Tisha Silvalia gadis panti asuhan yang dibuang oleh orang tuanya.dan harus menerima kenyataan bahwa suami yang menemaninya selama tiga tahun ini mengucapkan kata cerai saat Tisha mengandung Buah hati pertama mereka,kehadiran orang ketiga memicu pertengkaran mereka dan dengan mudah Ardan suami Tisha mengucapkan talak.Hati Tisha hancur namun memilih menerima keputusan suaminya.selama pernikahan suami nya tidak pernah memperdulikan kebahagia Tisha.Ardan memilih tinggal menetap diluar negeri hanya sekali-kali pulang ke Indonesia saat ingin mengecek beberapa cabang bisnisnya.Dan kesalahan terbesar menurut Ardan adalah menerima Tisha sebagai istrinya yang tak dicintainya karena perjodohan yang direncanakan Orang tua Ardan dengan ancaman kalau menolak semua aset kekayaan akan papanya ambil alih.tentu Ardan tidak mau kehilangan semua itu ia tidak bisa hidup tanpa harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princes Annie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Hari berganti hari Kondisi kesehatan Ardan semakin membaik,Namun ada satu hal yang membuat semua keluarga tercengang dan terguncang hari ini saat Ardan mulai sadar ia kehilangan semua ingatannya.
"Si,,a,,pa,, ka,,li,,an?????"Tanya Ardan lemah pada semua keluarganya tak ada satu orang pun dikenalnya.
"Ardan,,ini mama kamu sayang,ini papa mu dan itu Tisha istrimu"
Cintya terlihat shock mengetahui kondisi Ardan setelah sadar.
Tisha juga sama seperti Cintya yang tak menyangka suaminya melupakan keluarganya.
"Kepalaku sa,,,kit,,,"Ardan memegang kepalanya
"Dokter apa yang terjadi"tanya Cintya pada dokter yang sudah ada sejak Ardan sadar tadi.
"Kami akan memeriksa keadaan Ardan kembali,kalian semua tunggu diluar".perintah dokter
Semua keluarga Ardan pun keluar ruangan Cintya memegang erat tangan Tisha.
Menunggu dengan perasaan was-was.
Tisha duduk dibangku dan bersandar pada bahu Bu Tuti.Tubuh Tisha terasa lemas saat mengetahui keadaan suaminya tidak mengenali mereka semua.
"Sha,,,mama mau bicara dulu sama papa kamu,mama tinggal sebentar ya,Bi Tuti jagain Tisha ya"Pesan Cintya sebelum ia mendekati suaminya yang berdiri disatu tiang bangunan rumah sakit yang terlihat tertunduk memikirkan sesuatu.
"Iya Bu"Jawab Bi Tuti.
"Pa,,,,"suara lirih Cintya pada suaminya.
"Semoga ini hanya sementara Ma,,,Hanya reaksi awal kesembuhannya".Raksa menghibur istrinya.
"Mama juga harap begitu pa,,Entah kenapa musibah silih berganti menghampiri keluarga kita ya pa"Isak Cintya dan Raksa merengkuh istrinya dalam dekapan nya.
"Papa yakin ada rencana indah dibalik semua ini,mama yang sabar kalau mama sedih dan tidak bisa mengendalikan diri,Tisha juga akan ikut rapuh ma"Bisik Raksa disela telinga Cintya.
Perkataan suaminya Benar,Cintya harus kuat untuk Tisha,Ardan dan calon cucunya.
"Iya ,,,pa,,,rasanya sangat sakit mama pendam semuanya".
"Kita akan terus mendukung Anak kita ma,,kalau dia kehilangan ingatannya kita akan berjuang sama-sama mengembalikan ingatannya kembali".ucap Raksa.
"Iya pa,makasih udah menguatkan mama"Ucap Cintya terharu
"Sudah sepantasnya suami itu memberi semangat dan kasih sayang untuk istrinya bukan"Raksa mengusap kepala istrinya itu.usia mereka berdua sudah tidak muda lagi namun keharmonisan mereka selalu terjaga.
"Pa,,,mama tiba-tiba terpikirkan sesuatu"Cintya menatap suaminya.
"Apa ma???"
"Aku berharap anak kita memang lupa ingatan pa" Ucapan Cintya membuat Raksa sangat kaget.
"Kenapa begitu ma??,jelaskan pada papa hingga mama berdoa seperti itu"Raksa bertanya dengan penuh lemah lembut ia tak mau istrinya tersinggung akan ucapannya.
"Papa bilang dibalik musibah ada rencana indah dari Tuhan,dan ini lah rencana indahnya"Cintya terlihat bersemangat dan bahagia.
Raksa semakin heran yang tadi istrinya terlihat sangat terpukul berubah seketika menjadi sangat bersemangat.
"Dengan Ardan lupa ingatan,sudah pasti Ardan melupakan wanita bernama Kiara kan pa,selain itu kita bisa memperbaiki hubungan Ardan dan Tisha,gimana menutut papa??"
"Apa itu Jalan terbaik untuk mereka berdua ma,Papa malah takut Ardan akan merasa asing dengan Tisha lalu menyakiti perasaan Tisha lagi".lirih raksa kali ini ia kurang setuju dengan saran istrinya itu.
"Ini saat yang tepat Pa,Lama-lama Ardan akan mulai menyukai Tisha,dan tak bisa kehilangan Tisha pa"ucap Cintya penuh percaya diri "selama ini yang menjadi duri dipernikahan mereka berdua kan,karena Ardan mencintai wanita lain,dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Kiara,seakan Tisha tak berarti sedikitpun dimatanya,bukan begitu pa"ucap Cintya lembut.
Raksa masih memikirkan ucapan istrinya"Mama yakin ini cara yang tepat untuk Ardan dan Tisha"
"Yakin pa,,jadi mulai sekarang papa ikut bantu mama memulai rencana nya".dan raksa akhirnya mengangguk setuju walau ia belum tau apa rencana dari istri tercinta nya itu.