Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10.
Lara mengambil kotak p3knya, lalu mengolesi betisnya yang terluka dengan antiseptik.
Bayangan Ayahnya yang selalu marah padanya, dan nada lembut munafik Ibu tirinya membuat raut wajahnya menjadi dingin seketika.
Sekarang ia sudah terbebas dari mereka, dan tidak akan sering lagi berhadapan untuk memuaskan rasa tidak suka mereka padanya.
"Halo!" sahut Lara mengangkat ponselnya yang bergetar.
"Lara, kamu sedang apa? Ayo datang kemari bergabung dengan kami!!"
Terdengar suara sahabat Lara, Olivia, dari dalam ponselnya.
"Baik, aku akan datang! kamu kasih alamatnya padaku!" jawab Lara.
Lara tersenyum melihat alamat yang diberikan Olivia, setelah ia menutup panggilan Olivia.
Alamat sebuah Galeri.
Olivia memiliki hobi melukis, mungkin sahabatnya itu sudah memiliki beberapa lukisan yang telah ia pamerkan pada sebuah Galeri.
Sama sepertinya yang memiliki bakat mendesain perhiasan sejak ia duduk di bangku SMA.
Ia mengambil jurusan Desain produk, dan saat ia berniat ingin melanjutkan bakatnya lebih spesifik lagi, ia jatuh cinta pada David.
Bakatnya itu terpaksa ia simpan, karena tidak ingin berjauhan dari David.
Ia ingin lebih fokus mengejar David, dan menjadi istri terbaik bagi David.
Harapan yang ia pikir akan terwujud, ternyata sampai sepuluh tahun berlalu, David tidak pernah meliriknya sedikitpun.
Masa muda yang sia-sia terbuang begitu saja, dan bakatnya yang seharusnya sudah bersinar saat ini hilang begitu saja.
Lara menghela nafasnya.
Ia sepertinya harus menata kembali kehidupannya yang telah terbuang begitu saja, dan akan melanjutkan kembali bakatnya yang berharga.
Ia berencana akan membuka pameran perhiasannya seperti Olivia, setelah ia melanjutkan kuliah Desainnya ke luar negeri.
Sementara itu di vila Lorenzo.
David yang menaruh rasa marah, dan benci pada Lara, pulang ke vilanya dengan wajah yang terlihat begitu dingin.
Dengan tubuh yang setengah mabuk, karena baru saja minum bersama rekan bisnisnya, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Ia kemudian berteriak memanggil Lara.
"Lara! ambilkan aku minum! cepat!!"
Seseorang datang membawakan apa yang ia teriakkan, "Ini air minumnya, Tuan!"
Mata David yang terpejam dengan kepala terkulai bersandar pada sandaran sofa, seketika terbuka begitu mendengar suara, yang tidak ia harapkan untuk datang membawakan air minum padanya.
"Kenapa kamu yang membawakan air minumnya! mana Lara, suruh dia yang datang membawakannya padaku, cepat!!!"
David kembali menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa, dan memejamkan kembali matanya, karena kepalanya yang terasa begitu sakit.
Cindy yang mendengar teriakan David turun dari lantai dua, dan mendekati Giana yang masih berdiri di tempatnya.
"Kemarikan gelas air minumnya, kamu pergilah! biar aku yang memberikannya padanya!" kata Cindy mengambil alih gelas air minum dari tangan Giana.
Giana tanpa menjawab memberikan gelas itu pada Cindy, lalu berlalu dari meninggalkan ruang utama vila.
Dengan pelan Cindy meletakkan bokongnya duduk di samping David, "Kamu kenapa? apakah ada masalah di kantor?" tanyanya.
Mata David seketika terbuka begitu mendengar suara Cindy, yang tidak ia harapkan sama sekali berada di vila itu.
Ia sampai nyaris melompat dari duduknya melihat Cindy duduk di sampingnya, dengan raut wajah perhatian memandangnya.
Sebenarnya inilah selama ini yang ia inginkan.
Cindy menjadi istrinya, dan tinggal di vilanya sebagai Nyonya Lorenzo, bukan Lara!
Tapi, kenapa ia merasa ada perasaan asing melihat Cindy menyambutnya pulang, dan memberikan air minum padanya.
"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya David memandang keheranan pada Cindy.
Pertanyaan yang tidak masuk akal, yang membuat Cindy seketika membeku ditempatnya memandang tidak berkedip pada David.
"A.. apa katamu?" tanyanya dengan mata bergerak-gerak memandang nanar wajah David, "Kenapa kamu bertanya seperti begitu padaku?"
Kepala David yang terasa pusing, dan matanya yang redup setengah mabuk seketika terbuka lebar mendengar pertanyaan bingung Cindy.
David mengedipkan matanya, "Oh, eh.. itu, maksudku.. kamu kan seharusnya belum pindah ke sini, karena perempuan itu belum pindah dari sini!" jawab David gelagapan.
"Nyonya sudah pindah setelah Tuan dan Nyonya Lara selesai mengurus surat perceraian kalian berdua, Tuan!" sahut Lidia menjawab apa yang dikatakan David.
"Apa?!"
David spontan bangkit dari duduknya begitu mendengar jawaban Lidia.
Ia merasa tidak percaya, kalau Lara pergi begitu saja meninggalkan vila Lorenzo.
Selama sepuluh tahun ini, Lara begitu perhatian memelihara vila dengan baik.
Tidak mungkin ia pergi meninggalkan vila, yang sudah ia anggap seperti rumahnya sendiri begitu saja.
"Tidak mungkin! bukankah dia bilang tiga hari lagi baru akan pindah dari sini?!"
"Nyonya Lara bilang, dia tidak layak lagi untuk berlama-lama tinggal disini, karena Nyonya rumah ini seharusnya Nona Cindy!" jawab Lidia.
"Huh, ternyata sadar diri juga dia sudah mengambil posisiku di vila ini!" kata Cindy mendengus dingin.
"Tidak! tidak mungkin!!"
David merasa tidak terbiasa dengan keadaan, yang tiba-tiba berubah seperti ini tanpa adanya Lara di vila, untuk ia tuntaskan rasa kesalnya setiap pulang ke vila.
Ia ingin melampiaskan lebih banyak lagi amarahnya pada Lara, sampai Lara berlutut memohon maaf padanya.
David berlari menaiki anak tangga.
Ia harus memastikan sendiri keberadaan Lara, apakah memang benar ia sudah meninggalkan vila.
Melihat David yang begitu panik mendengar Lara telah pergi pindah dari vila Lorenzo, tatapan mata Cindy seketika tidak senang melihat David yang berlari menaiki anak tangga.
"Sialan kamu Lara! David sangat mencintai ku, tapi kenapa dia bisa menjadi panik mendengar kamu pergi! sepertinya aku harus melakukan sesuatu padamu, agar David tidak pernah lagi mengingat mu!!" gumam Cindy dengan penuh rasa benci membayangkan wajah Lara.
Sementara David yang telah sampai di depan pintu kamar Lara, dengan cepat tangannya membuka pintu kamar.
Lalu ia menghambur masuk ke dalam kamar Lara.
Matanya dengan nanar melihat isi kamar yang terasa begitu sepi.
David melihat tempat tidur di tata dengan rapi, tapi ia tidak melihat barang-barang Lara di meja kecil di samping tempat tidur.
Ia bergegas melihat isi lemari pakaian Lara, dan ia pun tidak melihat satupun pakaian Lara di dalam lemari tersebut.
Tembok kamar juga terasa kosong, yang ia ingat Lara menggantung foto pernikahan mereka.
"Ada apa denganmu, David?! apa kamu tidak rela telah menceraikan Lara?!"
Tiba-tiba Cindy sudah berada di ambang pintu kamar Lara, memandang David dengan tatapan yang terlihat kecewa pada David.
David tersadar dengan kehadiran Cindy, yang membuat ia pun merasa bersalah pada Cindy.
"Tidak, aku.. aku hanya... !"
"Jangan katakan, kalau kamu jatuh cinta padanya!!" nada suara Cindy seketika naik mengutarakan kecurigaannya melihat rasa panik David memeriksa kamar Lara.
"Tidak! bagaimana mungkin aku jatuh cinta padanya! perempuan yang tidak tahu malu sepertinya, yang sudah memisahkan kita selama bertahun-tahun lamanya!!"
Amarah David seketika tersulut mendengar apa yang dikatakan Cindy.
Ia sangat mencintai Cindy, wanita yang menolongnya saat ia terjatuh ke dalam sebuah kolam.
Saat itu ia masih duduk di bangku kelas tujuh, kakinya terluka parah karena terjatuh dari atas tembok.
Ia melarikan diri dari rumah, karena Ayahnya tidak memperbolehkannya bergabung dengan teman-temannya yang nakal.
Kalau bukan karena pertolongan Cindy, ia pasti sudah mati di dalam kolam itu.
Bersambung.........