Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Bayar DP-nya ya, Din.
Sabtu pagi di Jakarta terasa sedikit lebih lengang dari biasanya, namun panas matahari sudah mulai menyengat sejak pukul sembilan. Bagi pasangan yang sedang mempersiapkan pernikahan, akhir pekan biasanya diisi dengan debaran jantung yang manis dan antusiasme memilih detail masa depan.
Namun, di dalam Mitsubishi Pajero Sport hitam yang melaju membelah jalanan Jakarta Selatan, atmosfernya terasa ganjil.
Arga menyetir dengan satu tangan di kemudi, tangan lainnya sibuk mengetuk-ngetuk paha mengikuti irama lagu dari radio, berusaha terlihat santai. Padahal, di balik kacamata hitamnya, matanya terus melirik indikator bensin yang untungnya masih cukup untuk hari ini. Di sakunya, dompetnya terasa tipis menyedihkan.
Sisa uang hasil "memeras" teman dan aplikasi pinjaman minggu lalu sudah menguap entah ke mana—sebagian besar untuk menutupi gaya hidup Maya dan bunga hutang yang terus berjalan.
Di kursi penumpang, Nadinta duduk tenang sambil memandang jalanan. Dia mengenakan blouse putih polos dan celana kulot berwarna mocca, tampilan yang sederhana namun memancarkan aura clean dan elegan. Tidak ada lagi Nadinta yang kucel.
"Nanti di sana kamu jangan kaku ya, Din," ujar Arga memecah keheningan, suaranya mengandung nada menggurui. "Fotografernya ini temennya temen aku, katanya sih jago. Dia biasa motret selebgram. Jadi kita harus kelihatan luwes."
Nadinta menoleh, tersenyum tipis. "Siap, Mas. Aku ngikut aja. Kan konsepnya santai."
"Iya, santai tapi tetap berkelas," koreksi Arga. "Ingat, kita ini power couple kantor. Pjs Manajer sama Senior Supervisor. Jangan sampai kelihatan kayak orang susah."
Nadinta menahan tawa sinis di dalam hati. Orang susah yang bicara soal jangan terlihat susah. Ironi itu begitu kental hingga rasanya pahit di lidah.
Mobil berbelok memasuki area ruko eksklusif di kawasan Kemang. Arga memarkirkan mobil besarnya tepat di depan sebuah studio foto bernama Lensa Abadi Photography.
Mereka turun. Arga merapikan kemeja polonya, memastikan jam tangan KW-nya terlihat jelas. Dia menggandeng tangan Nadinta—bukan karena sayang, tapi karena ingin terlihat mesra di depan orang lain.
Begitu masuk, denting lonceng di pintu menyambut mereka. Ruangan studio itu bernuansa industrial dengan dinding bata ekspos dan deretan foto-foto pernikahan artistik yang dipajang di dinding.
Seorang pria muda dengan rambut dikuncir dan kacamata tebal menyambut mereka.
"Selamat pagi! Dengan Pak Arga dan Bu Nadinta ya?" sapa pria itu ramah. "Saya Rio, owner sekaligus fotografer di sini."
"Pagi, Mas Rio," jawab Arga, menjabat tangan Rio dengan mantap. "Iya, benar. Sesuai janji kemarin via WA."
"Silakan duduk, Pak, Bu," Rio mempersilakan mereka duduk di sofa kulit yang nyaman, lalu menyodorkan dua buku album portofolio tebal.
"Wah, serasi sekali ya Bapak sama Ibu. Pasangan ideal nih, tinggi badannya pas, mukanya juga komersil."
Pujian basa-basi sales itu membuat Arga tersenyum lebar. Dadanya membusung. Dia memang paling lemah terhadap pujian.
"Ah, bisa saja Mas Rio," kata Arga. "Kami memang sering dibilang mirip."
Nadinta hanya tersenyum sopan, membuka-buka album foto tanpa minat yang nyata. Dia melihat foto-foto pasangan yang tertawa bahagia di Paris, di Bali, di Labuan Bajo.
"Jadi, untuk konsepnya bagaimana, Pak Arga?" tanya Rio sambil menyiapkan tabletnya untuk mencatat. "Kemarin di chat sempat bilang mau yang Royal di PIK atau Kota Tua malam hari?"
Wajah Arga menegang sedikit. Dia melirik Nadinta. Rencana Royal Executive dengan yacht dan gaun malam itu adalah impiannya, tapi realita dompetnya berkata lain.
Arga berdeham, mencoba terlihat bijak.
"Ehm, begini Mas Rio. Setelah kami diskusikan lagi berdua..." Arga menatap Nadinta, memberikan kode mata agar Nadinta mengiyakan. "...kami memutuskan untuk kembali ke kesederhanaan. Back to nature, istilahnya."
"Oh?" Rio mengangkat alis.
"Iya. Kami rasa konsep mewah-mewah itu agak... norak ya, Din?" Arga mencari pembenaran.
"Kami ini kan orangnya low profile. Kami lebih suka keintiman yang natural. Jadi kami sepakat pakai konsep Casual di Taman Kota atau Hutan Kota GBK saja. Pakaiannya santai, tapi tetap stylish."
Nadinta hampir bertepuk tangan atas kemampuan akting Arga. Pria ini bisa mengubah "tidak punya uang" menjadi "pilihan estetika" dalam hitungan detik.
"Benar begitu, Bu Nadinta?" tanya Rio.
Nadinta mengangguk pelan. "Betul, Mas Rio. Kami ingin yang simpel saja. Yang penting chemistry-nya dapat."
"Oke, Casual Intimate di outdoor ya. Pilihan bagus kok, Pak. Sedang tren juga yang minimalis begini," Rio dengan sigap mengubah penawarannya.
"Kalau begitu, kita tidak perlu sewa lighting berat atau perizinan lokasi yang ribet. Cukup paket Silver saja."
Rio mengetik di kalkulatornya, lalu menunjukkan angkanya ke Arga.
"Paket Silver termasuk fotografer, asisten, makeup standar, dan cetak album. Lokasi di GBK. Totalnya jadi lima juta rupiah. Jauh lebih hemat dari paket Platinum yang kemarin Bapak tanya."
Lima juta.
Bagi Nadinta, itu uang kecil. Tapi bagi Arga saat ini, lima juta adalah gunung yang harus didaki.
Arga menatap angka itu. Lima juta.
Dia meraba saku celananya. Kosong. Kartu kreditnya mati. Saldo debitnya hanya cukup untuk makan siang.
"Oke. Lima juta ya. Deal," kata Arga dengan suara yang dipaksakan mantap.
"Siap, Pak. Untuk mengunci tanggal pemotretan hari Sabtu depan, kami butuh Down Payment (DP) sebesar 50% hari ini. Dua juta lima ratus ribu rupiah. Sisanya bisa dilunasi setelah foto selesai."
Jantung Arga mencelos. Dua juta setengah. Sekarang.
Dia tidak punya uang itu.
Keringat dingin mulai merembes di punggungnya. Dia melirik Nadinta. Nadinta sedang asyik melihat contoh frame foto di rak, seolah tidak peduli dengan urusan pembayaran.
Arga panik. Dia tidak bisa bilang "saya tidak punya uang" di depan Rio yang sudah memujinya sebagai pasangan ideal. Dia harus melakukan manuver klasik.
Tiba-tiba, Arga memegang perutnya. Wajahnya dikerutkan, seolah menahan sakit yang amat sangat.
"Aduh..." desis Arga pelan.
Nadinta menoleh. "Kenapa, Mas?"
"Perutku... aduh, mules banget tiba-tiba. Kayaknya salah makan tadi pagi," keluh Arga, aktingnya cukup meyakinkan. Dia berdiri dengan tergesa-gesa.
"Mas Rio, toilet di mana ya? Kebelet banget nih."
"Oh, di belakang Pak, lurus terus belok kiri," tunjuk Rio kaget.
"Bentar ya, Din. Kamu... kamu urus administrasinya dulu sebentar. Dompetku di tas. Aduh, nggak tahan!"
Tanpa menunggu jawaban, Arga langsung berlari kecil menuju arah toilet, meninggalkan Nadinta sendirian bersama Rio dan tagihan DP sebesar 2,5 juta.
Nadinta menatap punggung Arga yang menghilang.
Dia tidak kaget. Dia tidak panik. Dia justru merasa takjub.
Bener-bener nggak tahu malu, ya, Mas?
Tingkat ketidakmaluan Arga sudah mencapai level yang patut diberi penghargaan. Dia meninggalkan tunangannya untuk membereskan masalah keuangannya, lagi.
Rio menatap Nadinta dengan canggung. "Pak Arga... sakit perut ya, Bu?"
Nadinta menghela napas panjang, lalu tersenyum—senyum yang penuh dengan rasa maklum yang menyedihkan.
"Sepertinya begitu, Mas. Dia memang sensitif perutnya," jawab Nadinta.
Nadinta membuka tasnya. Dia mengeluarkan dompet kulitnya yang elegan.
"Biar saya saja yang bayar DP-nya, Mas Rio. Kasihan dia kalau harus mikirin bayar pas lagi sakit perut," kata Nadinta tenang.
Dia mengeluarkan kartu debit platinumnya.
"Silakan. 2,5 juta kan?"
"Iya, Bu. Terima kasih," Rio menerima kartu itu dengan lega, segera memprosesnya di mesin EDC.
Nadinta menekan PIN-nya. Transaksi berhasil. Struk keluar.
Saat Nadinta menyimpan kembali kartunya, sebuah ide melintas di benaknya. Ide yang nakal, jahat, dan sangat pantas untuk Arga.
Arga baru saja menghindar dari kewajiban membayar 2,5 juta. Dia pasti merasa lega di dalam toilet sana, berpikir dia berhasil mengakali Nadinta lagi. Dia pasti berpikir uangnya aman.
Konsep fotonya casual. Itu artinya mereka harus memakai baju santai. Dan baju santai yang terlihat bagus di kamera itu harus baru, bermerek, dan mahal.
Nadinta melihat Arga keluar dari toilet lima menit kemudian. Wajah pria itu terlihat segar dan lega, senyumnya kembali merekah saat melihat Nadinta sudah memegang kuitansi lunas DP.
"Udah beres, Din?" tanya Arga tanpa rasa bersalah sedikitpun, pura-pura mengelus perutnya. "Duh, lega banget. Maaf ya tadi ninggalin."
"Sudah, Mas. DP sudah lunas," jawab Nadinta datar.
"Wah, makasih ya Sayang. Nanti aku ganti deh pas di rumah," janji palsu itu keluar lagi.
"Iya, gampang," Nadinta berdiri. "Mas Rio, terima kasih ya. Kami pamit dulu."
Mereka berjalan keluar menuju mobil.
"Terus sekarang kita mau ke mana?" tanya Arga saat menyalakan mesin mobil. Dia merasa menang hari ini. Dompetnya aman.
Nadinta menatap Arga sambil tersenyum manis.
"Mas, konsep fotonya kan casual," mulai Nadinta. "Berarti kita harus pakai baju yang santai tapi tetep kelihatan kece dan mahal. Masa kita foto prewed pakai kaos oblong bekas tidur?"
"Iya bener. Terus?"
"Gimana kalau kita ke mall sekarang? Kita cari outfit yang cocok. Kemeja linen, celana chino, dress katun yang bagus. Biar hasilnya maksimal."
Nadinta menatap Arga dengan tatapan menuntut yang tersembunyi.
"Sesuai janjiku yang kemarin, aku bakal beliin kita baju yang serasi. Couple. Gimana?"
Wajah Arga mendadak sumringah. Seluruh keraguannya mengenai perubahan sikap Nadinta yang royal menjadi pelit, mendadak hilang seketika. Dia kembali berpikir bahwa wanita yang sedang digandengnya ini masih sama bodohnya seperti wanita yang dia pacari selama dua tahun lamanya.
"Sip, deh. Makasih, Sayang!"
"Anything for you, Mas."
Arga membukakan pintu, membiarkan Nadinta masuk. Kemudian berjalan mengitari bagian depan mobilnya untuk sampai ke kursi pengemudi.
Saatnya giliranku.
emang dasar gak kompeten, modal bakat jilat aja nih pasti rudi bisa jadi manager.
tuh hadapin yang lebih buas kalo berani /Chuckle/