Zara Nabila gadis cantik yang berasal dari desa yang merantau ke Jakarta untuk mengadu nasip di sana untuk bisa membiayai kedua orangtuanya yang sedang sakit.
Tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuatnya terpaksa harus menikahi CEO muda dan tampan namun begitu angkuh di perusahaannya saat ia sedang membutuhkan banyak uang untuk pengobatan bapaknya di kampung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Tuan Alfa yang terhormat, jika anda tidak tau permasalahannya, tolong diam saja." Kata Zahra.
Zahra yang tau kemana arah pembicaraan Alfa, sangat merasa terhina dan tidak Terima.
"Emang berapa sih harga tubuh kamu? Apa sebanyak itu orderan kamu sampai bawa tas besar segala." Alfa masih tetap berfikir negatif tentang Zahra.
"Saya bilang jangan bicara jika tidak tau permasalahannya! APA ANDA MENGERTI!!" Bentak Zahra yang sangat sakit hati mendengar ucapan Alfa.
"Semua perempuan yang keluar malam tanpa ada pasangan atau keluarganya saya pastikan bukan perempuan baik-baik," Ucap Alfa dengan penuh penekanan.
"Jaga mulut anda! Saya bukan perempuan rendahan seperti apa yang anda tuduhkan!" Bentak Zahra lagi.
Zahra pegi meninggalkan Alfa dan Roy.
"Sepertinya Zahra pergi dari kosannya Al," Ucap Roy.
"Maksud Lo ?" tanya Alfa mengerutkan keningnya, mencoba mengingat apa yang dia ketahui tentang gadis itu.
"Roy, kejar dia." Alfa masuk kedalam mobil dan meminta Roy untuk mengejar Zahra.
Mobil Alfa berhenti tepat di samping Zahra. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
"Masuk." Ucap Alfa setelah menurunkan kaca mobilnya.
Zahra mengerutkan keningnya heran.
"Tadi dia menghina dan sekarang malah meminta aku ikut dengannya." gumam Zahra pelan.
"Masuk cepat!" Tegasnya lagi.
"Tidak perlu, terimakasih." Ujar Zahra.
"Buruan masuk sebelum saya berubah pikiran!" Bentak Alfa.
Zahra pun akhirnya masuk kedalam mobil bosnya. Hening, tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari ketiga orang tersebut. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Aku harus kemana? Apa aku minta bantuan Nanda, atau Acha aja ya? Tapi, aku nggak mau ngerepotin keluarganya mereka," Batin Zahra.
Alfa yang melihat kegelisahan diwajah Zahra, mengerti bahwa gadis itu sedang mengalami masalah.
"Roy, ketempat itu," Ucap Alfa pada Roy.
"Oke." Roy pun langsung memutar arah menuju tempat yang Alfa perintahkan. Zahra yang sedang melamun menatap jalanan yang gelap tidak mendengar apa yang Alfa bicarakan dengan Roy. Sehingga saat mobil berhenti, dia baru sadar bahwa dia berada didepan sebuah rumah yang sangat tidak asing baginya.
"Turun," Ucap Alfa yang sudah membuka pintu disebelah Zahra.
"Kenapa kesini tuan?" Tanya Zahra bingung.
Tanpa menjawab, Alfa berjalan memasuki rumah itu diikuti oleh Zahra dan Roy.
"Tuan kenapa saya dibawa kesini?" tanya Zahra lagi.
"Kamu tinggal saja disini sampai kamu dapat tempat baru," Ujar Alfa.
"Tapi nanti kalau keluarga tuan dateng?" Tanya Zahra lagi.
"Tidak ada yang tau tempat ini selain saya dan Roy," Ucap Alfa.
"Saya tidak bisa tinggal disini tuan, lebih baik saya cari kontrakan aja," Tolak Zahra.
"Ini sudah malam, jika ingin mencari kontrakan seperti yang kamu mau, besok siang saja," Ucap Alfa.
"Kamu boleh pilih salah satu dari dua kamar, tapi jangan pernah masuk kekamar yang ada dipojok lantai dua. Semua fasilitas sudah lengkap, kamu boleh memakainya," Jelas Alfa.
"Terimakasih banyak tuan, tuan sudah baik banget selama ini. Saya tidak tau harus membalasnya pakai apa." kata Zahra.
"Ini semua memang tidak gratis, suatu saat saya akan meminta balasan dari kamu," Ujar Alfa.
"Apapun akan saya lakukan jika itu tidak melanggar norma tuan, saya bersedia menjadi karyawan tuan sampai kapanpun jika itu bisa membalas kebaikan tuan pada saya," Ujar Zahra.
"Sudah malam, kamu istirahatlah, saya pergi dulu. Ini kunci rumah ini, " Alfa menyerahkan beberapa kunci pada Zahra.
Setelah kepergian Alfa, Zahra berjalan menuju satu kamar yang berada di lantai dua, dia memilih kamar disebelah pojok kiri. Zahra masuk kekamar itu dan meletakkan tasnya di tempat tidur. Kemarin-kemarin saat dirinya bekerja dirumah Alfa, untuk ia istirahat dikamar tempat pembantu. Tapi sekarang berbeda.
"Terimakasih ya Allah. Engkau memberikan pertolongan padaku," Zahra terus mengucap syukur pada Sang Pencipta, karna dia bisa tidur dengan baik malam ini.
"Laper banget, ada makanan gak ya?" Gumam Zahra.
Zahra bergegas meninggalkan kamar dan turun menuju dapur.
Zahra membuka kulkas yang ternyata penuh dengan bahan makanan dan beberapa buah-buahan. Zahra mengambil beberapa bahan makanan untuk dimasak.
Besok aku harus bisa cari kontrakan yang murah biar gak tinggal disini." Zahra bicara sendiri sambil terus meracik masakan yang dia masak.
Setelah selesai masak dan makan, Zahra merapihkan dapur itu lalu kembali kekamar.
Zahra memperhatikan setiap sudut kamar yang besarnya tiga kali lipat dibanding kamar dia yang dikampung dan kamar yang selalu ia tempat kalau istirahat bekerja dirumah ini.
"Aku gak nyangka bisa tidur kasur yang empuk seperti ini. Nyaman sekali." Zahra merebahkan tubuhnya, merasakan kenyamanan dari kasur tersebut dan akhirnya diapun tertidur.
Alfa langsung menuju kamar tanpa menyapa adiknya yang sedang bersantai diruang tamu. Saat Zahra sudah mulai masuk ke kamarnya lagi untuk beristirahat, Ara baru sampai di rumahnya.
Sedangkan sang adik yang merasa kesal karna selalu dicuekin, mengejarnya sampai kekamar.
"Bang Al, Ara mau bicara sama Abang," Ujar Aram
"Apa dek?" Jawab Alfa.
"Abang mau sampai kapan seperti ini terus?" Tanya Ara.
"Selamanya," Ujarnya sembari meletakkan tas dan jasnya keatas sofa.
"Yang salah Bunda sama Ayah, tapi kenapa Ara juga ikut dicuekin sama abang? Ara gak suka dicuekin terus kaya gini," Ujar Ara dengan wajah cemberut. Ara duduk diatas ranjang sang Abang dengan melipat kedua tangannya.
"Hari ini Abang capek dek, udah malam, waktunya kamu belajar dek," Alfa bukannya menjawab pertanyaan sang adik, malah mengusir adiknya secara halus.
"Ara butuh jawaban bang." Kata Ara.
"Iya besok oke. Sekarang kamu masuk ke kamar kamu dan belajar dengan baik," Ujar Alfa.
Ara akhirnya keluar dari kamar abangnya dengan kecewa.
Alfa menghubungi sang asisten sekaligus adiknya untuk mendapatkan informasi tentang Zahra.
"Bagaimana Roy?" Tanya Alfa.
"Zahra diusir dari kosan itu karna didapati berduaan didalam kamar dengan suami pemilik kosan itu..." Ucapan Roy terhenti.
"Jadi benar dia bukan wanita baik seperti yang gua pikir," Ujar Alfa geram.
"Lo tenang dulu, gua belum selesai anjir bicaranya."
"Suami dari ibu kosan itu yang masuk kedalam kamar Zahra dan mencoba mencoba melecehkan Zahra. Tapi istrinya itu tidak percaya dengan yang Zahra katakan, dan ibu itu mengusir Zahra dengan kasar." Jelas Roy.
"Kurang ajar dia!! Berani-beraninya berbuat seperti itu! Apa pria brengsek itu sempat menyentuh Zahra?" tanya Alfa yang naik pitam saat mendengar penjelasan dari Roy.
"Orang itu...." Roh ragu ingin menceritakan apa yang dia tau pada tuannya.
"Katakan semuanya!" Pinta Alfa dengan sedikit emosi.
"Orang itu, sempat menyentuh wajah Zahra dan mencoba menciumnya. Tapi dia belum sempat melakukan itu karna Zahra selalu memberontak dan menghindar sampai akhirnya aksi itu diketahui oleh istrinya ," Roy menjelaskan lagi.
"Benar-benar tidak bisa dibiarkan. Gua nggak Terima dengan perlakuan mereka!!" Alfa mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Apa perlu gua beri pelajaran Al?" Tanya Roy.
"Beri dia peringatan," Titah Alfa.
"Oke, bakal gua lakukan," Jawab Roy.
Alfa menutup telfon dan melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Kurang ajar! Berani-beraninya mereka menyakiti Zahra! Dan berani-beraninya pria tua Bangka itu mau menyentuh Zahra!!" Gumam Alfa geram.
Alfa semakin terlihat gelisah dengan apa yang dia dengar dari Roy. Diapun merasa bersalah karna sudah menuduh gadis itu dengan tuduhan yang buruk. Kegelisahan itu membuat Alfa tidak bisa tidur dengan nyenyak. Fikiran nya terus tertuju pada gadis itu.
salam dari Ellisa Mentari Salsabila. jangan lupa mampir 🤗🤗 tinggalkan love dn komentar...
nanti zahra cuekin baru tau rasa...
si author bisa aja bikin kepo pembaca....
ditunggu kelanjutan nya... jangan lama lama ya kaka author...