Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Catch her
"Kalian sudah bersiap pergi?" tanya Enrico sambil menatap ke arah Lance dan Cecilia. Pasangan pengantin yang akan segera pergi untuk berbulan madu.
"Ya," jawab Lance singkat sambil melirik Cecilia yang duduk di sebelahnya.
Enrico menatap berkeliling. Mereka ada di bagian taman Mansion Sanchez. Duduk di kursi-kursi yang ada di bawah pohon. Eloy Sanchez, kepala keluarga Sanchez duduk di salah satu kursi sambil memeluk cucu perempuannya Marie yang terus berceloteh, di sebelahnya Alan ikut berceloteh, menanggapi ucapan Marie yang kadang tertawa dan menggapai ke arah rambut Alan kemudian menariknya, yang disadari Enrico tidak membuat Alan kesakitan ataupun marah, meski diselingi kernyitan menahan tarikan tangan montok Marie di rambutnya, Alan tampak menikmati bermain bersama Marie.
Olivia bibi Enrico juga duduk di dekat Eloy, keduanya mengobrol diselingi tawa sembari menanggapi ulah Marie dan Alan. Sejak Ally menikah dengan Lucius dan jadi bagian keluarga Sanchez, Enrico dan bibinya seperti ikut menjadi bagian dari keluarga itu.
Mata Enrico pindah ke kursi lain tak jauh dari sana. Tempat Ally duduk diapit Lucius dan Regina, adik dari Lucius. Di sebelah Regina duduk pria besar bermata abu-abu dengan sorot dingin, Michael Eliazar, biasa dipanggil Mike oleh mereka semua. Suami dari Regina. Enrico menelan ludah ketika sinar mata abu-abu Mike berubah lembut, lalu garis bibir pria itu menyunggingkan senyum karena sesuatu yang tengah dibisikkan istrinya ke telinga pria itu.
Enrico mengalihkan pandangan. Namun, kemanapun matanya menatap, selalu ada pasangan lain yang tertangkap matanya. Frank Damario dan istrinya, ayah dan ibu dari Cecilia, menatap putri mereka yang bergelayut di lengan suaminya dengan senyum lebar. Orang tua yang berbahagia melihat putri mereka bahagia.
Mata Enrico terasa perih, ia mengalihkan pandangannya memandang ke arah langit cerah. Bersandar di kursinya sambil meluruskan kedua kaki. Posisinya seperti setengah berbaring dengan mata menerawang. Berada di antara tawa bahagia keluarga itu membuat hatinya entah kenapa merasa sepi. Bukan karena ia tidak bahagia melihat kebahagiaan yang terpapar di hadapannya, hanya saja Enrico menyadari, ia menginginkan seseorang juga untuk dirinya sendiri.
"Kau akan menemukannya."
Ucapan yang seolah menanggapi isi hatinya itu membuat Enrico melirik. Lance menatap ke arahnya dengan senyum tersungging. Ekspresi yang jarang terlihat di wajah tampan pria itu, karena Lance lebih suka menyimpan semua isi pikirannya dengan menampilkan wajah datar.
"Apa yang akan aku temukan?" tanya Enrico dengan senyum miring. Kembali ia menegakkan tubuh, menarik kakinya dan menekuk lutut, lalu menjalin jari-jari kedua tangannya di atas pangkuan.
"Apapun yang barusan melintas dalam pikiranmu."
Enrico tertawa mendengar kalimat Lance. "Memangnya kau tahu apa yang melintas di otakku?"
"Aku menebak, dan kurasa aku benar," ucap Lance.
Cecilia yang mengikuti percakapan kedua pria itu ikut mengomentari ucapan suaminya.
"Jangan bilang kau kesulitan menemukan satu untuk dirimu sendiri," ucap Cecilia dengan mata sedikit disipitkan. Enrico terkekeh ketika memandang istri Lance tersebut. Ekspresi yang seolah menantang Enrico.
"Entahlah, Nona Damario. Kau saja tidak tertarik padaku. Kurasa sama saja dengan para gadis lainnya. Aku mungkin sudah terlalu tua untuk dikejar." Dengan nada merendah Enrico berkata sambil tersenyum lebar.
Pasangan tersebut secara otomatis mendengus berbarengan, membuat Enrico langsung terbahak.
"Kalian cocok sekali," ucap Enrico diselingi tawa geli.
"Panggil aku Nyonya Lance, atau Nyonya Luiz Sanchez. Aku bukan Nona Damario lagi," ucap Cecilia dengan jari telunjuk diarahkan ke arah Enrico.
Enrico hanya menanggapinya dengan tertawa. Lalu terdengar suara Mike yang menyela percakapan mereka. Pria itu memegang ponsel yang sekarang masih berada di telinganya. Sepertinya tadi seseorang telah menghubunginya.
"Lance ... mobilnya datang lima belas menit lagi. Kalian sudah siap?" tanya Mike.
Lance menganggukkan kepala pada saudara iparnya itu. "Tentu. Semua sudah ada di sini, jadi kami siap pergi."
"Bagus sekali. Kalian berpamitan dan keluarga bisa melepas kalian pergi berbulan madu. Tidak seperti seseorang yang dengan sengaja meninggalkan pesta pernikahannya sendiri untuk berbulan madu. Dia membawa kabur pengantinnya sehingga pesta yang sudah disiapkan terpaksa berjalan tanpa ada pengantin." Suara Enrico terdengar manis, namun matanya menyipit menatap ke arah Lucius.
Ally yang mendengar sindiran walinya itu tersenyum dengan wajah mulai merona. Sedang suaminya Lucius berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Enrico.
Semua orang tersenyum karena mengenang pesta pernikahan Lucius dan Ally yang telah disiapkan oleh Enrico di hotel mewah miliknya terpaksa berlangsung tanpa ada pengantin karena Lucius telah membawa pengantinnya pergi lebih dulu untuk berbulan madu.
"Apakah Derek tidak datang?" tanya Enrico tiba-tiba.
"Derek sudah menitipkan pesan pada ayah, sepertinya Amy kelelahan, jadi ia menahan istrinya di Mansion Langton. Karena Derek tidak bekerja, Eve harus mengurus semua pekerjaan di kantor, apalagi Mike juga tidak bekerja." Cecilia menjelaskan alasan ketidakhadiran Derek.
"Eve yang malang ... Derek dan Mike selalu merepotkan dirinya. Bisa apa mereka tanpa Eve," ucap Enrico, sengaja menyuarakannya dengan suara keras agar terdengar jelas ke telinga Mike. Namun Mike hanya melirik sekilas dan tidak menggubris pancingan Enrico. Membuat seringai muncul di wajah Enrico.
"Berhenti memancing orang lain, Rico ... Mau saran dariku? Di usiamu sekarang, kau butuh seorang istri. Carilah, temukan dia ... lihatlah Derek, dia sudah akan memiliki 3 orang anak. Kau masih sibuk bermain-main, atau mau kukenalkan dengan seseorang?"
Enrico menyipit memandang Mike. "Mike ... kau tidak cocok jadi perantara. Tidak perlu repot. Aku akan mencarinya sendiri. Seperti Derek ... bila sudah menemukannya, maka aku akan menangkapnya."
Suara siulan terdengar, membuat semua kepala menoleh ke arah Lucius yang barusan melakukannya.
"Dari nada suaramu, sepertinya kau sudah dekat dengan buruanmu, Tuan Costra."
"Dia bukan buruan, Lucius. Dia gadis yang istimewa." Olivia memotong ucapan Lucius. Membuat semua kepala menoleh ke arahnya.
"Istimewa? Apa ada hubungannya dengan seseorang yang sekarang tengah singgah ke Mansion Costra, Bibi Oliv?" tanya Ally sambil mengedipkan mata ke arah Olivia.
"Dari mana kau tahu dia istimewa, Bibi?" tanya Lucius. Pertanyaan suami istri itu menarik minat semua orang, mereka menanti dengan penasaran jawaban Olivia.
Olivia melirik ke arah keponakannya. Enrico tampak bersedekap dan bersandar di kursinya dengan ekspresi menunggu, seolah ia pun penasaran dengan jawaban sang bibi.
"Karena Anak Nakal itu mengaku padaku kalau ia jatuh cinta. Menurutku, gadis yang bisa membuat ia mengaku hal itu padaku pastilah sangat istimewa. Bukankah begitu?" ucap Olivia dengan senyum lebar. Semua kepala berbalik menoleh secara berbarengan ke arah Enrico. Enrico balik menatap ke arah wajah mereka satu persatu. Ia mulai terkekeh ketika melihat Ally, Regina dan Cecilia menatapnya dengan mulut setengah terbuka karena terkejut. Sedangkan para pria menatapnya dengan luar biasa penasaran.
"Ah, Bibi ... kau benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia," ucap Enrico sambil mengedipkan mata ke arah bibinya.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Hai readers, yang mau tahu kisah Derek-Amy bisa baca di novel author dengan judul Passion of My Enemy yah. Trus kisah Mike-Regina dan Lucius-Ally ada di Love Seduction. Gak kalah seru sama Mr. Costra. Buat yang udah singgah dan baca, author ucapkan terima kasih banyak.
Jangan lupa dukung dengan tekan like, bintang lima, favorite, komentar dan Vote. Luv you ...
Salam hangat, DIANAZ.
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.