NovelToon NovelToon
Duke, Tolong Minggir

Duke, Tolong Minggir

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Menjadi NPC / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.

Sialnya, itulah nasib Vivienne.

Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.

Persetan dengan alur asli!

Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.

"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."

Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi Tamparan Realita

Freya Lark menatapku seolah aku adalah monster rawa yang baru saja naik ke daratan.

Wajar sih. Penampilanku mungkin agak chaos. Rambut berantakan karena angin, ujung gaun penuh duri semak, dan wajahku mungkin merah padam karena kepanasan. Kontras sekali dengan dia yang meskipun habis nangis tetap terlihat seperti lukisan cat minyak yang mahal.

"Nona... Vivienne?" tanyanya ragu, suaranya masih serak sisa tangisan. "Apa yang Anda lakukan di sini?"

Aku tidak langsung menjawab. Sebaliknya, aku berjalan mendekat ke tepi sungai, menatap pantulan air yang tenang. Lalu, aku memungut sebuah kerikil pipih.

Plung!

Aku melempar kerikil itu ke air, tepat di depan kaki Freya yang sedang dicelupkan ke sungai. Cipratan airnya lumayan tinggi, sukses membasahi rok katun sederhananya.

"Ah!" Freya memekik kaget, menarik kakinya. "Nona!"

"Ups, meleset," kataku datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Kirain ada buaya."

Freya menatapku bingung. "Buaya? Di Hartfield tidak ada buaya, Nona. Ini sungai buatan."

"Oh, baguslah. Berarti yang berbahaya di sini cuma satu: kebodohan." Aku berkacak pinggang, menatapnya tajam. "Sekarang, jelasin. Kenapa lo nangis di sini sendirian? Lo lagi syuting video klip lagu galau?"

"L-lo...? Maksud Nona, saya?"

"Yaiyalah, emang siapa lagi orang disini?"

Freya menunduk, memainkan ujung roknya yang basah. Wajahnya kembali sendu. Di novel, deskripsi adegan ini adalah: "Air mata Freya jatuh satu per satu bagaikan mutiara yang terlepas dari untaiannya, menyayat hati siapa pun yang melihatnya."

Aku melihatnya langsung sekarang. Dan jujur? Itu bukan mutiara. Itu ingus dan air asin. Muka dia merah, hidungnya meler. Cringe banget. Kenapa penulis suka meromantisasi tangisan sih? Nangis itu jelek. Bikin mata bengkak dan sakit kepala.

"Saya... saya..." Freya terisak lagi. "Duke... Duke Hart..."

"Kenapa dia? Dia mukul lo? Dia potong gaji paman lo? Atau dia nyuruh lo bersihin kandang kuda pakai sikat gigi?"

"Bukan..." Freya menggeleng lemah, tubuhnya menggigil—aku baru sadar baju dan rambutnya ternyata basah kuyup. "Dia... dia melempar topi saya ke tengah sungai. Saya... saya langsung melompat masuk untuk mengambilnya, saya memang mendapatkan topi itu kembali, tapi... hiasan bunganya rusak semua. Saya hampir tenggelam, Nona... tapi dia hanya berdiri di sana melihat saya menggapai-gapai. Dia tersenyum. Dia tersenyum melihat saya basah kuyup dan ketakutan demi sebuah topi."

Hening sejenak. Angin berdesir melewati pepohonan, membuat suasana terasa makin dingin.

Aku menatap Freya dengan tatapan tidak percaya. "Tunggu. Jadi lo hampir mati konyol, nyebur ke sungai dalem cuma gara-gara topi 5 ribu perak yang dilempar sama cowok freak?"

"Itu bukan sekadar topi!" bela Freya, sedikit emosi, air mata kembali mengalir di pipinya yang pucat. "Itu pemberian Paman Barney! Itu berharga! Dan Duke tahu itu... dia tahu saya akan mengejarnya. Dia memperlakukan saya seperti anjing yang dilempari bola! Tatapannya... seolah dia menikmati melihat saya menderita!"

Aku menghela napas panjang, lalu berjongkok di hadapannya dengan susah payah karena korset yang ku kenakan.

"Freya, dengerin gue baik-baik," kataku, menatap lurus ke matanya yang basah. "Lo bener. Dia emang anggep lo mainan. Dia emang seneng liat lo menderita. Tapi, reaksi lo ini yang salah."

"Sa-salah?"

"Iya, salah! Lo nyebur ke sungai sampai mau mati, emangnya topinya bakal balik sendiri? Enggak. Emangnya Duke bakal tiba-tiba tobat terus minta maaf sambil bawa handuk hangat? Enggak." Aku menunjuk ke arah mansion Hartfield yang terlihat puncaknya dari kejauhan. "Kalau lo nekat kayak tadi, dia menang. Dia seneng liat lo lemah dan bodoh. Itu kink-nya dia, Freya. Dia itu sadis. Semakin lo kelihatan menyedihkan, semakin dia nafsu buat ngejahatin lo."

Freya ternganga. Mulut kecilnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Mungkin karena belum pernah ada bangsawan yang ngomong kata "nafsu" dan "kink" di depannya.

"Terus... saya harus apa?" tanyanya lirih, bibirnya gemetar kedinginan. "Saya tidak punya kuasa. Saya cuma yatim piatu yang menumpang..."

"Nah, itu! Mindset babu itu buang jauh-jauh!" potongku cepat. "Lo emang miskin, tapi lo punya otak, kan? Lo pinter matematika, kan? Gue denger lo mau kuliah?"

Freya mengangguk pelan.

"Gunakan itu! Jangan lawan dia pakai perasaan atau aksi nekat konyol. Nyawa lo itu lebih mahal dari topi norak itu! Lawan dia pakai logika!" Aku berdiri lagi, membersihkan gaunku yang terkena tanah.

"Kalau dia lempar topi lo, jangan dikejar kayak anjing! Biarin aja hanyut! Terus lo datengin dia, minta ganti rugi. Bilang, 'Duke, topi itu harganya 5 ribu perak. Karena Anda buang dengan sengaja, ditambah biaya trauma psikis dan risiko hipotermia, total denda 50 ribu perak. Mau bayar cash atau transfer?'"

"Ta-tapi saya tidak berani... lagipula, topi itu tidak semahal itu..." cicitnya.

"Harus berani! Atau minimal, pura-pura berani." Aku mengulurkan tangan padanya. "Bangun. Lo udah basah kuyup. Kalau lo masih di sini pas gelap, yang dateng bukan Duke, tapi pneumonia. Dan percaya sama gue, biaya rumah sakit lebih mahal daripada harga diri lo."

Freya menatap tanganku ragu-ragu. Lalu, perlahan, dia mengulurkan tangan kecilnya yang kasar dan dingin bekas air sungai. Aku menariknya berdiri.

"Mulai hari ini," kataku sambil menyeringai, "lo bukan lagi 'Freya si Burung Kenari yang Malang'. Lo murid gue. Dan kurikulum pertama kita adalah: Cara Memandang Duke Hart Sebagai Bank Berjalan, Bukan Monster."

Freya masih terlihat bingung dan menggigil, tapi setidaknya, dia sudah berhenti menangis.

Dan bagiku, itu satu kemenangan kecil melawan plot novel yang menyebalkan ini.

1
dunia isekai
lucuuu
dunia isekai
halo kak! ceritanya lucu banget! Mau saling mampir like dan komen di cerita masing masing? Mampir di ceritaku The Legend Of Roseanne ya!
takeru lukcy
lanjut thorrrrrr kl gak lanjut aku samper nihh kerumah🤭🤭bagusss 👍
takeru lukcy
baguss cokk bacaa ajaa dehh dijamin gak bakal nyesel
takeru lukcy
thorrr lanjutin gak bagus lohhh😍😍gak bosen aku bacanyaaa
Leel K: aaaa makasih bangetttt 😆😍
total 1 replies
takeru lukcy
lanjut thor
takeru lukcy
anjayy otw bacaa sampe habis nihh😍
takeru lukcy
thorrr bagusss lanjutinn ahh 😍😍😍
Puch🍒❄
astaga akhirnya aku mendapatkan novel yg kusukaaaaaaaaaaaaa yg konyol2 gini nih yg kusuka tp sisi romantisnya jg harus ada pokoknya seru deh bikin gk bosen😌
takeru lukcy: pliss ini novel ke4 yang gue suka suka bangett😍😍
total 1 replies
Puch🍒❄
anjg lucu lg bangke😂🤣😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!