Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Balik Arus
Every tidak lagi terlihat seperti bidadari kampus. Rambutnya lepek, wajahnya coreng-moreng oleh tanah, dan jaket kebesaran yang ia pakai sudah basah kuyup. Namun, ia bergerak seperti mesin. Ia membagi tim BEM menjadi dua: satu untuk dapur umum dan satu untuk distribusi medis.
"Ibu, minum ini dulu. Jangan dipaksakan mencari barang sekarang, air sungai masih bisa naik lagi," ucap Every tegas kepada seorang ibu. Meski nada bicaranya masih terdengar seperti memerintah, tangannya sangat lembut saat memberikan botol air mineral.
"Terima kasih, Neng Cantik... tapi rumah saya..."
"Rumah bisa dibangun lagi. Kalau Ibu sakit, siapa yang urus anak Ibu?" Every memotong tajam, lalu ia menoleh ke arah River yang sedang menurunkan generator. "River! Generatornya jangan ditaruh di sana! Tanah itu masih labil, cari permukaan yang lebih keras atau alat itu bakal tenggelam!"
River menghapus keringat di wajahnya dengan lengan baju, menatap Every dengan kekaguman yang mulai sulit ia sembunyikan. "Siap, *My Queen*. Galak lo sangat membantu di sini."
Tiba-tiba, suara baling-baling helikopter yang memekakkan telinga merobek langit di atas desa. Angin kencang yang dihasilkan membuat tenda-tenda darurat yang baru dipasang bergoyang hebat. Debu beterbangan ke mana-mana.
"Siapa lagi si bodoh yang bawa helikopter ke zona bencana?!" umpat Every sambil melindungi matanya dari debu.
Helikopter berwarna perak mengkilap itu mendarat di satu-satunya lahan kering yang tersisa—yang seharusnya digunakan untuk pendaratan medis darurat. Pintu terbuka, dan Axel Ammerson turun dengan pakaian outdoor bermerek yang masih licin, lengkap dengan kacamata hitam dan senyum menawannya. Di belakangnya, beberapa orang membawa kamera profesional untuk mendokumentasikan "aksi kemanusiaan"-nya.
"Every! Kau baik-baik saja?" Axel berlari kecil menghampiri Every, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dibuat-buat. "Lihat dirimu... kau kotor sekali. Aku sudah bilang, jangan ikut kelompok River. Aku membawa tim medis terbaik dan pasokan makanan hangat untukmu."
Every menepis tangan Axel yang hendak menyentuh bahunya. Matanya berkilat penuh amarah yang lebih panas dari biasanya.
"Axel, apa lo punya otak?" suara Every dingin, bergetar karena emosi. "Lo mendarat di sini, bikin debu masuk ke luka penduduk yang baru gue bersihkan, hampir merubuhkan tenda pengungsian, dan lo cuma bawa kamera buat konten?"
"Every, aku hanya ingin memastikan dunia tahu kalau kau memimpin ini dengan baik—"
"Dunia nggak perlu tahu! Penduduk di sini perlu makan!" Every maju satu langkah, menunjuk hidung Axel. "Bawa helikopter konyol lo itu pergi dari sini sekarang. Daripada buat gaya-gayaan, suruh pilot lo angkut orang yang luka parah ke kota. Kalau nggak, gue bakal hancurin kamera anak buah lo itu satu per satu."
River berjalan mendekat, berdiri di samping Every dengan tangan bersedekap. Ia meludah ke samping, menatap Axel dengan tatapan meremehkan.
"Dengar kata Ketua BEM kita, Xel. Helikopter lo itu berisik dan bikin mual. Di sini kita butuh otot, bukan pose majalah," sindir River. "Atau lo mau gue bantu pilot lo buat lepas landas secara... paksa?"
Axel tampak pucat. Ia melihat ke sekeliling; para mahasiswa BEM dan anggota komunitas motor River menatapnya dengan pandangan tidak suka. Ia menyadari bahwa di tempat yang penuh lumpur ini, setelan jas dan uangnya tidak memiliki nilai tukar yang lebih tinggi dari keberanian Every dan kekuatan River.
"Baiklah, Every. Aku akan... membantu evakuasi medis dengan helikopter ini," ucap Axel, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah jatuh ke lumpur.
"Bagus. Cepat gerak!" Every membentak, lalu berbalik mengabaikan Axel sepenuhnya.
Saat Axel kembali ke helikopternya dengan wajah kesal, River mendekati Every. Ia melihat Every sedikit limbung karena kelelahan. Tanpa banyak bicara, River membuka tutup botol air mineral dan menyodorkannya ke bibir Every.
"Minum, Eve. Lo baru saja mengusir pangeran berkuda perak lo demi penduduk desa. Malaikat atau bukan, lo benar-benar pemimpin yang gila."
Every menerima botol itu, meminumnya hingga separuh, lalu menatap River dengan mata yang masih tajam namun sedikit lebih lembut di bagian tepi.
"Gue bukan malaikat, River. Gue cuma nggak suka ada orang bodoh yang merusak kerja keras gue," Every mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Dan kalau lo berani panggil gue Eve sekali lagi di depan penduduk... gue bakal bikin lo mandi lumpur lebih dalam dari ini."
River tertawa lepas, sebuah tawa yang tulus dan menghangatkan suasana di tengah duka. "Iya, iya, Tuan Putri. Ayo, masih ada sepuluh truk lagi yang harus kita bongkar."
Mereka kembali bekerja berdampingan. Di tengah reruntuhan, di antara lumpur yang mengotori pakaian jutaan rupiah, Every Riana menyadari satu hal: ia mulai menikmati setiap detik ia menjadi "musuh" bagi River Armani.
......................
Malam turun di desa Sukamaju dengan suhu yang merosot tajam. Listrik masih mati, hanya ada cahaya dari generator dan api unggun kecil di beberapa titik. Every masih bersikeras memeriksa daftar distribusi obat-obatan, meski wajahnya sudah sepucat kertas dan napasnya mulai pendek-pendek.
"Every, istirahat. Lo sudah kerja enam belas jam tanpa henti," tegur wakil ketua BEM,
"jangan bikin jumlah korban bencana nambah, dengan lo yang egois, kalo lo tumbang pun lo akan nyusahin relawan lain." suara River kini tak lagi berisi ejekan, melainkan peringatan keras yang terselubung.
"Gue bilang... gue nggak apa-apa," jawab Every parau. Suaranya nyaris hilang. Ia mencoba berdiri dari kursi plastiknya, namun dunia di matanya mendadak berputar hebat. Cahaya lampu generator seolah memudar, dan kekuatannya menguap begitu saja.
Tubuh Every limbung ke samping, jatuh bebas.
"Every!" Axel yang baru saja kembali dari helikopter berteriak panik dan berlari mendekat. Beberapa anggota BEM pria juga bergerak serentak untuk menangkap ketua mereka.
Namun, River lebih cepat. Dengan gerakan refleks yang eksplosif, ia menyambar tubuh Every sebelum gadis itu menyentuh tanah. Ia mendekap Every erat di dadanya, satu tangannya menyangga kepala Every, sementara tangan lainnya menahan berat tubuh gadis itu.
"Every! biar gue aja, gue akan membawanya ke helikopter!" Axel mencoba meraih bahu Every dengan tangan gemetar.
"Jangan. Berani. Sentuh. Dia."
Suara River terdengar seperti geraman pemangsa yang sangat rendah dan berbahaya. Ia menyentakkan bahunya, menjauhkan Every dari jangkauan Axel. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh emosi posesif yang pekat.
"Ver, gue punya tim medis!" Axel membentak, mencoba maju lagi.
River berdiri perlahan tanpa melepaskan dekapannya pada Every. Ia memutar tubuhnya, membelakangi Axel dan anggota BEM lainnya, menciptakan barisan pertahanan dengan tubuhnya sendiri. Aura dominasinya begitu kuat hingga siapa pun yang hendak mendekat otomatis terpaku di tempat.
"Lo dengar nggak?" River menoleh sedikit, menatap Axel dengan tatapan paling mematikan yang pernah ia tunjukkan. "Gue bilang jangan sentuh dia. Dia tanggung jawab gue. Tim medis lo boleh periksa dia nanti di tenda, tapi nggak ada satu tangan pun yang boleh megang dia selain gue. Is that clear?"
Axel terdiam, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia kalah telak oleh insting perlindungan River yang begitu primitif dan mendominasi.
River menunduk, menatap wajah Every yang terpejam rapat. Wajah antagonis yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu rapuh dalam pelukannya. River menghela napas kasar, lalu ia menyusupkan lengannya di bawah lutut Every dan mengangkatnya dengan gaya *bridal style*.
"Eve..." bisiknya sangat pelan di telinga Every, kali ini tanpa nada ejekan. "Lo emang keras kepala. Sekarang tidur, biar gue yang jaga takhta lo."
River membawa Every masuk ke dalam satu-satunya tenda yang paling layak. Ia membaringkan Every di atas sleeping bag miliknya sendiri yang paling tebal. Saat seorang perawat wanita mendekat untuk membantu mengganti jaket Every yang basah, River tetap berdiri di sana, mengawasi setiap gerak-gerik perawat itu dengan mata yang tak lepas dari Every.
Ia duduk di sebelah Every, membiarkan tangannya tetap memegang ujung jemari Every yang dingin, memastikan bahwa siapa pun yang masuk ke tenda itu tahu: Every Riana sedang berada di bawah perlindungan mutlak seorang River Armani.
Malam itu, semua orang di desa tahu satu hal pasti. River mungkin membenci kepemimpinan kaku Every, tapi dia akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh gadis itu saat dia lemah.