Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Pria itu dengan polosnya mengangguk, Zayden yang berada di pangkuan Pricilla terus berceloteh dengan riang.
"Kenapa kau seenaknya memindahkan barang- barangku? Tidak sopan!" seru Pricilla kesal.
"Tentu saja untuk membuatmu tinggal disini. Kau sering menolaknya, dan lihat, begitu aku mengambil barang-barangmu justru kau sendiri yang datang kemari." jawab Maxwell.
"Aku datang untuk mengambil barang-barangku." ujar Pricilla hendak bangkit dari duduknya.
"Beri aku kesempatan." pergerakan Pricilla terhenti.
Ibu satu anak itu menengok ke arah Maxwell dengan alis yang bertautan. Kesempatan? Kesempatan apa?
"Aku tahu tak akan mudah untukku memulai suatu hubungan. Jujur aku tak paham bagaimana menjalin suatu hubungan, bahkan aku tak tahu bagaimana aku harus memulainya. Tapi bisakah kau memberikan aku kesempatan untuk belajar? Belajar tentang bagaimana menjalin suatu hubungan, belajar untuk-”
"Aku bukan seorang guru dalam suatu hubungan." ucap Pricilla dingin sambil berdiri menggendong Zayden.
"Kau selalu berontak saat aku memaksa, dan sekarang kau begitu angkuh saat aku meminta dengan baik. Apa sebenarnya yang kau mau?!" seru Maxwell frustrasi.
Semenjak hari dimana mereka tidur bertiga, Maxwell mulai luluh, dia mulai ingin mencoba membangun suatu hubungan. Meskipun Maxwell sering memaksa dan bertingkah seenaknya, itu karena memang dia tak tahu bagaimana memulai suatu hubungan.
30 tahun dia hidup, selama itu pula dia tak pernah yang namanya menjalin hubungan asmara. Dia memang pria yang cinta terhadap keluarga, tapi dia juga merupakan pria yang cinta kebebasan, dia tak suka merasa terbebani apalagi terikat oleh asmara.
Memang selama ini dia bersikap seenaknya pada Pricilla, dia juga suka memaksa dan bertindak tanpa memikirkan efek untuk Pricilla. Semua itu karena memang dia adalah pria yang bodoh dalam suatu hubungan, dia tak tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan baik.
Meskipun dia sering melihat bagaimana perilaku penuh cinta Aron pada Ema, tapi Maxwell tak bisa merefleksikan itu untuk dirinya. Dia hanya merasa risih jika harus hidup berdampingan dengan wanita asing. Dalam hidupnya dia hanya mengenal dua wanita, Ema sang Ibu dan Olivia. Selain mereka berdua, Maxwell tak akan bisa bersikap baik apalagi sampai hidup berdampingan.
Namun semenjak Pricilla datang membawa Zayden padanya, sifat anti hubungannya itu perlahan luntur. Maxwell seolah menemukan titik baru kehidupannya saat mendengar Zayden memanggilnya 'Papa' Hati Maxwell yang keras perlahan mencair oleh kepolosan bayi itu.
"Oke, kau menolak saat aku memintamu dengan baik, jadi jangan salahkan aku jika aku akan terus memaksamu." ucap Maxwell seraya merebut Zayden dari Pricilla.
"Aku sudah pernah bilang padamu, pertemuan kita tak disengaja, mungkin jika kita tak bertemu aku tak akan pernah mengenalkan Zayden padamu. Dan aku harus tekankan sekali lagi bahwa aku tak pernah memaksamu. Aku tak memaksamu untuk percaya atau bahkan bertanggung jawab-" ucap Pricilla menghentikan langkah Maxwell.
Pria itu mendesis lalu perlahan menurunkan Zayden di area playground yang sengaja dia simpan disana. Langkah jenjangnya kemudian membawa Pricilla agak menjauh dari posisi Zayden yang mulai asyik sendiri.
"Aku melakukan ini untuk Zayden."
"Aku tak mau anakku dijadikan sebagai alasan. Aku tak mau menjalin suatu hubungan karena keterpaksaan apalagi karena kehadiran Zayden. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menerimamu jika kau melakukannya karena terpaksa. Aku tahu siapa dirimu, kau tak akan tiba- tiba berubah hanya karena kehadiran Zayden." tutur Pricilla.
"Karena aku memintamu untuk memberiku kesempatan dan ajari aku. Aku akui kalau aku memang bodoh dalam urusan hubungan percintaan, jadi untuk itu ajari aku bagaimana untuk melakukannya." ucap Maxwell tulus.
Pricilla menghembuskan nafasnya, dia mengalihkan pandangannya pada Zayden yang begitu asyik dengan bola-bola kecil disekitarnya.
Pricilla memang ingin Zayden hidup bersama orangtua yang lengkah, terlepas dari nanti siapa yang akan menjadi Ayahnya.
Tapi kembali pada hati Pricilla yang selalu merasa ragu. Dulu memang dia ingin Maxwell bertanggungjawab, tapi semakin dia memikirkannya dia tak bisa hidup dalam keterpaksaan. Dia juga sempat terpikir untuk mencari pria lain, tapi lagi-lagi timbul keraguan dalam hati Pricilla. Dia hanya takut jika pria yang dia pilih nanti tak bisa menerima kehadiran Zayden. Dia takut anaknya akan diperlakukan tidak adil nantinya.
Lalu bagaimana dengan Maxwell sekarang? Bahkan kini dia yang memintanya pada Pricilla. Hati kecil Pricilla masih merasakan keraguan, meskipun dia melihat bagaimana Maxwell begitu menyayangi Zayden. Tapi bagaimana dengan hati Maxwell untuknya? Dia tak ingin menerimanya jika Maxwell melakukan itu karena sebuah keterpaksaan.
"Oke, kau boleh menolak. Kau boleh kembali ke apartemenmu, tapi Zayden akan tinggal disini. Semua barang-barang milik Zayden akan tetap disini."
"Mana bisa?! Dia anakku, aku akan tetap membawa Zayden bersamaku." protes Pricilla.
"Dia juga anakku, dia lebih suka disini. Kalau kau sampai berani membawa Zayden pergi atau kembali ke apartemenmu, aku akan langsung menyeretmu ke Pendeta." ancam Maxwell.
Pricilla mendelik, dia tak akan mudah termakan oleh ancaman pria itu. Tapi justru Maxwell malah menatap Pricilla dengan tatapan mengintimidası sehingga mau tak mau, akhirnya Pricilla menyetujui itu dengan terpaksa.
Maxwell tersenyum dengan penuh kemenangan, dia kemudian menggendong Zayden dan menarik lengan Pricilla menuju ke lantai 2 yang merupakan area kamar.
Pricilla menganga ketika Maxwell membuka pintu yang terdapat tulisan 'Zayden's Room'.
"Kau gila? Zayden masih 18 bulan, dia belum bisa tidur sendirian, kenapa kau sudah membuatkan dia kamar?" protes Pricilla, kepalanya terasa pening apalagi dengan luas kamar itu. Zayden terlalu kecil untuk kamar seluas itu.
"Zayden harus belajar untuk tidur sendirian, supaya tidak terganggu oleh Papa dan Mamanya yang sedang membuat adik untuknya." jawab Maxwell enteng meletakkan Zayden karpet bulu.
Pricilla tak menjawab, dia hanya mengurut keningnya pening.
"Sebelum menikah, kita harus melakukan simulasi bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga yang baik dan benar. Jadi mulai malam ini kita akan tidur bersama, dan besok kau harus menyiapkan semua kebutuhanku layaknya seorang istri." ucap Maxwell merengkuh pinggang Pricilla dan meniup kuping wanita itu jahil.
Pricilla segera menepis tangan besar itu dari pinggangnya. "Tak ada yang seperti itu ya?! Aku akan tidur dengan Zayden."
"Kau akan tidur dimana? Tak ada ranjang lain selain dikamar kita. Kau akan tidur di baby's box Zayden?" Maxwell meledek.
"Terserah, kau bebas melakukan apapun yang kau mau. Karena aku tahu otak buayamu. Kau hanya memanfaatkan Zayden supaya kau puas bisa menyetubuhiku.”
"Kau tahu, orang-orang memiliki stigma yang salah terhadap buaya. Kenapa mereka menyebut pria hidung belang dengan sebutan buaya? Padahal buaya sesungguhnya adalah binatang yang paling setia, buaya hanya akan memilih pasangan yang sama tiap musim kawin. Mereka hanya setia pada satu betina." bantah Maxwell.
Pricilla terdiam dan hanya menghembuskan nafasnya jengah. Dia diam karena terlalu lelah menghadapi sikap Maxwell yang suka semena- mena seperti itu.