NovelToon NovelToon
Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Penghubung Tiga Dunia (The Envoy Of Three Realms)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.

Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Pertemuan dengan Wanita Bermata Elang

Lantai kayu penginapan ‘Gelas Retak’ mengerang di bawah pijakan kaki Jiangzhu. Bau pengap campuran bir basi, tembakau murah, dan keringat manusia menyerbu indra penciumannya. Di gendongannya, gadis kecil bernama Awan terasa sangat ringan, seolah-olah tubuhnya hanya terdiri dari tulang dan kulit yang rapuh.

"Kamar nomor empat belas. Jangan melihat ke kiri atau ke kanan," bisik Penatua Mo. Roh tua itu tampak waspada, auranya menyusut seolah mencoba menghilang dari deteksi siapa pun yang mungkin memiliki indra spiritual tajam di tempat terkutuk ini.

Jiangzhu berjalan melewati lorong yang remang-remang. Cahaya lampion merah yang tergantung di dinding bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster yang merayap. Ia bisa merasakan tatapan mata dari balik pintu-pintu kamar yang sedikit terbuka. Di kota ini, seorang pria asing yang membawa 'barang berharga' dari pelelangan adalah sasaran empuk.

Saat sampai di depan pintu nomor empat belas, Jiangzhu tidak langsung masuk. Ia berhenti, tangan kirinya diam-diam mencengkeram gagang pedang besi hitam di pinggangnya.

"Ada bau harum di dalam," gumam Jiangzhu pelan. "Bukan bau penginapan kotor ini. Bau bunga lili... dan bubuk mesiu."

"Hoo, indra penciumanmu mulai menajam, Bocah," Penatua Mo terkekeh sinis. "Masuklah. Jika dia ingin membunuhmu, dia sudah melakukannya saat kau sibuk membayar budak tadi."

Jiangzhu menendang pintu dengan pelan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sebatang lilin yang hampir habis, seorang wanita duduk dengan anggun di satu-satunya kursi kayu yang ada. Ia mengenakan jubah kulit ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang atletis, dan sebuah topeng perak berbentuk kepala elang menutupi bagian atas wajahnya.

Wanita itu sedang membersihkan sebuah belati panjang dengan kain sutra putih.

"Tiga puluh batu energi dan satu cincin penyimpanan milik Sekte Cahaya Suci," suara wanita itu jernih, namun dingin seperti es di puncak gunung. "Kau punya nyali yang besar, atau kau memang sangat bodoh, Jiangzhu."

Jiangzhu tersentak. Namanya disebut. Padahal, ia yakin belum pernah bertemu wanita ini, dan ia telah menutupi identitasnya dengan baik sejak keluar dari Lembah Kabut Jiwa.

"Siapa kau?" Jiangzhu menurunkan Awan perlahan, membiarkan gadis kecil itu berlindung di balik kakinya. Energi hitam mulai merambat di ujung jari Jiangzhu, siap diledakkan kapan saja.

Wanita bermata elang itu menyimpan belatinya dan berdiri. Gerakannya luwes, seperti seekor predator yang sedang bermain-pusing dengan mangsanya. "Namaku Yue dari organisasi Bayangan Senja. Kami dibayar untuk mengawasi setiap pergerakan barang-barang ilegal di kota ini. Tapi aku di sini bukan untuk menangkapmu."

"Lalu?"

"Aku di sini untuk memperingatimu. Cincin yang kau berikan pada pedagang babi tadi memiliki segel pelacak yang belum kau hapus sepenuhnya. Dalam waktu kurang dari satu jam, tentara bayaran dari Gang Tengkorak Hijau akan mengepung tempat ini. Mereka tidak hanya menginginkan cincin itu, mereka menginginkan gadis kecil di belakangmu."

Yue melangkah mendekat, matanya yang tajam menatap Awan melalui lubang topeng perak. "Kau tahu apa yang kau beli? Dia bukan manusia biasa. Dia adalah Jantung Roh Biru. Di pasar gelap Alam Langit, dia berharga lebih dari sepuluh ribu keping emas murni."

Jiangzhu merasakan detak jantungnya melambat. Ia menatap Awan yang gemetar ketakutan. Penatua Mo benar ia baru saja memungut bom waktu yang siap meledak.

"Kenapa kau memberitahuku ini? Di kota ini, informasi adalah mata uang. Apa harganya?" tanya Jiangzhu, mencoba tetap tenang meski ia tahu ia sedang dipojokkan.

Yue tersenyum tipis di balik topengnya. "Harganya sederhana. Aku ingin kau melakukan satu pekerjaan untukku di Menara Kegelapan. Jika kau berhasil, aku akan menghapus jejakmu dari radar Sekte Cahaya Suci dan memberikan identitas baru di kota ini."

Tiba-tiba, suara teriakan dan denting senjata terdengar dari lantai bawah. Suara pintu depan yang didobrak keras membuat debu-debu dari langit-langit berjatuhan.

"Mereka sudah di sini," bisik Yue sambil menarik sebuah tuas tersembunyi di balik lemari tua, memperlihatkan sebuah jalan rahasia. "Ikut aku jika kau ingin hidup. Atau kau bisa mencoba melawan lima puluh pemburu hadiah di luar sana sendirian dengan bocah itu di punggungmu."

Jiangzhu melihat ke arah pintu kamar yang mulai digedor dari luar, lalu ke arah Awan yang menatapnya dengan penuh harap. Ia tidak punya pilihan lain.

"Pimpin jalan," kata Jiangzhu tegas.

Saat mereka meluncur masuk ke dalam kegelapan jalan rahasia, Jiangzhu bisa merasakan hawa dingin Li'er di ruang jiwanya bergejolak. Li'er seolah memberi peringatan: Wanita ini lebih berbahaya daripada seluruh gang di luar sana.

Perjalanan Jiangzhu di Kota Seribu Topeng baru saja dimulai, dan ia sudah terseret ke dalam konspirasi yang jauh lebih besar dari sekadar pelarian seorang yatim piatu.

Jiangzhu bisa merasakan napas pendek Awan yang bergetar di pundaknya. Gadis itu mencengkeram kain bajunya begitu kuat hingga jemarinya memutih, seolah-olah jika dia melepaskannya barang sedetik, kegelapan di lorong ini akan langsung menelannya bulat-bulat. Lorong di balik lemari itu sempit, pengap, dan berbau kencing tikus yang menyengat. Dinding-dindingnya basah oleh rembesan air selokan yang berwarna hitam pekat.

"Jangan melambat, atau kau akan terkubur hidup-hidup di bawah sana," suara Yue terdengar tajam dari depan. Wanita itu bergerak dengan keanggunan yang tidak wajar, langkah kakinya hampir tidak menimbulkan suara di atas lantai yang becek.

Jiangzhu mengumpat pelan dalam hati. Lututnya terasa seperti akan copot efek samping dari penggunaan Inti Iblis yang berlebihan di pelelangan tadi mulai menagih bayaran. "Sialan," bisiknya. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah lumpur di bawah kakinya mencoba menariknya masuk ke dalam inti bumi.

Di ruang jiwanya, Li’er mulai bereaksi. Jiangzhu bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang belakangnya, sebuah peringatan insting. Ada sesuatu... yang mengintai di air, gumam Li’er di sudut pikirannya.

"Pak Tua, kau dengar itu?" tanya Jiangzhu lewat batin.

"Aku dengar, Bocah. Kota Seribu Topeng dibangun di atas reruntuhan kota kuno yang tenggelam. Lorong-lorong ini bukan hanya sekadar jalan keluar darurat, ini adalah sarang untuk hal-hal yang takut pada cahaya matahari," jawab Penatua Mo, suaranya tidak lagi mengandung nada bercanda.

Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang mereka, terdengar suara geraman rendah yang dibarengi dengan cipratan air yang keras. Bukan suara manusia, melainkan sesuatu yang memiliki banyak kaki dan tubuh yang berat.

"Cepat!" Yue menoleh, kilatan belatinya tampak biru di kegelapan. "Anjing-anjing Tengkorak Hijau itu membawa 'Binatang Pemburu' dari rawa bawah tanah!"

Jiangzhu mengeratkan gendongannya pada Awan. Ia tidak punya waktu untuk merasa lelah. Jika ia mati di sini, ia akan mati sebagai pecundang yang bahkan tidak bisa menyelamatkan seorang gadis kecil. Dengan mata keunguan yang berkilat penuh kemarahan, ia menghunus pedang hitamnya.

"Biarkan mereka datang," desis Jiangzhu. "Aku ingin tahu apakah rasa daging monster bawah tanah lebih enak daripada murid sekte."

Ia tidak lagi peduli pada rasa takut. Baginya, rasa takut adalah beban bagi mereka yang masih punya sesuatu untuk kehilangan. Sedangkan dia? Dia sudah tidak punya apa-apa lagi selain nyawanya yang kini ia pertaruhkan di lorong kotor ini.

1
Nanik S
Monsternya sekarang Jiangzhu sendiri
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Jangan sampai tersesat karena hasutan Iblis
christian Defit Karamoy: ikutin terus alur ceritanya bang ,trimakasih
total 2 replies
Nanik S
B urunan langit dan Bumi
christian Defit Karamoy: ikutin terus ya bang🙏
total 1 replies
Nanik S
Awal yang sangat bagus 👍
christian Defit Karamoy: trimakasih🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!