Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 22
Torvald hanya mengenakan celana boxer ketat saat berdansa bersama Vinna di kamarnya. Jari-jarinya menyentuh pipi perempuan itu perlahan, merasakan tekstur kulitnya yang dingin menempel pada kulitnya sendiri.
Vinna jelas bukan pasangan dansa yang romantis, tetapi Torvald memakluminya. Vinna sudah menjadi mayat, jadi ia harus menggerakkan tubuh itu secara manual.
Saat itu waktu sudah mendekati jam sarapan di Paragon, yang berarti malam bagi makhluk seperti mereka baru saja dimulai. Di tempat itu segalanya terbalik. Beberapa pasien beraktivitas di malam hari dan tidur lelap saat siang terang. Tak lama lagi para petugas akan datang, membuka pintu kamar, lalu memisahkan mereka semua.
“Mari semua berdansa denganku. Dekap aku dan hanyutkanku. Dengan irama yang menggoda. Melepaskan hasrat dirimu… woo hooo!” pekiknya.
“DIAM!” teriak Zergan dari balik tembok.
Alih-alih membalas sapaan pagi dari tetangganya, Torvald justru melanjutkan nyanyiannya. Itu sudah menjadi rutinitasnya, membangunkan Zergan dengan suara bernyanyi.
Dari balik besi dan kawat kasa, ia melihat sebuah van putih berhenti di depan gedung. Vinna terlepas dari pelukannya dan jatuh ke lantai. Torvald menginjak wajahnya agar bisa menempelkan pipinya ke jendela. Vinna tidak keberatan.
Torvald adalah satu-satunya orang di tempat itu yang kamarnya memiliki jendela. Itu berarti ia juga satu-satunya pasien yang bisa melihat apa yang terjadi di luar. Salah satu dari sekian banyak keuntungan menjadi orang paling berbahaya di gedung terkutuk itu. Ia mendapat fasilitas yang tidak dimiliki pasien lain.
Pintu belakang van terbuka. Dua perawat mendorong seorang perempuan tak sadarkan diri keluar. Tubuhnya diikat dengan sabuk pengaman dan dipasangkan ke troli.
Penampilannya mengingatkan Torvald pada Hannibal Lecter, terutama karena mereka benar-benar memasang alat penahan di mulut perempuan itu.
Jari-jari Torvald mencengkeram jeruji. Matanya membelalak. Itu pasti pasien baru. Hampir tidak pernah ada pasien baru di tempat itu. Rambutnya merah tua, panjang, terurai hingga ke pinggul.
Torvald menarik napas dalam-dalam, lalu bersembunyi dari jendela.
Sial.
Rambut itu…
“Mirip rambut mama kamu, kan?” kata Vinna.
Dengan gerakan cepat, Torvald menyambar Vinna dan mendorongnya masuk ke dalam lemari pakaian.
“Aku tahu kamu benci ada di sini,” katanya pada mayat itu.
“Jelas! Aku tidak bisa sembunyi di bawah tempat tidur bareng Peony!” desis Vinna.
Torvald mendesah kesal mendengar permintaan itu.
“Peony tidak mau tidur bareng kamu,” gumamnya sambil menaruh Vinna di balik gantungan baju. Ia menyumpal beberapa syal yang digulung ke tiang lemari untuk menutupi wajahnya.
“Aku tidak mau di lemar iiiii!”
Torvald menyeringai. “Diam.”
Ia menutup lemari dan mulai berpakaian. Jeans hitam ketat, kaus, hoodie, kaus kaki, sarung tangan. Ia mengambil satu dari sekian banyak masker yang dimilikinya.
Pasien baru.
Perempuan.
Rambut merah itu memenuhi pikirannya.
Begitu selesai meresleting sepatu bot kulit hitam setinggi lutut, para perawat mulai membuka kunci kamar-kamar pasien. Torvald membuka pintu, melangkah ke koridor sambil melirik ke sekeliling, mencari siapa saja yang sudah bergerak menuju sarapan. Ia menutup pintu dan berjalan ke bangsal.
Biasanya ia tidak pernah terburu-buru bergabung dengan yang lain. Namun kali ini berbeda. Kegembiraan membara di dadanya. Ia merasa pasien baru ini akan berbeda.
Seorang petugas kebersihan perempuan melihat Torvald datang dan langsung panik. Perempuan itu menempel ke dinding, berusaha sejauh mungkin darinya, seolah ingin menyatu dengan tembok.
Napasnya tertarik dalam-dalam lewat hidung, gugup, saat Torvald melewatinya. Reaksi yang umum. Biasanya Torvald tidak peduli, tetapi hari ini suasana hatinya sedang baik. Semua karena perempuan baru itu.
“Selamat pagi,” sapanya ceria sambil melambaikan tangan.
Seorang pasien di depannya menoleh. Begitu melihat Torvald, matanya langsung membelalak ketakutan.
“Aaaargh! Torvald!” teriaknya, air liur muncrat dari mulutnya, urat lehernya menegang.
Bangsal langsung ricuh. Ratusan pasien bergerak, suara perabot bergeser ke sana-sini. Saat Torvald tiba, semua pasien sudah menjauh dari antrean sarapan. Tidak ada yang mau berada di dekatnya. Para perawat dan asisten perawat berkumpul di sudut ruangan, menjaga jarak. Mereka tahu satu langkah saja bisa berarti kematian.
Langkah Torvald membawanya ke rak makanan. Ia mengambil semacam bubur yang sama sekali tidak ingin ia makan. Saat menoleh kembali ke ruangan, ia melihat sebuah meja kosong yang jelas disiapkan khusus untuknya.
Torvald meringis dan mengabaikannya. Ia berjalan menuju meja lain, meja tempat Sharvani duduk. Perempuan India yang biasanya selalu tertawa. Kali ini, Sharvani tidak tertawa.
Tangannya gemetar saat Torvald duduk, hingga buburnya tumpah dari sendok dan jatuh kembali ke nampan. Matanya melotot, menatapnya penuh ketakutan.
“Pagi yang indah, ya, Sharvani?” tanya Torvald.
Lucunya, para pasien lain tidak tahu bahwa beberapa dari mereka hidup di malam hari.