Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamar
Megan tertawa mendengar perkataan Dalton yang memintanya untuk menikah dengannya.
"Aku tidak bercanda Megan. Apa raut wajahku terlihat sedang bercanda?" tanya Dalton
Wanita itu langsung menghentikan tawa kecilnya, menelan salivanya yang mendadak kering. Lalu mengubah sudut duduknya mengarah ke kiri, menghadap Dalton.
"Kenapa Kau ingin menikah denganku? Kita belum saling kenal satu sama lain. Kau juga belum mengenal keluarga ku. Dan aku juga belum mengenal mu lebih jauh," ucap Megan
"Aku rasa yang terpenting adalah kenyamanan. Jujur saja aku nyaman berada di dekatmu, padahal kau orang baru yang masuk kedalam hidupku dan selalu membuat masalah. Tapi pada akhirnya, perasaanku tidak dapat di tutupi kalau aku selalu merindukan sosokmu," ucap Dalton
"Mungkin kenyamanan salah satunya, tetapi kita perlu mengenal satu sama lain, terlebih... kau harus mengenal keluarga ku. Kita menikah bukan hanya sekedar menyatukan dua insan , tetapi dua keluarga,"
"Jadi intinya, bagaimana denganmu? Apa kau bersedia menikah denganku?"
Megan terkekeh kecil
"Kenapa kau tertawa?"
"Sama sekali tidak romantis,"
"Aku tidak bisa bersikap romantis," Dalton menatap Megan yang terus tersenyum. Malu-malu sendiri dan Dalton bisa melihat kecanggungan dalam dirinya.
Hujan terus mengguyur deras, sementara mereka masih berada di dalam mobil sambil berbincang serius. Lama mereka saling berpandangan, saling tersenyum kaku, dan malu-malu.
"Ya, aku bersedia menikah denganmu," jawab Megan semakin meresahkan senyuman pria di depannya.
Dalton mendekat, mengelus pipi Megan dengan tangan kirinya. Rupanya Dalton sedang menahan air mata kebahagiaannya. Megan pun sama, keduanya tidak ingin memperlihatkan rasa terharu. Tapi ketika mata Megan terpejam karena merasakan sentuhan hangat dari tangan Dalton, ia menitikkan air mata.
Dalton semakin mendekatkan tubuhnya, mengecup bibir Megan dan menyesapnya sangat dalam. Lalu melepaskannya seraya berkata, "Terimakasih Megan, malam ini aku akan bicara dengan kedua orang tuamu,"
"Sekarang?"
"Ya, sekarang. Aku akan menikahi mu mulai besok,"
"Hah tapi... tapi itu terlalu cepat.. Dan lagi Ayahku tidak dirumah," ucap Megan
"Kau setuju menikah dengan ku kan, jadi soal kapan kita menikah, kau hanya perlu ikuti saja," ucap Dalton egois dan kembali mencium bibir Megan.
Megan tidak berbicara lagi, dirinya seakan seperti sedang di hipnotis, terbawa alur cinta yang mendayu. Sentuhan dan ciuman Dalton seakan candu untuknya. Bagaimana nanti jika mereka sudah menikah. Mungkin Megan akan semakin memuja Dalton di balik fisiknya yang tidak sempurna.
Hujan mereda, menyisakan sedikit gerimis. Keduanya turun dan keluar dari dalam mobil kemudian masuk ke dalam rumah orang tua Megan.
Dalton memasuki perkarangan rumahnya yang gelap, lampu terasnya mati hanya lampu halaman yang hidup. Megan membuka pintu dengan kunci cadangan. Setelah terbuka, ia mempersilahkan Dalton untuk masuk
"Ayo masuk, aku panggil Ibu dulu ya," ucap Megan
"Hmm," jawab Dalton hanya berdehem
Pria itu menelisik suasana rumah yang ditempati Megan. Lebih kecil dari rumah miliknya saat kecil, lampu yang nyala pun tidak terlampau terang. Bahkan sedikit lampu yang menyala, Dalton bisa merasakan bagaimana Megan menghemat listriknya. Namun rumah itu sangat bersih.
Ada foto yang terpajang di dinding, foto Megan saat kecil juga foto ibunya saat muda. Megan pernah cerita ia memiliki adik, tetapi tidak ada foto adiknya disana. Foto Ayahnya pun tidak ada. Kemudian Dalton duduk, menunggu sang calon mertua datang.
Tak berapa lama, Ibunya Megan datang bersama dengan Megan. Ia duduk di hadapan Dalton kemudian Megan pamit untuk membuatkan teh hangat.
Dalton berbincang basa-basi menanyakan kabar dan membicarakan soal Megan yang berbicara di perusahaannya sampai Megan kembali ke ruang tamu.
Megan membawa tiga teh hangat ke depan ruang tamu dan menyajikannya untuk Dalton dan ibunya serta dirinya.
"Silahkan diminum pak," ucap Megan
"Pak?"
"Haha kebiasaan maaf," Megan tertawa kecil dia lupa jika Dalton memintanya untuk tidak memanggilnya Pak jika di luar kantor.
Setelah Dalton meminum teh hangatnya, Ibunya Megan bertanya langsung
"Jadi... maksud anda bertemu dengan saya ada apa ya?" ucap Gloria, Ibunya Megan
Wajahnya pucat, tulang pipinya terlihat menonjol. Ada lingkaran hitam cekung dan membesar di bawah matanya. Dalton semakin tidak tega jika berlama-lama berbicara karena kondisinya sendiri tidak fit. Dalton malah semakin ingin mempercepat pernikahannya setelah melihat kondisi kehidupan keluarga Megan.
"Kedatangan saya kemari dan bertemu Ibu, karena ingin melamar Megan. Saya ingin menikahi Megan secepatnya....," belum saja Dalton selesai berbicara Gloria sesak napas
Megan langsung berlari ke kamar Ibunya dan mengambil obat hirup untuk sesak napasnya. Dalton beranjak dari duduknya dan langsung duduk mendekati Ibu Megan
"Ibu baik-baik saja? Kita ke dokter sekarang--," ucap Dalton tetapi Gloria langsung menyentuh bahu Dalton dan menggelengkan kepalanya. Setelah dirasa sedikit membaik, Ibunya Megan mulai bicara
"Tidak perlu nak Dalton, tidak usah ke rumah sakit. Saya hanya terkejut mendengar apa yang disampaikan benar-benar mendadak. Bukan mengapa hanya saja selama ini Megan selalu mengaku jika dia tidak memiliki kekasih lalu tiba-tiba dia datang dengan Anda dan langsung melamar dirinya. Sungguh itu mengejutkan saya," ucap Gloria
Mereka pun berbicara mulai serius tentang hubungan keduanya. Dalton juga mengutarakan keinginannya yang sungguh-sungguh soal keinginannya tersebut. Akhirnya tanpa perdebatan panjang Gloria menyetujuinya.
"Baiklah kalau begitu, jika kalian memang sama-sama suka ya lebih baik segera di sahkan secara hukum dan agama. Ibu setuju dan merestui hubungan kalian," ucap Gloria
"Tapi ada baiknya jika menunggu keputusan Ayah," ucap Megan
"Ayahmu? Dia sudah mati. Berapa tahun dia tidak pernah memberi kabar, tidak memberi nafkah pada kita, malah menambah beban," ucap Gloria yang matanya langsung mengarah di depannya, ada seorang anak laki-laki yang sedang mengintip di balik tirai
"Pernikahan itu akan dilakukan tanpa kehadirannya," ucap Gloria kemudian ia pamit ingin masuk kembali untuk beristirahat.
Sementara Dalton jadi tidak enak sendiri. Dia berpikir jika keluarga Megan baik-baik saja nyatanya Ayahnya adalah sumber masalah dikeluarganya.
Megan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dalton mendekatkan duduknya di samping Megan setelah Ibunya pergi kedalam.
Pria itu mengelus punggung Megan dengan lengannya yang hanya sebatas siku.
"Maaf, ini semua karena ku terlalu terburu-buru, tetapi maksudku ingin segera menikahimu dan membawa semua keluarga mu ke rumah ku, rumah kita, agar kehidupan keluarga mu membaik," ucap Dalton dengan berhati-hati
Megan membuka kedua tangannya, wanita itu sedang menangis lalu ia memeluk Dalton dan menumpahkan tangisannya dalam dekapannya. Beberapa menit setelah Megan menangis ia mulai bicara.
"Tidak, kau tidak salah. Ayah memang tidak pernah pulang. Jika salah satu diantara kami ada yang sakit, dia tidak pernah datang menjenguk. Tetapi sesekali dia menanyakan kabar ku, ibu dan adik tiriku. Berikan aku waktu, jika dalam lima hari Ayah tetap tidak bisa dihubungi, maka kita akan tetap menikah tanpa kehadirannya," ucap Megan dan Dalton pun menyetujuinya.
Jika Ayah Megan tetap tidak bisa dihubungi, mereka akan tetap menyelenggarakan pernikahan secara sederhana, tanpa ada perayaan mewah. Itu permintaan Megan.