Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Catherine
Keesokan harinya seusai jam kerja, Catherine sudah menunggu ketiga pemuda itu di dalam mobilnya.
Adrian menunggu di restoran itu dengan secangkir kopi hitam pekat di depannya.
"Kukira kemarin itu hanya sekedar rencana. Aku tidak menyangka kalau ternyata nenekmu benar-benar datang menjemput kita," bisik Kai kepada Jemima dan Ashley.
Jemima menghela napas. "Nenekku itu kalau sudah punya keinginan, ada gempa bumi dahsyat atau perang dunia ketiga pun, tidak akan mematahkan keinginannya."
Kedua temannya berdecak sambil memerhatikan Adrian dari meja dapur.
Tak beberapa lama, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil.
Kai menjadi semakin diam dan terlihat tegang. Mata Catherine menangkap perubahan air muka Kai. "Apa semua baik-baik saja, Kai?"
Kai mengangguk gugup. "I-iya, Nek. Hanya saja, aku tidak mau terlihat oleh ayah atau ibuku kalau nanti kita berada di rumah nenek Golda."
"Ada apa? Apa hubungan kalian tidak baik?" tanya Catherine lembut. Dia buru-buru menambahkan satu kalimat saat melihat Kai terlihat tidak nyaman dengan pernyataannya, "Oh, aku tidak memintamu untuk bercerita, Kai. Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman."
Saat itu, Kai hanya tertunduk dan menyembunyikan senyumnya. "Tidak apa-apa, Nek. Hanya saja, aku belum siap untuk bercerita. Tapi, Jemi sudah tau apa yang terjadi denganku."
"Karena aku bertemu dengan Jemi di ruang ajaib itu dalam kondisi nyaris mati," lanjut Kai sambil tertawa lemah.
Mendengar penjelasan Kai, Catherine melakukan hal yang tak terduga.
Wanita paruh baya itu merangkul pundak Kai dan mendekapnya. "Kau seorang lelaki dan kau harus kuat menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dan aku bangga padamu karena sampai sejauh ini, kau sanggup bertahan."
Kai menatap Catherine dengan penuh haru, lalu mengangguk. "Terima kasih, Nek."
Dalam hati pemuda itu bersyukur karena masih ada orang yang berada di belakangnya untuk memberikan dukungan atau sekedar memberikan tambahan kekuatan.
Setibanya di kediaman Golda, Kai lebih dulu turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Golda yang sederhana.
Sebelum mereka tiba, Catherine mengajak mereka untuk membeli roti kismis kesukaan Golda dan Kai yang menenteng keranjang roti itu.
"Nenek, ini aku." Kai mengetuk pintu kayu itu dengan cukup kencang.
Tak lama, seorang wanita tua dengan wajah ceria dan senyum merekah muncul dari balik pintu.
Dia memeluk Kai kuat-kuat seolah tak ingin dilepaskan. "Cucuku! Kau ke mana saja? Sudah lama aku tidak mendengarmu di rumah dan ayo, masuk! Ayah ibumu sudah perang sejak pagi tadi."
Belum sempat Kai melirik ke arah rumahnya, Golda sudah menarik tangan Kai cepat-cepat.
Kai pun menurut. Lalu, dia sadar kalau dia tidak datang sendiri hari itu. "Nek, aku bersama teman-temanku dan neneknya temanku."
Golda melihat ke belakang dan dia tersenyum kepada Ashley dan Jemima, lalu dia mengerutkan keningnya saat matanya bertautan dengan tatapan Catherine.
Lalu, Golda tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke arah Catherine. "Halo, sepertinya kita seumuran, ya, hehehe."
"Nama saya Golda dan ini cucu saya, Kai. Bukan cucu asli, sih, hehehe. Tapi, saya sudah menganggap dia sebagai cucu saya sendiri. Siapa namamu?" tanya Golda ramah.
Catherine menatap Golda dengan tatapan sedih bercampur haru. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca setiap kali mendengar Golda berbicara.
Karena Catherine terdiam, Golda pun berhenti berbicara. "Hahaha, maafkan saya karena berbicara terlalu banyak. Saya sudah lama tidak bertemu dengan banyak orang selain Kai."
"Siapa tadi namamu? Ah, kau belum menyebutkan nama," kata Golda lagi, lalu membalikkan badannya membelakangi Catherine. "Silakan duduk dan Kai, ban-, ...."
Tiba-tiba saja, Catherine memeluk Golda. "Flo, ini aku. Apa kau tidak mengenalku?"
Seketika itu juga, Golda membeku. Ruangan kecil itu menjadi canggung dan aneh.
Jemima dan kedua temannya saling berpandangan, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tak lama, Golda melepaskan tangan Catherine dengan sopan. "Maaf, nama saya Golda. Apa mungkin, maaf, kau mengalami gangguan pendengaran?"
Catherine menggeleng lemah. "Tidak. Maaf, saya pikir kau temanku yang sudah lama hilang. Namanya Florentia, saya biasa memanggilnya Flo."
Kedua mata Golda kini cerah kembali setelah tadi sempat meredup saat Catherine memanggilnya Flo. "Oalah. Mungkin kau pernah mendengar kalau kita memiliki tujuh kembaran di dunia ini, hahaha."
Senyum sedih kembali menghiasi wajah tua Catherine. "Ya. Aku tak tau apa yang terjadi kepadanya karena dia tiba-tiba menghilang dan begitu aku melihatmu, aku tidak bisa melawan rasa rinduku selama berpuluh-puluh tahun."
Golda mengangguk. "Begitu? Aku doakan semoga kau bisa segera bertemu dengan sahabatmu."
Tak lama, wanita yang selalu tersenyum ramah itu sudah sibuk di dapur dibantu Kai.
Harum masakan sudah tercium memenuhi ruangan kecil itu.
Mereka makan malam dengan saling bercakap-cakap. Catherine dan Golda juga terlihat akrab seperti sudah lama saling mengenal.
Setelah makan malam, Jemima merasakan kalungnya berdenyut-denyut dan panas.
"Nenek, kenapa kalung ini seolah bernapas?" tanya Jemima sambil melepaskan kalung opal cantik itu.
Catherine mengambil kalung itu dan menggenggam liontin ovalnya. "Sejak kapan ia berdenyut seperti ini, Jemi?"
Jemima mengingat-ingat dan kemudian dia menjawab perlahan, "Sejak kita bertemu dengan nenek Golda. Dan kenapa Nenek memanggil nenek Golda dengan sebutan Flo?"
"Nenek Golda adalah Florentia. Sahabatku yang sudah lama menghilang. Kalung yang ada pada Kai adalah pemberianku dan aku tidak tau mengapa dia bisa lupa padaku," kata Catherine.
Tatapan matanya sedari tadi tidak bisa dia lepaskan dari Golda. "Kalau dugaanku benar, Flo yang asli ada di dalam ruangan itu. Entah bagaimana caranya aku tidak tau, Jemi."
Tiba-tiba saja mulut Jemima menganga dan gadis itu segera menutupi dengan kedua tangannya. "Oh, Nek! Itu sebabnya pantulan cermin bulat Kai adalah nenek Golda karena jiwa nenek Golda ada di dalam ruangan itu! Di dalam cermin bulat dan belum bisa keluar!"
Catherine terkejut mendengar teori cicitnya itu. Bulu kuduknya meremang dan kengerian menghantui dirinya.
"B-bagaimana kau bisa menyimpulkan sesuatu yang menyeramkan seperti itu, Jemi?" desis Catherine.
Tanpa sadar, Jemima bergidik ngeri. Dia membayangkan betapa sepinya nenek Golda di dalam cermin.
"Tapi, Nek, kalau ibu menghilang dan raganya pun tidak ada di sini, kenapa tubuh nenek Golda tetapi ada di sini dan tidak menghilang?" tanya Jemima dengan kengerian yang semakin meningkat.
Mulut Catherine terasa pahit dan dia seperti kesulitan menelan salivanya sendiri. "Entahlah, Jemi. Aku tidak tau bagaimana itu bisa terjadi."
"Aku merasa gagal menjadi orang tua sekaligus sahabat karena baik Lily maupun Flo terkurung di ruang aneh itu," kata Catherine lagi dengan suara tercekat.
Jemima memandang nenek Golda lekat-lekat. "Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Catherine menggenggam kedua tangan Jemima erat-erat.
Suaranya berubah menjadi serius dan sungguh-sungguh. "Hanya kau yang bisa menolong ibumu dan Flo, Jemi."
"Tolong keluarkan mereka. Masuklah ke ruang itu lagi dan bawalah mereka keluar dan setelah itu, segeralah kau keluar dari sana secepat kau bisa," pinta Catherine.
Jemima menelan salivanya. Kedua tangannya berubah menjadi dingin dan berkeringat. Dia mengangguk ragu-ragu. "A-aku akan mencobanya, Nek."
***