Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
" Cih.. Memberikanku madu!? Jangan mimpi. Dia pikir aku akan terus mau tetap bersamanya setelah semua pengkhianatan yang telah ia lakukan."
Dengan perasaan kesal bercampur kecewa. Inara terus melangkahkan kedua kakinya menyusuri lorong mansion.
Dalam hati ia sedikit mengharapkan kata maaf akan keluar dari mulut Brian.
Tapi apa..
Jangankan kata maaf. Pria itu malah tertawa dan menawarinya untuk di madu.
Benar - benar lelaki gila yang harus ia tendang dari hidup.
" Pelayan."
" Iya nona.."
" Pindahkan semua barang - barangku ke kamar tamu. Mulai malam ini aku akan tidur di sana."
" Ta.. Tapi nona."
Langkah lebar Inara seketika berhenti dan menatap pelayan itu dengan tajam.
Dan pemandangan itu tentu saja berhasil membuat tubuh pelayan muda itu merasa takut hingga gemetaran.
Padahal selama ini Inara selalu terlihat lembut , ramah dan periang. Hingga semua pelayan begitu senang berada di dekat Inara.
Tapi sekarang..
Entahlah..
Aura wanita itu terlihat begitu mencekam.
Jika di definisikan mungkin Inara terlihat seperti malaikat yang berubah menjadi iblis yang baru bangkit dari alam baka.
Hingga para pelayan tak berani mendekatinya.
" Tak ada tapi - tapian. Ini adalah perintah dariku. Dan kalian harus mengikutinya."
" Ba.. Baik nona. Akan segera saya lakukan."
Pelayan itu bergegas pergi meninggalkan Inara.
Tentu saja tujuan pelayan itu adalah untuk melakukan apa yang Inara perintahkan.
Sementara Inara sendiri. Wanita itu menghela nafas kasar sejenak. Dan melanjutkan kedua langkahnya kembali.
Hal pertama yang saat ini ingin ia lakukan adalah menenangkan diri.
Berbicara dengan Brian benar - benar membuat emosi jiwanya menjadi tak stabil.
Dan Inara tak ingin jika hal itu sampai terlampiaskan kepada orang lain tak bersalah nanti.
" Hufftt.. Sepertinya aku butuh melakukan yoga dan pijat spa selanjutnya. Tubuh dan otakku terasa lelah sekali. Perlu di manjakan "
____
Brak.
" Apa - apaan ini? "
Tangan Brian gemetar.
Bukan karena takut . Melainkan karena emosi jiwa yang sudah tak bisa ia tahankan lagi.
Ketika ia melihat jika foto kebersamaannya dengan Anita kini sudah tersebar luas di media sosial.
" Tutup semua kabar berita itu. Berapa pun mereka minta akan ku bayar."
" Ba.. Baik tuan." Daniel bergegas pergi. Meninggalkan Brian yang tengah berdiri di selimuti oleh emosi jiwa mendalam.
Sampai sebuah nama tak sengaja terbersit di dalam di benak pria itu.
" Inara...Ini pasti ulah dari wanita itu."
Brian mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Dan bergegas menelpon sebuah nomor yang bertuliskan nama Inara di sana.
Tut.. Tut.
" Mohon maaf nomor yang anda tuju..."
Kening Brian mengkerut dalam dan menatap benda berbentuk pipih itu dengan tatapan kesal.
" Sial! Berani sekali dia memblokir nomorku."
Sampai Daniel pun menerabas masuk kedalam ruangan Brian.
" Tuan.. Aula rumah sakit tempat nona Anita di rawat . Saat ini sudah di penuhi oleh banyak wartawan media. Bahkan bukan hanya di rumah sakit saja. Tapi apartement dan kantor kita pun juga sudah di penuhi awak media yang ingin meliput anda dan nona Anita secara langsung." terang Daniel yang membuat emosi jiwa Brian semakin menjadi jadi.
" Sialan. Dimana wanita itu sekarang? "
" Wanita itu? "
Kedua mata Brian semakin terlihat memicing tajam. Karena merasa kesal. Ia tak sengaja memanggil Inara dengan panggilan wanita itu di hadapan Daniel, hingga membuat Daniel jadi tak mengerti.
" Maksudku Inara. Dimana dia sekarang? "
" Kata pelayan nona Inara saat ini sedang melakukan yoga. Jadi tak ada yang boleh mengganggunya."
" Tak ada yang boleh mengganggunya? Cih .. Perkataan bodoh apa itu."
Brian berdiri. Dan menengadahkan sebelah tangannya di hadapan Daniel.
" Berikan kunci mobilmu."
" Ya? "
" Cepat berikan kunci mobilmu Daniel. Dan kau alihkan perhatian mereka. Kau tak mungkin membiarkan aku terkurung di sini seharian bukan? "
Dengan raut wajah pasrah. Daniel pun memberikan kunci mobil miliknya ke tangan bos menyebalkan itu.
Hingga Brian pun langsung melesat pergi. Meninggalkan Daniel yang terdengar menggumam kesal sendiri.
" Ck.. Dasar. Makanya jadi manusia jangan serakah. Sudah di beri istri spek sempurna. Malah coba main - main sama wanita lain. Spek wanitanya malah murahan seperti itu lagi. Dan kini malah aku jadi ikutan repot. Nasib ... Nasib.. Jadi bawahan."
Dengan tubuh yang lelah bercampur kesal. Daniel pun dengan enggan ikut meninggalkan ruangan.
Apalagi yang akan pria itu lakukan. Jika bukan untuk mengecoh para wartawan dengan menggunakan mobil Brian. Hingga sosok atasanya itu bisa melarikan diri dari incaran wartawan menggunakan mobil miliknya.
Dan nyatanya.. Ide cemerlang Brian benar - benar berhasil mengecoh mata awas dari para wartawan pemburu berita itu.
Semua para wartawan itu malah memenuhi mobil Brian yang saat ini tengah di masuki oleh Daniel yang sedang mengenakan masker.
Sementara Brian sendiri. Pria yang juga mengenakan masker dengan hoddie serta topi berwarna hitam itu. Langsung memasuki mobil. Dan melesatkan mobil hitam milik Daniel itu ke luar perusahaan.
Sesudah merasa berada dalam jarak aman. Barulah Brian melepaskan masker serta topi hoddie yang ia kenakan itu.
Dengan senyuman miring penuh kemenangan . Brian pun menginjak pedal mobil itu sampai kecepatan penuh.
Di dalam pikirannya saat ini , hanyalah berisikan tentang Inara. Dan berniat akan memberikan wanita itu perhitungan nanti. Karena telah membuatnya dan Anita dalam keadaan carut marut seperti ini.
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra