Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Jam satu siang Davina pulang dari kampus. Hari ini dia pulang cepat karena mata kuliahnya sudah selesai. Dia juga sedang malas jalan-jalan dengan temannya. Entah ke mana mereka hari ini.
Begitu sampai di rumah, suasana tampak begitu sepi. Davina mencari keberadaan Kenanga. Namun, tidak kunjung menemukannya. Saat memasuki dapur, di sana terlihat bibi sedang makan di meja. Wanita itu begitu menikmati makanannya hingga tidak menyadari keberadaan Davina.
"Mama ke mana, Bik? Kok sepi sekali rumah ini?" tanya Davina.
Biasanya di jam seperti ini Kenanga pasti ada di ruang tengah sedang menonton televisi. Kalau tidak, pasti ada di samping rumah, tapi hari ini tidak ada.
"Ibu sudah pergi, Non, tadi pagi perginya."
"Ke mana? Kenapa sampai siang belum pulang?"
"Bibi nggak tahu ke mana, tapi sepertinya nggak akan pulang. Tadi ibu bawa koper dan juga tas besar."
Davina terkejut, tidak menyangka jika Kenanga akan nekat pergi dari rumah. Tadinya dia pikir jika perdebatan tadi pagi hanyalah pertengkaran biasa antara suami istri. Gadis itu tidak menyangka jika Kenanga sungguh terluka dan memilih pergi dari rumah. Berarti perceraian yang dia dengar tadi pagi memang benar-benar akan terlaksana.
"Mama pergi dari rumah, kenapa Bibi membiarkannya saja? Terus papa bagaimana? Apa papa tahu mengenai kepergian Mama Kenanga?"
"Saya sudah menghubungi bapak, tapi nomornya tadi sibuk. Saya juga sudah mengirim pesan, tapi sampai sekarang belum dibalas."
"Kenapa nggak hubungi papa lagi? Papa pasti nggak tahu kalau ada pesan dari Bibi. Papa tuh kebiasaan, kalau sudah sibuk nggak akan lihat ponsel."
Davina jadi kesal pada pembantunya itu karena membiarkan Kenanga pergi begitu saja, seolah mendukung jika kedua orang tuanya untuk berpisah. Gadis itu pun mencari keberadaan ponsel miliknya dan berusaha menghubungi sang papa.
Panggilan pertama tidak diangkat. Jika begini sudah pasti pria itu sibuk. Davina tidak menyerah, dia pun mencoba untuk menghubungi papanya lagi. Bima juga tidak akan marah karena dia membawa kabar yang sangat penting. Gadis itu bersyukur pada akhirnya papanya mengangkat juga.
"Halo, Pa. Papa tau nggak kalau Mama Kenanga pergi dari rumah?" tanya Davina yang tidak ingin berbasa-basi.
"Pergi dari rumah? Pergi ke mana? Nanti sore juga pulang," jawab Bima dengan santai.
"Pa, sekarang ini Mama Kenanga benar-benar pergi dan tidak akan kembali. Mama bawa koper dan tas. Kata bibi tadi sudah menghubungi Papa, tapi nomornya sibuk. Bibi juga sudah kirim pesan, tapi nggak dibalas sama Papa."
"Kapan? Papa nggak tahu tuh!"
"Kan benar! Papa kalau sibuk pasti nggak lihat-lihat HP. Coba Papa lihat masih ada pesan bibi atau nggak?"
Bima pun melihat riwayat pesan dan ternyata memang ada pesan dari bibi yang mengatakan jika Kenanga pergi dari rumah dengan membawa koper dan tas. Bima jadi menyesali apa yang dilakukannya tadi pagi. Seharusnya dia lebih berusaha untuk membujuk Kenanga dan tidak membuat wanita itu pergi dari rumah. Kalau sudah seperti ini membujuknya pasti lebih sulit lagi.
"Papa benar-benar nggak tahu. Apa kamu tahu mamamu ada di mana?"
"Kalau aku tahu, aku nggak akan hubungi Papa."
"Ya sudah, nanti Papa coba hubungi mamamu dan mencari keberadaannya di mana pun itu."
Bima memutuskan sambungan telepon. Dia berusaha untuk menghubungi sang istri. Namun, tidak terhubung sama sekali. Pria itu yakin jika nomornya sudah diblokir oleh Kenanga. Bima tidak menyangka jika sang istri akan begitu nekat. Padahal selama ini wanita itu selalu lemah lembut dan penurut. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Dia yakin jika ada seseorang yang mempengaruhinya.
Bima pun memutuskan untuk pulang. Kalaupun dia bekerja juga tidak akan bisa fokus pada pekerjaannya. Dia mengatakan pada asistennya jika harus pulang karena ada urusan mendadak, jadi jika nanti ada sesuatu yang penting biar asistennya itu yang menghandle. Berkas-berkas yang harus diperiksa juga sudah selesai.
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tidak membutuhkan waktu lama akhirnya pria itu sampai juga di rumah. Sama seperti yang Davina rasakan tadi, Bima juga merasa suasana tampak begitu sepi dan suram. Seperti ada sesuatu yang hilang entah apa itu.
Bima mencari keberadaan putrinya yang ternyata ada di ruang keluarga. Davina memang sengaja menunggu papanya pulang. dia ingin tahu keberadaan dan kabar mamanya tidak biasanya semuanya terasa asing.
"Davina, kamu sudah menghubungi mamamu?" tanya Bima yang baru duduk di samping putrinya.
"Mama siapa, Pa? Mama Kenanga atau Mama Alicia?"
"Mama Kenanga, siapa lagi? Saat ini Kenanga yang kita butuh."
"Aku tidak bisa menghubungi nomor Mama Kenanga, Pa. Nomornya juga tidak aktif."
"Tidak aktif atau nomor kamu diblokir?"
"Aku juga tidak tahu, Pa. Apa kamu tidak punya nomor lain yang tidak diketahui mamamu? Coba gunakan nomor itu."
"Aku nggak punya, Pa. Aku cuma punya satu nomor saja."
"Kalau begitu panggil bibi, biar Papa pinjam ponsel sama mereka dulu."
"Sama saja, Pa. Tadi aku sudah coba pakai ponsel bibi untuk menghubungi nomor Mama Kenangan, tapi tidak bisa. Sepertinya Mama Kenanga memang memblokir nomor semua orang. Mungkin juga sudah menonaktifkan nomornya dan ganti nomor yang baru."
"Benar juga katamu. Kalau sekarang mamamu ada di mana?"
"Aku juga nggak tahu. Apa pulang dulu ke kampung, ke rumah Opa Halim?"
"Bisa saja sih, kalau begitu lebih gawat lagi. Apa yang harus Papa katakan nanti pada mereka."
"Keputusan sekarang ada di Papa. Papa mau menceraikan Mama Kenanga dan kembali pada Mama Alicia atau memperjuangkan Mama Kenanga dan tetap berada di sisinya. Itu berarti Papa harus melupakan Mama Alicia."
Bima menghela napas kesal dan menatap putrinya. "Kamu itu tidak tahu apa-apa, seenaknya Papa disuruh milih. Bicara saja kedengarannya memang mudah, tapi tidak sesederhana itu. Sekarang papa mau tanya sama kamu. Jika Papa bangkrut dan kita hidup miskin, apa kamu mau hidup serba kekurangan dan harus benar-benar berhemat?"
"Tentu saja aku tidak mau, Pa. Meskipun selama ini aku bukan orang yang suka menghina orang miskin, tapi bukan berarti aku mau hidup susah."
"Kamu tahu sendiri jawabannya, kenapa kamu masih memaksa? Biar semua ini papa yang pikirkan sendiri. Kamu cukup ikuti apa yang Papa lakukan. Sekarang kamu harus bersikap baik pada Kenanga agar dia mau kembali bersama kita."
Davina mengangguk pelan. Meskipun dia merasa enggan, tapi tidak punya pilihan lain. Daripada nantinya dirinya hidup serba kekurangan lebih baik sekarang mengalah lebih dulu. Gadis itu yakin jika papanya memiliki rencana untuk hidup ke depannya.
"Terus rencana Papa apa sekarang?"
"Terpaksa kita harus ke rumah orang tua Kenanga. Hanya ke sana satu-satunya pilihan yang Kenanga punya."
"Bagaimana jika nanti saat kita sampai di sana, ternyata Mama Kenanga tidak ada. Bukankah itu hanya akan membuat keluarga besar Mama Kenanga tahu apa yang terjadi di sini? Lagi pula Mama Kenanga juga bukan tipe orang yang suka mengobral cerita tentang kehidupan pribadinya."
Dalam hati Bima membenarkan ucapan putrinya. Namun, tidak punya pilihan lain saat ini. "Mau bagaimana lagi, kita juga tidak tahu keberadaan mamamu sekarang. Kalau ditunda lebih lama lagi, takutnya mamamu semakin teguh pendiriannya untuk tidak kembali. Sekarang mumpung semuanya belum terlambat, jadi Papa berharap agar kamu mau membujuk Mama Kenanga agar kembali bersama kita. Papa yakin dia akan mau kembali karena kamu putri kesayangannya."
"Apa Papa lupa jika Mama Kenanga sudah kecewa padaku? Pasti tidak akan mudah untuk membujuknya."
"Meskipun dia kecewa, tapi Papa yakin kalau di dalam hatinya pasti dia masih sangat menyayangimu."
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu