Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayap yang mulai mengepak
Ibu... meskipun kau tak lagi di sisiku, aku berjanji akan menjadi kuat. Lihatlah aku dari sana."
Waktu adalah pengrajin yang paling ulung. Ia menempa bocah lemah yang dulu menangis di atas tanah basah menjadi seorang pemuda dengan tatapan setajam elang. Di bawah bimbingan pria misterius yang kini ia panggil Master, Shang Zhi telah bertransformasi. Ia bukan lagi pencuri makanan yang malang; ia adalah seorang kultivator yang tangguh.
Dalam dunia yang kejam ini, kekuatan adalah segalanya. Terdapat tujuh ranah yang harus didaki oleh setiap manusia yang mendambakan keabadian yang masing-masing nya memiliki tingkatan awal, menengah,dan akhir.
Bone Tempering (Tahap Penempaan Tulang)
Formation Qi (Pembentukan Qi)
Spiritual Core (Inti Rohani)
Fusion Souls (Penyatuan Jiwa)
Life and Death (Kehidupan dan Kematian)
Emperor (Kaisar)
Ancient Rulers (Penguasa Kuno)
Meskipun Shang Zhi baru menginjak ranah Bone Tempering tahap akhir, fondasi yang dibangun oleh gurunya begitu kokoh. Tulang-tulangnya sekeras baja, dan aliran energinya selaras dengan alam.
Suatu sore, di bawah pohon yang meranggas, sang Master duduk tenang menyesap tehnya. "Xiao Zhi..." suaranya lembut, namun ada nada perpisahan yang tersirat. "Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Aku tidak bisa selamanya meredupkan cahayamu di gubuk tua ini. Pergilah ke Perguruan Tian Long. Menetaplah di sana sebagai murid."
Shang Zhi terkesiap, cangkir di tangannya bergetar. "Tapi Guru! Aku tidak butuh perguruan megah. Aku ingin di sini, menjagamu hingga akhir hayatku!"
Sang Master menghela napas panjang, menatap cakrawala dengan mata yang tampak telah melihat ribuan tahun sejarah. "Temukan seorang wanita bernama Mei Ling. Dia adalah salah satu tetua agung di sana. Katakan padanya bahwa kau adalah murid dari... ZHOU XUAN."
Seketika, saat nama itu terucap, alam seolah bereaksi. Langit yang cerah mendadak legam tertutup mendung tebal. Angin menderu hebat, dan burung-burung berterbangan menjauh dalam hiruk-pikuk ketakutan. Seolah-olah nama itu adalah mantra terlarang yang mampu mengguncang dunia.
Keesokan paginya, matahari terbit perlahan di balik kabut. Shang Zhi telah mengemas segalanya, namun langkah kakinya terasa seberat gunung. Sebelum melintasi batas gerbang, ia berbalik, menatap pria yang telah memberinya nyawa kedua.
Air mata jatuh tak terbendung. "Guru... kau adalah cahaya dalam kegelapanku. Kau menyelamatkanku, memberiku tujuan, dan mencintaiku saat dunia membuangku. Bagiku... kau lebih dari sekadar guru."
Shang Zhi ragu sejenak, suaranya serak karena emosi. "Bolehkah... sekali saja sebelum aku pergi, aku memanggilmu... Ayah?"
Bibir sang Master bergetar. Ia mendekat dan memeluk bahu pemuda itu. Air matanya sendiri mengalir melewati kerutan di wajahnya. "Nak... kau sudah menjadi putraku sejak pertama kali aku menghapus air matamu di tengah kobaran api itu. Panggil aku sesukamu, karena kau adalah kebanggaanku."
"Ayah!" Tangis Shang Zhi pecah. Ia memeluk erat pria itu, seolah tidak ingin melepaskannya. "Terima kasih... Terima kasih untuk segalanya. Jika di kehidupan ini aku tidak mampu membalas jasamu, aku bersumpah di kehidupan selanjutnya aku akan menjadi perisaimu."
Shang Zhi kemudian mundur tiga langkah, berlutut, dan bersujud tiga kali sebuah penghormatan tertinggi dari seorang anak kepada ayahnya. Dengan satu lambaian tangan terakhir, ia berbalik dan mulai melangkah menuju jalan panjang yang menanti.
Zhou Xuan berdiri mematung, menatap punggung muridnya yang perlahan menghilang ditelan kabut hutan. Senyum lembut di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh gurat kecemasan yang mendalam.
"Hah..." ia menghela napas, seolah melepaskan beban yang selama ini ia pikul sendiri. "Nak... sejak hari pertama aku menyentuh nadimu, aku tahu kau bukan bocah biasa."
Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar. "Di dalam dirimu, terdapat sebuah segel kuno yang sangat mengerikan... rahasia besar yang bahkan kekuatanku saat ini tak mampu menyentuhnya."
Zhou Xuan menatap langit yang kembali tenang, namun ia tahu badai yang lebih besar sedang bergerak mendekati muridnya.
"Semoga wanita tua itu mampu membantumu memecahkan misteri segel itu... sebelum kekuatan itu justru menghancurkanmu dari dalam, Shang Zhi."
Bersambung...