Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
"..Ketika kamu mencintai seseorang, kamu akan mencintai segalanya tentang dirinya, tidak hanya sisi baiknya, tetapi sisi buruknya juga.."
Ucu Irna Marhamah
***
•••Shica Mahali•••
Setelah dari rumah Raihan, aku pulang ke rumahku. Aku memarkir mobilku didepan rumah.
"Pak Hamin, tolong parkirkan mobilnya ke garasi." kataku sambil memberikan kunci mobilku pada satpam rumah.
"Baik, Non." jawabnya.
Aku memasuki rumah. Aku menghela napas panjang. Rasanya hari ini hari terakhirku memantau Raihan. Besok aku bisa menghadap pak Andra.
"Darimana?" suara baritone itu mengejutkanku. Aku menoleh. Siapa lagi kalau bukan kak Regar.
"Aku dari temen," kataku menjawab pertanyaannya.
Dia menatapku penuh selidik seolah menatap maling. Yang benar saja, aku tidak mencuri apa-apa.
"Dimana Ray?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Dia sedang mengurus kepindahannya ke sekolah kita." jawab kak Regar.
Setelah mendengar jawabannya, aku memilih untuk pergi ke kamarku, tapi kak Regar mencekal lenganku.
Aku menatap kak Regar. "Ada apa lagi, Kak?" tanyaku.
"Aku hanya mau bilang, kalau Ray menyukaimu." kata kak Regar.
Aku bosan mendengarnya. "Aku tahu," kataku.
"Kenapa tidak meresponnya?" tanya kak Regar.
"Ya karena aku tidak menyukainya, dia terlalu tampan untukku, Kak. Dia juga seorang laki-laki dari keturunan bangsawan. Aku rasa aku tidak pantas bersanding dengan dia." jawabku.
Kakak menatapku penuh selidik.
"Aku lelah, mau keatas. Sampai jumpa nanti saat makan malam," kataku kemudian melepaskan pegangan tangannya.
Aku bergegas menaiki tangga menuju ke lantai atas.
"Kamu menyukai Raihan?"
Pertanyaan itu membuatku menghentikan langkahku. Aku berbalik menatap kak Regar.
Kak Regar menaiki tangga menghampiriku.
"Kau menyukai dia?" tanya kak Regar lagi.
Aku tersenyum. "Pertanyaan macam apa itu, Kak. Aku tidak menyukainya. Dia hanya temanku. Tidak lebih, kami juga tidak terlalu akrab." kataku.
"Kau yakin?" tanya kak Regar.
"Iya, Kak." kataku sambil tersenyum.
Kak Regar lagi-lagi terdiam.
Aku akan melanjutkan langkahku tapi kak Regar memegang tanganku.
"Lalu ciuman itu?"
Rasanya ada godam yang menghantam jantungku.
Kak Regar tahu?
Dari mana dia tahu?
Kak Regar menyentuh bibirku. "Dia mendapatkanmu. Apa lagi yang dia lakukan? Apa dia juga menyentuhmu?" tanya kak Regar dengan suara bergetar.
Aku benar-benar tersinggung mendengarnya.
"Kakak! Aku tidak melakukan apapun! Soal ciuman itu dia yang melakukannya. Aku menolaknya aku juga marah padanya." kataku membela diri.
"Tapi kau juga menikmati ciumannya, kan!" suara kak Regar meninggi.
"Kakak! Kendalikan dirimu! Aku bukan perempuan seperti itu! Kalau kau mau, kau bisa tanya sendiri orang itu! " kataku menggertak kemudian berlalu ke kamarku karena kesal.
Apa-apaan dia,
Aku sangat kesal, lihat saja aku tidak akan bertanya atau mengajak dia bicara.
Siapa yang akan memulai pembicaraan.
Dia atau aku.
Aku melihat kado Argaa yang tersimpan rapi di atas meja belajarku.
Aku jadi penasaran. Apa isinya. Aku mengambilnya dan membuka isinya.
Ternyata sebuah gaun Indah berwarna merah. Sungguh menggoda.
Aku melipatnya kembali kemudian aku mengambil kado kecil dari Raihan.
Kulihat isinya ternyata sebuah gelang dengan indah dengan manik-manik berwarna merah dirangkai menjadi gelang ini. Aku sangat menyukainya, meskipun terkesan feminim.
Ini bagus sekali. Aku memakainya, dan ternyata sedikit longgar dipergelangan tanganku.
Tapi, tetap Bagus dan stylish, aku lebih suka hadiah dari Raihan.
Malam-pun tiba,
Terdengar suara pintu kamarku diketuk. Aku yang berbaring diranjang, segera berpura-pura tidur.
Kudengar lagi ketukan. Kali ini dengan suara bariton yang kukenal.
"Shica, apa kau tidak akan turun untuk makan?"
Itu suara Raymond.
"Shica keluarlah dari kamarmu, atau aku yang masuk."
Aku tetap tidak peduli.
Terdengar suara pintu kamarku terbuka.
"Shica, kau sudah tidur, ya?"
Kurasakan beban disampingku. Selajutnya, kurasakan juga belaian tangannya pada rambutku.
"Kau cantik saat tertidur, seandainya kau milikku." itu yang kudengar dari dia.
Sungguh aku tidak nyaman dengan sikapnya. Namun, aku tetap pura-pura tidur.
"Aku menyayangimu, semoga mimpi indah," katanya kemudian kurasakan dia pergi dan kudengar pintu kamarku tertutup dengan pelan.
Aku membuka mataku. Aku sangat kesal.
Biarkan saja mereka makan sepuasnya dan aku mati kelaparan disini.
Keesokan paginya, aku berangkat pagi sekali ke sekolah.
Orang rumah belum bangun sepertinya. Aku pergi dulu ke rumah makan karena sejak semalam aku belum makan. Dan rasanya lapar sekali.
Aku memesan makanan. Selagi menunggu pesanan datang, aku memainkan ponselku.
Seseorang duduk berhadapan denganku. Aku mendongkak ternyata, Ray.
"Raymond? Apa yang kau lakukan disini? Kau sudah memakai seragam baru?" tanyaku sambil melihat seragam yang dia pakai. Seragam yang sama dengan milikku.
"Iya, bagus tidak?" tanya Raymond, sambil membenarkan kerahnya.
Aku tertawa. "Tentu saja, apapun yang kau pakai, pasti akan terlihat bagus," kataku.
"Benarkah?" tanya nya dengan senyuman manisnya membuat lesung pipitnya terlihat jelas.
"Iya, kau 'kan tampan." kataku asal. Namun, sunggu dia begitu tampan.
"Kau yakin? Jika aku tampan, kenapa kau tidak melirikku sedikitpun?" tanya Ray.
Aku mengalihkan pandanganku. Kenapa dia selalu bertanya hal yang sama?
"Ray, kau itu temanku, teman kakakku. Kau teman terbaikku." kataku sambil tersenyum.
"Teman ya?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
"Iya," kataku pelan.
"Terimakasih," kata Ray sambil menatapku.
"Untuk apa?" tanyaku bingung. Dia tersenyum dan menyentuh tanganku. "Karena kau menganggapku teman," jawabnya. Aku hanya diam menanggapinya.
Sunyi,
"Kamu tadi kesini naik apa? Sepertinya garasi rumahmu belum dibuka tadi," tanya Ray.
"Aku naik taksi. Aku tidak mau membangunkan orang rumah," kataku menjawab pertanyaannya.
"Kalau begitu, ayo ikut denganku. Aku membawa motor." kata Ray. "Baiklah," kataku.
Pesananku datang. "Kau tidak pesan apapun?" tanyaku.
"Tidak, aku sudah makan di rumahmu." jawab Ray.
Aku ber'oh ria kemudian memakan pesananku.
Selesai makan, kami menuju parkiran.
Ray menaiki motor sportnya yang berwarna merah.
"Ayo," katanya.
Aku-pun menaki motornya.
Raymond melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di sekolah, aku dan Ray mendapat tatapan-tatapan aneh dari setiap siswa-siswi yang berpapasan dengan kami.
Terutama tatapan para siswi yang seolah meleleh melihat ketampanan Ray. Tentu saja, jarang sekali menemukan laki-laki bule tampan disini. Apalagi Ray menebar pesonanya, meskipun tanpa senyuman.
"Apa kau pernah bersekolah di Indonesia?" tanyaku.
"Aku pernah sekolah di Indonesia sebentar. Kau ingat waktu kita bertemu? Waktu itu aku bersekolah disini, di Jakarta." kata Ray menjawab pertanyaanku.
"Oh iya, kau mau ke ruang guru dulu? Biar aku temani. Aku mau ke ruang BP." kataku.
"Oh iya, ayo." jawab Ray.
Kami memasuki ruang guru.
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya