Winda membenci yang namanya mantan, seperti Ardi mantan pertama dan terakhir. Penghianatan dulu membuatnya enggan menjalin hubungan sspesial dengan lawan jenis. Beberapa tahun berlalu, keluarganya ternyata mengatur perjodohan dengan Ardi tanpa ia ketahui.
(ON REVISI) Perbaikan akan dilanjutkan bab selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anindyafatika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Siapa?
Winda telah melaksanakan ibadah shalatnya dengan sedikit tertatih, bagian perutnya keram dan sulit untuk bergerak. Ditambah lagi tangannya tadi yang terikat kencang, hingga perih itu makin terasa saat berwudhu.
Dalam do'anya, semoga saja ia masih bisa dibebaskan oleh perempuan itu. Matahari mulai menurun dari tahtanya membuat bulan menggantikan tahta sementara. Semburat merah jingga di langit bisa Winda lihat sama melalui ventilasi yang ada di ruangan kosong itu.
Kondisinya pun sama seperti sebelumnya, ia kembali di ikat dengan tali. Ia memikirkan bagaimana caranya untuk bisa kabur dari ruangan ini, sekarang yang terpenting adalah calon anaknya bersama Ardi.
Mengingat nama Ardi, bagaimana dengan reaksi Ardi sekarang? Apakah Ardi senang saat Winda pergi hingga Ardi bisa bersama Riska?
Memikirkan hal iti membuat air matanya jatuh perlahan, walaupun mereka pernah berpisah sewaktu menjalin hubungan pacaran. Winda dengan seribu keyakinan itu masih menyimpan rasa yang sama dengan waktu ia menjalin kisah asmara mereka berdua dulu.
Tapi, apakah Ardi masih memiliki rasa yang sama dengannya? Tersenyum miring, dari awal pernikahan ini hanya untuk keuntungan beberapa pihak. Tanpa tahu jika luka lama itu belum kunjung sembuh dan menimbulkan sembilu yang baru.
Ardi, bagaikan putaran film dalam memori otaknya. Winda masih mengingat jelas bagaimana Ardi menjadikannya seorang kekasih dari sulung Prakostama itu. Hingga bagaimana hari-harinya ia lalui bersama Ardi, dari cara Ardi memerlakukan dirinya dengan baik bak kristal yang rapuh.
Mungkinkah Ardi masih mengingatnya? saat mereka pergi ke luar kota untuk liburan tanpa izin dari orang tua masing-masing. Winda terkekeh dalam tangisannya, andaikan saja mereka berdua ketahuan maka mereka berdua akan langsung dinikahkan.
"Bisa diam! tangisanmu itu tidak akan membatumu keluar sebelum aku mencincang habis tubuhmu!", Winda menegang dan air matanya pun tiba-tiba berhenti mengalir. Rasa takut lebih mendominasi dalam diri Winda.
"Hah! apa kau sedang berpikir bagaimana untuk berpamitan dengan Ardi, sayang?".
Winda menggeleng, percuma ia mengucapkan sepatah kata. Wanita gila itu tak akan mau mendengarkannya, dia seperti psikopat.
"Benarkah? yang aku tahu, kamu kembali jatuh cinta lagi bersama suamimu yang bodoh itu!".
"Kamu!", sanggah Winda dengan matanya yang seakan menusuk kedua mata wanita itu.
Wanita itu hanya tersenyum sinis, ia akan membuat Winda menderita sebentar dan ia akan melancarkan rencananya.
"Dio, awasi perempuan itu. Dan, jangan sampai ada orang lain yang masuk kecuali aku!". Wanita itu berlalu meninggalkan Winda diikuti Dio bodyguard-nya.
"Baik Nona!".
👻
👻
👻
Rumah itu nampak sepi, hanya terdengar denting jarum jam yang berputar. Ardi telah mengerahkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Winda. Ia tak boleh gegabah, mungkin ia akan mengikuti alur yang pengirim foto Winda gunakan.
"Baik, siapa yang akan menang. Setelahnya aku akan menyingkirkanmu dari dunia ini dengan tanganku sendiri!"
Ponsel yang tergeletak di meja kerjanya berdering dan menampilkan nomor asing yang masuk. Ardi menggeser tombol hijau itu ke atas.
Mulanya Ardi mengira jika itu adalah anak buahnya atau bahkan Ardi berharap jika itu Winda.
"Halo"
"..."
Sekitar dua menit, akhirnya ada suara yang menyahut dari sebrang telepon sana.
"Bagaimana, apa kamu khawatir sekarang?" suara itu seperti seseorang yang ia kenal. Hanya saja masker atau apa yang menghalangi membuat suara itu samar-samar.
"Kembalikan Winda, aku akan mengirimkan uang yang kamu inginkan!"
"Kau pikir aku butuh uangmu? tenang bung. Aku hanya ingin bermain-main dengan istrimu yang penurut dan menggemaskan" remeh penelpon misterius itu.
"Jika ada sesuatu mengenai Winda dan calon anakku. Akan aku pasti kan, nyawamu akan hilang dalam sekejap!".
"Silahkan saja!"
"Katakan di mana Winda sekarang?!"
Tut tut tut
sambungan terputus. Ardi menghempaskan ponsel itu ke sofa. "Sialan! berani sekali ia macam-macan denganku!".
.
.
.
.
A/N
Ada yang masih baca? aing mau minta maaf jika menggantung begitu saja. Insyaallah bulan ini dan setiap hari aing akan update.
bukan dibawa kepelaminan.
kwkwkwkwkkwkw