Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 Ikhlaskan atau tinggalkan
Suara dering telepon genggam di sampingnya yang berulang membuat gadis itu mengalihkan pandangannya melihat nama kakak dari ibu sambung. Dia meraih benda pipih itu, sebelum mengangkat panggilan itu Resa mengatur nafasnya agar stabil, tangan kanannya menghapus jejak air mata yang tertinggal di pipi mulusnya.
(Assalamu'alaikum, Res,) Suara seorang pria di seberang telpon mengucapkan salam.
(Wa'alaikumsalam, Wa,)jawab Resa dengan suara serak karena banyak menangis.
(Bisa minta tolong, Res? Telponnya kasih ke mamah dulu, Wa tadi udah nelpon ke no Komala tapi gak terhubung,) kata pamannya.
(Maaf, Wa, aku lagi gak ada dirumah,)jelas Resa dengan suara serak yang membuat pamannya curiga.
(Oh, kamu lagi di tempat suami kamu? Ya udah, kalau gitu, biar Wa aja nanti yang kerumah bapak kamu,)kata pamannya.
(Iya, Wa, jawab Resa dengan suara yang masih serak.
(Resa, kamu baik-baik aja? Tanya Wa Asep saat mendengar suara resa yang serak setelah menangis."apa ada masalah?) tanya paman sekali Gus, guru ngajinya dulu.
Bukannya menjawab, gadis itu makin tersedu dalam isak tangis yang memilukan.
(Kalau kamu lagi ada masalah, bisa cerita sama Wa, kita cari jalan keluarnya sama-sama,) kata Wa Asep dengan nada yang lembut.
Resa menghela napas dalam-dalam, merasa lega karena ada orang yang bisa dia percaya untuk bercerita. (Wa, saat ini aku sedang bingung dan cemas akan sesuatu,Bukannya ngeluh, tapi situasi sekarang memang gak mudah,) jelas Resa, diiringi tangis yang sesenggukan.
Resa berusaha tenang, namun air matanya tak bisa ia tahan. Ternyata dia tak sekuat itu untuk menyembunyikan rasa kecewa yang amat menyakiti dirinya.
Wa Asep mendengarkan dengan sabar, menunggu Resa selesai cerita sebelum dia memberikan solusi. (Resa, menikah itu banyak sekali kejutan. Hal yang dulunya hanya kalian yang rasakan, setelah pernikahan, areanya akan semakin meluas. Ada keluargamu, keluarga pasanganmu, saudaramu, saudara pasanganmu. Temanmu, teman pasanganmu, dan masih banyak yang lainnya," jelas Wa Asep setelah mendengar cerita keponakannya.
(Dulu sebelum menikah, cinta sangat penting, bahkan ada di urutan pertama untuk menentukan apakah hubungan kalian akan berlanjut ke jenjang pernikahan ataukah tidak. Tapi setelah pernikahan itu sendiri, sifat masing-masing dari pasangan adalah penentu kalian bisa bertahan atau tidak dengan pernikahan yang sudah kalian pilih tersebut,) tambah Wa Asep.
(Perceraian memang dibenci Allah, tapi diizinkan jika salah satu di antara kalian sudah memiliki arah dan tujuan yang berbeda,) jelas Wa Asep.
(Akan sulit bagi kalian untuk mengarungi hubungan tersebut. Apalagi jika harus memilih salah satunya. Hanya akan ada dua pilihan, tinggalkan atau pertahankan.)
Resa mendengarkan dengan hati yang berat.
(Keadaan saat ini sulit untuk aku memilih. Aku ingin menyerah. Tapi, takut membuat orang tua kecewa dengan keputusan ku. Bagaimana pandangan orang yang akan mencemoohnya? Sebentar lagi bapak akan mengadakan resepsi pernikahan untuk Wati. Aku tak sanggup memberi kabar duka, apalagi jika harus membebani bapak yang mungkin akan mencoreng nama baiknya.)
Wa Asep mendengarkan dengan sabar.(Kamu tidak menceritakan semuanya pada orang tuamu?)
Resa menggelengkan kepala. (Aku gak punya keberanian untuk mengatakan kebenaran ini pada mereka!)
Wa Asep menyarankan. (Sebaiknya, kamu cerita sama orang tua mu nak. Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan masalah, lambat laun mereka akan tahu juga.)
Resa makin terisak dalam tangisnya. Berusaha mencerna setiap kata yang terucap dari pamannya.
(Menikah itu ibadah terpanjang,) jelas Wa Asep dengan nada yang bijak. (Jika kamu ikhlas dan ridha menerima ujian dengan lapang dada, maka lanjutkan. Bertahan untuk membuatnya ingat akan tujuan awal. Tapi, jika bertahan hanya memperdalam luka batinmu saja, maka lepaskan.)
Resa mendengarkan dengan sepenuh hati, berusaha memahami kata-kata pamannya. (Aku akan mencoba untuk bertahan, semoga aku bisa ikhlas menerimanya,) katanya dengan suara yang lembut.
Wa Asep tersenyum dengan penuh kebijaksanaan.(Mengikhlaskan apa yang menimpa mu saat ini sungguh sangat luar biasa. Tapi, semakin lurus niat, semakin kencang cobaannya. Tetaplah berusaha, nak. Kelak, semesta akan memberikan sebuah kejutan yang tidak terduga. Allah tidak mengubah akhir baik dari tujuanmu, Allah hanya memberi jalan yang berliku agar ada cerita di setiap perjuanganmu. Percayalah, tidak ada sabar yang sia-sia. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu.
Allah melihat usahamu, Allah mendengar do'amu dan Allah paham keinginanmu. Yakinlah, Allah akan permudah semuanya, Allah akan tunjukkan JalanNya.
رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ
Rabbukum a'lamu bimaa fii nufuusikum
"Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu)
Mendengar nasehat dari pamannya, Resa merasa sedikit lebih tenang. (Ada yang mau ditanyakan lagi?) tanya Wa Asep lega setelah mendengar deru napas yang teratur dari sebrang telpon nya.
(Untuk saat ini cukup, Wa,) jawab Resa dengan suara yang masih terisak.
(Kalau gitu, Wa tutup telpon nya ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan ngabarin, Assalamu'alaikum,) pamit Wa Asep.
(Iya, Wa, insyaallah, Wa'alaikumsalam)jawab Resa sebelum menutup telponnya.
Setelah percakapan dengan pamannya berakhir, Resa melangkah ke arah pintu kamar, dia mengintip untuk melihat anak yang tadi ia tinggalkan sendirian. Melihat pemandangan di depannya membuat gadis itu merasa iba, wajah polos yang tak berdosa itu terlelap dengan memeluk boneka di atas kursi. Resa merasa sedikit lebih lega setelah melihat anak itu tidur dengan tenang.
"Ya Allah, maafkan aku, tak seharusnya anak yang tak tahu apa-apa ini harus menerima pelampiasan dari rasa kecewa ku, yang salah adalah ayahnya, dia hanya korban dari keegoisan orang tuanya," batin Resa yang berjalan mendekati anak yang sedang terlelap itu.
Resa mengusap kepala Umai dengan rasa bersalah. "Kisah kita hampir sama, Umai, namun bedanya aku terpisah karena Allah lebih sayang pada ibuku yang sering sakit-sakitan, makanya dia dipanggil lebih awal. Sedangkan kamu terlalu kecil untuk bisa menentukan harus menentukan pilihan antara tinggal bersama ayah atau ibumu. Rasanya aku wanita paling jahat jika membenci kehadiranmu. Bantu aku untuk bisa ikhlas menerima kehadiranmu ya," bisik Resa di telinga Umai.
"Kau dan aku terjebak dalam ruang yang sama, Di antara keyakinan yang tak pernah bisa seirama, Cinta ini tumbuh meski tak sesuai harapan, Namun hati tetap bertanya, apakah aku bisa menerima?
Setiap tatapan seolah berbisik tanpa suara, Kita punya tempat berbeda, namun hati tak pernah berdusta, Adakah jalan untuk ku, Ataukah aku harus mengakhiri cerita?
aku dengan doa yang selalu ku sebutkan, Aku dengan harapan besar yang tak pernah hilang, Meski keadaan ini telah menghalangi jalan, Aku masih bertahan dalam kekecewaan yang panjang.
Di malam sunyi, aku bertanya pada Tuhan, Apakah aku ini cukup kuat menerima Takdir? Namun jawabannya hanya datang dalam kesunyian, Keyakinan ku harus berakhir dalam keraguan.
Tapi jika cinta ini memang tulus dan nyata, Mungkin suatu saat nanti ada jalan bersama, Tak peduli cobaan yang datang tak terduga." batin Resa dengan mata yang berkaca-kaca.
Seseorang yang mengawasi gerak-gerik gadis itu tersenyum haru melihat pemandangan di depannya, membuat dia lega campur bahagia.
Di sudut ruang yang sepi Ada hati kecil yang berbisik pelan Tak lantang, tak bising, Hanya lirih seperti angin di celah jendela.
la berbicara pada luka-luka. Tentang rasa yang tak sempat menjadi kata Tentang ketakutan yang tumbuh di balik dada.
"Apakah semua ini akan berlalu?" "Apakah esok masih punya cahaya?" "Apakah Tuhan masih menggenggam jemariku yang gemetar?"
gadis itu menunduk, seakan-akan ragu Hanya hati kecil itu Terus berbisik lirih.
Menunggu keyakinan datang,Menunggu kepastian yang tak berujung.