Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Di Sanggar
Hagia benar-benar memegang ucapannya. Hari pertama Adi di sanggar bukan diisi dengan latihan berlakon untuk diatas panggung, tapi berlakon sebagai kuli panggul dekorasi. Hagia menugaskan Adi di ruangan belakang, tempat penyimpanan alat musik tua dan papan-papan kayu yang beratnya minta ampun.
"Nah, Di. Katamu mau eksplorasi kreativitas kan? Seni itu dimulai dari disiplin merawat alat," ujar Hagia sambil menunjuk tumpukan dekorasi yang berdebu. Muka Hagia sedatar tembok.
Adi yang hari itu pakai baju necis karena berharap ketemu Azalea, cuma bisa melongo. "Ketua, ini mah namanya kerja bakti."
"Lho, ini namanya method acting," jawab Hagia santai. "Kamu perankan sosok rakyat jelata yang sedang membangun peradaban. Hayati bebannya, rasakan keringatnya. Itu modal buat dapet rasa di panggung nanti."
Adi mau protes, tapi dia ingat pesan Suci bahwa jangan bantah Hagia kalau nggak mau ditendang. Akhirnya dengan hati terpaksa, Adi mulai angkat-angkat kayu. Sesekali matanya jelalatan ke arah pendopo, berharap Azalea lewat. Tapi nihil, Hagia sudah mengatur jadwal agar Azalea latihan di jam yang berbeda, bahkan jalur masuknya pun dibedakan. Hagia benar-benar membangun tembok diantara Azalea dan Adi.
Debu yang beterbangan seolah menertawakan baju neecis yang dikenakan Adi. Keringat mulai membasahi dahi, mengalir turun merusak tatanan rambutnya yang sudah ditunjang pomade sejak subuh. Hagia masih berdiri di sana menyilangkan tangan di dada, memperhatikan Adi yang kepayahan menggeser sebuah gong tua yang kaki-kakinya sudah karatan.
"Ketua, ini gong beratnya kayak dosa saya. Apa nggak sebaiknya kita panggil tukang angkut saja? Nanti biar bapak saya yang bayar kulinya." Tawar Adi sambil terengah-engah. Ia menyeka keringat dengan lengan bajunya, meratapi nasib penampilannya yang kini jauh dari kata necis. Emang tujuan Hagia begitu, membuat persiapan kegantengan Adi jadi rusak. Enak saja ingin tampil necis di depan Azaleanya. Begitu batin Hagia.
Hagia melangkah mendekat, tatapan matanya menusuuk namun suaranya tetap setenang air di tempayan.
"Adi, kamu tahu apa masalah aktor pemula sekarang? Mereka terlalu sibuk memoles wajah, tapi lupa memoles jiwa. Kamu bilang mau jadi pemeran utama di naskah tentang sang jawara kan?"
Adi mengangguk. "Iya, tapi apa hubungannya sama angkat-angkat begini?"
"Sangat berhubungan," sahut Hagia cepat. "Bagaimana kamu bisa memerankan sosok yang tertindas kalau ototmu saja belum pernah merasakan getaran beban yang sesungguhnya? Setiap kali kamu mengangkat kayu ini, rasakan tumpuannya di pinggangmu. Rasakan bagaimana napasmu memburu. Nanti di atas panggung, kamu sudah terbiasa dan nggak kagok lagi, Di."
Adi terdiam. Argumen Hagia terdengar masuk akal, meski di hatinya yang paling dalam, ia merasa sedang dikerjai habis-habisan.
"Tapi ketua, tangan saya bisa lecet. Nanti kalau Azalea lihat saya kumal begini..."
"Justru itu poinnya," potong Hagia, nada suaranya sedikit mendingin saat nama Azalea disebut. "Ego adalah musuh terbesar aktor. Kamu ingin tampil tampan di depan Azalea? Itu artinya kamu tidak sedang menjadi karakter, kamu sedang menjadi seseorang yang pamer bulu. Di sanggar ini, kita melucuti ego. Kalau kamu tidak tahan dengan debu gudang ini, bagaimana kamu bisa tahan dengan kerasnya kritik penonton? Ini belum ada apa-apanya."
Adi menghela nafas, "Yo wis lah ketua, apapun saya tahan. Tapi saya dapat menginap disini, kan? Seperti yang lain menempati asrama.
" Nggak bisa."
"Lho kenapa?"
"Kamar penuh, Di," jawab Hagia pendek.
"Ah, masa? Sanggar segede gini kok? Pasti ada lah satu pojokan buat saya. Semua setara kan, dapat fasilitas sama rata?" Adi mencoba menggiring opini. Tapi kali ini Hagia bisa membantah permintaan Adi yang satu ini. Memang betulan kamarnya sudah penuh. Dia saja sampai menumpang di kamar si Cong.
"Iya sama rata. Tapi kenyataannya memang penuh. Saya saja nggak kebagian untuk saat ini. Nanti jika ada yang keluar, atau mahasiswa yang KKN sudah selesai, boleh kamu nempatin. Lagipula jika dilihat dari segi kebutuhan, kamu tidak terlalu urgent ketimbang mereka. Rumah kamu masih dekat dengan sanggar ini, masih bisa bolak-balik."
Adi hanya bisa mengumpat dalam diam karena gagal 24 jam berada di sini.
Di kejauhan,
Suci berdiri di tempatnya dengan mata yang tidak lepas dari interaksi antara Hagia dan Adi. Ia melihat bagaimana Hagia dengan begitu dominannya mengendalikan Adi, sementara di sisi lain, ia tahu betul alasan sebenarnya di balik semua ini, Hagia sedang menjauhkan Adi dari Azalea.
Kamu bisa licik, aku pun bisa sama sepertimu, Azalea. Kamu yang mulai duluan. Bisa-bisanya kamu mengajakku pergi menonton wayang minggu lalu, membuatku menunggu berjam-jam disana, sementara dirimu malah tidak datang dan malah asyik berduaan dengan Mas Hagia di sini. Batin Suci
Bagi Suci, tindakan Azalea adalah deklarasi perang. Suci merasa Azalea sedang memainkan peran gadis malang yang butuh perlindungan di depan Hagia, sementara di belakang, ia membuang Suci seperti sampah.
Kembali ke Adi,
Adi yang sudah badmood lantas kepikiran sesuatu dimana ia ingin Hagia menjauh saja. Terbesit kepikiran untuk menyosor Hagia, dia kan laki-laki normal pastilah tidak sudi dicium lelaki seperti Adi. Sepertinya ampuh bikin Hagia menjauh, namun otak Adi tidak sampai kepikiran kalau ia berbuat ulah maka akan dikeluarkan. Karena jika seperti itu, Hagia ada alasan mengeluarkan Adi, seperti perjanjian awal.
Suci yang sejak tadi mengawasi, seolah bisa membaca pikiran dangkal Adi. Ia melihat gelagat Adi yang mulai tidak beres. Dengan cepat, Suci mengangkat tangannya, mengepalkan tinju di udara yang diterjemahkan ke dalam kalimat jadi begini: Jangan bikin onar atau semuanya hancur.
Adi seketika mengerem langkahnya. Jika ia diusir sekarang, pupus sudah harapannya. Suci adalah satu-satunya sekutunya yang tahu seluk-beluk sanggar ini. Adi menelan ludah, lalu kembali berpura-pura sibuk mengelap permukaan gong, mengurungkan niat gilanya untuk mencium Hagia.
Tak lama kemudian, ada seorang anggota datang menghampiri.
"Lapor ketua, di depan sudah ada tim media. Katanya mereka mau meliput persiapan pementasan kita. Mereka juga mau minta wawancara eksklusif dengan Ketua, juga dengan ehem katanya."
"Apa tuh ehem? Azalea?"
"Iya betul sekali hehe."
Hagia senyam-senyum, sementara Adi tersenyum kecut.
.
.
Bersambung.