Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Raja Reruntuhan dan Pesan dari Neraka
Bab 22: Raja Reruntuhan dan Pesan dari Neraka
Matahari sore di Trowulan bersinar merah darah, mewarnai debu bata dan tubuh-tubuh yang terkapar di depan Candi Bajang Ratu.
Dua puluh prajurit elit Elang Hitam—pasukan yang ditakuti di seluruh kekaisaran—kini tak lebih dari onggokan zirah penyok yang mengerang kesakitan. Mereka hidup, tapi harga diri mereka telah mati.
Bara berdiri di atas tubuh Kapten Raka yang pingsan. Dia menatap wajah kapten itu dengan ekspresi datar, seolah sedang melihat serangga yang menarik.
"Bunuh mereka semua, Mitra," hasut Garuda. "Jangan tinggalkan saksi. Mereka akan kembali dengan pasukan lebih besar."
"Justru itu," balas Bara dalam hati. "Jika mereka hilang tanpa jejak, Kekaisaran akan mengirim tim investigasi rahasia yang merepotkan. Tapi jika mereka pulang dengan membawa 'cerita horor', Kekaisaran akan ragu. Ketakutan adalah senjata pencegah yang lebih efektif daripada kematian."
Bara berjongkok. Dia melucuti senjata Raka—sebuah pedang Katana panjang dengan mata pisau biru—dan mengambil Kristal Komunikasi (Sound Stone) yang tergantung di sabuknya.
Bara juga mengambil dompet Raka. Lumayan, isinya penuh koin emas kekaisaran.
"Bangun," perintah Bara, menendang rusuk Raka pelan tapi menyalurkan sedikit Prana panas.
Raka tersentak bangun, terbatuk darah. Matanya membelalak saat melihat wajah Bara—atau lebih tepatnya topeng perak itu—tepat di depan hidungnya.
"K-kau..."
"Sampaikan salamku pada Tuanmu di Istana," bisik Bara. "Katakan pada mereka: Api Wijaya belum padam. Jika mereka mengirim anjing lagi ke sini, aku akan mengirim balik kepala mereka dalam kotak kado."
Bara berdiri, lalu berbalik badan.
"Kalian punya waktu 10 menit untuk merangkak pergi dari wilayahku. Lewat dari itu... aku akan berubah pikiran."
Raka, dengan sisa harga dirinya yang hancur, memberi sinyal pada anak buahnya yang masih sadar. Mereka saling papah, tertatih-tatih lari meninggalkan reruntuhan candi, membawa teror yang akan menghantui mimpi mereka selamanya.
Suro Gada dan sisa Geng Tengkorak Besi sedang bersembunyi di balik tembok runtuh, sekitar satu kilometer dari candi. Mereka tadi mendengar suara ledakan dan melihat kilatan cahaya.
"Bos, suaranya sudah berhenti," kata salah satu anak buah. "Apa si Topeng Monyet itu sudah mati dimakan Penjaga?"
"Pasti mati," Suro meludah. "Atau mati dibunuh pasukan Elang Hitam yang tadi lepas. Ayo kita cek. Siapa tahu ada sisa mayat yang bisa dijarah. Topeng peraknya lumayan tuh."
Geng preman itu bergerak mendekati Bajang Ratu seperti burung nasar mengincar bangkai.
Namun, saat mereka sampai di pelataran candi, rahang mereka jatuh ke tanah.
Tidak ada mayat Bara. Yang ada adalah kawah-kawah kecil bekas ledakan, tanah yang hangus, dan jejak kaki yang membara.
Dan di tengah kehancuran itu, Bara duduk santai di atas potongan kepala Golem Terakota, sedang membersihkan Kujang-nya dengan kain sutra.
Suro Gada gemetar. "D-dia... dia masih hidup?"
Bara menoleh. Tatapan mata emas di balik topeng perak itu membuat lutut Suro lemas seketika.
"Ah, Suro. Kebetulan sekali," sapa Bara ramah. "Aku butuh tenaga angkut."
Suro ingin lari, tapi kakinya dipaku ketakutan.
"K-kau... kau mengalahkan Elang Hitam?" tanya Suro gagap.
Bara melempar pedang Kapten Raka ke kaki Suro.
"Itu suvenir buatmu. Pedang Petir tingkat Madya. Harganya bisa buat beli sepuluh nyawamu."
Suro menatap pedang itu. Dia tahu barang bagus saat melihatnya. Ini senjata perwira tinggi!
"Apa... apa mau Tuan?" Suro berlutut. Kali ini bukan karena terpaksa, tapi karena naluri bertahan hidup. Di Trowulan, kau mengikuti yang terkuat. Dan orang ini baru saja menghajar Pasukan Elang Hitam sendirian. Dia adalah Predator Puncak yang baru.
"Aku butuh mata dan telinga," kata Bara, berjalan mendekat. "Mulai hari ini, Geng Tengkorak Besi bubar."
Anak buah Suro kasak-kusuk ketakutan.
"Mulai hari ini," lanjut Bara, meletakkan tangannya di bahu Suro. "Kalian adalah Mata Trowulan. Tugas kalian bukan memalak orang miskin. Tugas kalian adalah mengawasi setiap pergerakan Elang Hitam dan Catur Wangsa di wilayah ini."
"T-tapi Tuan... kami cuma preman pasar..."
"Dulu aku juga cuma pelayan," potong Bara. "Sekarang lihat aku."
Bara mengeluarkan kantong emas hasil jarahan Raka. Dia melemparkannya ke anak buah Suro.
"Ini gaji bulan pertama. Tiga kali lipat dari hasil memalak kalian setahun. Ambil, atau mati."
Para preman itu berebutan mengambil emas dengan mata berbinar. Loyalitas mereka mudah dibeli, tapi ketakutan mereka pada Bara yang akan menjaganya tetap setia.
"Suro," panggil Bara. "Siapkan kuda tercepat. Aku harus kembali ke Dermaga Karang."
"Siap, Bos Besar!" Suro hormat dengan semangat 45.
Malam itu, Bara berkemah sebentar di pinggir hutan jati sebelum melanjutkan perjalanan.
Dia mengeluarkan Kristal Komunikasi milik Kapten Raka. Benda itu terus berkedip merah sejak tadi sore.
"Itu sandi darurat militer," kata Garuda. "Seseorang mencoba menghubungi Raka."
Bara mengalirkan sedikit Prana ke kristal itu.
Sebuah hologram kecil muncul. Wajah seorang pria tua dengan bekas luka bakar di leher.
Ki Rangga Agnimara.
Bara terdiam. Dia tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi secepat ini. Ternyata Raka adalah "anjing peliharaan" pribadi Ki Rangga di dalam militer.
Suara Ki Rangga terdengar, direkam sebelumnya:
"Kapten Raka. Bagaimana status perburuan di Trowulan? Aku tidak peduli kau dapatkan kepalanya atau tidak. Prioritas berubah."
Wajah Ki Rangga di hologram itu terlihat bengis, matanya merah menahan gila.
"Anjani dan si tua Bangka Seta mulai mencurigai keterlibatanku dengan Elang Hitam. Mereka mencoba melindungi Kelas Awan. Cih. Percuma."
Bara mencengkeram kristal itu erat-erat.
"Aku sudah mengirim 'Hadiah Perpisahan' untuk sekolah terkutuk itu. Besok malam, saat Gerhana Bulan Merah, segel penahan siluman di Hutan Maya akan 'rusak secara tidak sengaja'. Ribuan siluman akan turun ke asrama murid rendahan itu."
Ki Rangga tertawa, tawa yang kering dan jahat.
"Biarkan mereka dimakan habis. Tanpa saksi, tidak ada kejahatan. Kembali ke markas segera setelah kau mendengar ini. Out."
Hologram mati.
Hening.
Angin malam terasa membeku di sekitar Bara.
"Bajingan gila..." desis Bara. Suaranya rendah, tapi tanah di sekitarnya mulai menghitam hangus.
Ki Rangga bukan hanya ingin membunuh Bara. Dia ingin melakukan Genosida satu kelas hanya untuk menutupi jejak dan memuaskan dendamnya. Ribuan siluman Hutan Maya? Itu akan meratakan asrama Kelas Awan dalam hitungan menit. Jaka, Kirana, Sutejo... mereka tidak akan punya kesempatan.
"Mitra," suara Garuda terdengar serius. "Kau tidak akan sempat. Kita butuh dua hari perjalanan untuk kembali ke Lembah Kabut. Gerhana Bulan Merah itu besok malam."
Bara berdiri. Aura emasnya meledak vertikal, membakar tajuk pohon jati di atasnya.
"Kita akan sempat," kata Bara.
Dia mengeluarkan semua sisa Batu Meteorit Wesi Winge dari sakunya.
"Garuda, kau ingat teknik terbang yang kau banggakan itu? Sayap Api?"
"Ingat. Tapi tubuh manusiamu tidak akan kuat menahan gesekan udaranya. Kau akan terbakar habis sebelum sampai."
"Tidak jika aku membuat pelindung," Bara meletakkan batu meteorit itu di dadanya. Dia mulai merapalkan mantra terlarang yang dia improvisasi dari kitab ibunya.
Dia akan melebur meteorit itu langsung ke kulit punggungnya, menjadikannya zirah alami untuk menahan kecepatan supersonik.
"Sakit sedikit tidak masalah," mata Bara menyala nekat. "Daripada aku harus melihat mayat adikku lagi."
"Teknik Terlarang: Manunggal Raga - Zirah Sayap Langit!"
Malam itu, hutan Trowulan mendengar teriakan kesakitan yang mengerikan, diikuti oleh ledakan cahaya yang melesat ke angkasa, membelah langit malam seperti komet emas yang terbang melawan takdir.
Elang telah lepas landas. Dan dia membawa neraka bersamanya untuk Ki Rangga.
Sementara itu, di Perguruan.
Anjani berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan yang mulai berwarna kemerahan. Perasaannya tidak enak. Kucing-kucing di asrama gelisah, dan burung hantu tidak berbunyi.
"Ada yang salah," gumamnya.
Dia melihat ke arah hutan belakang. Kabut ungu di sana... berputar aneh. Terlalu pekat. Dan pelindung magis yang biasanya bersinar biru samar, kini berkedip-kedip lemah.
"Ayah... Ki Rangga..." Anjani mengepalkan tangannya. "Apa yang kalian rencanakan?"
Dia mengambil pedangnya. Dia tidak bisa tidur. Dia harus memeriksa asrama Kelas Awan.
Di sana, Kirana sedang tidur memeluk Kujang Kecil pemberian Bara, tidak menyadari bahwa di balik pagar hutan, ribuan mata merah sedang mengintip, menunggu sinyal untuk pesta makan malam.
---
Glosarium & Catatan Kaki Bab 22
Kristal Komunikasi (Sound Stone): Alat komunikasi jarak jauh berbasis sihir suara. Mahal dan biasanya hanya dimiliki militer atau pejabat tinggi.
Gerhana Bulan Merah: Fenomena alam yang memperkuat energi Yin (kegelapan/siluman). Saat gerhana ini, siluman menjadi 3x lebih agresif dan kuat.
Manunggal Raga (Body Fusion): Teknik ekstrem menyatukan benda asing (logam/artefak) ke dalam tubuh biologis secara paksa. Memberikan kekuatan instan tapi sangat menyakitkan dan berisiko merusak tubuh permanen.