NovelToon NovelToon
Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Pelakor / Keluarga / POV Pelakor / Tamat
Popularitas:208k
Nilai: 5
Nama Author: Nike Ardila Sari

‘’Hei, Mbak! Ini lelaki yang kamu inginkan, bukan? Eh, suamiku maksudnya! Secara kan dia masih suamiku. Ambillah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Ardila Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POV Si Pelakor

‘’Maksud Ibu apa ya?’’ tanyaku berpura-pura tak tahu. Jangan-jangan wanita separuh baya ini tadi melihat mas Deno berada di dalam rumahku. Atau dia malah mengintip?

‘’Itu ada laki-laki di dalam rumah kamu tadi. Apa itu suami kamu, Chik?’’ selidiknya sambil menatapku.

‘’Ibu salah liat kali. Mana mungkin ada lelaki di rumahku. Kan aku belum punya suami,’’ sanggahku cepat. Dia masih menatapku heran.

‘’Kepo banget nih orang tua. Terserah akulah! Mau bawa laki-laki nginep di sini atau tidur dengannya. Kok malah suka ngurusin hidup orang lain sih,’’ rutukku dalam hati. Dan menatap malas wanita yang namanya bu Ningrum itu, tetangga sebelah kiri rumahku.

‘’Benaran kan, Chik? Lagian kalo kamu mau bawa temen laki-lakimu ke sini, bawa siang hari aja. Kami ini diberi tugas untuk menjagamu,’’ katanya yang membuat aku makin kesal.

‘’Lah, udah aku bilang barusan. Kalo aku nggak ada bawa laki-laki ke sini, sok ngatur hidup orang lain aja!’’ ketusku yang bergegas melangkah menuju garasi. Wanita separuh baya itu hanya menggeleng saja.

‘’Heran deh sama tuh tetangga. Sok perhatian dan sok ngatur hidup aku!’’ gerutuku sembari memasuki mobil dan menghidupkan mesinnya. Seketika benda pipihku berdering.

‘’Aduhh! Siapa lagi nih!’’

Bergegas kuraih. Mas Deno?

‘’Hallo! Sayang, kamu udah di jalan?’’

‘’Belum,’’ sahutku dingin.

‘’Lah, kenapa belum juga, Chik?’’

‘’Ini semua gara-gara tetangga yang kepo sama hidup orang lain.’’

‘’Maksud kamu? Tetangga kamu tahu kalo aku nginep di rumahmu, Sayang?’’

‘’Nanti deh aku ceritain. Ini aku mau nyetir.’’

‘’Chik! Kayaknya karyawan di sini udah pada tahu deh berita kita yang viral itu.’’ aku mengusap mukaku dengan kasar dan menghela napas dengan berat.

‘’Biarin ajalah. Lagian kan emang benaran,’’ sahutku dengan ketus.

‘’Ta—tapi—‘’

‘’Nanti di rumahku kita bahas ya, Mas. Aku mau ke kantor nih, kan sebentar lagi kita mau meeting,’’ kataku kemudian.

‘’Ya udah. Hati-hati ya, Sayang.’’

‘’Iya, Mas.’’ aku bergegas memutuskan sepihak dan meletakkan benda pipih itu kembali.

Lalu aku segera tancap gas menuju kantor tempatku bekerja. Hari ini aku begitu kesal sekali. Rasanya ingin menyumbat mulut tetangga itu dengan sampah. Aku paling benci sekali dengan orang-orang yang kepo dengan hidupku, sok mengurus hidupku yang padahal hidupnya sendiri aja belum tentu terurus, dan terlebih lagi mengatakan kalau mereka menjaga aku atas suruhan kedua orang tuaku.

Atau jangan-jangan memang atas suruhan mami dan papi untuk selalu memperhatikan aku, terlebih lagi kalau mereka disogok dengan segopok uang ratusan oleh kedua orang tuaku. Tak kan bisa lagi mereka untuk menolaknya. Apalagi jika sudah melihat uang ratusan.

‘’Dasar tetangga miskin!’’ upatku sambil mengepalkan tangan.

Aku kembali fokus menyetir, walau hatiku terasa sangat kesal.

Beberapa menit kemudian, mobilku sudah memasuki pekarangan kantor besar itu. Segera kuparkirkan mobil kesayangan dan bergegas melangkah memasuki kantor. Langkahku terhenti seketika.

‘’Chik!’’

Membuat aku memberhentikan langkah.

‘’Fan?’’ wanita berkerudung itu menatapku yang sulit untuk kuartikan.

‘’Apa benar berita yang sedang viral itu, Chik?’’

Berita viral? Maksudnya siaran langsung si sok alim dua hari nan lalu? Jadi baru tersebarnya sekarang?

‘’Enggaklah, Fan. Kamu kan tahu kalo si Nelda itu cemburuan banget.’’

‘’Nanti pas jam istirahat kita ngobrol. Oke?’’ aku bergegas melanjutkan langkahku untuk memasuki kantor. Seketika semua mata karyawan kantor tertuju padaku. Atau mereka sudah tahu juga berita itu?

‘’Kok begitu banget kalian melihat sama aku? Ada apa, hah?’’ ketusku.

‘’Lebih baik kalian lanjutkan kerjanya deh,’’ kesalku kemudian.

Semuanya hanya mengangguk dan menatapku dengan tatapan begitu aneh. Sialan! Banyak saja yang membuat aku kesal dan sakit hati hari ini. Aku bergegas memasuki ruanganku. Oh iya, meetingkan jam 09.00, apa mas Deno sudah sampai di sini? Kasihan juga kalau setiap hari dia naik taksi sendirian. Sebenarnya aku tak tega membiarkan dia naik taksi, sedangkan aku naik mobil pribadiku. Tapi ya gimana, dia harus lewat dari belakang rumahku agar tetangga tak tahu dan tak mencurigaiku.

****

‘’Terima kasih Pak Dayat atas kerja samanya,’’ kata lelaki yang berhasil mencuri hatiku itu sembari menjabat tangan pak Dayat.

‘’Sama-sama, senang sekali bekerja sama dengan perusahaan Bapak,’’ balasnya sambil tersenyum. Begitu pun denganku yang bersalaman dengan lelaki pemimpin perusahaan ternama di kota ini, dia pemimpin di perusahaan Linggarjati.

‘’Kalo begitu saya pamit dulu, Pak Deno, Bu Chika,’’ katanya kemudian yang bergegas menenteng tasnya.

‘’Silakan, Pak,’’ sahut mas Deno mewakili. Dia bergegas melangkah ke luar dari ruangan meeting. Netraku kembali menatap lelaki tampan yang berdiri di sampingku.

‘’Mas, aku kayaknya nggak bisa menemani kamu sarapan hari ini deh.’’

Dia tampak mengernyitkan kening, ‘’Kenapa, Chik?’’

‘’Aku ada janjian sama Fani.’’

‘’Fani temennya—‘’

‘’Iya, temennya calon mantan istri kamu,’’ sahutku cepat. Dia terkesiap.

‘’Mau ngapain sih kamu sama Fani?’’ dia tampak menghela napas berat.

‘’Pokoknya ada deh. Ntar aku kasih tahu ke kamu. Oke?’’

‘’Sekarang aku ke tempat Fani dulu.’’

‘’Kamu jangan lupa sarapan ya, Sayang. Walaupun nggak aku temani. Tapi aku janji deh, besok aku akan temani kamu lagi,’’ imbuhku sembari memperbaiki dasi yang bergelayut di lehernya. Membuat dia tersenyum lantas beralih memegangi tangan mulusku.

‘’Tapi kamu harus hati-hati bicara sama si Fani ya, Sayang.’’ aku mengangguk dan tersenyum. Lantas bergegas ke luar dari ruangan itu.

‘’Chik! Jadi sekarang kan?’’

‘’Eh, ternyata dia udah nongol duluan,’’ gumamku dalam hati.

‘’Jadi kok. Ya udah yuk!’’ ajakku yang bergegas menggandeng tangannya.

Dia tampak mengangguk dan kami bergegas melangkah ke café yang begitu dekat sekali dengan kantor. Beberapa langkah saja sudah tiba di sana. Aku dan Fani bergegas menghenyak.

‘’Mau pesan apa, Bu?’’ wanita yang kutaksir seumuranku itu bergegas menghampiriku. Ya, mungkin karena aku pekerja kantoran makanya dia memanggil dengan panggilan ‘’Ibu’’. Aku beralih menatap Fani yang tengah termenung.

‘’Fan! Kamu mau pesen apa?’’

‘’Ah, iya. Aku jus mangga aja sama kebab ya,’’ sahutnya kemudian.

‘’Jus mangga satu, jus nangka satu dan kebabnya dua ya, Mba,’’ kataku. Sedangkan wanita itu bergegas menuliskan apa yang tengah kusebutkan. Dia mengangguk dan tersenyum ramah lalu bergegas melangkah meninggalkan kami.

‘’Fan, aku nggak tahu. Kok bisa-bisanya sahabat kamu itu menuduh aku yang enggak-enggak,’’ kataku dengan suara bergetar.

‘’Ja—jadi itu nggak bener, Chik?’’ dia tampak terkesiap.

Aku menggeleng secepatnya,’’Cuma karena dia pernah nampak aku sama Pak Deno di café ini. Ya, waktu itu kami hanya membahas sebatas masalah kantor, enggak lebih. Tapi dia salah kira,’’ kataku dengan air mata yang mulai berjatuhan.

‘’Aku nggak mungkinlah pacaran sama orang yang udah punya istri,’’ imbuhku dengan wajah memelas dan air mataku masih berjatuhan.

‘’Kalo kamu nggak percaya sama aku sih. Nggak apa-apa, aku paham kok. Karena biar bagaimana pun Nelda adalah sahabat kamu sendiri. Tapi dia juga enggak salah. Hanya saja dia salah paham, dia orangnya cemburuan banget kayaknya.’’

‘’Nggak, Chik. Aku percaya kok sama kamu. Dan nggak mungkin kamu setega itu merebut suami orang,’’ katanya kemudian.

‘’Kamu tenang dulu ya. Aku akan jelasin semuanya ke Nelda dan aku akan meminta dia untuk membersihkan namamu kembali.’’

‘’Fan, tapi aku nggak enak. Apalagi kamu sama Nelda itu sahabatan,’’ ucapku lirih.

‘’Itu dulu, Chik. Lain sekarang, aku bahkan udah muak melihat sikapnya yang suka cemburuan. Padahal lakinya kerja untuk dia dan anaknya,’’ ketusnya. Yang membuat aku mengalihkan pandangan lalu tersenyum sinis sembari menyeka air mataku dengan kasar.

1
Ai Diah
udah curiga tapi tetap di terima justru yang aneh adalah pemikiran Melda 🙄
Anonymous
bisan bacanya
Jumiah
bisa jd mertua mu sdh tau kelakuan anak x..berselingkuh...
Jumiah
ngapain lg di tunda 2...
sebaik ap mertu klo sdh pisah ia anak nya urusan x..
Jumiah
klo gk mau ad masalah sma orang tua kenapa selingkuh ha dasar suami chemen ,
Jumiah
kesabaran mu nel akan berbuah manis pd ahir nya..
angel
Buruk
angel
langsung aja ksh tau mertuanya ... ngapain jg di simpan ...mertua sebaik apapun tetap anaknya yg di bela
Arin
mampir ach,sprtny menarik...Krn sy pling suka baca novel peran cweny tegas
Jumiah: ak salut bangat ..
semangat baca klo wanita x tegas gk bodoh..
total 1 replies
Mega Mkf
jujur aja si,nelda itu pwrempuan munagix,otak sm logikanya bertolak belaka,,,, makanya (maaf sebelumnya) jgn jadikan kebaikan sbgai kedok buat kemunafixan,dan itu jg banyak di kehidupan nyata/real,,,,,,
Mega Mkf
justru kl ortu ngk di ksh tau,nnti akan menyesal sndri,seberat apa pun mslh rumah tangga kita ortu pasti akan tau,jgn smp ortu tau dr org lain,itu mlh akan menambah ortu tersinggung,mmg ada yg mengatakan jg kl seberat apa pun mslh rumah tangga kita ortu tdk perlu tau,tp itu tergantung mslhnya,kl mslh perselingkuhan,salah kl ortu smp ngk di ksh tau,,,, jgn smp menyesal dan nnti ujung2nya,,, MAAF IBU,,, itu kata2 basi,,,,,
Vivi Bidadari
Eh dasat anak durhaka sdh tau salah malah menyalahkan ortu
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
Jangan jangan itu anak si mita makanya mamanya mengusir dia dari rumah
Nike Ardila Sari: Baca sampe ending ya, Ka. Terima kasih banyak sudah membaca karyaku. Support terus ya.😍🙏
total 1 replies
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
ou gitu ya
🧭 Wong Deso
semangat terus Bun, perjalanan mu untuk mencapai silver agaknya masih panjang..
Pa'tam
menarik
Nike Ardila Sari: Terima kasih banyak, Kak. Ikutin sampe ending ya. Semoga Kaka dan keluarganya sehat selalu. 🙏❤❤
total 1 replies
🧭 Wong Deso
Semangat terus Thor, votenya udah mendarat manis seperti karyamu 😊
Nike Ardila Sari: Terima kasih banyak, Bun. Sukses selalu dan semoga senantiasa diberikan kesehatan❤❤
total 1 replies
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
jangan lama dong up nya sayang
Nike Ardila Sari: Ma'af, Ka. Kebetulan aku beberapa hari ini menstruasi. Seperti biasa, aku akan mengalami sakit perut luarbiasa. Alhamdulillah, sekarang udah mendingan. Aku barusan udah update kembali, silakan dibaca. ❤❤
total 1 replies
Daryati Idar
Aamiin yg sabar y thor
Nike Ardila Sari: Makasih Kak. Semoga Kakak sehat selalu.❤❤
total 1 replies
🍃yanni🍃
aamiin , yg sabar ya thor ttp semangat dn sehat slalu🤗💪
Nike Ardila Sari: Aamiin Ya Robb. Makasih banyak, Kak.❤❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!