NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tertindas

Pembalasan Istri Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Careerlit
Popularitas:109.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayy

Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.

Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.

"Selamat, karena telah memungut sampahku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Seblak Mang Ujang

​Cahaya lampu di dalam ruang ganti itu terang benderang, memantulkan bayangan Nadinta di cermin setinggi badan.

​Sudah lima menit Nadinta hanya berdiri diam. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan asing. Sosok di cermin itu bukan Nadinta si Manajer Pemasaran yang kaku. Sosok di sana terlihat... berbahaya.

​Gaun berwarna maroon gelap pilihan Vivi melekat pas di tubuhnya. Potongannya cerdas—kerah sabrina yang mengekspos tulang selangkanya, dengan aksen asimetris di bagian bawah.

Warnanya membuat kulit kuning langsat Nadinta terlihat jauh lebih hidup, kontras sekali dengan blazer hitam membosankan yang kini teronggok di gantungan.

​Nadinta menyentuh kain di pinggangnya. Rasanya aneh. Cantik, tapi bukan cantik yang sopan. Ini cantik yang menuntut perhatian.

​"Mbak Nadin? Kok hening cipta? Pingsan ya di dalem?"

​Suara Vivi dari luar tirai terdengar cempreng, membuyarkan lamunan Nadinta.

​Nadinta menarik napas panjang. Rasanya konyol. Dia bisa memimpin rapat direksi tanpa gemetar, tapi memakai baju begini saja jantungnya berdebar.

​"Bentar, Vi," sahut Nadinta.

​Dengan satu tarikan napas terakhir, Nadinta menyibakkan tirai beludru itu.

​Dua pasang mata langsung menoleh. Hening sejenak.

​Karina, yang gelas teh lecinya sudah menempel di bibir, batal minum. Mulutnya sedikit terbuka. Sementara Vivi, yang sedang melipat kemeja di meja kasir, mematung dengan mata membelalak.

​"Oke," Vivi akhirnya bersuara. Dia berjalan mendekat, mengelilingi Nadinta satu putaran penuh layaknya juri kompetisi. "Saya tarik omongan tadi. Ini mah bukan 'jahat' lagi. Ini kriminal."

​"Gila..." Karina menggeleng-gelengkan kepala takjub. "Ini beneran Mbak Nadin bos aku? Kalau besok Mbak ngantor begini, Pak Arga bisa keselek kopi sih, Mbak."

​Nadinta merasakan pipinya memanas, tapi dia tertawa kecil. "Kalian ini berlebihan banget. Ini... nggak terlalu terbuka kan? Bahu saya kelihatan banget lho."

​"Justru itu poinnya, Mbak!" seru Vivi gemas. Dia memegang bahu Nadinta, memutarnya menghadap cermin besar butik. "Lihat deh. Postur Mbak itu bagus. Tegap. Selama ini ketutup sama baju-baju karung itu. Sayang banget tau."

​Nadinta menatap bayangannya lagi. Kali ini dengan validasi dari dua orang di sampingnya, dia mulai melihat apa yang mereka lihat.

​"Gimana rasanya?" tanya Vivi, nadanya berubah sedikit serius. "Nyaman?"

​"Anehnya... iya," aku Nadinta jujur. Dia memutar tubuhnya sedikit, melihat kain itu melambai. "Rasanya ringan. Kayak bukan saya."

​"Salah," koreksi Vivi cepat. "Justru itu aslinya Mbak Nadin. Yang kemarin-kemarin itu yang kostum."

​Vivi menepuk tangan sekali. "Bungkus. Nggak usah intip label harga. Ini kado dari saya. Anggap aja investasi buat mental Mbak biar makin happy."

​"Eh, jangan dong, Vi," tolak Nadinta cepat. Dia melangkah mengambil tasnya. "Bahannya bagus gini pasti mahal. Saya bayar aja, ya? Masa udah dapet ilmu, dapet baju juga."

​"Mbak Nadin," panggil Vivi dengan nada memperingatkan yang jenaka. Tangan gadis itu menahan lengan Nadinta.

"Saya tersinggung lho kalau Mbak maksa bayar. Saya kasih ini karena saya happy liat baju saya dipake orang yang tepat. Di manekin cuma jadi kain, di badan Mbak dia jadi hidup. Terima aja, ya? Please?"

​Nadinta menatap mata Vivi yang berbinar tulus. Akhirnya, dia menyerah. Susah sekali menolak energi gadis ini.

​"Yaudah deh. Makasih banyak ya, Vivi. Kamu baik banget," ucap Nadinta tulus.

​"Sama-sama! Nah, sekarang sesi fashion show kelar. Cacing di perut saya udah demo minta jatah," Vivi menepuk perutnya yang rata. "Kalian laper kan?"

​"Banget," sahut Karina cepat. "Mbak Nadin mau makan apa? Pasta? Steak? Atau Sushi? Mumpung lagi di Jaksel nih."

​Nadinta berpikir sejenak. Biasanya, dia akan memilih tempat yang tenang, bersih, dan ber-AC. Tempat di mana dia bisa makan dengan sendok dan garpu tanpa takut bajunya kotor. Tapi hari ini, energinya berbeda.

​"Saya ikut tuan rumah aja," jawab Nadinta santai. "Terserah Vivi deh."

​Vivi menyeringai lebar. Ide nakal melintas di matanya. "Yakin, Mbak? Nggak bakal nyesel?"

​"Selama bisa dimakan, saya nggak akan nyesel."

​"Oke. Kita makan 'makanan jiwa'."

​Lima belas menit kemudian.

​Nadinta mendapati dirinya duduk di kursi plastik berwarna merah yang sedikit goyang. Di atasnya, terbentang tenda terpal oranye. Suara bising knalpot motor dan teriakan pengamen jalanan menjadi musik latar.

​Asap putih mengepul dari wajan besar di mana seorang bapak paruh baya sedang mengaduk masakan dengan semangat berapi-api. Aroma kencur dan cabai menyengat hidung, membuat siapa pun yang lewat pasti bersin.

​Nadinta menatap spanduk lusuh di depannya: SEBLAK JELETOT MANG UJANG.

​"Seblak?" tanya Nadinta, alisnya terangkat satu.

​"Eits, jangan salah. Ini legendaris, Mbak," kata Vivi bangga sambil mengelap meja dengan tisu basah sebelum mempersilakan Nadinta duduk. "Saya langganan di sini dari jaman kuliah. Rasanya nggak pernah berubah. Pedas, gurih, dan... brutal."

​Nadinta memandang sekeliling. Panas, tentu saja. Tapi melihat wajah-wajah orang di sini yang makan dengan lahap sambil tertawa, Nadinta tidak merasa risih.

Dia sudah mengganti gaun maroon-nya kembali ke pakaian kantor, tapi perasaan "bebas" itu masih tersisa.

​"Mbak Nadin pesen level berapa? Nol sampai lima," tanya Karina yang sudah berdiri mau memesan.

​"Samain aja kayak kalian," tantang Nadinta.

​"Yakin, Mbak?" Karina membelalak. "Vivi tuh makannya level tiga lho. Itu pedasnya bisa bikin amnesia sesaat."

​"Boleh. Saya lagi butuh sesuatu yang bisa bikin amnesia sesaat," jawab Nadinta mantap sambil meletakkan tas kerjanya di pangkuan.

​Vivi tertawa renyah. "Cakep! Mang Ujang! Tiga porsi level tiga! Kerupuknya yang banyak, ceker sama tulang!"

​Tak lama kemudian, tiga mangkuk ayam jago berisi kuah merah pekat tersaji. Uap panasnya saja sudah membawa aroma cabai yang menusuk.

​Nadinta menatap mangkuk itu. Dia mengambil sendok, meniup kuahnya sedikit, lalu menyuapnya.

​Sensasi panas langsung meledak di lidahnya. Pedas, gurih kencur, dan asin yang pas.

​"Hah..." Nadinta mendesis kepedasan, buru-buru meraih gelas es teh manis besar di sampingnya.

​"Gimana, Mbak? Nendang kan?" tanya Vivi sambil mengunyah kerupuk basah dengan santai.

​"Gila... pedes banget," komentar Nadinta, matanya mulai berair. Dia mengusap sudut bibirnya dengan tisu. "Tapi enak."

​"Anggap aja filosofi hidup, Mbak," celoteh Vivi di sela-sela makannya. "Hidup itu kayak seblak. Kadang pedes, bikin nangis, bikin keringetan, tapi kalau dinikmati... ya enak aja. Jangan terlalu dipikirin, telen aja."

​Karina tertawa sambil mengelap keringat di dahinya. "Mulai deh, Mario Teguh versi pinggir jalan keluar."

​Nadinta tersenyum, menyendok kuah merah itu lagi. Keringat mulai muncul di pelipisnya, melunturkan bedaknya yang sempurna. Tapi dia tidak peduli.

​"Kamu sering makan di sini, Vi?" tanya Nadinta.

​"Sering banget. Apalagi kalau lagi stres ngadepin klien yang rewel atau supplier yang nipu," jawab Vivi santai, menggigiti tulang ayam. "Dulu waktu saya diputusin pacar saya yang selingkuh sama teman sendiri, saya nangis di pojokan situ tuh. Abang seblaknya sampai takut saya pingsan."

​Sendok Nadinta terhenti di udara. "Kamu pernah diselingkuhi?"

​"Pernah dong. Cerita klasik lah, Mbak," Vivi mengangkat bahu tak acuh, seolah sedang menceritakan plot sinetron murah.

"Cowoknya insecure karena karier saya lebih bagus. Akhirnya dia cari cewek lain yang bisa dia atur-atur. Padahal mah, emang dasar buaya aja."

​Nadinta terdiam. Cerita itu terdengar sangat familiar. Terlalu familiar.

​"Terus kamu gimana?" tanya Nadinta pelan.

"Maafin dia?"

​Vivi tertawa, nyaris tersedak kerupuk. "Ya enggak lah, Mbak! Gila apa. Sampah itu tempatnya di tong sampah, bukan di hati saya. Saya nangis seminggu, makan seblak, terus move on. Bisnis saya makin lancar, dia malah hidupnya kocar-kacir. Karma itu nyata kok."

​Kata-kata Vivi barusan menohok Nadinta tepat di ulu hati.

​Sampah tempatnya di tong sampah.

​Sederhana sekali logika Vivi. Tidak rumit seperti Nadinta yang menyusun rencana balas dendam bertingkat. Tapi mungkin, di situlah letak kekuatannya.

​"Kamu bener, Vi," gumam Nadinta pelan, kembali menyuap kuah pedas itu.

Ingatan Nadinta berkelana, membawa dirinya kembali mengulas memori kelam di kehidupan sebelumnya. Di saat Arga sering memarahinya karena lembur, meminta jatah meski Nadinta telah kelelahan, juga menguras habis hartanya dengan dalih demi kebaikan bersama.

Dia tak percaya bahwa dulu dia sebodoh itu.

"Sampah seharusnya emang dibuang."

Namun, kali ini dia telah berubah. Nadinta yang sekarang, telah berada semakin dekat dengan tujuannya: Membuang Arga dan membuat Maya memungut sampahnya.

​"Mbak Nadin kenapa? Kok jadi melamun?" tanya Karina khawatir. "Kepedesan?"

​"Enggak, Rin. Cuma... setuju aja sama omongan Vivi."

​Di tengah suasana hangat itu, ponsel Nadinta yang tergeletak di meja bergetar panjang. Suara getarannya beradu dengan permukaan meja kayu yang keras.

​Layarnya menyala. Nama Arga muncul di sana.

​Nadinta melirik layar itu. Senyum di wajahnya memudar sedikit.

​Vivi yang duduk di seberangnya ikut melirik. Gadis itu sepertinya punya radar yang tajam. Dia melihat perubahan ekspresi Nadinta, lalu melihat nama di layar.

​"Penting, Mbak?" tanya Vivi santai, sambil menusuk bakso.

​Nadinta menatap nama itu. Arga pasti menelepon dengan panik. Mungkin dia sedang dikejar Maya, atau mungkin dia sedang kebingungan karena besok ibunya datang dan dia tidak pegang uang sepeser pun.

​Bayangan wajah memelas Arga muncul. Dulu, Nadinta pasti akan langsung mengangkatnya. Dulu, Nadinta akan meninggalkan makanannya demi mengurus masalah Arga.

​Tapi hari ini, lidahnya sedang terbakar nikmatnya seblak, dan di hadapannya ada dua teman yang tulus.

​"Enggak," jawab Nadinta dingin. Tangannya terulur, menekan tombol silent di samping bodi ponsel, lalu membalikkan benda pipih itu hingga layarnya menghadap ke bawah meja yang lengket.

​"Nggak penting sama sekali. Cuma gangguan," lanjut Nadinta mantap.

​Vivi tersenyum lebar, mengacungkan jempolnya yang belepotan kuah merah. "Cakep. Makan lagi, Mbak. Keburu dingin nggak enak. Gangguan bisa nunggu, seblak enak nggak bisa."

​"Betul banget," sahut Karina setuju.

​Nadinta kembali menyendok makanannya. Kali ini, rasanya jauh lebih nikmat. Ada rasa kemenangan kecil dalam setiap suapan.

​Namun, di balik layar ponsel yang tertutup itu, puluhan notifikasi pesan mulai menumpuk tanpa henti. Nadinta tahu apa isinya, dan dia memilih untuk tidak peduli. Biarkan Arga terbakar sendirian malam ini.

1
You And Me Cinta Abadi
Ibunya Arga berani menampar Nadinta padahal itu apartement milik Nadinta
You And Me Cinta Abadi
Nadinta ibumu sangat menderita saat hidup
You And Me Cinta Abadi
Wah Arga memuji Nadinta pasti supaya ibumu kagum ke dia
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Ibunya Nadinta kasihan sakit hati dan sakit fisik
Aku dan kamu selamanya😍💏💑👪
Nadinta Arga memangil kamu untuk berhenti berjalan keluar apartement
Risa Istri Yayang
Keren Nadinta ikutan membalas menampar ibunya Arga
Risa Istri Yayang
Ibunya Nadinta kasihan meninggalkan dunia ngga di temani suaminya
Risa Istri Yayang
Ibunya Arga ribet banget makanan bisa beli jadi jangan menyuruh Nadinta memasak
Yayang Lop3♡ Risa
Arga wajar Nadinta menampar ibumu karena ibumu menampar Nadinta duluan
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Nadinta kenapa ngga minta cerai ke suaminya
Yayang Lop3♡ Risa
Ibunya Arga kejam menyuruh Nadinta memasak
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta kamu keluar dari apartement mencari udara segar
Aku kamu tak terpisahkan
Kasihan ibumu Nadinta karena saat di selingkuhi ayahmu dia cuma menangis
Aku kamu tak terpisahkan
Nadinta Arga pasti marah sama kamu
@Me and You Married
Arga kamu ngga bakal boleh menikah dengan Nadinta
@Me and You Married
Tabahkan hatimu ya Nadinta ikhlasin ibumu sudah meninggal dunia
@Me and You Married
Wah Nadinta kamu di puji Arga pintar memasak di depan ibunya Arga
@Yayang Risa Couple Happy
Arga ibumu tega melakukan kekerasan fisik ke Nadinta
@Yayang Risa Couple Happy
Nadinta di namun kamu bakal di pecat jadi kandidat calon istri Arga
@Yayang Risa Couple Happy
Nadinta ibunya Arga dan Arga kaget mendengar pengakuan kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!