Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang tak direncanakan 2
Faisal larut dalam bayangannya, alam bawah sadar nya merangkai skema bahagia bersama Aruna. Didalam bayangannya, Faisal sedang berada di perpustakaan dengan Aruna, belajar bersama diiringi canda tawa yang memecah keheningan. Mereka berdua terlihat sangat bahagia, senyum bahagia nya jujur tanpa paksaan. Hingga akhirnya ada seseorang yang mencoba masuk dengan paksa, mendobrak pintu perpustakaan dengan kasar. Seketika membuat Faisal dan Aruna terkejut, dan itu adalah Arya.
Faisal terperanjat sadar dari bayangannya. Tanpa ia sadari, air matanya mulai menetes membasahi pipi. Faisal hanya bisa tersenyum menahan sakit dihatinya.
Tiba tiba ponselnya berdering, tanda ada pesan masuk.
Devina ( 19.30 ). Kak, maaf ganggu malem malem. Devina mau minta tolong kak, Devina lagi di alun alun ( pusat kota ) sendirian. Kalo kakak ada waktu, Devina pengen cerita banyak sama kakak.
Faisal mengernyitkan dahi, mencoba fokus membaca ulang pesan dari Devina dengan detail.
Faisal ( 19.35 ). Devina, kebetulan aku lagi diluar. Coba share location aja, Aku langsung kesana. Kamu jangan nunggu ditempat yang sepi. Khawatir, takut ada orang aneh yang macem macem sama kamu. Aku berangkat sekarang!
Devina ( 19.38 ). Mengirim share location.
Faisal langsung bergegas menyalakan motornya.
Setiba nya di alun alun, Faisal langsung mencari Devina. Dari kejauhan ia melihat Siluet Devina yang sedang duduk di halte yang sudah terbengkalai. Faisal bergegas menghampirinya.
" Devina, Maaf lama! Jalanan agak ramai." Ucap Faisal.
Devina menoleh dan bergegas bangkit dari duduknya lalu memeluk Faisal erat. Sorot matanya dipenuhi air mata yang sengaja ditahan agar tidak jatuh. Faisal hanya mematung terkejut, tak membalas pelukan Devina.
" Devina, kamu kenapa? Apa karena aku terlambat datang? " tanya Faisal cemas.
Devina melepaskan pelukannya, mengusap air matanya perlahan. Lalu menggelengkan kepala.
" Ngga ko, kak. Aku lagi cape banget, kak. Ditambah tas sama dompet aku ilang. Aku bingung kak, ga tau harus ngehubungi siapa, aku cuma inget sama kakak. " Ucap Devina terisak isak.
" Yaudah kamu tunggu disini sebentar, aku mau beli minum buat kita."
Faisal beranjak mencari kafe atau kedai terdekat untuk membeli dua botol air mineral.
setelah beberapa lama, Faisal kembali.
Dia menyodorkan satu botol air mineral ke arah Devina.
" Nih, kamu minum dulu biar tenang. Abis itu ceritain pelan pelan. "
Devina mengambil botol air mineral dari uluran tangan Faisal dengan wajah memerah yang terkesan sedikit canggung.
" Aku gagal ikut seleksi kejuaraan matematik antar sekolah kak. Aku malu sama temen temen aku yang udah berharap banyak sama aku, aku ngerasa down banget, kak. " Ucap Devina, suaranya pelan.
Faisal duduk disampingnya, mengelus elus pundaknya. Berusaha menguatkan.
" Masih ada hari esok, kamu udah berani nyoba. Buat aku itu adalah prestasi. " Faisal menatap Devina dalam. " eh iya, btw. Ko tas kamu bisa ilang? " tanya Faisal penasaran.
Devina menoleh ke arah Faisal, lalu kembali menundukan pandangannya.
" Barusan waktu aku lagi jalan di stasiun, ada dua orang cewe cowo nyamperin aku, kak. mereka minta bantuan aku buat benerin laptopnya yang lagi gangguan. Waktu mereka pamit, aku ga sadar kak. Salah satu dari mereka ngambil tas aku. Sebenarnya aku juga yang salah sih, kak. Aku terlalu asik main hp, baca berita tentang siapa aja yang lolos seleksi matematika. Waktu lagi fokus nyari nama aku. Mereka pamitan, aku cuma ngangguk, tanpa ngeliat ke arah mereka berdua. dari situ aku ga memedulikan apa apa lagi, karena aku sedih ngeliat nama aku yang ga ada di daftar siswa & siswi yang lolos seleksi. " ucap Devina, raut wajahnya sedih.
" Oh jadi gitu kejadiannya. Yaudah gapapa, kamu jangan sedih lagi ya. Masih banyak waktu buat belajar dan nyoba lagi." Faisal menguatkan.
Devina mengangguk kecil.
" Iya, makasih banyak ya, kak. "
Faisal tersenyum tipis.
" Kamu udah makan? " tanya Faisal.
" Belum kak, waktu mau beli makan uang aku ga cukup. " Ucap Devina, nadanya sedikit tertahan.
" Yaudah, ayo kita cari makan. Kebetulan aku juga belum makan. " Faisal tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Devina.
Devina menerima uluran tangan Faisal.
Mereka berdua berjalan dengan kedua tangan saling menggenggam. Devina tersenyum bahagia, ia merasakan kenyamanan yang ditawarkan Faisal. Namun Faisal, ekspresinya lurus.
Faisal menoleh.
" kenapa kamu senyum senyum sendiri? "
Devina tersenyum lalu menundukan pandangannya ke arah tangan mereka yang sedang saling menggenggam.
" Eh iya, Sorry! " Faisal buru buru melepaskan genggaman tangannya.
Devina tertawa lepas.
" Gapapa kali kak, Kak Faisal lucu banget deh. Makasih ya, kak. Aku udah ga sedih lagi sekarang. "
Faisal hanya tersenyum menahan malu. Lalu menunjuk ke arah rumah makan.
" Nah itu tempat makan, kita makan disana aja ya. "
" Iya, kak. " Devina mengangguk setuju.
Disisi lain, Aruna sedang menikmati liburannya bersama Arya. Aruna tidak merasa bahagia, raut wajahnya datar. Mencoba menikmati makanan yang terasa seperti hambar.
" Na, pulang dari sini. Mau lanjut kemana? " tanya Arya.
" langsung pulang aja, aku tiba tiba ga enak badan! " jawab Aruna datar.
Arya langsung menyentuh kening Aruna.
" Oh iya, kamu agak panas. Yaudah beres ini, kita langsung pulang. "
Aruna hanya mengangguk, lalu bangkit dari duduknya.
" kamu mau kemana? " tanya Arya panik.
" aku mau ke toilet! " jawab Aruna sedikit ketus.
Saat Aruna berbalik badan. Ia berpapasan dengan Faisal dan Devina.
Faisal mengerutkan kening.
" Aruna! Kamu sendiri? Arya mana? " tanya Faisal.
Aruna memperhatikan Devina dari ujung sepatu hingga ujung kepala.
" Ada tuh, lagi makan. Ini pacar baru kamu, Sal? " Aruna bertanya sambil tersenyum sinis.
" Ohh, bukanlah, Na. Oh iya lupa, kenalin. Ini Devina , adik kelas aku waktu smp. "
Devina mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Aruna.
" Salam kenal kak, Aku Devina." Ucap Devina tersenyum sopan.
" Oh iya, Aruna! " ucapnya ketus, mengabaikan uluran tangan Devina. Lalu bergegas pergi menuju toilet.
" Dia kayanya cemburu sama aku,kak. " ucap Devina.
" Apaan sih kamu, ga mungkinlah. Dia udah ga ada rasa sama aku. Buktinya, kamu liat sendiri, dia kemana mana sama cowo barunya. " Ucap Faisal sambil mengarahkan pandangannya ke arah Arya.
Di toilet, Aruna menatap bayangannya di cermin. Ia merutuki nasibnya.
Kamu memang bodoh, Aruna. Faisal udah menemukan pasangannya yang baru. Sal! Kenapa sih, aku gabisa liat kamu sama yang lain. Aku nyesel, Sal. Udah ga Nerima permintaan maaf kamu, aku salah udah ninggalin kamu gara gara kamu ga ngasih waktu aku buat ngasih penjelasan. Harusnya aku sedikit sabar. Dan sekarang aku bener bener nyesel, waktu aku milih buat tutup telinga, waktu kamu nyoba buat minta maaf dan janji bakal benerin semuanya. Aku bener bener nyesel, Sal. Gumam Aruna, tangisnya pecah.
Aruna menyeka air matanya dengan kasar, lalu kembali ke meja Arya.
" Kamu gapapa, Na? mata kamu merah banget, kaya abis nangis. "tanya Arya.
" Gapapa ko, pulang yu. Aku pengen istirahat. " ajak Aruna, tatapan matanya mengarah ke Faisal dan Devina yang sedang mengobrol sambil menikmati makanannya.
Arya mengangguk, menggandeng tangan Aruna dan bergegas menuju parkiran.
Faisal mendongak, menatap punggung Aruna yang kian menjauh.
Dia bener bener udah lupain aku. Gumamnya dalam hati.
" Kak, makasih ya buat waktu sama traktirannya. Aku boleh nebeng lagi kan,kak? "
Faisal mengangguk sambil tersenyum.
" Tentu, aku ga akan ngebiarin kamu pulang sendirian. Bahaya ini udah malem, yaudah ayo kita pulang! " tegas Faisal.
Ada rasa nyaman yang Devina rasakan saat berada disamping Faisal. Dia mulai merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan pada siapapun selain Faisal. Devina mulai membuka hatinya untuk mempersilahkan bila sewaktu waktu Faisal ingin masuk.
Kak Faisal kayanya udah putus deh sama pacarnya. Ga ada yang salah kayanya, kalo aku coba buka hati. Gumam Devina sambil memegang jaket Faisal.
" Kalo mau peluk, peluk aja. Gausah ragu, daripada jatuh nanti. " Teriak Faisal.
" Iya kak, maaf ya. " Devina memeluk Faisal dengan perasaan sangat nyaman dan bahagia.
" Kak, sampai sini aja." Ucap Devina.
" Kamu serius? Kan lumayan jauh dari gerbang ini ke rumah kamu. "
Devina tersenyum.
" Gapapa kak, itung itung olahraga."
Devina menarik tangan Faisal lalu mencium punggung tangannya.
" sekali lagi makasih banyak ya, kak. Aku duluan. " ucap Devina dengan langkah tergesa.
Faisal terkejut, ia tak membalas ucapan Devina. Hanya memperhatikan punggung Devina dari atas motornya hingga menghilang ditelan kabut malam.
Devina, aneh banget tuh cewe. Gumam Faisal.