"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
"Sial....Semua ini karena keberadaan wanita itu. Dia yang sudah membuat Tomi banyak berubah. Jika bukan karena kehadirannya, Tomi pasti masih memaafkan kesalahanku dan memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya." Cili merasa geram pada Sonia yang dianggap sebagai perusak segala rencananya untuk kembali bersama Tomi.
Tawa sinis yang terdengar dari ambang pintu berhasil menyadarkan Cili akan keberadaan seseorang yang kini tengah berdiri menatapnya.
"Sungguh....aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang tak tahu malu sepertimu di muka bumi ini, Cili. Kau sendiri yang dahulu meninggalkan Tomi layaknya seonggok sampah tak berharga di hari pernikahan kalian, dan sekarang justru kau juga yang kembali dengan sendirinya ke kehidupan Tomi. Sepertinya kau terlalu percaya diri kalau perasaan Tomi padamu tidak akan pernah berubah." Raja yang tadinya berniat menemui Tomi justru mendapati Cili di ruangan sahabatnya itu.
Cili semakin geram menyadari keberadaan salah satu sahabat baik Tomi tersebut, apalagi dimata Cili, Raja terkesan memojokkan dirinya.
"Kau tidak ada urusannya dengan semua ini. Jadi, berhentilah ikut campur dan mengomentari aku!." Bukannya sadar diri, Cili justru menganggap Raja terlalu ikut campur dalam urusan antara dirinya dan Tomi.
Raja melipat kedua tangannya di depan dada, menarik sudut bibirnya sambil menatap remeh pada Cili.
"Aku pikir setelah melakukan kesalahan besar di masa lalu, kau telah berubah lebih baik. Ternyata sikap buruk mu sudah mendarah daging, Pricilia Marda. Ketimbang terlalu percaya diri Tomi akan jatuh kembali ke pelukanmu, sebaiknya kau mencari pengacara hebat jika berniat menuntut Andrean Group!." Peringat Raja sebelum berlalu meninggalkan Cili yang masih menatap kepergiannya dengan kedua tangan terkepal erat.
Saking geramnya Cili sampai menghentakkan kakinya di lantai. "Breng-sek...." umpat Cili.
"Wanita itu bukan hanya berhasil mengubah Tomi, tapi dia juga sudah berhasil mengubah sikap para sahabat Tomi terhadapku." Gumam Cili. kebenciannya terhadap sosok Sonia pun semakin mendalam. Satu fakta yang hingga detik ini belum diketahui oleh Cili, yakni Sonia merupakan adik sepupu dari Abil.
*
Setelah mengemudikan mobilnya kurang dari tiga puluh menit, kini mobil Tomi tiba di depan gerbang kediaman utama keluarga besar Abil.
"Selamat sore, tuan Tomi." Security membuka pintu gerbang dan mempersilahkan mobil Tomi masuk ke dalam.
"Sore...." Tomi kembali menjalankan mobilnya memasuki gerbang. Tomi mematikan mesin mobilnya, menatap bangunan megah dihadapannya sebelum sesaat kemudian beranjak turun dari mobilnya.
"Selamat sore, tuan Tomi....." Salah seorang asisten rumah tangga yang bersih-bersih di teras depan menyapa Tomi.
"Sore, bi."
Entah kebetulan atau memang Abil menyadari kedatangan Tomi sehingga pria itu tiba-tiba muncul dari dalam.
"Untuk apa kau datang ke sini?." Intonasi Abil pelan namun terkesan kurang bersahabat.
"Tentu saja untuk bertemu dengan istriku." Jawab Tomi apa adanya.
"Sonia tidak ingin bertemu denganmu." Abil berbalik badan dan kembali dalam tanpa mempersilahkan Tomi untuk masuk.
"Aku tahu kau masih marah padaku, tapi kau tidak bisa bersikap seperti ini padaku, Abil! Sonia adalah istriku dan aku berhak menemuinya." Tomi yakin itu hanya akal-akalan Abil saja. Tidak mungkin Sonia menolak bertemu dengannya.
"Tentu saja aku tahu. Tetapi, kau juga jangan lupa bahwa aku adalah kakaknya dan aku pun berhak melarang adikku bertemu dengan seseorang yang menjadi penyebab luka dihatinya."
Tomi yang kenal betul dengan sifat dan watak Abil, hanya bisa menghela napas panjang mendengarnya. Jika Abil sudah bersikap demikian, maka percuma juga mengajak pria itu berdebat karena hasilnya pasti akan tetap sama. Abil tetap tidak akan mengizinkannya bertemu dengan istrinya untuk saat ini.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang, tapi aku pasti akan kembali lagi ke sini sampai aku berhasil menemui istriku dan membawanya kembali bersamaku." Tomi sengaja menekankan bahwa ia akan tetap kembali sampai ia berhasil bertemu dengan istrinya.
*
Waktu terus berjalan, Sudah hampir satu Minggu Tomi terus mendatangi kediaman utama keluarga besar Abil, namun ia belum berhasil menemui sang istri. Terus dihalang-halangi menemui istrinya tidak membuat Tomi putus asa, pria itu justru memutar otak. Tomi yakin Sonia bukannya enggan menemuinya, akan tetapi Abil yang sengaja tidak memberikan akses pada Sonia untuk bertemu dengannya.
"Aku memang bersalah, akan tetapi kau tidak bisa terus bersikap seperti ini padaku, Abil! Aku sudah mengurus Cili, sekarang wanita itu tak lagi terikat kontrak kerjasama dengan perusahaan kami. Jadi please, berikan aku kesempatan untuk bertemu dengan istriku, kawan!." Tomi memohon dihadapan Abil. Berharap hati sahabatnya itu sedikit tersentuh, sehingga mempertemukan ia dan sang istri.
"Bukankah kau menikah dengan Sonia hanya untuk mewujudkan keinginan terakhir dari Daddy-nya Sonia, dan faktanya kau juga tidak mencintai Sonia, Lalu untuk apa kau bersikeras menemuinya dan untuk apa juga masih ingin mempertahankan rumah tangga bersamanya?."Cecar Abil.
"Jangan konyol...! Aku dan Sonia sudah menikah hampir dua bulan, lalu bagaimana kau masih berpikir aku tidak mencintai istriku?." Rasanya lelah bicara dengan cara baik-baik pada Abil yang masih saja keras kepala dan menghalanginya bertemu dengan Sonia.
Abil tak lagi menanggapi, ia justru berlalu meninggalkan Tomi. Abil berjalan menapaki anak tangga menuju kamarnya. Menurut Abil siapapun bisa berkata demikian, jika terpaksa.
"Baiklah, jika dengan cara baik-baik kau masih tidak memberikan akses untuk aku bertemu dengan istriku, maka aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, Tuan Syabil Fahreza."
Abil berhenti sejenak. Pria itu menarik sudut bibirnya tanpa menoleh pada Tomi, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Lagi dan lagi Tomi meninggalkan kediaman tersebut tanpa hasil.
Tanpa bertanya sekalipun, Asisten Azam sudah dapat menebak jika usaha tuannya tersebut kembali gagal total.
"Anda masih punya banyak waktu, tuan." Asisten Azam mencoba menghibur dan menyemangati tuannya itu.
*
"Sonia.....Sonia....buka pintunya Sonia!." Sudah beberapa kali ia mengetuk pintu kamar mandi namun Sonia tak kunjung memberi jawaban, hingga membuat Abil berpikir telah terjadi hal buruk pada Sonia di dalam sana.
"Jika kamu masih diam saja, maka mas akan mendobrak pintunya." Baru saja hendak mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi di kamar Sonia, tiba-tiba pintu terbuka dan di susul oleh Sonia muncul dari balik pintu.
Abil semakin cemas melihat wajah Sonia yang nampak pucat.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?." Abil panik. Sonia tak sempat menjawab karena perutnya kembali bergejolak. Ia kembali ke kamar mandi. Abil langsung menyusul Sonia masuk ke kamar mandi.
"Sebaiknya kita ke dokter sekarang!." Ujar abjl. Ia gegas memberitahu istrinya tentang kondisi Sonia saat ini.
Yuli memijat punggung Sonia. Sementara Abil segera menghubungi dokter keluarga guna memeriksa kondisi Sonia. Tak berselang lama, dokter keluarga pun tiba dan langsung memeriksa kondisi Sonia.
"Apa bulan ini anda sudah datang bulan, Nyonya Sonia?." Tanya dokter keluarga yang mengetahui tentang pernikahan Sonia dan Tomi.
Sonia menggelengkan kepalanya seraya memandang pada dokter.
"Menurut hasil pemeriksaan sementara, besar kemungkinan anda sedang hamil, Nyonya Sonia. Tetapi untuk memastikan, sebaiknya konsultasikan pada dokter spesialis kandungan!."
Deg
Jika dokter mengatakan besar kemungkinan Sonia tengah hamil, itu artinya Tomi telah menyentuh adik sepupunya tersebut. Tadinya Abil berpikir Tomi enggan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, mengingat Tomi menikahi Sonia hanya karena terpaksa, bukan karena alasan cinta.