Kisah dua orang Indigo
Lachlan Lexington de Luca memiliki kekuatan di luar Nurul para sepupunya ... L biasa dipanggil, memiliki sixth sense yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Kali ini liburan L ke Jakarta menjadi berbeda karena dia harus membantu empat hantu gentayangan untuk bisa ke alam baka... Dengan syarat harus berbuat baik baru bisa dipertimbangkan masuk surga atau neraka. Di perjalanan membantu, L bertemu dengan seorang gadis yang takut hantu tapi punya kemampuan yg sama dengan L.
Nareswari adalah seorang gadis berprofesi sebagai konsultan gizi di rumah sakit tapi dia juga punya kemampuan bisa melihat hantu. Nareswari super takut dengan mereka sampai dirinya bertemu dengan Lachlan yang memiliki kemapuan sama. Keduanya membantu empat hantu yang rusuh minta kembali ke habitatnya... Eh alamnya. Bagaimana ceritanya? Menyambut Halloween... FYI ini horor unfaedah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalian Pacaran Saja
Ruang IGD PRC Hospital
Perlahan Shohei pun membuka matanya setelah sebelumnya pingsan gara-gara melihat seorang hantu gadis cilik bule dengan kondisi leher nyaris putus. Mengingat apa yang dilihatnya tadi, Shohei nyaris mau pingsan lagi.
"Shohei? Sudah mendingan?" tanya Raiden.
Melihat Raiden duduk di sebelahnya, Shohei langsung memeluk bocah bongsor itu. "Denden Mushi ku, ayo pulang ke Tokyo. Hantu disini nakal-nakal !" rengek pengawal Raiden itu.
"Alamaaakkk ! Kamu itu ketemu ular anaconda cuek, ketemu hantu langsung jiper..." ejek Raiden.
"Beda dong ! Ular bisa aku bunuh... Hantu aku bunuh pakai apa coba?" eyel Shohei sambil melepaskan pelukannya. "Jangan bilang Shaun kalau aku pingsan !"
"Terlambat! Aku sudah menyebarkan ke semua keluarga Takara dan Shaun ..." cengir Alsaki membuat Shohei melongo.
"Alsaki tegaaaaa ! Huwwwaaaa !" Shohei pun menangis lebay.
***
Taman PRC Hospital Jakarta
Nareswari tersenyum saat melihat Lachlan yang sibuk di depan MacBook nya. Gadis itu juga melihat ada Mbak Kunti, mas Muka Rata serta Nonik Belanda yang berdiri di belakangnya.
"Hai..." sapa Nareswari.
"Hai..." balas Lachlan sambil tersenyum.
"Hai mbak Nyes" sapa Mbak Kunti dan mas Muka Rata.
"Hai kak Nyes" balas Nonik Belanda.
"Kalian serius amat..." senyum Nareswari sambil duduk di depan Lachlan.
"Ini, aku menemukan alamat suami dan anak mbak Ningsih" jawab Lachlan. "Sayangnya, tidak di Pulau Jawa..."
Nareswari melongo. "Dimana?"
"Manado."
"Jauh amaaaattt !" seru Nareswari.
"Andaikan ada pintu kemana saja Doraemon..." gumam Lachlan.
"Apa sudah dihubungi?" tanya Nareswari.
"Ini aku sudah mendapatkan nomor ponselnya dan sudah mencoba menghubungi dari tadi tapi tidak ada jawaban ..." jawab Lachlan.
"Sabar L..." ucap Nareswari lembut.
"Mbak Ningsih... Bisa bersabar kan?" Lachlan menatap hantu wanita itu.
"Bisa mas bule. Aku tahu perjalanan ke Manado juga membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Aku juga tidak mau merepotkan mas bule sampai harus seperti itu hanya karena aku..." jawab mbak Kunti.
"Alhamdulillah kalau mbak Ningsih pengertian..." ucap Lachlan. Bukan soal biayanya yang membuat Lachlan pusing tapi dia harus memastikan bahwa pemilik nomor ponsel itu memang suami mbak Kunti. Jika sudah pasti, Lachlan pun tidak masalah harus jalan-jalan... Namanya juga sekalian liburan...
"Bagaimana dengan mas muka rata?" tanya Nareswari.
"Aku masih belum dapat informasi lebih lanjut. Maaf ya mas, kemarin urus Aundria..."
"Nggak papa mas Bule. Mbak Aundria sudah pindah?" nanya Mas Muka Rata.
"Belum. Kayaknya besok pas pemakaman, dia baru pindah...." sahut Nonik Belanda. "Dia sedang melihat wajah ibunya yang stress. Bagaimana tidak, suaminya juga membunuh anak angkatnya dan dikuburkan di tembok pagar belakang... Kurang bejat apalagi coba !"
"Nonik, kalau kamu marah, ini mejanya ikut bergetar lho" kekeh Lachlan yang bisa merasakan getaran pelan di meja taman.
"Eh masa sih?" tanya Nonik Belanda sok imut.
"Mas L !"
Lachlan dan Nareswari menoleh ke arah suara. Tampak Sagara datang dengan wajah usil.
"Apa Gara?" tanya Lachlan.
"Katanya si badut pingsan ya?" cengir Sagara.
"Badut?" Nareswari menatap Lachlan. "Siapa itu badut ?"
"Pengawalnya Dendeng... Dia ditakuti sama Nonik" jawab Lachlan cuek membuat Nareswari menatap gemas ke Nonik Belanda yang malah asyik mengupil.
"Noniiiikkkk ..." tegur Nareswari.
"Lho? Mbak Nyes juga sama dengan mas L?" Sagara tampak terkejut. "Kok nggak pernah cerita?"
"Bisa kayak gini kok harus aku cerita-cerita tho Gara. Bukan hal yang menyenangkan ..." Nareswari menatap Sagar serius. "Tolong rahasiakan ini dari pak Alsaki. Aku tidak mau semua tahu kemampuan aku seperti ini ..."
"Apakah Dendeng tahu?" Sagara menoleh ke Lachlan.
"Tahu Nyes bisa? Tahu ... " jawab Lachlan cuek. "So, apa yang kau tanyakan?"
"Hantu apa yang membuat Badut pingsan?"
Lachlan dan Nareswari langsung menatap judes ke Nonik yang hendak menakuti Sagara. "Nonik ! Sudah cukup kamu bikin orang pingsan !" tegur Lachlan seperti ke adiknya.
"Iya deh Kak L..." jawab Nonik sambil manyun.
"Memang Nonik kayak apa?" tanya Sagara bingung.
"Oke bayangkan anak perempuan bule jaman Belanda pakai gaun putih dengan renda-renda gitu, rambut pirang, mata biru tapi kosong dan dengan leher nyaris putus macam Sir Nicholas de Mimsy-Porpington, aka Nearly Headless Nick, hantu di Harry Potter" jawab Lachlan.
Sagara melongo. "Terus dengan kondisi seperti itu, dia menampakkan diri ke Badut?" tanya putra Dewa Hadiyanto itu sambil duduk di sebelah Nareswari.
"Yup !"
Sagara dan Nareswari melongo. "Ya Wassalam..."
***
Usai dinyatakan sehat, Shohei pun diijinkan pulang tapi pria itu memilih tidak mau jauh-jauh dari Raiden hingga membuat remaja bongsor itu risih.
"Mending sama Ska kan daripada sama aku ..." omel Raiden yang kesal jaketnya dipegang terus oleh Shohei.
"Ska itu jauh lebih membuat aku sakit fisik dan hati..."
"Lha sama aku?" Raiden menoleh ke arah Shohei yang jalan di sebelahnya.
"Setidaknya sama kamu kan nggak setiap saat harus memisahkan gara-gara berantem meskipun bukan salah Ska sih..." gumam Shohei yang hanya sanggup seminggu mengawal Alaska.
"Owalaahhh..." kekeh Raiden. "Dah yuk, ke taman..."
***
"Besok kamu diundang Eyang buat datang ke proses pemakaman Aundria, L" ucap Nareswari saat membaca pesan di ponselnya.
"Dimakamkan dimana?" tanya Lachlan.
"Pemakaman umum dekat rumah."
"Ooohhh. Tolong bilang pada eyang Kosasih, aku akan datang."
Nareswari tersenyum. "Thanks L."
"Sama-sama" balas Lachlan.
Sagara yang melihat interaksi antara Lachlan dan Nareswari, tersenyum. "Kalian pacaran saja. Cocok kok !"
Kedua orang itu menoleh ke arah pewaris Bank Arta Jaya yang tampak semangat 45 berusaha menjodohkan mereka.
"Alasannya?" tanya Lachlan.
"Kalian itu kompak satu sama lain, ada rasa pengertian gitu. So, kenapa kalian tidak pacaran saja? Pasti Eyang Kosasih, Oom Michel dan Tante Gemini nggak keberatan karena tahu siapa kalian masing-masing. Lagipula..." Sagara mengerlingkan matanya. "Kalian sama-sama bisa melihat hantu, jadi bisa tandem buat menghadapi mereka ..."
Lachlan dan Nareswari saling berpandangan.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️