NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 1 : Aroma Pengkhianatan di La Castellana

Santiago, yang biasanya mahir beretorika, kini tampak seperti ikan yang kehabisan air. "Alicia, dengar. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Ini hanya... sebuah kesalahan. Itu hanya terjadi sekali. Kau terlalu sibuk dengan Ibiza, dan kami—"

​Kesalahan.

​Alicia menarik tangannya dari kemeja Santiago seolah ia baru saja menyentuh bangkai. Ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan amarah, melainkan kekejian yang dingin dan mematikan.

​“Aku terlalu sibuk memenangkan jutaan Euro untuk kita, Santiago. Sementara kau terlalu sibuk dengan ‘kesalahan’ di sofa tetangga,” potongnya, suaranya seperti pecahan es. “Hanya sekali? Aku tidak peduli apakah itu sekali atau seratus kali. Faktanya, kau membawanya—aromanya, bau pengkhianatanmu—masuk ke rumah kita. Ke kamar kita. Ke dalam udara yang kita hirup.”

​Ia melangkah mundur, menjaga jarak yang aman dari suaminya.

​“Kau telah menghinaku, Santiago. Dan yang lebih parah, kau menghina apa yang telah kita bangun. Bisnis kita.”

​Santiago mencoba mendekat, tangannya terentang. "Tolong, Alicia. Jangan biarkan ini merusak segalanya. Kita bisa memperbaikinya. Ini adalah pernikahan kita, Solera adalah segalanya bagi kita."

​“Jangan sentuh aku,” desis Alicia. Suara rendah itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan. “Kau tidak akan pernah menyentuhku lagi.”

...****************...

(Beberapa menit Sebelumnya)

​Waktu menunjukkan pukul 02:17 dini hari. Hujan gerimis membasahi jendela setinggi langit-langit di penthouse mewah mereka di kawasan La Castellana, Madrid, menciptakan pantulan cahaya jalanan yang tampak seperti berlian cair. Alicia Valero berdiri di depan cermin berbingkai perak besar di kamar tidurnya, menatap refleksi wanita yang tampak tak tersentuh.

​Malam itu seharusnya menjadi malam kemenangan. Solera Luxury Homes baru saja memenangkan tender untuk proyek pengembangan hotel butik di Ibiza—kesepakatan bernilai jutaan Euro yang akan mengukuhkan posisi mereka sebagai penguasa properti elite Spanyol. Alicia, sang Direktur Strategi, telah memimpin negosiasi selama enam bulan terakhir. Ia pulang dengan aroma kemenangan yang bercampur dengan sampanye Dom Pérignon dan sedikit parfum mahal yang ia pakai, Chloé Atelier des Fleurs.

​Ia baru saja menyelesaikan mandi air panas—sebuah ritual wajib setelah berurusan dengan hiu-hiu bisnis yang rakus—ketika Santiago, suaminya, kembali.

​Pintu ganda kamar utama terbuka, dan Santiago Valero melangkah masuk. Dengan tinggi enam kaki, rambut hitam legam yang klimis, dan setelan Tom Ford yang selalu pas, Santiago adalah perwujudan dari daya tarik pria kaya, klasik, dan mapan. Mereka telah menikah selama sepuluh tahun, membangun sebuah kerajaan bisnis dari nol, dan seharusnya, malam ini adalah malam untuk merayakan hasil kerja keras mereka.

​Namun, perayaan itu segera berubah menjadi sesuatu yang dingin dan asing.

​“Selamat datang, mi amor,” sapa Alicia, suaranya tenang, menyembunyikan kelelahan yang membebani bahunya. Ia melilitkan jubah mandi sutra hitam di tubuhnya dan bergerak untuk mencium suaminya, sebuah gerakan rutin yang sudah terprogram.

​Santiago tersentak sedikit. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk membuat naluri tajam Alicia—naluri yang membuatnya unggul dalam negosiasi—berdering waspada.

​“Kau sudah pulang,” ujar Santiago, suaranya lebih tegang dari biasanya. Ia tidak membalas ciumannya, melainkan berpura-pura sibuk melonggarkan dasinya. “Aku baru saja menyelesaikan panggilan penting dengan Miguel di Dubai. Perbedaan waktu, kau tahu.”

​Alicia tersenyum. Senyum itu tidak mencapai matanya. “Tentu, perbedaan waktu. Aku pikir aku mencium aroma minyak wangi di kemejamu, carino. Miguel di Dubai beralih dari menyukai cologne berbasis kayu menjadi aroma bunga, ya?”

​Santiago membeku. Tangannya berhenti di kancing manset.

​“Apa yang kau bicarakan, Alicia? Itu hanya bau asap rokok dari bar,” sanggahnya dengan nada meremehkan yang familiar.

​Alicia tidak perlu berteriak, tidak perlu berdebat. Ia hanya perlu melihat. Ia melangkah mendekat, perlahan, seperti predator yang mengunci mangsanya. Ia menyukai ketidaknyamanan yang ia lihat di mata suaminya.

​“Aku tidak pernah merokok, Santiago. Dan aku tahu betul bau asap rokok,” katanya, berdiri sangat dekat sehingga mereka hampir bersentuhan. Ia mengangkat tangannya, jemarinya yang lentik dan berkuku rapi menyentuh kerah kemeja putih suaminya.

​Kemudian ia menciumnya.

​Itu bukan bau rokok. Itu bukan cologne Santiago. Dan itu jelas bukan parfumnya sendiri.

​Itu adalah aroma Gardenia Putih yang manis dan terlalu mencolok. Sebuah aroma yang ia kenal dengan sangat baik. Aroma yang ia bantu pilihkan tiga bulan lalu untuk Isabel, tetangga mereka yang tinggal dua lantai di bawah mereka.

​Isabel, janda muda berambut pirang yang genit, yang Alicia kenal dari galeri seni lokal, yang selalu memanggil Santiago dengan sebutan 'Mr. Valero' dengan aksen Amerika yang manja. Isabel, yang Alicia, dengan kebaikan yang sekarang terasa menusuk, bantu untuk mendapatkan sewa yang bagus di gedung paling eksklusif di Madrid.

​Rasa mual menyeruak di perut Alicia. Itu bukan mual cemburu. Itu adalah rasa jijik yang mendalam atas penghinaan.

​“Kau tahu, Santiago,” bisik Alicia, suaranya rendah dan terkontrol, seolah ia sedang mendiskusikan harga per meter persegi, “Gardenia Putih adalah parfum yang indah. Sayangnya, itu berbau sangat murahan ketika tercampur dengan keringat dan kebohongan.”

​Santiago, yang biasanya mahir beretorika, kini tampak seperti ikan yang kehabisan air. "Alicia, dengar. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Ini hanya... sebuah kesalahan. Itu hanya terjadi sekali. Kau terlalu sibuk dengan Ibiza, dan kami—"

​Kesalahan.

​Alicia menarik tangannya dari kemeja Santiago seolah ia baru saja menyentuh bangkai. Ekspresi di wajahnya tidak menunjukkan amarah, melainkan kekejian yang dingin dan mematikan.

​“Aku terlalu sibuk memenangkan jutaan Euro untuk kita, Santiago. Sementara kau terlalu sibuk dengan ‘kesalahan’ di sofa tetangga,” potongnya, suaranya seperti pecahan es. “Hanya sekali? Aku tidak peduli apakah itu sekali atau seratus kali. Faktanya, kau membawanya—aromanya, bau pengkhianatanmu—masuk ke rumah kita. Ke kamar kita. Ke dalam udara yang kita hirup.”

​Ia melangkah mundur, menjaga jarak yang aman dari suaminya.

​“Kau telah menghinaku, Santiago. Dan yang lebih parah, kau menghina apa yang telah kita bangun. Bisnis kita.”

​Santiago mencoba mendekat, tangannya terentang. "Tolong, Alicia. Jangan biarkan ini merusak segalanya. Kita bisa memperbaikinya. Ini adalah pernikahan kita, Solera adalah segalanya bagi kita."

​“Jangan sentuh aku,” desis Alicia. Suara rendah itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan. “Kau tidak akan pernah menyentuhku lagi.”

​Ia berjalan menuju lemari pakaian suaminya, yang memanjang di seluruh dinding. Ia membuka salah satu laci, mengambil sebuah kotak kayu berukir yang berisi arloji-arloji mewah Santiago, dan melemparkannya ke lantai marmer dengan dentuman keras.

​Pecahan kaca jam tangan mahal itu menyebar di lantai. Santiago menatap arloji Patek Philippe dan Rolex Submariner-nya yang hancur dengan kaget yang lebih besar daripada pengakuan perselingkuhannya.

​“Itu adalah apa yang akan terjadi pada pernikahan kita, Santiago. Kehancuran total,” kata Alicia.

​Ia berjalan ke brankas tersembunyi di balik lukisan Goya, memasukkan kode yang hanya diketahui oleh mereka berdua, dan menarik keluar dua map kulit merah. Map itu berisi salinan sertifikat saham Solera Luxury Homes—sebuah perusahaan yang 50% sahamnya milik Alicia dan 50% sisanya milik Santiago.

​“Kau tahu, kita mendirikan perusahaan ini berdasarkan kesetiaan. Dan kau telah melanggar kesetiaan itu,” katanya, suaranya nyaris berbisik. “Aku adalah Direktur Strategi. Aku yang menjalankan operasi sehari-hari. Kau hanya wajah tampan yang menyambut klien di acara-acara gala. Itu adalah kebenaran, bukan?”

​Ia melemparkan map milik Santiago ke ranjang tempat mereka biasa berbagi ranjang.

​“Kita tidak akan bercerai, Santiago. Perceraian terlalu mudah untukmu. Aku tidak akan memberimu kebebasan untuk melanjutkan hidup dengan Isabel atau wanita lain. Aku akan melakukan sesuatu yang jauh lebih menghukum.”

​Mata Alicia kini berkilat-kilat, bukan karena air mata, melainkan karena ambisi yang dingin. Kebencian telah menjadi katalisator. Dalam hitungan detik, ia telah beralih dari istri yang dikhianati menjadi CEO yang sedang menyusun rencana pengambilalihan perusahaan secara agresif.

​“Aku ingin kau menjual saham 50% milikmu kepadaku. Dengan harga yang akan aku tetapkan. Harga kerugian,” putusnya. “Jika kau menolak, aku akan membocorkan kisah perselingkuhanmu kepada dewan direksi dan media. Kau akan menjadi berita utama di setiap tabloid di Madrid—Santiago Valero, Pendiri Solera, Berselingkuh dengan Janda Muda Tetangganya, sementara Istrinya Memenangkan Tender Terbesar Mereka.”

​Wajah Santiago pucat pasi. Ia tahu betul konsekuensinya. Di dunia properti mewah, reputasi adalah mata uang. Skandal semacam itu akan menghancurkan kepercayaan investor mereka.

​“Kau tidak akan melakukan itu, Alicia. Kita berdua akan tenggelam,” ujarnya putus asa.

​“Oh, tidak, mi amor. Hanya kau yang akan tenggelam. Aku adalah Solera. Aku adalah wajah yang dihormati di antara klien-klien kita. Kau adalah skandal. Aku akan muncul sebagai korban yang kuat dan mandiri, yang menyelamatkan perusahaan dari kehancuran pribadi suaminya yang tidak bertanggung jawab.”

​Alicia mengambil teleponnya, dengan cepat mencari sebuah nomor yang telah lama ia simpan di kontak darurat. Nomor itu milik Rafael Montenegro.

​Rafael Montenegro. Saingan terberat Solera. Pria yang memiliki ambisi sekejam Santiago tetapi dengan keanggunan yang lebih mematikan. Pria yang matanya selalu mengikuti setiap gerakan Alicia di setiap acara sosial, mata yang menjanjikan bahaya dan hasrat.

​“Aku juga tidak ingin kau menjual sahammu kepada orang lain. Aku akan memastikan tidak ada yang mendekatimu. Kecuali satu orang,” kata Alicia, mengetuk layar ponselnya.

​“Aku akan menelepon Rafael Montenegro. Kau akan menjual sahammu kepadaku, dan aku akan bekerja sama dengannya untuk menghancurkan apa pun yang tersisa dari reputasimu di Madrid.”

​Santiago terhuyung mundur. “Rafael? Kau gila! Dia adalah musuh kita! Dia akan melahapmu dan perusahaan kita!”

​Alicia menekan tombol panggilan. Suara sambungan telepon bergema di ruangan yang luas dan sunyi itu.

​“Mungkin. Tapi setidaknya, aku akan memilih siapa yang akan memelawaiku. Dan Rafael, meskipun kejam, tidak pernah berpura-pura setia.”

​Tiga kali nada dering.

​“Halo? Rafael? Ini Alicia Valero. Aku ingin mengatur pertemuan darurat. Besok pagi. Aku punya usulan yang sangat menarik. Bisnis.”

​Ia jeda, menatap mata Santiago yang dipenuhi ketakutan dan rasa ngeri.

​“Ya, Rafael. Benar sekali. Aku ingin bermain api denganmu.”

​Telepon itu tergantung. Alicia menoleh kembali ke suaminya, wajahnya tanpa emosi, sebuah topeng sempurna dari baja dan sutra.

​“Kau punya waktu dua puluh empat jam untuk menandatangani, Santiago. Atau besok, kau akan membaca kisah pribadimu di kolom gosip dan aku akan tidur dengan musuh terbesarmu.”

​Alicia mengambil koper Hermes-nya, dengan gerakan cepat ia memasukkan beberapa pakaian dan dokumen penting. Dia tidak akan tidur di penthouse ini lagi.

​“Aku tidak akan tinggal di bawah atap yang kau nodai dengan aroma Gardenia Putih milik tetangga kita yang murahan. Nikmati sisa malammu, Santiago. Dan pikirkan tentang harga dari pengkhianatanmu.”

​Ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar, dari kehidupan yang telah ia bangun, menuju kegelapan Madrid. Dia tidak menoleh ke belakang. Di luar, hujan telah berhenti. Tapi di dalam hatinya, badai baru saja dimulai. Dia siap untuk menari di atas abu kesetiaan. Dan tarian itu akan sangat, sangat panas.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!