"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Identitas yang Tercuri
Ruangan Raden masih terasa sunyi, penuh keheningan seperti tidak berpenghuni.
Raden masih terpaku, membungkuk dengan mata yang tak berkedip menatap foto usang pemberian Alana itu.
Satu menit, dua menit, tiga menit... Raden masih terdiam seribu bahasa.
Keheningan itu begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu habis disedot oleh kenyataan.
Alana menahan napas, mencoba bersikap tenang meski hatinya berdebar hebat.
Ia bisa melihat ekspresi wajah Raden berubah menjadi dingin, bahkan jakunnya bergerak naik turun dengan susah payah.
Raden tetap diam. Dia tidak berteriak apalagi meledak, tapi tangan yang tadinya memutih kini mulai bergetar hebat.
Raden seperti dipaksa menelan kenyataan pahit yang merobek kenangan masa kecilnya.
"Raden... kamu tidak apa-apa?" ucap Alana lirih. Suaranya pecah karena rasa khawatir.
Raden tak menjawab. Matanya kini memindai foto itu dengan teliti, menatap dua wajah yang begitu identik.
Ingatannya kembali berputar pada saat tiba-tiba ibunya bersikap dingin dan tatapan matanya tak pernah terasa seperti rumah.
"Kenapa... wajahnya sama, tapi... t-tapi bola mata dan tatapan matanya beda," suara Raden akhirnya keluar, serak seperti menahan tangis.
Lalu ia mendongak menatap Alana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Lan... pantas saja ia nggak pernah ingat lagu nina bobo itu. Padahal Mamaku selalu menyanyikannya sebelum tidur."
"Jadi selama ini aku... tinggal bersama orang asing yang mencuri identitas Mamaku?"
Tangis Raden akhirnya pecah. Ia seolah kehilangan separuh hidupnya saat itu juga.
Melihat Raden yang rapuh, Alana tidak tahan. Ia duduk di samping Raden dan merengkuh wajah pria itu dengan kedua tangannya.
"Den, Sayang... lihat aku. Tatap mataku, fokus ke aku. Jangan pikirkan yang lain dulu," ucap Alana tegas namun lembut.
Raden menatap mata Alana dan saat itu juga pertahanannya runtuh. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana.
Raden menghirup lembut aroma tubuh Alana yang bisa menenangkan jiwanya yang sangat kacau.
Ia memeluknya sangat erat, seolah hanya Alana satu-satunya pegangan agar ia tidak lebih hancur.
Setelah merasa lebih baik, Raden melepaskan pelukannya, namun tangannya masih melingkar di pinggang mungil Alana.
Ia meraih tangan Alana dan menciumnya berkali-kali dengan penuh kasih dan pemujaan.
"Jangan tinggalin aku ya, Sayang. Di dunia yang penuh kepalsuan ini, kamu satu-satunya yang dapat aku percaya."
"Janji ya? Selalu ada di sampingku sampai kita bisa menemukan Mamaku yang asli dan juga ibu kamu," bisik Raden lirih.
Raden mencium kening Alana lama sekali. Sebuah kecupan yang penuh cinta dan rasa takut kehilangan.
Sementara itu, di luar ruangan...
Suster Mia yang sejak tadi mondar-mandir langsung menegakkan tubuhnya saat melihat sosok wanita anggun keluar dari lift.
Itu Mama Dokter Raden, Aristi.
"Nyonya Aristi!" sapa Mia dengan suara yang dilembutkan. "Mau bertemu dengan Dokter Raden ya, Nyonya? Ayo saya antar."
Mama Aristi hanya tersenyum tipis. "Apa Raden ada di ruangannya, Suster Mia?"
"Ada, Nyonya. Tapi... itu dia yang jadi masalah," ucap Mia sambil memasang wajah pura-pura prihatin.
"Dari tadi pintunya sengaja dikunci dari dalam sama Suster Alana. Saya jadi khawatir dengan Dokter Raden."
"Suster Alana itu orangnya sangat agresif mendekati para dokter. Makanya Dokter Raden jadi kepincut," bisik Mia julid.
Mereka sampai di depan pintu kayu jati. Mama Aristi menyipitkan mata, merasa terganggu dengan kata-kata Mia.
"Oh begitu ya? Mari kita lihat sehebat apa diskusi mereka sampai harus mengunci pintu saat jam dinas."
Tangan Mama Raden sudah berada di gagang pintu.
"Mampus kamu Suster Alana!" ucap Suster Mia dalam hati sambil tersenyum sinis.
Di dalam ruangan, Raden yang memiliki insting tajam tiba-tiba melepaskan tangannya dari pinggang Alana.
"Na, kayaknya ada orang di luar," bisik Raden cepat.
Raden langsung menyambar foto usang itu, memasukkannya ke dalam laci, dan memutar kunci dalam sekejap.
Alana langsung berdiri tegak merapikan seragamnya yang sedikit kusut. Jantungnya berdegup kencang.
Cklek!
Pintu terbuka tanpa ketukan. Mama Raden masuk dengan langkah anggun, namun auranya terasa sangat dingin.
Mia berdiri di belakangnya dengan senyuman mengejek yang memuakkan.
"Raden, Mama membawakan makan siang. Tapi kenapa pintunya harus ditutup rapat di jam kerja?" tanya Mama Raden palsu.
Mia langsung menimpali dengan nada sok polos. "Iya Dok, tadi saya berdiri cukup lama di depan pintu karena takut mengganggu momen Dokter."
"Kasihan loh Dok, para suster di bangsal jadi keteteran karena Suster Alana terus di sini."
Raden geram. Ia menatap Mia dengan tajam seakan ingin menelan suster itu hidup-hidup.
"Suster Mia, terima kasih sudah jadi pengamat waktu yang sangat teliti. Tapi sepertinya kamu lupa tugasmu."
"Tugasmu mengurus pasien, bukan mengurus pintu ruangan saya. Apa perlu saya pindahkan kamu ke bagian gudang?"
"Jadi perempuan kok omongannya nggak bisa dijaga!" sindir Raden telak.
Mia langsung terdiam. Wajahnya merah padam menahan amarah karena disindir di depan Nyonya Aristi.
Mama palsu itu tersenyum menyeringai. Ia melangkah mendekati Alana yang masih berdiri tenang.
"Alana, saran Mama, lebih baik jangan terlalu dekat dengan api kalau kamu nggak mau kebakar."
"Orang yang selalu ingin tahu biasanya akan berakhir menyedihkan, bahkan bisa kehilangan nyawa."
Mendengar ancaman itu, Alana tidak mundur sedikit pun. Ia justru maju satu langkah menantang tatapan wanita itu.
"Terima kasih sarannya, Nyonya Aristi. Namun sepertinya Nyonya salah paham," ucap Alana lembut tapi penuh penekanan.
"Menurut saya, api tidak akan membakar orang yang sudah terbiasa memegang bara."
"Justru Nyonya yang harusnya berhati-hati. Karena terkadang, topeng yang dipakai terlalu lama bisa retak dan melukai wajah aslinya."
Ruangan itu mendadak senyap. Suster Mia melongo tak percaya, sementara Mama palsu Raden terpaku dengan mata membelalak.
Ia tidak menyangka suster yang ia remehkan baru saja melemparkan bom tepat di hadapannya.
Ia benar-benar kalah telak sekarang.
******
Catatan Penulis:
Lihat Raden nangis di pelukan Alana bikin nyesek sekaligus baper nggak sih? 🫠 Emang cuma Alana yang bisa jadi obatnya!
Gimana, puas lihat Mia sama Mama Palsu kena mental? 😂 Makanya, jangan bangunin macan yang lagi kasmaran!
Dikit lagi 10k nih, yuk gas terus dukungannya biar makin semangat bongkar topengnya! ⭐🚀🔥