NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Pasien VIP yang Rewel

​Keesokan paginya, atmosfer di antara Rania dan Adrian terasa canggung dengan kadar 90%.

​Setiap kali mereka berpapasan di koridor, mereka akan tiba-tiba menjadi sangat tertarik pada dinding, lantai, atau plafon rumah sakit. "Intervensi Suportif" semalam menjadi gajah di pelupuk mata yang pura-pura tidak terlihat.

​Namun, gencatan senjata akibat kecanggungan itu pecah pada pukul 10.00 pagi.

​Sumber masalahnya berasal dari Emerald Suite, kamar rawat inap VIP termahal di RS Citra Harapan (yang baru saja diresmikan Adrian).

​"DOKTER ADRIAN! PANGGIL DOKTERNYA SEKARANG! SAYA MAU MATI!"

​Teriakan itu menembus pintu kayu jati yang tebal, terdengar sampai ke meja perawat.

​Di dalam kamar, Ibu Melinda, istri seorang pengusaha tambang batubara yang baru saja menjalani operasi Tummy Tuck (pengencangan perut) dan Liposuction kemarin, sedang mengamuk. Dia melempar bantal bulu angsanya ke arah perawat yang ketakutan.

​Adrian masuk dengan tergesa, diikuti dua perawat. Wajahnya tetap tenang, tapi ada kerutan frustrasi di dahinya.

​"Ibu Melinda, ada apa? Tenang, Bu. Gerakan mendadak bisa merusak jahitan," bujuk Adrian lembut.

​"Sakit, Dok! Perut saya sakit banget! Melilit!" jerit Bu Melinda, wajahnya pucat pasi. "Pasti ada gunting ketinggalan di dalam! Atau jahitannya robek! Saya mau tuntut rumah sakit ini!"

​Adrian segera memeriksa. Dia meraba perut pasien dengan hati-hati. Luka operasi bersih, kering, tidak ada tanda infeksi. Tidak ada hematoma (kumpulan darah). Secara teknis bedah plastik, operasinya sukses besar.

​"Luka Ibu sempurna. Tidak ada yang robek," jelas Adrian logis. "Mungkin ini nyeri pasca-operasi biasa..."

​"Bukan! Ini beda rasanya! Rasanya kayak ditarik-tarik dari dalem! Aduh! Panas!" Bu Melinda menepis tangan Adrian. "Kamu dokter lulusan luar negeri kan? Masa nggak tau?! Panggil dokter lain! Saya nggak percaya sama kamu!"

​Harga diri Adrian tertampar keras. Dia, lulusan cum laude Seoul National University, ditolak pasien?

​Tapi Adrian tahu, dia tidak boleh egois. Jika keluhannya di organ dalam (viseral), itu bukan ranahnya. Itu ranah Bedah Umum.

​Dengan berat hati, Adrian menoleh ke perawat. "Panggil Dr. Rania. Sekarang."

​Lima menit kemudian, Rania muncul.

​Penampilannya kontras sekali dengan kemewahan kamar VIP itu. Rambutnya diikat asal-asalan dengan karet gelang warna merah (bekas nasi bungkus?), stetoskopnya menggantung miring, dan saku jasnya penuh pulpen.

​Bu Melinda menatap Rania dengan tatapan meremehkan. "Ini siapa lagi? Kok kucel begini? Saya minta dokter ahli, bukan asisten!"

​Adrian hendak membela, tapi Rania mengangkat tangan, memberinya isyarat untuk diam.

​Rania tersenyum. Bukan senyum sopan palsu ala resepsionis hotel, tapi senyum tulus yang hangat, seperti senyum seorang ibu pada anaknya. Dia berjalan mendekat, mengabaikan komentar pedas itu, dan langsung duduk di tepi ranjang—sesuatu yang haram dilakukan Adrian karena alasan higienitas.

​"Halo, Ibu Melinda cantik," sapa Rania santai. "Saya Rania. Saya tukang bengkel perut di sini. Katanya ada yang melilit ya, Bu? Kayak diperas kain pel?"

​Bu Melinda terdiam sejenak, kaget dengan pendekatan yang to-the-point. "I-iya. Melilit banget. Sakit."

​"Boleh saya pegang ya? Tangan saya hangat kok, abis pegang gelas kopi," canda Rania sambil menghangatkan telapak tangannya dengan menggosok-gosokkannya, lalu menempelkannya lembut di perut atas Bu Melinda, jauh dari luka operasi.

​Rania tidak langsung menekan. Dia mengelus pelan, sambil matanya menatap mata pasien, bukan perutnya.

​"Ibu aslinya dari mana? Logatnya kayak orang Banjar?" tanya Rania mengalihkan perhatian.

​"Iya... dari Banjarmasin..." jawab Bu Melinda, napasnya mulai sedikit teratur.

​"Wah, pantesan kulitnya bagus. Suka makan soto Banjar ya Bu? Saya paling doyan tuh, apalagi perkedelnya," Rania terus mengajak ngobrol sambil tangannya perlahan melakukan palpasi (perabaan) yang lebih dalam.

​Adrian memperhatikan dari sudut ruangan dengan takjub.

​Saat Adrian memeriksa tadi, otot perut Bu Melinda tegang kaku (defans muskular) karena dia panik dan menolak disentuh. Tapi di bawah sentuhan Rania, otot itu rileks. Rania bisa memeriksa tanpa membuat pasien menjerit.

​Rania mengambil stetoskop, menempelkannya di empat kuadran perut. Dia mendengarkan cukup lama.

​"Nah, ketemu biang keroknya," kata Rania ceria sambil melepas stetoskop.

​"Apa, Dok? Gunting ketinggalan?" tanya Bu Melinda cemas.

​Rania tertawa renyah. "Bukan, Bu. Gunting Dr. Adrian mahal, nggak mungkin ditinggal. Ini namanya 'Angin Duduk' kalau kata orang tua. Usus Ibu kaget abis dibius, jadi mogok kerja. Isinya gas semua. Makanya melilit."

​"Gas?"

​"Iya. Ibu belum buang angin kan sejak operasi?"

​Bu Melinda menggeleng malu.

​"Nah itu dia. Gasnya muter-muter cari jalan keluar kayak orang nyasar di Jakarta," jelas Rania dengan analogi sederhana. "Nggak bahaya kok, Bu. Nggak perlu operasi ulang."

​Rania menoleh ke perawat. "Sus, tolong ambilin flatus tube (selang buang angin) sama kompres hangat. Dan Ibu..." Rania menggenggam tangan Bu Melinda yang penuh cincin berlian. "...Ibu harus gerak dikit ya. Miring kanan, miring kiri. Biar gasnya jalan."

​"Sakit kalau gerak, Dok..."

​"Sakit dikit. Nanti saya pegangin. Kalau Ibu sembuh, nanti boleh deh marahin Dr. Adrian lagi. Tapi sekarang nurut saya dulu ya?"

​Ajaibnya, Bu Melinda mengangguk patuh.

​Selama 30 menit berikutnya, Adrian menyaksikan pemandangan yang surealis.

​Rania "The Butcher", yang biasanya garang di ruang operasi dan hobi memaki koas, kini dengan sabar memijat punggung wanita sosialita yang rewel, membantunya miring kanan-kiri, sambil mendengarkan curhatan Bu Melinda soal suaminya yang jarang pulang.

​Tidak ada istilah medis rumit. Tidak ada arogansi. Hanya empati murni.

​Dan akhirnya...

​Preeet.

​Suara buang angin yang cukup nyaring terdengar.

​"Alhamdulillah!" seru Rania tulus, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre. "Lega kan, Bu?"

​Wajah Bu Melinda langsung cerah, rasa sakitnya hilang seketika. "Ya ampun... enteng banget perut saya. Makasih ya, Dokter Rania. Duh, tangan kamu ajaib."

​"Sama-sama, Bu. Nah, sekarang Ibu istirahat. Dr. Adrian akan pantau lagi jahitan cantiknya."

​Rania berdiri, merapikan jasnya, lalu memberi kode mata pada Adrian untuk ikut keluar.

​Di koridor luar kamar, Rania menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Topeng sabarnya luntur, digantikan wajah lelah.

​"Gila. Gue butuh kopi lagi. Kuping gue panas dengerin cerita soal arisan tas Hermes," keluh Rania.

​Adrian berdiri di hadapannya. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap Rania dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Terima kasih," kata Adrian pelan.

​Rania menoleh. "Hah? Buat apa?"

​"Buat menyelamatkan muka saya. Dan... buat pasien tadi. Diagnosis saya ileus paralitik (usus mogok), tapi saya tidak yakin bisa membujuk dia untuk mobilisasi (bergerak) seperti yang kamu lakukan."

​"Ah, elah. Itu mah makanan sehari-hari di bangsal kelas 3, Ad," Rania mengibaskan tangan. "Pasien itu manusia. Mereka takut. Kalau lo ngomong pake bahasa planet 'ileus paralitik', mereka tambah stress. Ajak ngomong soal soto Banjar, mereka tenang."

​Adrian mengangguk perlahan, meresapi kata-kata itu. "Kamu... punya bedside manner (sikap terhadap pasien) yang bagus. Jauh lebih bagus dari saya."

​Rania terdiam. Pujian dari Adrian? Tanpa sarkasme? Apakah kiamat sudah dekat?

​"Lo sakit?" Rania menyipitkan mata, hendak menempelkan tangan ke dahi Adrian.

​Adrian menepis pelan tangan Rania, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tulus—senyum yang mencapai matanya. "Saya serius, Rania. Kamu dokter yang hebat. Meskipun penampilan kamu berantakan dan kamu bau minyak kayu putih."

​Wajah Rania memanas. Jantungnya berulah lagi, persis seperti saat mati lampu semalam.

​"Ya... ya lo juga," balas Rania gugup, matanya liar mencari objek lain. "Jahitan lo emang rapi kok. Si Ibu tadi cuma kembung, bukan salah operasi lo."

​Hening sejenak. Suasana di antara mereka berubah menjadi hangat dan agak... manis.

​"Sebagai ucapan terima kasih," kata Adrian tiba-tiba. "Nanti malam ada seminar medis di Bandung. Saya diundang jadi pembicara. Tapi mobil saya masih di bengkel gara-gara banjir. Kamu mau temani saya? Kita naik mobil kamu. Saya yang bayar bensin, tol, dan makan malam. Makan malam beneran, bukan mie instan."

​Rania melongo. "Lo ngajak gue ke Bandung? Berdua?"

​"Anggap saja dinas luar kota. Sekalian kamu bisa belajar soal wound healing terbaru. Kecuali... kamu takut jalan sama saya?" tantang Adrian dengan alis terangkat.

​Rania mendengus, egonya terpancing. "Siapa takut? Tapi awas ya kalau lo komplain soal mobil gue yang AC-nya kadang bunyi cit-cit-cit."

​"Saya akan bawa noise cancelling headphone," sahut Adrian santai. "Jemput saya jam 5 sore di lobi."

​Adrian berbalik dan berjalan pergi, langkahnya ringan.

​Rania menatap punggung tegap itu menjauh. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang memaksa keluar.

​"Bandung," gumam Rania. "Dinas luar kota. Berdua. Oke. Stay cool, Rania. Jangan lupa bawa deodoran."

​Tanpa sadar, Rania merapikan rambutnya di pantulan kaca jendela koridor.

...****************...

Bersambung .........

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Giyatmini
tembakan ala dokter bedah begitu ya 😀
tanty rahayu: bedadari yang lain 🤭
total 1 replies
Giyatmini
beneran kata kevin, drakornya pindah ke gang kelinci 😀,
betewe ini cerita bagus napa masih sepi ya?
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau baca karya ku 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!