NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Kini di SMA International Bima Karya terasa sangat berbeda. Sheila tidak lagi menghabiskan waktunya untuk mengejar Devano di koridor atau menunggu pria itu di gerbang sekolah. Sebaliknya, ia menjadi sosok yang paling dicari di perpustakaan dan laboratorium. Gadis yang dulunya dikenal karena keonarannya, kini menjadi pusat perhatian karena kecerdasannya yang luar biasa dan tak terduga.

​Di setiap jam pelajaran, terutama fisika dan matematika, Sheila selalu menjadi yang pertama menyelesaikan soal-soal rumit di papan tulis. Guru-guru terpukau, sementara murid lain hanya bisa melongo melihat transformasi drastis tersebut. Aura Sheila begitu berwibawa, begitu dingin, dan begitu berjarak.

​Sementara itu, Devano merasakan dunianya mulai berguncang. Bukan karena ia kehilangan penggemar—gadis-gadis masih memujanya—tapi karena ketenangan hatinya telah dicuri oleh kehadiran Sheila yang baru. Ia sering kedapatan menatap ke arah kelas XII-IPA 1 dari jauh, berharap Sheila akan meliriknya sekilas saja dengan tatapan cinta seperti dulu. Namun, Sheila benar-benar menganggapnya kasat mata.

​"Gue gak tahan lihat dia kaya gitu," desis Devano saat mereka berada di kantin. Di seberang sana, Sheila sedang berdiskusi serius dengan ketua OSIS mengenai materi olimpiade. Mereka tertawa kecil—sesuatu yang belum pernah dilihat Devano sejak malam terkutuk itu.

​"Kenapa sih, Dev? Lo masih punya motor sport baru itu, kan? Abaikan aja dia," sahut Indra sambil mengunyah makanannya.

​"Motor ini gak ada gunanya kalau pikiran gue isinya cuma dia!" bentak Devano tiba-tiba, membuat Indra dan Bayu tersedak. Devano meremas kaleng minumannya hingga remuk. Ia merasa kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada harga motor sport-nya.

​Sore itu, Devano sengaja pergi ke perpustakaan—tempat yang biasanya sangat ia hindari. Ia menemukan Sheila sedang duduk di pojok ruangan, dikelilingi oleh tumpukan buku. Cahaya matahari sore menembus jendela, membuat wajah Sheila terlihat begitu tenang namun tegas.

​Devano melangkah mendekati meja itu. Ia berdiri di depan Sheila, namun Sheila tetap fokus menulis rumus di buku catatannya seolah tidak ada manusia di depannya.

​"Sheil... kita perlu bicara," ucap Devano dengan suara yang jauh lebih rendah dan lembut, nyaris memohon.

​Sheila terus menulis. Suara goresan penanya di atas kertas terdengar begitu dominan di ruangan yang sunyi itu. Setelah satu menit yang terasa seperti satu jam bagi Devano, Sheila akhirnya berhenti. Ia tidak mendongak, hanya menatap catatannya datar.

​"Vano, kamu tahu Hukum Kekekalan Energi?" tanya Sheila tiba-tiba.

​Devano tertegun. "Apa?"

​"Energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk. Begitu juga dengan perasaanku," ucap Sheila sambil akhirnya mengangkat wajah dan menatap Devano dengan mata yang kosong. "Energi cinta yang dulu ada untukmu sudah berubah bentuk menjadi kebencian, dan kebencian itu menginginkanku untuk menghancurkanmu, Devano Narendra. Jadi, jangan buang energimu untuk bicara padaku. Itu hanya sia-sia."

​Devano merasakan dadanya sesak, seolah kata-kata Sheila adalah oksigen yang beracun. Ia mencoba menggapai tangan Sheila, namun gadis itu menariknya dengan cepat, menunjukkan rasa jijik yang begitu nyata. Devano tertegun. Dulu tangan itulah yang selalu berusaha menggandengnya, namun kini Sheila menentukan jarak yang begitu jauh hingga tak terjangkau.

​"Gue bisa balikin semuanya, Sheil! Gue bisa jual motor itu, gue bisa minta maaf secara terbuka, gue—"

​"Terlambat. Apa kamu bisa balikin kehormatanku, hah?" potong Sheila singkat. Ia mengemasi buku-bukunya dan berdiri. "Semalam di apartemen itu, kamu memilih barang daripada manusia. Sekarang, terimalah kenyataan bahwa kamu hanyalah pemilik barang mewah yang jiwanya sudah mati. Permisi."

​Devano terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata "kehormatan" menghujam jantungnya seperti belati yang sangat tajam. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar, menyadari bahwa tidak ada jumlah uang atau barang mewah apa pun di dunia ini yang bisa membayar apa yang telah ia rampas secara biadab malam itu. Sheila benar, ia hanyalah sosok mati yang berjalan di balik gelar most wanted.

​Ia menatap punggung Sheila yang menjauh dengan langkah tegak, meninggalkannya dalam kehampaan perpustakaan. Sejak detik itu, tidur Devano tidak pernah lagi nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar isak tangis Sheila yang tercekik di sudut kamar apartemennya, menghantui setiap sudut logikanya.

​Minggu demi minggu berlalu, dan pagi ini aula besar SMA International Bima Karya terlihat sangat megah. Hari ini adalah Olimpiade Sains tahunan. Di atas panggung, dua meja utama telah disiapkan untuk babak final cerdas cermat fisika. Di satu sisi, berdiri Devano Narendra yang terlihat pucat dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Di sisi lain, Sheila Putri berdiri dengan aura yang begitu agung dan tenang.

​Seluruh murid menahan napas. Mereka menantikan pertarungan antara sang juara bertahan melawan gadis yang bangkit dari abu kehancuran.

​"Pertanyaan terakhir untuk menentukan juara umum," ucap juri dengan suara lantang melalui mikrofon. "Hitunglah kecepatan sudut pada partikel yang mengalami percepatan sentripetal sebesar..."

​Belum selesai juri membacakan soal, tangan Sheila sudah menekan bel dengan keras. Teettt!

​Seluruh aula hening. Devano menatap Sheila dengan tatapan nanar. Ia bahkan belum sempat mencerna kata-kata juri, namun Sheila sudah berdiri dengan tatapan mata yang menghujam langsung ke arahnya, bukan ke arah juri.

​"Jawabannya adalah 20rad/s," ucap Sheila tenang, tanpa menggunakan kertas cakar sedikit pun.

​"Tepat! Juara umum olimpiade tahun ini jatuh kepada Sheila Putri dari kelas XII-IPA 1!" seru juri yang disambut gemuruh tepuk tangan dan sorakan hebat dari seluruh siswa.

​Di tengah riuhnya tepuk tangan, Sheila melangkah mendekati meja Devano. Ia menatap pria itu yang kini tertunduk lesu, kehilangan seluruh keangkuhannya. Di depan banyak orang, Sheila berbisik cukup keras untuk didengar oleh teman-teman Devano yang berada di barisan depan.

​"Bagaimana rasanya kalah dari orang yang kamu anggap 'sampah', Vano? Motor sport-mu tidak bisa membantumu menjawab soal tadi, kan?" Devano mendongak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya—sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. "Sheil... gue minta maaf... gue benar-benar—"

​"Simpan maafmu," potong Sheila sambil mengambil trofi emasnya. "Gelar juaramu sudah hilang, harga dirimu sudah runtuh, dan sekarang... kamu hanyalah kenangan buruk yang sudah berhasil aku lewati."

​Sheila berjalan pergi menuju pelukan Risma yang menangis bahagia, meninggalkan Devano yang terdiam mematung menyadari kesalahannya. Sejak saat itu, Devano menjadi semakin dingin pada siapa pun, namun ia diam-diam selalu memperhatikan Sheila dari kejauhan.

​Setelah kekalahan memalukan di aula itu, Devano bukan lagi sosok pangeran sekolah yang hangat dan penuh percaya diri. Ia berubah menjadi sosok yang lebih dingin dari sebelumnya, bahkan terkesan mati rasa. Kerumunan gadis yang biasanya memuja kini merasa takut untuk sekadar menyapa. Devano menutup diri, menenggelamkan dirinya dalam keheningan yang menyiksa.

1
DANA SUPRIYA
ini jawaban laki-laki yang PHP Atau harapan pasti
Chimpanzini Banananini
nyesek banget anjirr jadi sheila /Sob//Sob/
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!