleh menyerah untuk meyakinkan Nurmala dengan ketulusan cintanya!
memang ga akan ada solusinya kalo kasus diserahkan kepihak berwajib lebih baik hukum rimba yang berjalan 😁