Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Entah sudah yang keberapa kalinya Park Hyun-Shik melihat Daehyun sedang menelepon. Jadwal kerja Daehyun hari ini cukup padat, tapi ia selalu terlihat menelepon setiap kali ada waktu luang. Tanpa perlu bertanya, Park Hyun-Shik tahu siapa yang sedang dihubunginya.
“Daehyun, kau mau terus menelepon sampai kapan? Kau harus tampil sebentar lagi,” tegur Park Hyun-Shik sambil menepuk punggung temannya.
Daehyun yang sedang duduk di kursi putar dengan kaki terjulur tersentak dan menutup ponselnya. “Oh, Hyong.”
“Ada apa? Kenapa wajahmu kusut begitu?”
“Tidak ada di rumah.” Daehyun seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Park Hyun-Shik pura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud Daehyun. “Siapa?”
Daehyun mendesah. “Sudah. Lupakan, tidak ada apa-apa.”
“Sebaiknya kau bersiap-siap,” ia mengingatkan Daehyun sekali lagi.
Kali ini Daehyun menoleh ke arahnya dan bertanya, “Hyong, setelah ini aku tidak punya jadwal kerja lagi, kan?”
.
.
.
.
Sheryn baru saja masuk ke rumah ketika ia mendengar telepon rumah berdering. Ia menutup pintu dan meletakkan kunci di meja. Harus diangkat atau tidak?
Bagaimanapun ini rumah Choi Daehyun dan ia tidak bisa sembarangan menjawab teleponnya. Akhirnya ia membiarkan mesin penjawab telepon yang menerima.
“Kalau kau ada di rumah, angkat teleponnya.” Sheryn kaget mendengar suara Choi Daehyun di mesin. Ia cepat-cepat mengangkat telepon.
“Halo?”
“Akhirnya kau menjawab juga. Aku sudah mencoba menghubungimu sejak tadi.”
Suara Choi Daehyun terdengar agak jengkel. Sheryn melirik jam tangannya. “Oh, aku tidak sadar sudah sore. Ada apa mencariku? Ada yang harus kulakukan?”
“Tidak juga.”
“Lalu kenapa?”
“Hanya ingin tahu keadaanmu.”
Sheryn tersenyum sendiri. “Aku baik-baik saja. Sekarang kau di mana?”
“Di jalan. Aku akan pulang sebentar lagi.”
“Mmm, kau mau kubuatkan makan malam?” tanya Sheryn sambil menimbang-nimbang. “Aku memang tidak bisa memasak, tapi aku bisa membuat bibimbab atau…”
Ia mendengar Choi Daehyun tertawa disana. “Aku belum seberani itu untuk mencoba masakan orang yang mengaku tidak bisa memasak.”
“Aku hanya ingin berterima kasih padamu,” protes Sheryn.
“Sudahlah, tidak usah. Hari ini kita makan di luar saja. Aku yang traktir.”
“Makan di luar? Kau ini bagaimana? Kau ingin orang-orang melihat kita?”
“Kalau dilihat pun kenapa? Bukankah kemarin wartawan sudah terlanjur tahu siapa dirimu?”
Sheryn tepekur. Benarkah hal itu baru terjadi kemarin? Kenapa sepertinya sudah lama sekali?
“Sebentar lagi wajahmu akan terpampang jelas di tabloid. Apa lagi yang bisa disembunyikan? Seluruh Korea akan tahu kau kekasihku. Apakah aku tidak boleh makan malam dengan kekasihku sendiri?”
Sheryn merasa jantungnya seakan berhenti berdetak dan napasnya tertahan. Apa yang terjadi pada dirinya?
“Halo? Sheryn, kau masih di sana?”
Sheryn tersentak. “Ya… ya.”
“Ya sudah, aku tutup dulu.”
Perlahan Sheryn meletakkan telepon. Ada apa dengannya? Ketika tadi Choi Daehyun berkata…
Sheryn menepuk pipi dengan kedua tangannya. “Sheryn, sadarlah,” katanya pada dirinya sendiri.
“Banyak hal yang lebih penting yang harus kaupikirkan.”
.
.
.
.
.
.
.
.
“Choi Daehyun ssi, kau serius mau makan di sini?” Sheryn tahu suaranya terdengar khawatir.
Ia dan Choi Daehyun sedang berada di dalam lift yang membawa mereka ke lantai teratas gedung hotel itu. Setelah tahu Choi Daehyun akan mengajaknya makan malam di restoran hotel mewah, ia tidak bisa menekan rasa cemas di hatinya.
“Memangnya kenapa?” tanya Choi Daehyun tanpa menatap Sheryn.
Sheryn merentangkan tangan. “Lihat pakaianku. Aku tidak bisa masuk ke restoran itu. Bisa-bisa aku diusir.” Ia hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang jins milik Young-Mi.
“Siapa yang berani mengusirmu?” tukas Choi Daehyun.
“Tidak ada yang salah dengan pakaianmu. Ayo, masuk.”
Pintu lift terbuka dan tanpa menunggu komentar Sheryn lebih lanjut, Choi Daehyun berjalan sambil menarik tangan gadis itu. Mereka masuk ke restoran dan segera disambut salah satu pelayan yang langsung mengantarkan mereka ke meja untuk berdua di dekat jendela kaca besar.
Restoran itu cukup sepi, lampu-lampunya menyala redup menciptakan suasana remang-remang. Selain suara percakapan yang sepertinya dilakukan dengan berisik, terdengar alunan lembut musik jazz.
Tidak banyak tamu yang terlihat dan itu bukan hal yang mengherankan. Tentunya hanya orang-orang dari kalangan kelas ataslah yang bisa makan di tempat seperti ini.
“Wah, bagus sekali,” Sheryn bergumam senang ketika melihat ke luar jendela.
Pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian memang menakjubkan. “Kita ada di lantai berapa ya? Tinggi sekali.”
“Ah, aku lupa,” kata Choi Daehyun tiba-tiba.
Sheryn menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya.
“Kau tunggu di sini sebentar. Aku harus mengambil sesuatu,” kata Choi Daehyun sambil bangkit dari kursi.
“Oke. Jangan lama-lama,” sahut Sheryn. Lalu ia kembali mengagumi kerlap-kerlip cahaya lampu kota Seoul di bawah sana.
Beberapa menit berlalu dan Choi Daehyun belum kembali. Sheryn mendesah dan memandang ke sekeliling ruangan. Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke toilet. Ketika Sheryn keluar dari toilet dan sedang berjalan kembali ke mejanya, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Sheryn berbalik mengikuti sumber suara dan melihat wanita cantik bertubuh langsing dan tinggi sedang melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar. Perasaan Sheryn langsung tidak enak begitu melihat wanita itu.
Perasaannya pun bertambah berat seiring langkah yang diambil wanita itu untuk mendekati dirinya.
“Wah, Lee Hae-jin. Apa kabar? Aku tidak menyangka bisa berjumpa denganmu di sini,” sapa wanita itu dengan ramah, tapi bagi telinga Sheryn keramahan itu terdengar dibuat-buat, sama seperti senyumnya.
Sheryn hanya tersenyum samar. “Apa kabar, son-bae? Lama tidak bertemu.”
Jin Da-Rae mengibaskan rambut panjangnya dan berkata, “Eunho ssi akan ke sini sebentar lagi. Kau sendirian?”
Namun tanpa menunggu jawaban Sheryn, Jin Da-Rae meneruskan, “Kebetulan aku bertemu denganmu, ada yang ingin kubicarakan.”
Sheryn diam saja, berdiri bergeming, dan menunggu kata-kata selanjutnya. Jin Da-Rae menatap Sheryn dalam-dalam. “Aku sudah mendengar tentang apartemenmu yang terbakar dari Eunho ssi. Aku senang kau selamat. Tapi aku agak mengkhawatirkan Eunho ssi.”
Alis Sheryn terangkat kaget. Apa yang sedang dia bicarakan?
“Aku tidak suka berputar-putar, jadi aku akan bicara langsung saja. Aku melihat Eunho ssi ikut cemas karena kejadian yang kaualami. Padahal seharusnya ia tidak
perlu repot-repot seperti itu karena kau baik-baik saja. Ya, kan? Bagaimanapun juga
hubungan kalian sudah lama berakhir. Masalahmu sudah bukan masalahnya lagi.”
Sheryn tersenyum pahit. “Son-bae—“
“Oh, Hae-jin.”
Sheryn menoleh dan melihat Han Eunho menghampiri mereka. Ia mendesah dan berpikir kenapa kedua orang itu bisa datang ke tempat ini pada saat yang sama dengan dirinya.
“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Han Eunho sambil menatap Sheryn dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sheryn merasa risih diamati seperti itu, apalagi Jin Da-Rae juga sedang menatapnya tajam.
“Kau lihat sendiri, dia tidak apa-apa,” sela Jin Da-Rae sambil menyelipkan lengannya ke lengan Han Eunho.
“Benar, bukan, Hae-jin?”
Sheryn meringis. “Ya, seperti yang bisa kalian lihat.”
“Kau sekarang tinggal di mana?” tanya Han Eunho lagi dan Sheryn melihat muka Jin Da-Rae langsung berubah.
“Di rumah teman,” jawab Sheryn pendek.
“Oh ya, kau sendirian? Bagaimana kalau bergabung dengan kami?” tanya Jeong-Su mengalihkan pembicaraan.
Astaga. Apakah kedua orang itu sungguh-sungguh berpikir ia sudah begitu putus asanya sampai memutuskan untuk datang ke restoran semewah ini sendirian?
Jin Da-Rae menarik lengan Han Eunho dan cepat-cepat menyela, “Tadi Hae-jin bilang dia sedang menunggu temannya. Nanti temannya malah merasa tidak enak kalau diajak bergabung karena tidak kenal dengan kita.”
Sheryn ingin sekali tertawa keras-keras melihat sikap kakak kelasnya yang seperti anak berumur lima tahun yang tidak mau melepaskan boneka beruang kesukaannya.
Kapan ia pernah memberitahu Jin Da-Rae ia sedang menunggu seseorang? Tapi herannya tebakan wanita itu benar. Ia memang sedang menunggu Choi Daehyun.
“Maaf, sudah menunggu lama?”
Sheryn dan dua orang yang berdiri di hadapannya itu serentak menoleh ke arah sumber suara. Choi Daehyun menghampiri Sheryn sambil tersenyum lebar dan dengan kedua tangan di belakang punggung.
Sheryn mendengar sentakan napas Jin Da-Rae. Ada sedikit rasa puas di hati Sheryn ketika melihat Choi Daehyun muncul, apalagi didukung kenyataan bahwa Choi Daehyun artis terkenal.
“Sudah menunggu lama?” tanya Choi Daehyun sekali lagi sambil menatap lurus ke arah Sheryn, mengabaikan dua orang yang ada di dekatnya.
“Oh, tidak. Tidak lama,” sahut Sheryn agak linglung.
“Tadi aku pergi membeli ini,” kata Choi Daehyun.
Sheryn tercengang melihat seikat besar mawar merah yang disodorkan Choi TaeWoo ke arahnya. Setelah Sheryn menerima bunga yang disodorkan Choi Daehyun, laki-laki itu seakan baru menyadari kehadiran dua orang lain yang melongo memerhatikan mereka.
“Oh, maafkan saya. Saya tidak melihat Anda tadi. Apa kabar? Anda teman-teman Sheryn, ah, maksudku Hae-jin?”
Sheryn melihat mata Jin Da-Rae berkilat-kilat, tatapannya tertuju lekat pada Choi Daehyun.
“Anda Choi Daehyun ssi, bukan?” tanyanya bersemangat.
“Benar,” kata Choi Daehyun ramah. “Dan hari ini saya berencana menikmati makan malam yang romantis.” Ia mengangkat sebelah tangannya dan merangkul bahu Sheryn.
Sheryn menatap Choi Daehyun dengan pandangan terkejut, kemudian matanya ganti memandang dua orang di hadapannya yang juga sedang menatapnya bingung.
“Sepertinya anda berdua juga ingin menikmati makan malam yang romantis,” Choi Daehyun melanjutkan dengan nada ramah seperti tadi.
“Kami tidak akan mengganggu acara anda lebih lama lagi. Senang berjumpa anda berdua.”
Selesai berkata begitu, dengan masih merangkul bahu Sheryn, Choi Daehyun menuntunnya kembali ke meja mereka.
“Terima kasih atas mawarnya,” kata Sheryn ketika mereka sudah duduk kembali. Ia memandang bunga pemberian Choi Daehyun dengan gembira.
“Kau suka?"
"Mm, suka sekali.” Sheryn menatap Choi Daehyun sambil tersenyum.
“Kau sering memberikan bunga untuk wanita?”
Laki-laki itu hanya meringis. “Menurutmu begitu?”
“Ngomong-ngomong, memangnya hari ini hari apa?”
“Kenapa?”
“Kita makan di restoran mewah. Lalu mawar ini.” Sheryn menatap Choi Daehyun sambil berusaha mengingat.
“Hari ini hari ulang tahunmu?”
Choi Daehyun tertawa. “Kalau aku yang berulang tahun, kenapa aku yang memberimu bunga? Bukankah seharusnya aku yang menerima hadiah?”
Sheryn berpikir-pikir lagi. “Kau baru tanda tangan kontrak baru atau semacamnya?”
“Tidak juga.”
“Lalu kenapa?”
Choi Daehyun tersenyum lebar. “Nanti kau akan tahu sendiri.”
Sheryn memiringkan kepala, lalu mengangkat bahu.
“Laki-laki yang tadi itu mantan pacarmu?” tanya Choi Daehyun dengan hati-hati.
Sheryn mendesah. “Mm, dan wanita yang bersamanya itu kakak kelasku yang sekarang menjadi pacarnya.”
Choi Daehyun menatapnya. “Kau ingin kita pergi ke tempat lain?”
Sheryn tertawa. “Untuk apa?”
Choi Daehyun masih terlihat kurang yakin.
“Tidak apa-apa,” kata Sheryn menenangkan.
“Bukankah ada kau yang menemaniku di sini?”
Choi Daehyun tersenyum. “Benar, ada aku di sini. Nah, sekarang kau mau makan apa?”