Luna, seorang gadis berusia 19 tahun. Gadis Desa yang merantau ke kota bersama Ibunya. Gadis yang anggun, lembut, ayu, tangguh serta mandiri. Dia hamil tanpa suami dan belum pernah sekalipun melakukan hubungan dengan laki-laki. Berawal dari kejadian yang tidak terduga. Luna mengalami sakit perut lalu melakukan pemeriksaan di rumah sakit PERMATA DOA. Dari situlah awal kehamilan Luna hingga membuat malu keluarga.
Dapatkah Luna dan keluarganya menerima kehamilannya? Atau kejadian di luar dugaan malah dialami oleh keluarga Luna?
Dan bayi siapa yang Luna kandung? Apakah bayi Luna adalah keturunan pertama pewaris perusahaan terbesar di Kota J. Yuk langsung simak ceritanya.
*Mohon dukungan para Readers tersayang..*
Karya ini diterbitkan atas izin mangaToon Heniff, Isi Konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili MangaToon itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heniff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Luna yang masih memejamkan matanya, langsung terbangun dan melompat dari tempat tidur, Iya ingat kejadian semalam, kemudian dia pun buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Bu Imah yang kaget dengan tingkah Luna, berusaha menenangkan diri dan berencana ingin bertanya pada Luna sebenarnya semalam apa yang terjadi.
Setelah beres-beres kamar, Bu Imah menunggu Luna tapi belum selesai juga dari aktivitasnya, Bu Imah memutuskan untuk memasak, dia menuju dapur, sampai di dapur Bu imah memilih bahan apa yang bisa dimasak hari ini, dan jatuh pada menu rendang daging sapi, memasak memang keahlian Bu Imah, di tangan Bu Imah semua bahan makanan akan disulap menjadi makanan yang sangat lezat, pada saat Bu Imah fokus memasak, suara laki-laki yang tidak asing di telinganya menyapanya dengan lembut.
“Pagi Bu..,” Arka mendekati Bu Imah dan berdiri di samping Bu Imah yang sibuk mengaduk rendang sapi buatnnya.
“O.., nak Arka to, nak Arka datang kapan? Ibu kok tidak lihat nak Arka datang?”
“Iy Bu.., aku datang pukul 01.00 dini hari tadi.”
“O..,” Bu Imah memanyunkan bibirnya.
“Apa Luna tau kalau kamu sudah datang?” Bu Imah beraksi sambil menyelidik apa benar firasat yang dirasakannya.
“Em.., Sudah Bu,” Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memasang muka imut ke Bu Imah.
“Kalau begitu, nak Arka tau tadi malam Luna keluar kamar?”
“Emm O..itu, iya aku tau Bu,” Arka semakin salah tingkah dengan pertanyaan Bu imah yang sedikit seperti mengintrogasi diri.
Demi menyelamatkan kecurigaan tentang kejadian tidak sengaja tadi malam, Arka mengalihkan pembicaraannya, agar Bu Imah tidak curiga dengan apa yang telah terjadi.
“Oiy Bu, nanti sekitar pukul 10.00 kita bersiap berangkat ke kota J ya, nanti kita semua berangkat bersama, Ibu sudah menyiapkan barang-barang Ibu juga milik Luna kan?”
“Kalau itu semua sudah kita lakukan, apalagi Luna begitu senang karena mau ketemu dengan teman-temannya.”
“Baiklah kalau begitu.”
Pada saat Bu Imah dan Arka masih ngobrol, Luna datang dan duduk di meja makan, dia mengelus perutnya sambil memanyunkan bibir karena dia sudah merasa sangat lapar, terang saja dia makan harus dibagi berdua dengan dedek di perut, jadi cepa sekali laparnya.
“Baunya harum sekali Bu.., Ibu masak apa, Luna sudah kelaparan banget,” Luna duduk sambil mengayunkan kaki dan menggerakkan tubuhnya sambil tetap duduk di kursi makan.
“Ya belum mateng nduk, Ibu ke dapurnya telat karena kamunya susah dibangunin katanya kecapekan, tidak bekerja apa-apa kok capek, kayak habis main bola saja, bangunnya molor, jadi masaknya juga molor.”
Luna yang tidak menyangka Ibunya akan berkata seperti itu, jadi salah tingkah dan mukanya berubah merah, Arka yang mengetahui gelagat Luna yang malu, dia ikut duduk menemani Luna di kursi makan dan memasang senyum ke Luna, Luna yang dikasih senyum oleh Arka malah semakin malu, karena mengingat kejadian tadi malam.
“Tidak perlu malu dan salah tingkah, oy habis sarapan atau sekitar pukul 10.00 kita akan pulang ke rumah kita, jadi setelah sarapan, barang kamu dan Ibu biar diberesi sama Bapak Bapak yang ada di Villa.”
“Apa! jadi benar kita akan segera ke kota? a..kiyyak,” Luna kegirangan karena mereka akan segera keluar dari Villa yang sudah mengurungnya sekitar satu minggu.
“Baik, aku senang sekali karena aku bisa kuliah dan bertemu dengan Mira, Indah, dan Lia aku sudah rindu sama mereka, terimakasih Om.”
“Bukan Om.” Arka agak sedikit marah karena lagi-lagi dipanggil Om sama Luna.
“Iy iy, begitu saja marah, nanti cepet tua lo kalau suka marah.
Mereka pun makan bersama dan masih dalam kediaman, Luna masih canggung dengan kejadian tadi malam, sedangkan Bu Imah masih menebak-nebak apa yang terjadi di antara Luna dan Arka, sekali pun pada ahirnya Bu Imah menyerah dengan rasa keponya, karena dia juga memaklumi kalau Arka dan Luna sudah sah menjadi suami istri, jadi apa pun yang terjadi di antara mereka itu halal.
Hati Bu Imah masih saja gundah, yang membuat beban dan gundah Bu Imah adalah Luna sudah hamil sebelum di nikahi Arka, jadi Luna dan Arka tidak boleh berhubungan layaknya suami istri, sebelum janin yang dikandung Luna sudah lahir ke dunia, andai semua terjadi maka dari nasab, hukum agama, hukum waris. anak mereka berdua, aduh.., aku jadi pusing. Bu Imah berbicara dalam hati.
Bu Imah yang masih sarapan semakin berpikir, semakin pusing, jadi Bu Imah pasrahkan saja pada Tuhan, Bu Imah juga berniat mau ke ahli agama kalau sudah di kota, menanyakan perihal kehamilan Luna yang di luar nikah atau hamil duluan sebelum menikah, sekali pun kehamilan Luna bukan dari hasil hubungan fisik secara langsung dengan Arka.
“A..! kenyang sekali..”
Tiba-tiba Luna berteriak sambil mengelus perutnya, spontan sendok Bu Imah jatuh ke lantai karena kaget mendengar Luna teriak, apalagi Bu Imah masih dalam lamunan yang membuat dirinya pusing dan harus berbuat apa. Arka yang melihat tingkah istri dan Ibu mertuanya senyum senyum sendiri karena dapat hiburan gratis.
“Kamu apa-apaan toh nduk.., kenyang saja pakai teriak, sampai Ibu kaget.”
“Maaf Bu, Luna sangat bahagia karena akan bertemu dengan teman-teman Luna.”
“Iya tapi jangan seperti anak SD mendengar hari libur sekolah kan nduk.., tidak perlu berteriak sampai seperti itu, bukannya doa sesudah makan malah teriak, bikin kaget orang saja.”
“Em.., Iya deh.., Luna minta maaf.”
Arka masih senyum senyum melihat Luna yang begitu apa adanya, dia semakin penasaran dengan karakter Luna yang sebenarnya, dia dapat memahami kalau Luna Orangnya menyenangkan dan pasti banyak yang suka padanya, tapi lamunan Arka yang senyum sendiri di buat kaget oleh tangan Luna yang tiba-tiba menepuk pundak Arka dengan sangat keras. Hingga sendok yang dipegangnya jatuh seperti yang dialami Bu Imah.
Mereka bertiga malah tertawa bersama, melepaskan semua rasa yang masih mereka tahan selama ini. Rasa yang menekan dan penuh tanda tanya dan keraguan. Ahirnya sarapan mereka sudah selesai sedang jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi.
“Sudah-sudah, ayo kita siap-siap.” Arka memanggil satu pengawal dan pelayan di villa, untuk menggangkut barang menuju mobil yang akan dipakai untuk mengantarkan barang menuju rumah kediaman Arka dan Luna, sedangkan Luna Arka dan Bu Imah akan naik Pharsa putih mobil kesayangan Arka.
Tidak berapa lama, Bu Imah, Arka dan Luna, siap berangkat menuju kota J, tempat mereka tinggal, tapi ketika melihat mobil yang akan mereka kendarai Bu Imah malah menutup mulutnya karena pusing melihat mobil milik Arka.
“Bu, kenapa Ibu menutup mulut Ibu? Apa Ibu tidak enak badan?” Arka bertanya pada Bu Imah yang sepertinya kurang enak badan.
“Maaf nak Arka, setelah Ibu melihat mobil nak Arka kepala Ibu jadi pusing, perut Ibu jadi mual ingin muntah karena mau mabuk kendaraan, bagaimana kalau Ibu naik mobil pengawal saja.”
“O.., Arka melihat Bu Imah, kemudian melihat Luna. “Bagaimana Luna, kamu tetap bersamaku apa ikut dengan Ibu?”
“Luna ikut nak Arka saja, biarkan Ibu yang naik mobil pengawal, kasian nak Arka sendirian, Ibu berani kok, tidak usah kawatir." Bu Imah memberikan jawaban sebelum Luna menjawab pertanyaan Arka, ahirnya mereka semua berangkat menuju kota J, dengan perasaan gembira dan campur-campur.
Luna untuk pertama kalinya satu mobil dengan Arka, begitu juga dengan Arka, baru pertama kali ini naik mobil di temani seorang wanita, karena dulu Arka belum pernah mengajak Selena naik mobil kesayangan Arka, hingga pada saat ahir hayat Selena.
Mobil berjalan beriringan, sekalipun pada ahirnya berpisah karena laju kendaraan yang tidak bisa seirama dengan laju kendaraan yang lain.
Di dalam mobil Arka dan Luna masih sama-sama diam dan belum bisa mencairkan kecanggungan yang mereka rasakan, Arka hanya memutar radio yang ada di mobilnya, agar suasana lebih santai dan menyenangkan.
cepat sadar arka aku kangen eh salah Luna yang kangen🤭🤭
sedih bacanya arka yang terbaring dengan alat² medis, cepat pulih arka, Luna dan anakmu sedang menunggu mu