Liana adalah seorang wanita yang paling berbahagia karena ia bisa menikah dengan lelaki pujaannya, Yudistira. Hidupnya lengkap dengan fasilitas, suami mapan dan sahabat yang selalu ada untuknya, juga orang tua yang selalu mendukung.
Namun, apa yang terjadi kalau pernikahan itu harus terancam bubar saat Liana mengetahui kalau sang suami bermain api dengan sahabat baiknya, Tiara. Lebih menyakitkan lagi dia tahu Tiara ternyata hamil, sama seperti dirinya.
Tapi Yudistira sama sekali tak bergeming dan mengatakan semua adalah kebohongan dan dia lelah berpura-pura mencintai Liana.
Apa yang akan dilakukan oleh Liana ketika terjebak dalam pengkhianatan besar ini?
"Aku gak pernah cinta sama kamu! Orang yang aku cintai adalah Tiara!"
"Kenapa kalian bohong kepadaku?"
"Na, maaf tapi kami takut kamu akan...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 : Fakta yang sulit diterima
Liana menangis tersedu dalam pelukan Dimas di antara ruangan yang kacau dan semua barang pecah-belah yang sudah berantakan di sekelilingnya.
Disaat yang tepat Yudis akhirnya pulang. Ia terlihat panik, bergegas masuk ke dalam rumah. Ekspresinya berubah kaget saat melihat keadaan rumah, juga Dimas yang sedang menenangkan Liana. Tapi, Yudis sama sekali tidak marah saat itu, bahkan tak tersirat adanya kecemburuan darinya.
"Liana gimana, Dim?" Dia mendekati keduanya lalu menyentuh bagian belakang kepala Liana dengan lembut. Suatu perhatian yang sama sekali belum pernah ditunjukkan oleh Yudis sebelumnya.
Dimas gak menjawab pertanyaan Yudis, tapi menggelengkan kepalanya pelan.
"Ambil koper kecil di mobil," ucap Dimas dengan sangat pelan dan menunjuk ke arah mobil. Sementara Liana masih menangis sesegukan.
Yudis langsung bergegas berjalan keluar, ke arah mobil Dimas dan mengambil sebuah koper yang ada di dalam sana dan membawanya ke dalam.
Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan koper itu kepada Dimas, namun pemuda itu memberikan gestur agar Yudis membukanya pelan-pelan.
Sreet....
Yudis membuka resleting koper kecil itu yang di dalamnya ada peralatan dokternya Dimas juga obat-obatan. Dimas menggunakan satu tangan menunjuk ke arah suntikan kecil di dalam sana.
"Itu sini...," ujarnya dengan suara yang sangat pelan. Yudis hanya mengangguk dan memberikan alat suntik itu kepada Dimas.
Liana yang masih berada dipelukan Dimas tak menyadari kalau Dimas memberikan suntikan kecil di lengan atasnya. Hanya butuh waktu beberapa menit, mata gadis itu akhirnya terpejam, tubuhnya pun lemas seketika.
Yudis lalu menggendong wanita itu ke kamarnya dibantu dengan Dimas.
Kedua pria itu menatap Liana yang terlelap dengan hati lega lalu berjalan keluar.
"Mbok, tolong diberesin ya," ucapnya kepada Tuti dan Sri.
"Baik, Pak," jawab keduanya dan langsung gercep bergerak untuk membereskan semua kekacauan yang dilakukan Liana.
"Sepertinya aku harus pulang dulu," ujar Dimas yang merasa kalau tugasnya sudah selesai.
"Makasih Dim, tapi...." Yudis terlihat enggan dan ragu untuk membiarkan Dimas pulang, karena masih ada hal yang mengganjal dalam hatinya. "Sekarang gimana ya, Dim??? Liana, apa perlu dibawa ke rumah orangtuanya atau bagaimana?" Ia menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Gimana sih, Dis? Masa gitu aja bingung?" Dimas menghela napas, gak habis pikir melihat sikap Yudis yang jadi ragu-ragu dan gak jelas kayak begini.
"Kalau nanti dia bangun dan masih ngamuk lagi bagaimana?" Tanyanya dengan nada cemas.
"Hah..., sekarang coba jawab, kamu masih sayang sama Tiara?" Yudis langsung mengangguk setelah mendengar pertanyaan Dimas. "Lalu, kamu juga peduli sama Liana, sebagai teman?" Tanya Dimas lagi, yang lagi-lagi dibalas dengan anggukan.
"Nah, kalau begitu, kamu harus bisa menekankan batas itu," ucap Dimas dengan tegas saat berdiri di samping mobilnya dan bersiap untuk membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Kalau Liana gak bisa menerima itu dan marah, anggap saja itu konsekuensi, toh semua orang juga berbohong sementara dia butuh fakta agar dia gak terjebak dalam pikirannya sendiri," sambung Dimas yang kemudian naik ke dalam mobil dan masuk. "Coba bicara nanti saat dia tenang dan kalau emang terjadi sesuatu, panggil saya lagi."
Setelah itu Dimas pun pergi dari halaman rumah kediaman Liana dan Yudis, menyisakan suatu pilihan yang mau tak mau harus dilakukan oleh Yudis sendiri, karena ini adalah tanggung-jawabnya.
Pria itu menghela napas dalam-dalam di luar sambil memandang ke arah atas langit yang cerah dan bersih.
Setelah itu ia pun memutuskan untuk menelepon ibunya Liana untuk datang dan menceritakan kondisi Liana.
"Apa? Liana ngamuk katamu?" Suara wanita itu langsung panik saat mendapatkan kabar dari Yudis.
"Ya, kayaknya dia marah soal Tiara dan waktu saya datang ke rumah kalian meminta untuk berpisah," jawab Yudis menjelaskan.
"Ini semua gara-gara kamu!" Wanita itu sontak langsung menyalahkan Yudis.
"Lebih baik Tante kemari dan bantu saya menjelaskan semuanya, karena tadi Dimas udah kemari," balas Yudis merasa agak kesal karena selalu saja disalahkan, padahal semua ini berawal dari permintaan orang tua Liana itu sendiri.
"Lalu, apa kata Dimas?" Tanya wanita itu dengan cepat.
"Kata Dimas, kita gak bisa terus membuat Liana kejebak dalam pikirannya sendiri. Dia harus sadar dari bayangannya dan sadar pada kenyataan, fakta kalau saya dan Tiara sudah menikah."
Wanita itu tak menjawab setelah mendengar perkataan Yudis dari Dimas. Di seberang sana ia gelisah, mengigit bibir bawahnya sendiri dan meremas ponsel yang sedang ia genggam.
"Kamu jaga Liana, saya akan segera ke sana," ucap nya kemudian dan segera memutuskan sambungan telepon.
Pada akhirnya ia sendiri bergegas menuju ruangan kamar untuk mengambil tas kecilnya. "Bibi, tolong jaga rumah ya, saya pergi sebentar keluar!" Ucapnya setengah berteriak sambil berjalan keluar rumah.
"Baik, Nya!" Balas sang ART sambil mengantar kepergian tuan rumahnya.
.
.
Kembali ke kediaman Liana dan Yudis. Wanita itu akhirnya tersadar di atas tempat tidurnya. Ia tampak melihat sekitar dengan pandangan mata agak buram.
"Bi, ambilin air putih," ujar Yudis kepada Tuti yang ikut menemani dan sedang berdiri di samping Liana.
"Segera, Pak!" Wanita itu bergerak cepat ke dapur untuk mengambilkan air.
Liana masih terlihat bergerak, berusaha untuk bangun sendiri dari tempat tidur.
"An, hati-hati...." Yudis dengan cepat membantu wanita itu untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Gak! Jangan pegang-pegang!" Liana langsung berteriak. Ia reflek menepis tangan Yudis yang sedang memegang lengannya.
"An...." Yudis hanya bisa pasrah melihat Liana bereaksi keras.
"Bisa-bisanya kamu bohongin aku selama ini, Dis! Kamu mempermainkan aku!" Liana kembali menangis. Ada rasa sesak yang tak bisa ia terima kalau pria itu sudah bersandiwara dan tertawa di atas kebodohannya sendiri.
"An, aku terpaksa, Ibu kamu yang nyuruh aku," balas Yudis yang sepertinya dia gak mau disalahkan sepenuhnya atas semua ini.
"Jangan bawa-bawa Ibu aku!" Sela Liana dengan cepat. "Semua orang boleh berbohong, kamu, Tiara, keluarga kamu, teman-teman kita, bahkan semua orang di kantor!" Ia menatap tajam dan menunjuk ke arah Yudis, "tapi gak sama Ibu aku!" Lanjutnya berteriak kembali.
"Aduh Nyonya, ini airnya minum dulu." Tuti masuk dengan langkah tergesa saat ia mendengar teriakan Liana. Buru-buru ia berjalan menyodorkan gelas berisi air putih kepada Liana.
"Aku gak butuh ini!"
PRAAANG!
Liana menepis gelas yang dibawakan oleh Tuti membuatnya terlempar ke bawah dan pecah dengan suara keras menggema di dalam ruangan kamar.
"An, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu malah memecahkan gelas dari Tuti?" Yudis dengan gusar langsung berdiri dan melihat serpihan kaca gelas yang sudah sangat berantakan.
"Cepat ambil sapu dan beresin, Bi," ujar Yudis sambil geleng-geleng kepala dan menatap Liana dengan tatapan yang rumit. Dalam hatinya ia berpikir, kenapa Liana bisa jadi seperti ini?
Mau sampai kapan Liana terus mengabaikan kebenaran dan memilih tenggelam dalam imajinasi semu?
.
.
Bersambung....
semakin cpt... semakin baik untuk kewarasan mentalmu liana....
beri mereka hadiah terakhir yg tak akn prnah mereka lupakan.... dan akn mnjadi penyesalan seumur hidup untuk laki" bodoh sprti yudis...
dan saat nanti trbukti liana memang hamil.... jgn lgi ada kta mnyesal yg berujung mngusik ketenangan hidup liana dan anknya....🙄🙄
dan untuk liana.... brhenti jdi perempuan bodoh jdi jdi pngemis cinta dri laki" yg g punya hati jga otak...
jgn km sia"kn air matamu untuk mnangisi yudis sialan itu..
sdh tau km tak prnah di anggp.... bhkn km matpun yudis g akn sedih liana....
justru klo yudis km buang.... yg bkalan hidup susah itu dia dan gundiknya...
yudis manusia tak tau diri.... g mau lepasin km krna dia butuh materi untuk kelangsungan hidup gundik dan calon anaknya...
jdi... jgn lm" untuk mmbuang kuman pnyakit...