JANGAN DI BACA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
______Indonesia Maju_______
☘️ Perempuan itu sama seperti bunga. Mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik, dan penuh kasih sayang. ☘️
{Ali Bin Abi Thalib}
🍂🍂🍂🍂
FLASHBACK ON
Seorang lelaki berjalan menuju arah sekolah mencari keberadaan seseorang, dia pun bertanya kepada penjaga sekolah, penjaga sekolah itu tidak melihat Arum. Karena saat itu sekolah sudah dalam keadaan sepi, dan hanya menyisakan beberapa orang saja.
Namun dia tidak menemukan keberadaan seseorang yang dia cari. akhirnya ia pun berjalan kearah kantin sekolah. Hanya ada empat orang yang dia lihat. Seseorang yang dia cari sedang duduk berjarak dua bangku dari laki-laki disebelahnya. Dan yang dua orang nya mungkin Ibu kantin yang sedang menyapu serta satu orang lagi anak yang mungkin seusia Alif mungkin juga anak dari Ibu kantin.
Seorang lelaki itu, dialah Dimas yang sedang mau menjemput Arum. Akan tetapi sebelum langkahnya mendekati Arum dan Alfin terdengar pembicaraan yang serius di antara mereka.
"Rum, benarkah kamu akan menikah?" Alfin bertanya kepada Arum.
"Maksud Pak Alfin?" Dimas melihat wajah Arum yang sedang menengok kearah Alfin karena posisi duduk Arum dan Alfin membelakangi Dimas berdiri mereka pun tidak tahu jika Dimas mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku menyukaimu Rum." Bagaikan tersengat aliran listrik tubuh Dimas menegang tidak bisa mengontrol kecemburuannya, Dimas pun berbalik dan menuju tempat parkiran. Yang menjadikan Dimas salah paham dengan jawaban Arum. Mungkin Dimas berpikir sikap acuh dan dinginnya Arum, saat ini ialah karena sudah menyukai laki-laki lain yaitu Alfin.
Dimas pun mengirim pesan singkat melalui pesan. "Aku tunggu di depan sekolah." isi pesan singkat Dimas kepada Arum.
Saat Arum belum memberikan jawaban apapun. Ada pesan masuk. Arum pun mengeluarkan smartphone dari tasnya saat memencet tombol menyala Arum melihat nama pengirim pesan 'Dimas'.
Arum kembali menaruh Smartphone kedalam tas. Dan kemudian menatap Alfin melihat tatapan Alfin yang mungkin sedang mencari jawaban. Arum pun kembali menunduk.
"Maafkan Arum, Mas Alfin, Dia memang telah meninggalkan Arum dulu. tapi perasaan Arum masih sama padanya. Seperti dulu, saat pertama mengenalnya." Arum pun pamit sebelum mendapat jawaban dari Alfin yang masih termangu. Alfin sudah tahu cerita Arum dan Dimas dari Shinta yang memang gemar bergosip. Entah dari mana Shinta tahu mengenai Dimas dan Arum.
Arum keluar dari gedung sekolah menuju tempat Dimas memarkirkan mobilnya. Arum pun membuka pintu mobil dan tersenyum kepada Dimas senyum yang sangat manis. Tapi di ulu hati Dimas begitu nyeri melihat senyuman itu. Dimas pun memalingkan wajah ke arah kemudi.
Arum merasa heran dengan sikap Dimas yang tidak seperti biasanya. "Mungkinkah dia marah karena sudah menungguku terlalu lama?" batin Arum. Arum pun tak mau ambil pusing.
Sepanjang perjalan mereka hanya diam tidak ada yang membuka suara.
##FLASHBACK OFF
Alif pun mendengarkan penjelasan Dimas dengan reaksi biasa. "Aku sudah pernah bilang sama Mas Dimas, kalau ada yang menyukai Mbak Arum."
Dimas pun hanya diam, entah sekarang kecemburuanlah yang menguasai hatinya.
"Mas Dimas, percayalah Mbak Arum masih memiliki perasaan terhadap Mas Dimas. Jangan berprasangka buruk terlebih dulu, sebelum mendengar penjelasan Mbak Arum." Alif mencoba memberikan solusi.
Dimas menatap Alif dan mengangguk, Dimas pun segera mencari keberadaan Arum, "Kenapa anak seusia Alif begitu dewasa tapi malah aku berprasangka negatif." Dimas membatin sambil celingak-celinguk mencari sosok Arum di kerumunan (ini diluar dari protokol kesehatan covid19) orang-orang yang mulai memadati Tugu.
Kemudia Dimas pun menangkap sosok yang dia cari, Arum sedang berdiri menatap Tugu dengan wajah yang sedikit sembab.
Dimas mendekati Arum berdiri memandangi Tugu. "Rum, maafkan aku." Arum masih tidak menoleh dengan keberadaan Dimas.
"Rum, aku sangat mencintaimu menikahlah denganku. Tadi aku melihatmu di kantin dengan Alfin. Jujur aku cemburu Rum." Dimas pun beralih posisi berdiri di hadapan Arum, yang enggan menengok kearahnya. Kemudian Dimas menekuk satu lututnya, dan memberikan kotak kecil berbentuk hati di hadapan Arum.
Arum terkejut dengan tindakan Dimas.
Seketika orang-orang yang sedang berada di Tugu itu pun melihat kearah Arum dan Dimas.
TERIMA.. TERIMA.. TERIMA..!!!!
Begitulah seketika orang yang mengilingi Arum dan Dimas bersorak sorai untuk Arum mau menerima Dimas.
Arum masih saja diam tak mengeluarkan suara maupun gerakan. "Rum, Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, kecuali maut. Percayalah." bujuk Dimas lembut.
Arum yang mendengar kata-kata dari Dimas pun menatap Dimas yang masih berlutut di hadapannya. "Jangan pernah berbicara tentang maut. hidup dan mati adalah rahasia Allah."
Dimas pun tersenyum mendengar Arum sudah mau bicara padanya. Itu artinya Arum sudah tidak marah lagi.
"Apa kamu bersedia menikah denganku?" tanya Dimas memastikan.
Arum pun mengangguk dan mengambil cincin yang di berikan Dimas. Semua orang yang berada di sana pun ikut merasakan bahagia tak terkecuali Alif.
"Mau pakai sendiri? apa mau dipakaikan?." Dimas meledek Arum dengan kerlingan mata.
Arum mendelikan matanya yang membuat Dimas terkekeh geli.
Prok Prok Prok..! Mereka semua pun mengucapkan selamat kepada Arum dan juga Dimas. Setelah semua orang mulai meninggalkan Arum dan Dimas Arum pun terlihat kesal. "Hey kenapa? masih marah?" tanya Dimas yang melihat wajah Arum manyun. menggemaskan.
"Kenapa, ngasih cincin pun harus di hadapan orang-orang!"
"Tadinya aku mau di rumahmu, Tapi karena kamu lagi ngambek, ya udah sekalian aja disini. Kan planningnya juga pas didepan Tugu pal putih. karena kamu adalah Jogjaku, tempat aku menetap." Dimas menatap Arum dengan tersenyuman.
"Cie.., cie.., yang lagi romantis aku jadi dikacangin deh." suara Alif sedih dengan nada dibuat-buat.
"Apaan sih kamu Lif." Arum menjawab dengan malu-malu.
"Jadi kapan nih Mas Dimas diresmikan nanti keburu ada orang lain loh?." jawab Alif ngeledek.
"Kita pulang dulu dan bicarakan kepada Ibu dan Bapak. Karena orang tuaku telah tiada jadi ku pasrahkan semuanya Kepada beliau. gimana baiknya." jawab Dimas sedih, tapi masih bisa mengontrol suara agar tidak terlihat sedih mengingat sudah tidak ada kedua orangtuanya.
Arum pun mendengarkan penuturan Dimas pun merasa sedih, pasti Dimas kesepian selama ini.
###
Di rumah Arum.
"Bapak saya mohon izin untuk menikahi putri Bapak Arum dengan secepatnya?" ucapan Dimas penuh dengan keyakinan.
"Kita atur bagaimana baiknya dan kita akan mencari tanggal yang baik, yang tidak akan mengganggu aktivitas kalian, bagaimana Rum?." Bapak memberi jawaban dan bertanya kepada Arum.
"Aku ikut saran Bapak dan bagaimana baiknya." Jawab Arum.
Ibu yang mendengarnya pun ikut bahagia akhirnya putri satu-satunya akan menikah, begitu juga Alif.
Mereka pun akhirnya memutuskan pernikahan akan di laksanakan dua minggu kedepan dengan segala persiapan. Karena Orangtua Dimas sudah tidak ada Dimas pun meminta Paman, dari Adik Ayahnya yang menjadi wali nikah.
Dengan sangat bahagia Paman Egan pun siap menjadi saksi pernikahan keponakan satu-satunya. Karena Egan dan Erwin hanya dua bersaudara, Erwin hanya memiliki satu anak sedangkan Egan memiliki dua orang anak satu perempuan dan satu laki-laki.
###
Di rumah Dimas.
Dimas yang tengah duduk di ruang tamu memandang ke segala arah rumahnya. "Tenanglah rumah besar, sebentar lagi aku akan mengajaknya kemari dan kamu tidak akan kesepian. Aku berharap pula setelah menikah aku dan Arum segera di karuniai Anak-anak yang lucu dan banyak. Agar rumah ini tidak kesepian lagi." gumam Dimas.
***
salam kenal🙏
walaupun jarang coend🤭
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
no cimend🤐🤐🤐😐😐