Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Rasa yang lain
Happy Reading …
🍀🍀🍀🍀
Krisna menuruni mobilnya, diiringi Seno dan beberapa pengawal. Menggunakan mobil untuk melanjutkan pulang menuju kediamannya. Dia tidak mau membuat suasana gaduh dan menjadi pusat perhatian istrinya.
“Pulanglah, Sen. Besok kita bertemu lagi,” ucapnya sambil berhenti tanpa menoleh pada asistennya.
“Baik, Tuan.”
Seno meninggalkan lokasi kediaman Krisna, sedangkan Krisna meneruskan langkahnya menuju lantai atas. Kamar yang beberapa hari ini tidak dia singgahi.
Dibukanya pintu kamar, tampak Kartika sudah pulas di balik selimut. Krisna tersenyum sesaat lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi. Dia ingin mandi seraya menenangkan hatinya.
Dia berendam sejenak di bath-up sambil memejamkan kedua matanya.
Apa selama ini, aku mencintai Kartika? Bukan, yang benar … apa Kartika mencintaiku?
Tok ... tok …!
Terdengar ketukan pintu yang membuyarkan pikiran Krisna. Dia hanya berdeham, malas menjawab.
“Boleh masuk?”
Terdengar suara Kartika berasal dari luar. Krisna kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Untuk apa?” tanya Krisna menahan tawa.
“Untuk bercinta denganmu,” jawab Kartika tanpa rasa malu sambil terkekeh.
Sejenak Krisna ikut tertawa tanpa niatan beranjak untuk membuka pintu kamar mandi.
Apa aku sudah gila? Berharap ucapan itu keluar dari mulutmu, Isna?
Krisna segera keluar dari bath-up lalu membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Suara derasnya aliran air menutupi pendengarannya. Dia ingin sekali mengabaikan suara Kartika. Kekesalan sikapnya yang telah berani memata-matai membuatnya malas, meskipun sekadar menatap wajahnya malam ini.
🍀🍀🍀🍀
Hingga pagi menjelang, Krisna menggeliat memeluk tubuh istrinya. Kartika tersenyum memainkan pipi suaminya hingga pria itu terbangun, membuka matanya perlahan.
“Badanmu memar, kenapa? Ceritakan padaku,” desak Kartika dengan kejapan matanya yang menggoda.
Krisna hanya menampakkan garis senyuman tipis, menatap Kartika yang tidur miring menghadap padanya.
“Kau belum mendengar berita apapun?” tanya Krisna santai.
“Belum,” jawab Kartika mengecup bibir suaminya sekilas.
“Ciumanmu terasa lain,” ejek Krisna.
“Apa maksudmu?” tanya Kartika memukul dada Krisna kesal. “Ciumanku selalu memabukkan,” ucapnya bangga dan merangsek ke atas tubuh Krisna yang masih berlapis selimut.
Kartika, kau bodoh. Kau akan terkejut saat tau apa yang ada di pikiranku sekarang. Yang ada di otakku saat ini, bayangan ciumanku dengan Isna. Gadis jelek yang kau pilihkan untukku.
Krisna menggulingkan tubuh Kartika, hingga terjatuh ke arah samping. Wanita itu terperanjat kaget, Krisna tidak bereaksi seperti biasanya. Malah pria itu berubah dingin, bangun dari tempat tidur dan beranjak berdiri ke arah lemari pendingin untuk mengambil minuman.
“Dua minggu lagi aku menikah. Apa kau sudah menyelesaikan bagianmu?” tanya Krisna menoleh ke arah Kartika sambil menegak minuman dalam genggamannya.
“Suruh saja asisten gilamu itu untuk mengurusnya,” jawab Kartika bernada kesal.
Kenapa Krisna mengabaikanku. Apa wanita itu berhasil merayunya? Dasar wanita tidak tahu diuntung, lihat saja!!
“Baiklah, kuikuti semua maumu Kartika, semoga kau senang sudah menjual suamimu ini,” lontarnya kembali sambil menenggak minuman.
Kartika menoleh ke arah Krisna dengan ekspresi bingung.
“Apa maksudmu, Sayang?” tanya Kartika beranjak dari tempat tidur demi bisa mendekati Krisna yang masih berdiri.
“Kau dengan percaya diri mau berbagi suami dengan wanita lain,” ejeknya sambil mengulas senyuman sinis.
“Aku akan ikut menemanimu saat upacara pernikahanmu,” sahut Kartika tidak memedulikan ejekan Krisna padanya.
Krisna tergelak sambil meraih tubuh Kartika hingga mendekat, menempel pada tubuhnya. Krisna meletakkan minuman ke atas lemari dengan asal tanpa menoleh. Matanya fakus ke arah Kartika yang memiliki tinggi badan sangat ideal bersanding dengannya.
“Baiklah, lakukan semua yang kau sukai. Aku juga akan melakukan semua yang aku sukai,” balas Krisna menyeringai.
“Tapi, kalau kau sampai jatuh cinta dengan wanita itu, aku tidak segan untuk menyakitinya,” sahut Kartika membalas tatapan Krisna dengan wajah tegang.
“Apa kau tidak percaya diri lagi seperti kemarin-kemarin?” sindir Krisna memainkan jemarinya pada bibir Kartika.
“Aku selalu percaya diri. Aku hanya memperingatkan suamiku tercinta ini,” balas Kartika sambil tersenyum kaku.
“Kau cantik, Kartika,” puji Krisna membuat Kartika merona dan terkekeh.
“Aku cantik, tapi kenapa kau mengabaikanku berhari-hari?” balasnya kesal, tampak mulai memasang wajah cemberut.
Krisna tergelak. Tangannya kini segera meraih tubuh Kartika dalam pelukan. Dia merasa tidak tega kalau harus selalu membandingkan dengan Isna pada setiap reaksinya.
Tolong aku, Kartika. Tolong aku, agar aku tidak semakin terjerat pesona gadis itu. Bagaimanapun juga, aku harus bisa menyentuhnya tanpa melibatkan perasaan atau kelak kau dan aku akan sama-sama terluka.
🌾🌾🌾🌾
Di Secret Resort.
Isna membuka pelupuk mata dengan rasa malas. Badannya terasa sakit. Gadis itu memandang ke sekeliling ruangan dengan perasaan tidak menentu. Tampak luas dan nyaman. Dia memilih tidur di sofa daripada di kasur yang besar itu.
Terasa sangat menakutkan berada di dalam kamar sendirian. Apalagi tanpa Wisnu yang akan berdiri di luar sampai dia tertidur.
Dia tegakkan tubuhnya dan beranjak ke dalam kamar mandi, mengagumi ruangan yang kemarin sempat membuatnya kesal karena ulah pria bermulut jahat sekaligus penolong hidupnya itu.
“Nona, biar kami membantu Anda, menyiapkan keperluan mandi,” ucap seseorang dari belakangnya.
Isna segera menoleh dengan tatapan sedikit terkejut. Langkah kaki kedatangan mereka tidak terdengar sama sekali.
“Baiklah, namamu siapa? Aku Isna
Panggil Isna saja,” balas Isna ramah segera mendekati ketiga pelayan yang ada di ujung pintu.
“Nama saya, Dewi. Dia Ika dan dia Tria, Nona,” jawabnya sambil memberi isyarat dengan telunjuk tangan.
Isna menunduk menyapa sambil memberikan senyuman.
“Mari kita berteman,” ajak Isna sambil memberikan kepalan tangan ke udara.
Dengan canggung mereka bertiga menempelkan kepalan tangan ke arah Isna. Isna terbahak senang. Dia merasa tidak terlalu buruk tinggal di sana.
“Kalian tahu, siapa aku di rumah ini?” tanya Isna sudah berbaring di kursi keramas dengan kepala bersandar di washbak.
Dewi mencuci rambut Isna dengan hati-hati, sedangkan dua pelayan lainnya menyiapkan air hangat dan pakaian ganti.
“Maaf, Nona. Kami akan dihukum kalau bersikap lancang,” jawab Dewi mengulas rasa takut.
Isna tergelak sambil menutupi mulut dengan jemari tangan.
“Kalian ini lucu. Aku yang akan menjadi Istri kedua tuan besar kalian itu. Kalian sudah dengar rumor belum?” tanya Isna lagi dengan suara terdengar santai.
“Ternyata Anda tidak seperti yang kami bayangkan,” sahut Tria sambil meraih jemari Isna untuk dirawat kukunya.
“Memang seperti apa bayangan kalian?” tanya Isna merasa penasaran.
Sungguh, sikapnya yang ramah dan ceria malah membuat ketiga pelayan itu tidak enak hati untuk menjawab.
"Ayo, katakan saja," desak Isna dengan gaya santai.
“Saya kira, Anda akan seperti nona Kartika. Tapi, ternyata kalian sangat berbeda Nona,” jawab Tria lagi.
“Memangnya seperti apa nona Kartika? Beri aku bocoran, tapi kalian harus merahasiakan pertanyaanku ini. Aku malu,” ucap Isna menatap Dewi dan Tria bergantian. Mereka tersenyum sambil mengangguk.
“Ehm!”
Terdengar suara pria berdeham keras berasal dari depan pintu. Isna dan ketiga pelayan segera menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Wisnu sudah memasang wajah datarnya berada di sana.
“Astaga, Malaikatku!” teriak Isna terkejut begitu melihat kedatangan Wisnu.
Ketiga pelayan menatap aneh dengan reaksi yang diberikan Isna untuk pria yang dikenal sebagai salah satu pengawal pilihan keluarga Krisna. Isna segera tertawa geli sambil menutup bibirnya.
“Dia ini pengawal yang menyelamatkan aku dari penjahat, jadi aku menganggapnya sebagai malaikat,” terang Isna sambil kembali bersikap santai. Pelayan pun segera mencuci kembali rambutnya.
Saya senang , melihat Anda ternyata baik-baik saja, Nona.
“Wisnu, aku kira tembakan itu mengenaimu. Aku sampai membentak tuan Krisna dan mengatainya pengecut karena tidak mau menolongmu,” ungkap Isna dengan raut wajah nampak kesal bercampur sesal.
“Maaf, karena telah membuat Anda khawatir,” jawab Wisnu menunduk.
“Tapi aku sedikit kasian padamu. Aku khawatir karena beredar rumor katanya kau naksir Dokter Cinta di Rumah Sakit Permata, ya?” celoteh Isna membuat Wisnu mendongak kaget. Ketiga pelayan juga menatap Wisnu berbarengan.
Apa nona ini cemburu? Tuan Krisna bisa marah kalau mendengar ini. Batin Dewi menatap Wisnu.
“Maksud Anda apa, Nona?” Wisnu memperbaiki posisi berdiri.
“Ya, aku kasian aja. Masa setelah kau bisa merasa tertarik dengan seorang wanita, eh … malah sama wanita yang sudah punya pacar,” jawab Isna kini sudah menegakkan kepala menghadap Wisnu.
Semua orang tercengang menatap Wisnu, membuat Wisnu berdecak kesal saja.
Selalu saja, nona membuat saya tidak bisa hidup tenang dimana-mana.
Wisnu memilih diam mengabaikan tatapan ketiga pelayan itu. Malas menjelaskan. Dia pria sejati yang bugar dan mempunyai hati yang bisa untuk mencintai wanita sepenuh hati. Rutuknya geram dalam hati.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Isna sudah berdiri.
Menyiksa Anda.
“Aku mandi dulu, sarapan lalu mulai lakukan jadwal kita, bagaimana?” tanya Isna lagi sambil melangkah menuju ke arah kamar mandi.
Iya, dan saya akan membuat Anda menyesal karena membuat saya malu dan pelayan menjadi salah paham.
“Kau tidak sedang merancang niat jahat, 'kan?” selidik Isna menoleh kearah Wisnu.
“Eh?”
Wisnu terhenyak menatap Isna yang seakan membaca pikirannya. Dia bergidik ngeri.
“Raut wajahmu sangat mencurigakan Wisnu. Ah, sudahlah. Kau cari wanita lain saja, lagipula di sini banyak. Iya 'kan, Dewi?”
Wisnu dan Dewi gelagapan saling memandang. Isna terkekeh lalu segera memasuki kamar mandi dan menutup pintu.
Ahh ... Nona ini, mengagetkan saja. Aku kira bisa membaca pikiran.
Wisnu segera meninggalkan ruangan itu, bergerak menuju ke lantai bawah. Sambil tersenyum melangkah menuruni anak tangga. Dia akan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk Isna. Seperti biasanya.
'Nona, tahukah saat hujan tembakan menghujaniku, saat hentakkan kaki dan pukulan itu menimpa tubuhku. Hanya namamu yang terngiang dan kugenggam erat, hingga aku bisa bertahan dan mampu menopang tubuhku, menyeretku bergerak mendekat ke arahmu.'
🍁🍁🍁
Bersambung …
Hai Readers ...
Terimakasih sudah menyempatkan waktu membaca novelku ...
Jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia.
With Love ~ Syala Yaya 🌹🌹