Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 10
Paginya Kenan baru menemui Helen di rumah sakit ia memberitahu Danu kalau Kenan mendadak ada pekerjaan yang harus di selesaikan.
Seorang wanita sangat bahagia karena saat ini pria yang selalu di rindukannya itu dengan sangat lembut menyuapinya.
"Ini yang disebut tidak nafsu makan?" celetuk Kenan dengan wajahnya juteknya sembari mengelap sisa makanan di Mulut Helen.
"Maaf," lirih Helen.
Kenan bersandar di kursi dekat brangkar,"Jangan seperti ini aku tau perasaan mu tapi Helen aku juga sangat yakin jika kau bukan orang yang cepat frustasi seperti ini," tegas Kenan.
"Jika itu mengenai perasaan, aku akan bisa lebih dari frustasi bahkan aku bisa gila, Kenan," ujar Helen berusaha mendekati Kenan bahkan saat ini ia memegangi tangan kekar pria itu.
Mereka saling menatap dengan tatapan berbeda, tetapi buru-buru Kenan melepaskan tangannya dari genggaman Helen.
"Eh, Helen kamu sudah siap. Sekarang kamu sudah diperbolehkan pulang," Jeni masuk tanpa mengetuk pintu Helen pun menganggukkan kepalanya.
Dengan dibantu Kenan Helen pun turun dari brangkar, di sepanjang jalan Helen terus saja menggandeng tangan Kenan membuat Danu merasa tidak enak berbeda dengan Jeni yang sangat bahagia melihat putrinya berada di samping pria yang masih ia inginkan jadi calon menantunya.
"Pasangan yang serasi ya pah," bisik Jeni.
Danu memutar bola matanya malas melihat tingkah istrinya. Mereka pun masuk ke dalam mobil yang sudah siap di lobby rumah sakit.
"CK, aku yang lebih pantas bersamanya bukan kau! Dasar perebut milik ku!" ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan dengan seraya mengepalkan tangannya kuat menatap tajam khusunya pada Kenan.
***
"Ini meeting penting kenapa hanya kau yang datang, sudah ke tiga kalinya dan kerjasama ini berjalan tapi mengapa hanya kau yang datang,hah!"
Kenan menenangkan Jimmy yang tersulut emosi karena sedari awal ia sangat tidak setuju dengan kerjasama itu.
"Di mana dia? Apa begitu sibuknya hingga untuk ke tiga kalinya ia mengajakku meeting tidak hadir?" tanya Kenan.
"Paling sibuk dengan wanita simpanannya itu," sambung Jimmy dengan nada sinis.
Asisten itu hanya tersenyum kaku, ia pun menjelaskan jika saat ini bos nya tidak bisa hadir lalu ia mengeluarkan sebuah undangan khusus untuk Kenan yang langsung di baca olehnya.
"Pesta?" gumam Kenan.
"Kau jangan pergi terakhir kalinya dia mempermalukan mu, Kenan," larang Jimmy.
"Katakan pada Naren aku akan datang nanti malam," ujar Kenan.
"Kenan!" pekik Jimmy.
"Kecilkan nada bicaramu aku ini bos mu," ucap Kenan yang mana membuat Jimmy bertambah kesal.
"Baiklah, aku akan sampaikan pada Tuan Narendra," asisten itu pun pamit.
Jimmy juga ikut pamit ia tidak tau apa yang sebenarnya yang ada dipikiran Kenan mengapa ia setuju dengan undangan Narendra.
"Jim, dengarkan aku dulu tidak ada salahnya kita datang ke sana sudah lama juga kan kita ga kumpul seperti dulu," bujuk Kenan.
"Kau benar-benar tidak waras, aku tidak berminat datang sungguh aku masih terngiang kata-kata umpatan nya dulu padamu. Kenan jadi orang baik boleh tapi kau jangan menjadi orang bodoh," seru Jimmy.
"Aku mengerti maksud mu tapi ..."
Dreeet
Dreeet
"Kakak, pulang lah kak Arumi pingsan,"
"Apa?! Baiklah, tunggu kakak,"
Tanpa berpamitan Kenan langsung pergi menuju mobilnya membuat Jimmy terkejut karena saat ini Kenan meninggalkannya.
"Ini gimana konsepnya aku yang mau ninggalin dia tadi malah sekarang aku yang ditinggal. CK, jika sudah berhubungan dengan si istri orang itu dia selalu lupa segalanya bahkan sahabatnya sendiri," Jimmy terdiam sejenak setelah ia menggerutu karena merasa ada perkataan nya yang salah menurutnya.
"Eh, tunggu ... Iya benar kan istri orang tadinya tapi sekarang ... Akhhh bodo amat lah jadi aku yang pusing," ucap Jimmy yang berbicara sendiri.
***
Dengan napas tersengal Kenan masuk ke dalam langsung menghampiri Arumi yang belum sadar. Dokter tengah memeriksanya, tetapi saking paniknya Kenan tanpa sadar menarik dokter karena menghalanginya.
"Kakak, apa yang kau lakukan?" seru Riana merasa tidak enak, tetapi dokter memberi isyarat seolah mengatakan jika ia tidak apa-apa.
"Sayang, bangun kau kenapa?" ujar Kenan dengan sangat lembut.
"Pak Kenan bisa kita bicara? Aku ingin mengatakan sesuatu tentang kondisi istri anda," ujar dokter.
Kenan berdiri masih di dekat ranjang ia bertanya apakah ada yang serius pada kondisi sang istri.
"Ikuti saja kak biar Arumi aku yang menemani," Kenan mengangguk dan mengajak dokter itu ke ruang kerjanya.
Selepas Kenan pergi tidak lama Arumi tiba-tiba sadar lalu dengan cepat Riana mendekat,"Mari aku bantu,"
Riana membantu Arumi yang ingin bangun menyandarkan tubuhnya di kepala kasur. Kepalanya terasa pusing dan badannya terasa lemas entah apa yang terjadi padanya kenapa ia merasa sangat tidak bertenaga.
Tidak ada sepatah kata pun dari mereka terlebih Arumi membuat Riana bingung harus apa. Sesekali dirinya bertanya pada kakak iparnya itu Arumi hanya diam.
"Bolehkah aku di kamar hanya sendiri?" cetus Arumi setelah beberapa menit terdiam.
"Ah, baiklah aku akan keluar jika kau butuh sesuatu panggil saja aku ya kak," Arumi tetap diam Riana berlalu pergi dan langsung menutup pintu dengan pelan.
Arumi berusaha beranjak dari duduknya ia melangkah menuju meja rias lalu dengan perlahan duduk berhadapan dengan cermin.
Wajahnya tertunduk melihat tangan kirinya yang mana sebuah cincin pernikahan melekat di jari manisnya seketika ia menangis terisak seraya memutar cincin tersebut perlahan ia menariknya melepaskan cincin itu.
"Mas Natan aku istri yang tidak berguna tidak bisa menyelamatkan mu dan sekarang malah menikah dengan pria lain. Pria yang membuat mu tiada,hiks. Aku sangat kejam padamu, jujur aku ingin kamu kembali, mas ... Aku ... Ak ..."
Tiba-tiba kepalanya terasa ringan, pandanganya terasa berkunang-kunang, rasa mual naik dari perutnya, buru-buru Arumi menutupi mulutnya berusaha berjalan menuju kamar mandi karena badannya Masih sangat lemah.
Rasa mual yang sejak tadi tak tertahankan ia memuntahkan semua dengan napas tersengal dan mata nya berair Arumi segera mencuci wajahnya, tangannya terulur mengambil tissu di samping wastafel terheran dan bertanya ada apa dengan dirinya hari ini.
"Apa aku salah makan? Atau ..." Arumi memegangi perutnya wajahnya tertunduk,"Apa aku hamil?"
"Apa?! Hamil, dok?" pekik Kenan yang sangat terkejut dengan penjelasan dokter itu. Lalu sang dokter memberikan penjelasan tanda-tanda seorang wanita yang tengah hamil.
Bukan Kenan tidak merasa bahagia tapi apakah nanti jika Arumi tahu jika dirinya saat ini tengah mengandung buah cintanya dengan Kenan ia akan menerimanya?
"Saya tau apa yang pak Kenan pikirkan, tapi anda harus jujur padanya dia juga akan menyadarinya jika saat ini ia tengah mengandung. Bicaralah pelan padanya beri pengertian agar dia tidak berusaha mencelakai dirinya sendiri lagi supaya bayinya tetap aman sampai nanti dia lahir," jelas Dokter.
"Baiklah, akan saya coba nanti," jawab Kenan.
Dokter pamit dan Kenan mengantarnya keluar. Setelah itu ia kembali ke kamar Arumi tapi istrinya tidak terlihat.
Kenan mendengar suara air dalam kamar mandi,"Pasti dia di sana," ujar Kenan.
Sebelum sampai pintu Arumi sudah lebih dulu keluar dengan santainya ia melewati Kenan dan duduk kembali di atas ranjang.
"Ada apa? Apalagi yang kau mau dari ku?" ketus Arumi.
Kenan mendekat hal itu membuat Arumi merasa risih,"Kau tidak apa-apa? Maksudku apa kau merasa jika ..."
"Aku hamil?" sela Arumi.
Degh
Rupanya Arumi sudah tau, detak jantung berdetak cepat rasa ketakutan itu muncul kembali ia harus memberitahu Arumi agar selalu menjaga bayi mereka.
"CK, jangan senang dulu jika aku hamil itu juga bukan berarti hamil anak mu. Ingat ... sebelum aku menjadi istrimu suami ku lebih dulu dan yang pasti ia adalah ayah kandungnya. Kau mengerti kan maksudku,
Tuan," peringat Arumi.
Kenan menatap keheranan pada Arumi, alisnya bertaut bukan karena bingung ia tak habis pikir mengapa Arumi merasa jika anak yang dikandungnya itu adalah anak Natan.
"Benarkan? Kenapa kau menatapku seperti itu?" gugup Arumi.
"Tidak, itu bukan anak Natan tapi anak ku," tegas Kenan.
"Aku dan Natan sudah menikah dan kami sempat berhubungan jadi kau tidak berhak mengakui anak ini. Sebelum kita berhubungan aku sudah ..."
"Sudah berhubungan dengan Natan maksudmu?" potong Kenan.
"Iya!" pekik Arumi.
"Benarkah?" Kenan menarik lengan Arumi mendekatkan wajahnya,"Jika benar mengapa saat kita berhubungan ada noda darah di sprei waktu itu? Apa kau juga mau bilang jika saat itu kau sedang datang bulan? Jangan berbohong Arumi karena saat itu kau begitu kesakitan dan saat ingin menjamah mu terasa sempit seperti kau belum tersentuh oleh Natan," terang Kenan.
Degh
*
*
Bersambung.