NovelToon NovelToon
Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:952.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.

Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.

Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.

Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.

Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?

Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?

Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

[Nanti aku pulang telat, sampaikan ke ayah bunda untuk enggak menungguku makan malam]

Sekitar pukul lima sore mas Ryu mengirim pesan ke ponselku. Aku tersenyum ironis setelah membacanya. Pasalnya dia akan pergi menemui Jani sekaligus makan malam di sana.

Karena aku memang sering mengiriminya pesan sebagai Jani, memberikan perhatian-perhatian kecil padanya, jelas diapun lebih nyaman dengan sosok Jani si selingkuhannya.

Padahal selama mas Ryu menjalani hubungan dengan Jani, aku pun berusaha memberikan perhatian padanya, sebisa mungkin berusaha melayaninya, bahkan aku tak segan berpakaian seksi saat di kamar, tapi yang kudapat bukannya ucapan terimakasih, rasa senang atau sejenisnya, melainkan sebuah peringatan supaya aku berhenti menggodanya dan tak perlu peduli padanya.

Apa yang harus ku lakukan? Atau mungkin ada yang salah denganku??

No, tidak ada yang salah denganku, karena sekeras apapun aku berusaha bersikap baik, pria itu sama sekali tidak sudi menerimanya. Kalau sudah begini hanya rasa frustasi yang ku rasakan dan akhirnya aku kembali berperan sebagai Jani supaya bisa merasakan perhatian dan cinta darinya.

[Apa mas ada lembur di rumah sakit atau di klinik?]

Begitulah pesan balasan yang ku kirim ke ponselnya, namun hingga tiga puluh menit berlalu, lagi-lagi aku harus menelan pil pahit sebab mas Ryu hanya membaca pesanku.

"Bun" Seruku sedikit ragu.

"Iya, sayang" Wanita yang tengah menyiram tanaman-tanamnnya menoleh. "Kenapa?"

"Mas Ryu mengajakku makan malam di luar, jadi kami nggak makan di rumah" Bohongku. Setiap kali aku berbohong padanya, ada rasa bersalah yang selalu nimbrung di benakku, dan ini bukan pertama kalinya aku membohonginya.

"Bagus dong, dalam rangka apa makan di luar?" Bunda kembali menatap tanamannya, salah satu tangannya tetap memegang selang, sementara tangan lainnya membuang daun yang berwarna kuning di tanaman bunga mawar.

"Kurang tahu, bun"

"Kalau begitu bilang ke bik Titik supaya jangan masak terlalu banyak"

"Sudah, bun" Sahutku. "Tapi seperti biasa kami janjian di luar"

"Kenapa Ryunya nggak pulang dulu?"

"Aku yang memintanya buat ketemu di restauran"

"Terus Ryunya mau?" Katanya kembali menoleh ke arahku yang langsung ku respon dengan anggukan kepala.

"Anak itu memang keterlaluan! Lanjutnya sembari menggeleng pelan. "Harusnya kan pulang dulu, jemput istrinya, nanti dari rumah langsung sama-sama ke tempat makan"

"Nggak apa-apa bun, lagian kasihan kalau mas Ryunya harus bolak-balik"

"Ya sudah, kamu minta antar sopirnya ayah saja"

"Nggak usah bun, aku bisa pesan taxi online nanti. Pak Parto kan harus jemput ayah"

"Loh memangnya kapan kamu berangkat?"

"Ini sekarang mau siap-siap"

Wanita itu menatapku dengan terkejut.

"Mau makan malam sekarang?" Tanyanya bingung.

"Enggak bun, kami janjian di hotel, mas Ryu menyuruhku menunggu di kamar yang sudah mas Ryu pesan"

"Aahh.. So sweet, jadi ini yang di namakan candle light dinner?" Wanita yang sudah melahirkan pria yang ku cintai ini memasang raut berbinar.

Aku sendiri meresponnya dengan senyum tersipu malu.

Biasanya aku memang beralasan seperti ini, mau janjian di luar, soalnya kejadiannya selalu siang atau kami selalu bertemu di hari libur, atau saat mas Ryu istirahat makan siang. Tapi kali ini pria itu mengajakku di malam hari. Alasannya mumpung dia ada waktu dan ingin makan malam bersama Jani di rumahnya, maksudnya di apartemen milik Jani yang sudah ku perpanjang lagi sewaannya.

"Aku ke atas dulu bun, mau siap-siap"

"Iya sayang"

Aku pun beranjak, meninggalkan bunda dengan perasaan bersalah.

****

Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk aku bersiap-siap menyulap diriku menjadi Jani. Meski hanya belajar make up melalui youtub, tapi hasilnya benar-benar berbeda. Namun sebelumnya aku juga pernah belajar merias diri, selain itu juga sudah sering ku lakukan semenjak aku menjadi selingkuhan mas Ryu. Jadi ini nggak sulit bagiku karena sudah terbiasa, dan malah semakin lama tanganku semakin lihai berdandan.

Setelah mengenakan gamis dan hijab, ku sambar slim bag berisi dua ponsel dan dompet berukuran kecil.

Aku harus segera sampai di apartemen karena sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Mas Ryu sendiri bilang akan sampai di apartemen kurang lebih pukul setengah tujuh, jadi aku harus berada di apartemen sebelum mas Ryu datang.

Menuruni anak tangga, langkahku terhenti di depan kamar bunda. Karena pintunya terbuka, jadi aku tahu kalau bunda ada di dalam.

Pelan ku ketuk pintu kamarnya, wanita yang tengah mengambil baju ganti di lemari itu kemudian menoleh.

"Sudah mau pergi, Na?"

"Iya bun" Tanpa di perintah, aku langsung memasuki kamarnya. "Aku pergi dulu ya bun" Kataku seraya mengulurkan tangan.

"Sudah pesan taxi online?"Tanyanya menerima uluran tanganku untuk ku kecup.

"Sudah bun"

"Ya sudah hati-hati, Have fun ya Na"

"Iya, bun. Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Aku langsung bergegas pergi menggunakan taxi online yang akan mengantarku menuju apartemen tempat dimana mas Ryu selalu menemui wanita selingkuhannya, yaitu aku sendiri.

Setibanya di apartemen, buru-buru ku lepas semua pakaian serta jilbab yang ku pakai, lalu menggantinya dengan one set berlengan pendek serta celana pendek khas rumahan.

Inilah alasanku kenapa menyewa apartemen dan menolak bertemu di luar. Itu karena supaya aku bisa bebas mengumbar auratku. Aku bisa memakai pakaian seminim mungkin, bahkan pakaian kurang bahan sekalipun.

Dengan rambut yang kali ini ku ikat tinggi, membuat leher jenjang ku terekspose sangat jelas. Make up tipis ala korea tetap membuat wajah Naina tak dapat di kenali oleh sepasang mata mas Ryu, sebab selain make up, selalu ada kacamata yang membingkai sepasang mataku.

"Assalamu'alaikum" Sapanya ketika pintu sudah terbuka.

"Wa'alaikumsalam" Balasku sambil mengulas senyum.

Tanpa ku perintahkan, lelaki ini masuk setelah aku menggeser tubuhku sedikit ke arah kanan.

Karena sudah terbiasa, mas Ryu pun melangkah masuk tanpa rasa canggung barang sedikit. Aroma parfum langsung bisa ku hirup begitu pria dengan pembawaan tegas ini melewatiku.

"Maaf mas, aku nggak masak, aku baru saja pulang dari kios"

"Nggak apa-apa kita pesan saja" Jawab mas Ryu, meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tv.

"Mas bawa apa?" Tanyaku heran, sebab selain membawa tas kerja tadi, mas Ryu juga menenteng sebuah goodie bag yang masih ia pegang.

"Kaos sama celana pendek. Aku baru beli tadi" Pria itu melepas kancing lengan di kemejanya.

"Oh"

"Aku ganti baju dulu, ya. Kamarnya yang mana?" Tanyanya membuatku reflek menelan ludah sekaligus panik.

Aku belum menyimpan gamisku, apa jadinya kalau mas Ryu masuk, dan menyadari gamis milik Naina teronggok di atas kasur? Ada ponsel milik Naina juga di atas nakas.

"Kamarnya aku beresin dulu ya, mas. Berantakan soalnya" Ucapku sambil mengontrol debaran jantungku.

"Nggak apa-apa nggak usah di beresin. Kayak sama siapa"

"Nggak bisa mas, aku malu"

"Malu?" Pria itu tersenyum dengan tatapan menggoda.

Tak ingin membalas tatapannya, cepat aku langsung lari ke arah kamar lalu mengunci pintunya. Dengan gesit ku ambil semua barang-barang yang ada di atas kasur untuk ku sembunyikan. Tak lupa mematikan ponsel milik Naina dan menyisakan ponsel milik Jani di atas meja samping tempat tidur.

Setelah semuanya beres, aku pun keluar.

"Astagfirullah" Aku terkejut saat mendapati mas Ryu berdiri tepat di depan pintu kamar.

Lagi-lagi ku lihat senyum terukir di wajahnya.

"Kenapa kaget?"

"Masnya ngagetin" Sahutku menyentuh dada dengan kedua tangan.

"Dasar kamu" Dia mencubit hidungku gemas. Sesuatu yang mustahil ia lakukan pada Naina. "Sudah boleh masuk?"

"Sudah" Jawabku menganggukkan kepala.

Selagi mas Ryu mengganti pakaiannya, aku duduk dengan cemas di ruang tv. Entah kenapa terlintas pikiran buruk di otakku. Dimana aku membayangkan kalau mas Ryu sedang mengacak -acak semua isi kamarku lalu menemukan dompet Naina yang selain berisi uang, juga ada kartu identitasku di sana.

Ohh.. Tidak, ku gelengkan kepalaku.

"Aku sudah menyembunyikan semuanya, lemari juga sudah ku kunci, nggak mungkin juga mas Ryu mengecek kamar, dia bukan pria seperti itu" Gumamku lirih, satu tanganku menekan remote tv, menganti stasiun televisi berulang kali.

Ketika pikiranku semakin hanyut, tubuhku reflek berjengit karena ponsel mas Ryu yang ada di dalam tas kerjanya berbunyi.

Ragu-ragu aku mengambilnya sebab ini pertama kali aku akan menyentuh ponsel milik suamiku sendiri.

Saat sudah ku ambil, tertera nama bunda tengah memanggil.

Bunda? Ucapku tanpa suara.

Aku melirik ke pintu kamar sebelum kemudian ku usap tombol hijau lalu ku tempelkan benda tipis ini di salah satu telingaku.

"Assalamu'alaikum, bun?"

"Wa'alaikumsalam, Naina?"

"Iya bun, ini Naina"

"Jadi sudah ketemu sama Ryu, Na?"

"Sudah, ini kita lagi di hotel, tapi mas Ryunya lagi ada di kamar mandi"

"Bunda mau bicara sama mas Ryu?" Imbuhku. Dan aku harap beliau menjawab tidak.

"Nggak sayang, bunda telfon cuma mau mastiin aja kalian udah ketemu atau belum"

"Sudah kok, bun"

"Ya sudah, itu saja"

"Iya bun"

"Oh iya, mau pulang jam berapa nanti?" tanyanya alih-alih mengakhiri panggilan.

"Kurang tahu bun, tapi ayah sama bunda nggak usah nunggu. Aku ada bawa kunci rumah"

"Okay deh, nggak usah pulang juga nggak apa-apa, besok kan hari sabtu, Ryunya libur. Kalian bersenang-senang saja di hotel. Syukur-syukur pulangnya bawa oleh-oleh"

"Bunda mau oleh-oleh apa? Nanti aku belikan" Ucapku serius.

"Oleh-oleh yang bunda mau nggak ada yang jual, sayang"

Di sini keningku mengkerut tak paham.

"Cukup bawain testpack garis dua aja"

Aku tersenyum kecut. "Insya Allah, bun"

"Ya udah, salam buat Ryu, bunda janji nggak akan ganggu-ganggu lagi deh"

"Iya bun, nanti aku sampaikan ke mas Ryu"

"Bunda tutup dulu ya, assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam"

Sesaat setelah panggilan ku matikan, aku segera menghapus riwayat panggilan, lalu kembali menyimpan ponsel mas Ryu di tempat semula.

"Untung aku yang angkat, bukan mas Ryu" Lirihku.

Sesaat kemudian..

"Astaghfirullah" Untuk kesekian kalinya jantungku di buat melompat-lompat kali ini karena sentuhan tangan mas Ryu. Pria itu juga langsung terlonjak kaget ketika ku tepis tangannya dari pundakku.

"Kamu kenapa Jani, dari tadi kaget terus? Lagi banyak pikiran?"

"I-iya tadi aku melamun mas"

"Melamun apa?" Mas Ryu duduk di sebelahku dengan posisi menghadapku. Satu tangannya mendarat di sandaran sofa, sementara satu kakinya ia lipat di atas sofa.

"E-enggak, aku cuma mikir kenapa harus jadi selingkuhan mas"

"Sudah pernah ku bilang jangan ngomong gitu, kan? Aku dan istriku bagaikan orang asing yang terpaksa harus tinggal serumah, nggak ada yang terjadi di antara kami"

Aku tersenyum meresponnya.

"Sudah pesan makanan?" Tanyanya lekat menatapku

"Sudah mas"

***

Pukul sembilan malam, usai makan malam, aku dan mas Ryu duduk di ruang tv. Kami mengobrol layaknya suami istri. Saling melempar pujian, juga candaan.

Dan mendadak situasi menjadi hening ketika tiba-tiba mas Ryu menggeser duduknya agar merapat padaku.

"Kita akan menikah diam-diam besok" Pungkasnya dengan sorot serius. "Kita menikah siri untuk sementara, supaya kita berdua tidak jatuh ke dalam kubangan dosa yang lebih dalam lagi"

"Semua sudah ku persiapkan, kamu hanya perlu menelfon papamu supaya datang kemari untuk menjadi walimu. Dan kamu harus mau, okay!"

Bersambung

1
Mira Rista
🤣🤣😍😍😍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Omah Tien
kalau aku g mau ks galain jg
sherly
ya ampun gemessssnya Ama pasangan inilah...
sherly
hahahhaha bisa pula si bibik jd kambing hitam
sherly
sukurin, kapok kan ditinggal naina...
sherly
kesel, malu tp pengen ya pak...
sherly
mumettt
sherly
lah kabur aja naina...
Mumun Munawwaroh
KLO gak salah adiknya Arimbi namanya Yunus ya?
Si Memeh
Luar biasa
ovi Putriminang
GK bosan Thor
ovi Putriminang
Muter muter
Anne: jangan di baca lagi, nanti pusing
total 1 replies
ovi Putriminang
kabur aja lah naina tinggalkan,cari kehidupan sendiri
Maharani Rania
bilang ok terus datangkan ayah Bima
Ninik Hartariningsih
maaf mau ralat
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi
Rika
bagus
Lala Trisulawati
♥️👍
martina melati
bukan sarang buaya???
martina melati
hati2 muncul penyakit kanker lho... bermula dari kecewa, terus jd sakit ati dan lama klamaan jd kanker
Nursina
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!