Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azalea dan Adi Pergi
Hagia melangkah dengan perasaan campur aduk setelah menyerahkan ponsel Azalea kepada Lastri. Rasa hangat menjalar ketika mengingat apa yang ia lihat di layar ponsel Azalea. Foto dirinya. Sebuah rahasia kecil yang selama ini Azalea jaga rapat-rapat dengan wajah memerah jika Hagia hampir melihatnya, kini terbongkar tanpa sengaja.
"Nitip ya, Lastri. Bilang saja kamu yang nemu atau di mana gitu. Jangan bawa-bawa nama saya," pesan Hagia.
Lastri hanya mengangguk paham, meski matanya menyiratkan rasa heran. Hagia tidak peduli jika Lastri menganggapnya aneh. Baginya saat ini Azalea butuh ruang. Gadis itu pasti merasa kikuk atau bahkan kesal jika tahu Hagia sudah mengintip privasi di balik wallpaper ponselnya. Hagia ingin menjaga harga diri gadis itu, sembari dirinya sendiri butuh waktu untuk menetralkan detak jantung yang mendadak tidak beraturan.
Baru saja ia bernapas lega setelah urusan ponsel itu selesai, Hagia merogoh saku celananya. Ponselnya sendiri ia biarkan mode hening sejak tadi, namun ia abaikan karena sedang fokus meliput kegiatan di sanggar. Saat layar menyala, deretan notifikasi membuatnya tertegun. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak ia kenal.
Hagia mengernyit, jempolnya bergerak cepat membuka profil nomor tersebut. Seketika ia menahan nafas karena foto profil itu... itu adalah calon bapak mertuanya, ayah Azalea.
Deg
"Ada apa ini? Kenapa beliau tiba-tiba menelepon?"
Berbagai spekulasi buruk berputar di kepalanya. Apakah ini soal Azalea? Ataukah soal hubungan mereka yang belum menemukan titik terang? Baru saja tangannya hendak menekan tombol panggil balik, ponselnya kembali bergetar. Kali ini yang nelpon adalah bapaknya sendiri.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam, Lura, kamu di mana? Cepat ke tempat biasa sekarang. Bapak tunggu, jangan pakai nanti dulu. Penting!" suara Pak Waluyo terdengar serius dan terburu-buru, tidak seperti biasanya.
"Tapi Pak, saya masih ada urusan di--"
"Tidak ada tapi-tapi. Ini urusan hidup dan mati, Lura. Cepat!"
Klik. Sambungan diputus secara sepihak. Hagia terpaku sejenak. Kalimat hidup dan mati dari mulut bapaknya bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Tanpa membuang waktu, Hagia segera memacu kendaraannya. Di sepanjang jalan pikirannya bercabang. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ada bisnis keluarga yang sedang goyah. Pak Waluyo memang memiliki kerajaan bisnis yang luar biasa luasnya, Lura Grup. Saking banyaknya, Pak Waluyo seringkali lupa berapa jumlah persis perusahaannya atau berapa total omzet per bulannya. Namun meskipun begitu, jika ditanya ini usaha punya bapak? Itu usaha punya bapak? Pak Waluyo jawab iya karena ingat logonya.
Walaupun bergelimang harta, Pak Waluyo adalah ayah yang sangat demokratis. Ia tak pernah memaksa Hagia untuk mendekam di balik meja kantor jika anaknya itu lebih mencintai dunia seni dan sanggar. Pak Waluyo memberi kebebasan penuh, bahkan jika Hagia memilih menjadi entertainer murni tanpa menyentuh bisnis keluarga sekalipun. Akan tetapi karena rasa bakti yang besar, Hagia tetap mengambil alih kepengurusan beberapa unit usaha agar bapaknya bisa sedikit bersantai, meski hatinya seringkali tertinggal di sanggar, terutama sejak ada Azalea di sana.
"Azalea..." nama itu kembali muncul di benaknya. Di tengah kekhawatiran soal panggilan bapaknya, hati Hagia tetap berbunga-bunga. Wallpaper itu adalah bukti kuat. Apakah Azalea benar-benar menyukainya? Lalu bagaimana dengan status pacarnya yang kemarin sempat mengganggu pikiran Hagia? Apakah mereka sudah putus?
Pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari indah di kepalanya, kontras dengan ketegangan yang menantinya di tempat pertemuan.
...****...
Di sisi lain, di asrama sanggar.
Azalea sudah memegang kembali ponselnya berkat bantuan Lastri. Namun bukannya merasa tenang, ia justru merasa gelisah. Ada sesuatu yang harus ia tanyakan pada Bima, adik Hagia. Ia harus pergi ke rumah Hagia sekarang juga secara diam-diam. Namun dia menemukan kendala transportasi.
Azalea memiliki mobil sendiri, tapi sejak ia dekat dengan Hagia, kunci mobilnya selalu disandera oleh pria itu. Hagia selalu punya seribu alasan untuk menjadi supir pribadinya, dan Azalea-- entah karena terbiasa atau memang pasrah--tidak pernah meminta kunci itu kembali secara tegas. Sekarang saat ia butuh pergi mendadak dan Hagia sedang tidak ada di tempat setelah ia bertanya pada Siska, Azalea merasa terjebak.
"Masa jalan kaki? Bisa gempor kaki gue," gerutunya sambil berjalan mondar-mandir di area asrama.
Ia melirik ke sana kemari, berharap motor yang sedang nganggur. Nihil. Area parkir asrama terlihat sepi dari kendaraan bermotor yang bisa dipinjam. Namun matanya tertuju pada sebuah sepeda jengki yang terparkir di bawah pohon mangga.
"Punya siapa ini?" gumamnya.
Ia mencari-cari di sekitar hingga matanya menangkap sosok pria yang sedang duduk di kursi bambu tak jauh dari sana. Azalea mematung.
"Adi? Kok lo bisa di sini?" tanya Azalea ketus, langkahnya menghampiri pria itu dengan penuh selidik.
Pria itu menoleh. Tak ada lagi tatapan obsesif atau panggilan Dik Azalea yang biasanya membuat Azalea merinding jijik. Adi terlihat lebih tenang, wajahnya pun tampak lebih bersih.
"Aku anggota baru di sini, Lea," jawab Adi.
Azalea mengernyitkan dahi sedalam mungkin. "Anggota baru? Lo bercanda?"
Pikirannya kalut. Bukankah Hagia yang selama ini menjaganya mati-matian dari gangguan Adi? Mengapa sekarang pria ini bisa masuk ke wilayah kekuasaan Hagia dengan begitu mudahnya?
"Bisa saja, Lea. Semua orang berhak menggapai mimpi, kan? Aku ingin berubah. Aku ingin memikirkan masa depan dan meninggalkan pribadiku yang lama. Ketua kita yang memberiku kesempatan ini. Dia orang baik," jelas Adi.
Azalea terdiam. Jika Hagia sendiri yang memberi izin, berarti ada sesuatu yang sudah mereka bicarakan. Ia melihat Adi yang sekarang tampak lebih manusiawi.
"Lea..." panggil Adi pelan.
"Kenapa?"
"Maaf ya. Selama ini aku sudah banyak menyusahkanmu, mengganggumu. Aku sadar selama ini aku salah."
Azalea menatap Adi lamat-lamat. Kesambet apa ini orang? batinnya. Akan tetapi ia tidak ingin memperpanjang drama.
"Ya sudahlah, udah berlalu juga. Yang penting lo jangan lagi-lagi maksa kehendak lo ke gue. Gue hargai kalau lo beneran mau berubah."
Adi mengangguk lemah, lalu bertanya mengapa Azalea mencari pemilik sepeda. Saat tahu Azalea ingin meminjamnya untuk keluar sebentar, Adi langsung menawarkan namun Azalea harus bawa sendiri. Tiba-tiba Azalea merasa geli sendiri dengan apa yang terlintas dibenaknya.
"Nggak ah, gue nggak mau berbaki jok sepeda sama lo."
"Yo wis, kalau begitu kamu aku bonceng. Tapi bayar ya, hitung-hitung aku mulai usaha ojek sepeda." Tawar Adi. Sengaja minta bayaran biar makin keliatan profesional.
Daripada tidak sampai ke tujuan dan urusannya dengan Bima semakin tertunda, Azalea akhirnya mengiyakan dengan terpaksa. Ia duduk menyamping di besi boncengan belakang, menjaga jarak sebisa mungkin dari punggung Adi.
"Jalan, Di. Ngebut aja," perintahnya.
"Iya."
Baru saja sepeda itu dikayuh beberapa meter menuju pintu keluar sanggar, langkah mereka terhenti paksa. Seorang lelaki menghalangi jalan.
"Mau kemana kalian?"
.
.
Bersambung.