Rasa sakit yang Maura rasakan saat mengetahui Rafa menikah dengan wanita lain tidak sebanding dengan rasa sakit yang kini dia rasakan saat tahu dirinya tengah hamil tanpa tahu siapa lelaki yang sudah membuatnya hamil.
Kejadian malam dimana dia mabuk adalah awal mula kehancuran hidupnya.
Hingga akhirnya dia tahu, lelaki yang sudah merenggut kesuciannya dan membuatnya hamil adalah suami orang dan juga sudah memiliki seorang anak.
Apa yang akan Maura lakukan? Apakah dia akan pergi jauh untuk menyembunyikan kehamilannya? Atau dia justru meminta pertanggung jawaban kepada lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi widya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Ini banyak banget makanan dari Jogja." Seru Freya saat melihat begitu banyak makanan khas Jogja di meja makan. "Ini bukan Bik Mae kan yang masak?" Tebak Freya karena tahu betul Bik Mae tidak bisa masak Gudeg.
"Bukan Nyonya. Ini semua yang bawa Dokter Fabian. Semalam beliau ke sini bawain ini semua buat Non Maura. Langsung dari Jogja." Ujar Bik Mae yang memang semalam mengetahui juga kedatangan Fabian.
"Ahhh!!" Freya terkejut. "Dari Jogja!" Ulang Freya yang tidak menyangka Fabian akan senekat itu demi mempertanggung jawabkan perbuatannya atas Maura juga anak yang masih didalam kandungannya Maura. "Dia benar-benar tulus pada Maura." Gumam Freya yang terharu melihat ketulusan hati Fabian yang ingin bertanggung jawab atas Maura.
"Sayang!! Bikinkan kopi." Pinta Bryan yang baru saja turun dan langsung duduk di meja makan. Dia terlihat masih mengantuk. Semalam dirinya dan juga Freya menghadiri acara makan malam kolega sampai tengah malam dan jam satu baru sampai rumah.
Tanpa menjawab Freya langsung membuatkan kopi permintaan sang suami.
"Siapa yang baru saja dari Jogja?" Tanya Bryan saat melihat Bakpia. Dia langsung saja mencomot sebiji Bakpia itu dan dia masukkan ke dalam mulutnya. Dihidangkan berarti boleh dimakan.
"Ini semua Fabian yang bawa semalam. Langsung dari Jogja." Ujar Freya memberi tahu suaminya. "Mungkin anak kamu yang minta." Tebak Freya yang mengira Maura mengidam makanan yang dari Jogja langsung.
"Masih berlanjut aja mereka." Ucap Bryan sambil menyesap kopi panas yang baru saja Freya sajikan untuk dirinya.
"Tapi sayang, hubungan mereka hanya sekedar orang tua untuk anak mereka. Bukan hubungan resmi kekasih atau suami istri." Freya menyayangkannya hubungan yang terjalin antara Maura dengan Fabian.
"Biarkan saja. Mereka punya pilihan masing-masing. Yang terpenting mereka sama-sama mau mengakui kesalahan dan mau tanggung jawab atas kesalahan mereka." Ucap Bryan bijak.
"Tapi kalau akhirnya mereka menjalin hubungan, apa Mas Bryan setuju?" Freya menatap lekat suaminya itu. Dia berharap Maura sama Fabian sungguh-sungguh memiliki hubungan resmi, bukan hanya sekedar hubungan antara orang tua dengan anak saja sebagai rasa tanggung jawab. Apalagi mereka sama-sama single sekarang.
"Apapun keputusan mereka nantinya, asalkan itu baik dan tidak merugikan pihak lain. Aku setuju saja." Freya tersenyum senang mendengar jawaban yang Bryan berikan. Sesuai keinginannya.
🌷🌷🌷
"Maura!! Apa sih yang kamu pikirkan?" Maura yang baru selesai mandi mengacak rambutnya yang masih basah dengan kasar menggunakan handuk kecil. Dia masih di dalam kamar mandi dan bercermin di depan wastafel saat ini. Namun pikirannya melayang memikirkan perkataan Fabian tadi malam yang terkesan untuk debay yang masih didalam perut Maura.
"Bisa-bisanya kamu berpikiran lebih atas perhatian yang Fabian berikan untuk mu." Maura terlihat kesal pada dirinya sendiri. Dia menatap tajam pada pantulan matanya di cermin.
"Dia perhatian sama kamu itu karena anak yang ada di kandungan kamu. Bukan karena kamu, Maura." Maura geram sendiri dengan pikirannya yang entah kenapa mengharapkan perhatian lebih dari Fabian. Mungkin juga karena efek kehamilannya yang sekarang sudah sebelas minggu lebih, hampir tiga bulan.
"Kamu harus ingat. Fabian dekat dan perhatian sama kamu itu karena kamu sendiri yang memberikan dia ruang untuk dekat dengan anaknya." Maura menghela nafas perlahan, dia mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit meski tidak begitu nampak bila dia memakai baju sedikit longgar.
Maura membuka handuk kimono nya yang menutupi seluruh tubuhnya yang polos. Di berdiri menyamping dan melihat baby bump di pantulan cermin. Dia tertawa kecil, membayangkan betapa bahagianya dirinya saat ini bila hamil didampingi seorang suami. Pasti setiap hari perutnya akan selalu dielus sama suaminya. Debay nya selalu diajak berbicara dan bercanda sama Ayahnya. Entah kenapa Maura tiba-tiba merasa melow, dia sedih dengan keadaannya saat ini.
"Maafkan, Mama sayang!" Lirih Maura berucap dengan mata berkaca-kaca.
Maura menghembuskan nafas lelah, membayangkan bagaimana nasib anaknya nanti yang harus hidup terpisah dengan Ayahnya. Keputusan menolak tanggung jawab dari Fabian atas dirinya membuatnya gundah saat ini. Padahal jelas-jelas Fabian ingin bertanggung jawab atas dirinya juga sang calon anak, namun Maura menolak dengan tegas.
"Aku sudah terlanjur menolaknya. Tidak mungkin aku memintanya lagi. Apalagi aku sendiri juga tidak memiliki perasaan apapun padanya." Maura membantah pikirannya sendiri. Dia kembali menutup badannya dengan handuk kimono.
"Tapi kenapa tadi malam rasanya sakit banget saat Fabian mengatakan itu. Dia perhatian karena debay." Maura memegang dadanya yang rasanya begitu sakit juga sesak. Seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya.
Perhatian dari orang lain selain dari keluarga sendiri yang Maura dapatkan kali ini sungguh membuatnya terbuai. Maura tidak pernah mendapatkan perhatian lebih dari orang lain selain keluarga dan kerabat. Bahkan saat sama Rafa dulu, Maura yang justru memberi perhatian. Jadi saat ini perhatian yang Fabian berikan membuat hatinya bergetar. Perhatian dari orang luar yang begitu tulus pada dirinya.
"Apa aku sudah ada rasa sama dia?" Tebak Maura yang entah kenapa semenjak dia menyetujui permintaan Fabian dengan alasan debay yang masih ada didalam kandungannya, Maura merasa tenang dan senang bila berdekatan dengan Fabian. Bahkan dia setiap pagi selalu menantikan telepon dari Fabian yang hanya sekedar menanyakan kepada dirinya ingin makan apa hari ini.
Kedekatannya dengan Fabian sekitar beberapa minggu ini membuat Maura melupakan sosok Rafa yang dulunya selalu ada dalam pikirannya.
"Tidak!! Mungkin ini hanya efek kehamilan saja." Maura lagi-lagi mengelak perasaan yang timbul dihatinya. Dia tidak mungkin suka bahkan jatuh cinta sama Fabian secepat ini.
ARGHHH
"Kenapa perasaan ini berbeda sekali saat sama Kak Rafa dulu?" Teriak Maura yang kesal sendiri dengan hati dan perasaannya. Untung saja kamarnya terpasang peredam suara. Jadi saat dia berteriak tidak ada yang mendengarnya dari luar.
"Duda satu itu memang meresahkan. Padahal dia hanya diam saja, tapi kenapa tiap kali mengingatnya hati ini jadi bergetar." Maura marah-marah sendiri.
Dia lantas keluar dari kamar mandi dan mengecek ponselnya. Kening Maura mengkerut saat sama sekali tidak ada panggilan masuk maupun chat dari Fabian.
"Tumben banget." Gumam Maura karena tidak biasanya Fabian tidak meninggalkan pesan apapun padanya di pagi hari.
"Apa dia masih tidur? Atau sudah pergi ke rumah sakit?" Maura bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ini sudah hampir jam delapan pagi. Pastinya Fabian sudah bangun dan tengah bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
"Stop memikirkan Fabian, Maura." Maura menggeleng kepala cepat saat tiba-tiba kepikiran Fabian. "Meski Fabian sudah duda, tapi dia selalu diam dan tidak mengatakan apapun sama kamu tentang pernikahannya dulu. Bisa jadi lelaki itu masih mengharapkan pernikahannya dulu kembali utuh. Apalagi diantar mereka sudah ada seorang anak." Maura terus saja menebak dan menerka tentang segala hal tentang Fabian yang belum dia ketahui sepenuhnya.