Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Sisi Dunia Yang Berbeda
Suara deru motor Nanda, Tino, dan Raka perlahan hilang ditelan keheningan malam.
Jeka segera menghampiri Misca yang masih berdiri kaku di samping meja—seperti patung yang belum sepenuhnya sadar bahwa pertunjukan sudah berakhir. Matanya dipenuhi kecemasan yang sangat mendalam—kecemasan yang sudah ia tahan sejak Misca membuka mulut dan mengusulkan duel.
"Misca, kamu gila?" tanya Jeka, suaranya tercekat—mencoba merendahkannya agar tidak terdengar seperti tuduhan, melainkan kekhawatiran murni yang keluar dari hati. "Duel satu lawan satu? Kenapa kamu pilih cara itu? Kita nggak ada persiapan buat adu jotos kayak Nanda!"
Misca menoleh, ekspresinya kembali datar seperti topeng yang dipasang kembali setelah sempat terlepas. "Itu cara tercepat untuk mengakhiri drama mereka, Jek. Mereka hanya mengerti bahasa kekuatan. Aku hanya memberikan apa yang mereka mau—tapi dengan aturanku."
"Tapi bagaimana kalau kamu kalah?" Jeka maju, meraih lengan Misca dengan erat—pegangan yang lebih seperti permohonan daripada ancaman. "Kamu bukan petarung profesional, Mis. Kamu cerdas, kamu strategis, tapi kamu nggak pernah nunjukin kemampuan fisikmu secara penuh. Vino, kamu tahu kemampuan Misca seperti apa?"
Vino, yang sedang membereskan kursi yang sempat terbalik dengan gerakan mekanis, berhenti dan menghela napas panjang—napas yang terdengar seperti uap keluar dari ketel. Ia menatap Jeka dengan tatapan yang jujur—terlalu jujur.
"Jujur, Jek?" Vino meletakkan kursi itu dengan pelan, suara logam bergesekan dengan beton. "Aku nggak tahu."
Jeka membelalakkan mata, seolah tak percaya—seperti seseorang yang baru saja mendengar bahwa langit sebenarnya tidak biru. "Kamu serius? Kamu nggak tahu seberapa jago dia?"
Vino menggeleng pelan, tatapannya tidak bisa berbohong. "Aku tahu Misca nggak bisa disentuh. Aku tahu refleks dia gila—seperti dia bisa melihat gerakan sebelum terjadi. Aku tahu dia pernah sekali mengeluarkan teknik yang bikin aku sendiri terkejut—gerakan yang terlalu presisi untuk sekadar kebetulan. Tapi aku nggak tahu sejauh mana. Misca nggak pernah mau bertarung kecuali sudah tidak ada pilihan lain. Dan kalau dia bertarung, dia akan mengakhiri semuanya dengan sangat cepat—terlalu cepat untuk dianalisis."
"Nah, itu masalahnya!" seru Jeka dengan frustrasi yang meledak—suaranya meninggi, tangannya bergetar. "Sekarang, dia berhadapan dengan Nanda yang hidupnya cuma angkat barbel dan pukul karung tinju! Dia berhadapan dengan Tino yang licik dan brutal di arena! Kita nggak bisa main-main, Vin! Kita baru saja dengar soal The Phantom—ancaman nyata dari luar yang bisa menghancurkan kita semua. Kalau Misca kalah, kita akan dapat ketua yang kacau, sementara ancaman luar sudah di depan mata!"
Jeka menunjuk ke arah luar gudang yang gelap—seperti menunjuk pada monster yang mengintai di kegelapan. "Kamu lihat di luar sana, Vin? Tingkat kejahatan di wilayah kita lagi tinggi-tingginya. The Phantom yang dibilang Raka itu sudah makin mendekat. Ini bukan lagi soal geng, ini soal keamanan nyawa. Kalau sampai Misca terluka parah atau kalah, Utara akan runtuh duluan sebelum kita sempat menghadapi The Phantom."
Vino mengangguk—mengakui kebenaran kata-kata Jeka dengan ekspresi serius yang jarang ia tunjukkan. "Aku mengerti, Jek. Tapi satu hal yang aku tahu dengan pasti: Misca nggak pernah mengambil keputusan tanpa perhitungan yang matang. Dia pasti punya kartu as yang nggak kita lihat—sesuatu yang dia simpan untuk momen yang tepat."
Vino menatap Misca dengan serius—tatapan yang penuh kepercayaan tapi juga kekhawatiran. "Mis, kamu yakin? Kalau kamu butuh latihan, aku bisa bantu. Kita punya waktu satu bulan. Itu cukup untuk mempersiapkan strategi dan meningkatkan stamina."
Misca akhirnya melepaskan diri dari pegangan Jeka dengan gerakan halus. Ia mengenakan kembali jaketnya yang sempat terlepas dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan—gerakan mekanis yang menunjukkan bahwa ia sudah kembali ke mode normal.
"Waktu sudah habis untuk diskusi," ujar Misca, suaranya terdengar sangat tegas—seperti pintu yang ditutup dan dikunci. Ia tidak membahas soal latihan atau menjawab kekhawatiran Jeka. "Kita harus pulang. Malam sudah sangat larut. Besok masih ada sekolah."
Misca berjalan menuju motornya yang terparkir di luar gudang, mengakhiri pembicaraan yang sedang genting itu tanpa ampun—seperti komandan yang sudah membuat keputusan final dan tidak menerima sanggahan.
Jeka dan Vino hanya bisa saling pandang—tatapan yang penuh dengan kekhawatiran dan ketidakberdayaan. Mereka tahu bahwa sekali Misca mengambil keputusan, tidak ada satu orang pun yang bisa mengubahnya. Tidak ada argumen yang cukup kuat. Tidak ada ancaman yang cukup menakutkan.
Mereka hanya bisa menghela napas bersama-sama, mengikuti langkah Misca dengan hati yang berat, dan kembali ke motor masing-masing dengan pikiran yang dipenuhi oleh bayangan pertarungan yang akan datang dalam satu bulan.
Jalan Pulang yang Sunyi
Perjalanan pulang di atas motor terasa sangat senyap—lebih senyap dari biasanya.
Mereka bertiga melewati perbatasan Wilayah Utara dengan formasi segitiga—Misca di depan, Vino di kiri belakang, Jeka di kanan belakang. Formasi yang sudah mereka gunakan sejak SMP, formasi yang dirancang untuk proteksi maksimal.
Jeka, di motornya, terus mengamati lingkungan sekitar dengan waspada—mata di balik kacamatanya tidak berhenti bergerak. Di beberapa sudut jalan, ia melihat bayangan-bayangan mencurigakan yang bersembunyi di balik kegelapan—orang-orang yang tidak seharusnya ada di jalanan pada jam segini.
Tingkat kejahatan memang sedang naik drastis. Dan Jeka merasakan urgensi kepemimpinan yang kuat—urgensi yang membuat keputusan Misca untuk duel menjadi semakin berisiko tapi juga semakin penting.
Misca, Vino, dan Jeka akhirnya berpisah di pertigaan utama—tempat di mana jalan mereka bercabang ke tiga arah berbeda.
Vino dan Jeka menuju rumah mereka yang rapi dan terawat di area Wilayah Utara yang padat—rumah yang mencerminkan keluarga berkecukupan yang mampu menghidupi diri dengan sangat layak. Tidak mewah, tapi nyaman.
Sementara Misca, ia memacu motornya menuju ke bagian berbeda dari kota—bagian yang lebih sunyi, lebih tenang, lebih... mewah.
Rumah yang Asing
Motor Misca yang kencang akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang hitam tinggi, dikelilingi pagar yang kokoh dan megah—pagar yang dirancang bukan hanya untuk privasi, tapi juga untuk keamanan tingkat tinggi.
Rumah itu, sebuah hunian modern minimalis yang besar dan sangat elegan, adalah kontras total dengan gudang tua penuh karat yang baru saja ia tinggalkan. Lampu taman yang tertata rapi menerangi halaman yang luas dengan rumput yang dipangkas sempurna. Kolam ikan koi di samping jalan masuk mengalir dengan tenang, menciptakan suara air yang seharusnya menenangkan.
Tapi bagi Misca, suara itu hanya pengingat bahwa ia kembali ke dunia yang berbeda—dunia yang tidak bisa ia selaraskan dengan dunia di gudang tadi malam.
Misca berasal dari keluarga berada—tidak termasuk jajaran konglomerat terkaya di wilayah itu, tapi cukup kaya untuk tidak pernah khawatir tentang uang, pendidikan, atau masa depan.
Misca masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan—seperti orang yang tidak ingin membangunkan penghuni lain.
Di ruang tamu yang luas dan didominasi warna monokrom mewah—abu-abu, hitam, putih—orang tuanya, Danu dan Laras, sudah menunggunya dengan wajah cemas yang tidak bisa mereka sembunyikan.
Mereka adalah pasangan paruh baya yang terlihat sangat elegan—Danu mengenakan kemeja santai tapi mahal, Laras mengenakan dress rumah yang terlihat lebih mahal dari gaun pesta kebanyakan orang. Aroma parfum mahal memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma kopi premium yang baru diseduh.
"Misca," sapa Laras, suaranya lembut namun ada nada lelah yang tersirat—lelah karena khawatir, bukan karena fisik. "Sudah jam segini. Kenapa kamu baru pulang? Ayah dan Ibu menunggumu dari tadi."
Danu, yang sedang membaca sesuatu di tabletnya dengan kacamata baca yang bertengger di hidung, meletakkannya di meja dengan gerakan yang hati-hati—seperti semua yang ia lakukan, terkontrol dan terukur. "Kami mau bahas rencana liburan pertengahan semester, Nak. Ibu sudah memesan tiket ke Eropa—Swiss, tepatnya. Kamu butuh istirahat dari tekanan sekolah. Kami tahu kamu stress dengan ujian dan segala macamnya."
Misca melepas jaketnya dengan perlahan—gerakan mekanis yang menunjukkan bahwa pikirannya ada di tempat lain. Aura ketua geng yang dingin dan mendominasi itu langsung menghilang, digantikan oleh aura anak muda yang lelah dan tampak acuh tak acuh terhadap kemewahan di sekitarnya.
"Aku nggak ikut," jawab Misca singkat, tanpa menatap mata mereka sedikit pun—seperti berbicara pada tembok.
Laras menghela napas panjang—napas yang terdengar seperti seseorang yang sudah terbiasa dengan penolakan tapi tetap merasa sakit setiap kali terjadi. "Misca, kenapa? Kamu harusnya senang. Kita sudah siapkan kamar terbaik di hotel bintang lima di sana. Kami tahu kamu stres dengan urusan sekolah. Tapi setidaknya temani kami, Nak. Kita keluarga."
"Aku sibuk," kata Misca, mulai berjalan menuju tangga dengan langkah yang tidak bisa dihentikan.
"Sibuk apa?" tanya Danu, kini dengan nada yang jauh lebih tegas—nada yang jarang ia gunakan, nada yang menunjukkan bahwa kesabarannya mulai menipis. "Kamu nggak ada jadwal ujian minggu depan. Urusan apa yang lebih penting daripada menghabiskan waktu dengan keluarga? Kami sudah mengatur semuanya dengan baik—tiket pesawat, hotel, itinerary lengkap. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya atau apa pun, semua sudah Ayah siapkan dengan sempurna."
Misca berhenti di anak tangga kedua—berhenti bukan karena ingin menjawab, tapi karena ia merasa perlu memberikan penjelasan minimal agar mereka tidak terus bertanya. Ia menoleh perlahan, melihat segala kemudahan hidup yang ditawarkan oleh Danu dan Laras—kemudahan yang datang dari bisnis legal yang sukses, dunia yang sangat jauh dari kekacauan berdarah di jalanan, dunia yang tidak pernah tahu apa itu takut berjalan di gang gelap atau diperas oleh preman.
"Justru karena kalian sudah mengatur semuanya," balas Misca, suaranya datar dan dingin—seperti es yang tidak bisa dicairkan oleh kehangatan keluarga. "Aku nggak perlu liburan yang sudah diatur. Aku ada urusan penting yang harus aku selesaikan di sini—urusan yang nggak bisa ditinggal begitu saja."
Misca tidak menunggu tanggapan mereka lagi. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai atas, meninggalkan Danu dan Laras dalam keheningan yang penuh kebingungan serta kekecewaan yang mendalam.
Laras menatap punggung Misca yang menghilang di ujung tangga, matanya berkaca-kaca—bukan karena marah, tapi karena merasa gagal sebagai orang tua. "Kenapa dia selalu seperti ini, Danu? Kenapa dia tidak pernah mau membuka diri pada kita?"
Danu memeluk Laras dengan lembut, tapi tatapannya kosong—seperti orang yang sudah menyerah mencoba memahami anaknya.
Di dalam kamar tidurnya yang luas, berdekorasi minimalis dengan pemandangan lampu kota di malam hari melalui jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, Misca menjatuhkan diri ke atas kasur empuknya—kasur yang seharusnya nyaman, tapi terasa asing.
Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong—tatapan yang sama seperti saat ia pertama kali ditemukan di depan panti asuhan enam belas tahun lalu.
Dua kehidupan yang sangat berbeda kini menghimpitnya seperti dua dinding yang perlahan mendekat untuk menghancurkannya.
Di satu sisi, ia adalah anak dari keluarga berada yang mampu terbang ke belahan dunia mana pun untuk menghindari masalah—keluarga yang bisa membeli kebahagiaan dengan uang.
Di sisi lain, ia adalah satu-satunya orang yang bersedia mempertaruhkan nyawanya dalam duel maut demi mengakhiri kekacauan di jalanan—sebuah kekacauan yang sebenarnya bisa saja ia abaikan dengan hidup nyaman di rumah ini, dengan liburan ke Eropa, dengan masa depan yang sudah dijamin.
Tapi ia tidak bisa mengabaikannya.
Karena Jeka dan Vino bukan hanya sahabat—mereka adalah keluarga yang ia pilih sendiri. Dan pilihan itu datang dengan harga yang harus dibayar.
Misca memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan pertarungan yang akan datang—bayangan Nanda yang brutal, Tino yang licik, Raka yang cerdas, dan di luar sana, The Phantom yang mengintai seperti predator yang menunggu mangsa melemah.
"Satu bulan," pikir Misca dalam hati—seperti mantra yang diulang-ulang untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Satu bulan untuk membuktikan bahwa kekerasan yang terstruktur adalah satu-satunya jalan menuju ketentraman yang aku inginkan."
Tubuhnya yang lelah—ditambah tekanan mental yang luar biasa besar dari dua dunia yang tidak bisa ia rekonsiliasi—akhirnya menariknya ke dalam kegelapan tidur yang tidak nyenyak.
Misca terlelap, tetapi bahkan dalam tidurnya yang paling dalam, raut wajahnya tetap terlihat tegang dan waspada, seolah-olah ia sedang bersiap menghadapi pertarungan yang akan segera pecah—pertarungan yang tidak hanya akan menentukan siapa yang memimpin empat wilayah, tapi juga siapa Misca sebenarnya.