NovelToon NovelToon
You Can Run, But You'Re Still Mine

You Can Run, But You'Re Still Mine

Status: tamat
Genre:Action / Kehidupan Tentara / Nikahmuda / Karir / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:233.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.

Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.

Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.

Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Garis Tipis antara Patuh dan Nurani

Tembakan pertama memecah kabut.

Raska menjatuhkan tubuh, berguling ke balik batu.

“Kontak! Delta dua, tekan kanan! Delta satu, kunci kiri, jangan tembak ke arah desa!”

Peluru menghantam tanah. Batu pecah. Serpihan melayang.

Musuh bergerak cepat, mencoba menyebar. Terlatih.

“Granat ke arah kita!” teriak seseorang.

“ASAP!” bentak Raska.

Asap meledak, putih pekat. Kabut dan asap bercampur, mengacaukan orientasi.

Raska bergerak lebih dulu. Bukan paling keras. Tapi paling tepat.

Satu musuh muncul terlalu dekat.

DOR!

Satu tembakan. Jatuh.

Yang kedua mencoba kabur ke balik rumah, namun Delta dua sudah menutup sudutnya.

Kontak selesai dalam hitungan detik Sunyi kembali turun. Kali ini lebih berat.

“Delta tiga, laporan,” ujar Raska.

“Warga sipil aman,” jawab suara di radio. “Tidak ada perlawanan. Bangunan kosong… tapi—”

“Tapi?” Rahang Raska mengeras.

“Ada gudang senjata tersembunyi di bawah rumah ketiga. Aktif setelah warga pergi.”

Raska menghembuskan napas panjang. Bukan lega. Lebih ke konfirmasi pahit.

“Pusat,” katanya ke radio. “Target valid. Warga sudah dievakuasi. Minta izin lanjutkan.”

Sunyi. Menekan dada.

Akhirnya suara itu muncul. Dingin. Terkontrol.

“…Lanjutkan.”

Operasi diselesaikan dengan cepat. Gudang dilumpuhkan. Senjata diamankan.

Tanpa korban sipil. Tanpa satu pun prajurit gugur.

Di antara kabut yang mulai terangkat, Raska berdiri menatap desa yang kini kosong.

Ia tahu, laporannya nanti akan diperdebatkan. Keputusannya akan dipersoalkan. Namun untuk malam itu, satu hal pasti:

Ia tidak perlu mengingat wajah anak kecil yang mati karena keputusan yang terlalu cepat.

Dan bagi Raska… itu sudah cukup untuk menanggung apa pun yang datang nanti.

***

Markas Komando. Malam

Lampu ruang briefing belum sepenuhnya dimatikan. Peta digital masih menyala, menampilkan garis merah dan titik-titik biru, jejak misi yang baru saja selesai.

Raska berdiri tegap di depan meja. Seragamnya rapi, tapi ada bekas lumpur kering di ujung sepatu, tanda ia langsung dipanggil tanpa sempat istirahat.

Komandan berdiri di depan meja. Tangannya terkepal di balik punggung.

Raska memberi hormat. “Lapor. Target netral. Sandera selamat. Tidak ada korban dari pihak kita.”

Suara komandan terdengar datar. “Kau menyelamatkan operasi,” katanya. “Dan hampir menghancurkan kariermu sendiri.”

“Siap,” jawab Raska.

Namun ruangan itu sunyi terlalu lama.

Seorang Brigadir Jenderal menyilangkan tangan. Rahangnya mengeras.

“Kau tidak patuh,” kata Brigadir Jenderal itu.

“Siap.”

“Kau mengabaikan rantai komando.”

“Siap.”

Ia mendekat satu langkah. Suaranya turun.

“Tapi kau benar.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian. Lebih seperti peringatan.

“Sekali lagi,” katanya pelan, “kau melanggar window of execution.”

“Siap.”

“Kau punya tiga puluh detik,” katanya. “Intel bersih. Target terkunci.”

Ia berhenti. “Tapi kau memilih menunggu.”

Raska menatap lurus ke depan.

“Siap. Karena sandera masih bernapas.”

Plak.

Salah satu kolonel membanting map ke meja.

“Dengan keputusan itu, kau mempertaruhkan nyawa satu regu penuh.”

Raska tidak membantah.

“Siap. Saya tahu.”

“Lalu kenapa?” suara kolonel itu naik setingkat.

Raska menarik napas. Tidak panjang. Tidak dramatis.

“Kalau saya menembak saat itu,” katanya, “anak itu mati.”

Ia tidak perlu menyebut nama. “Usianya kira-kira delapan tahun.”

Sunyi. Tak ada yang bicara.

Brigadir Jenderal akhirnya mendekat. Berdiri tepat di depan Raska.

“Kau sadar apa artinya ini, Kapten?”

“Siap.”

“Kau terlalu berani membelokkan rencana.”

Nada suaranya rendah. Berbahaya.

“Dan terlalu sering berhasil.”

Raska menatap lurus. “Siap. Tapi bukan berarti selalu benar.”

Justru itu yang membuat udara menegang.

“Itulah yang membuatmu berbahaya, Kapten,” katanya rendah.

“Kau masih memilih.”

Raska mengangkat pandangannya. “Siap. Saya prajurit, Komandan,” katanya tenang. “Bukan mesin.”

Sunyi kembali turun.

Komandan menghela napas kasar. “Itulah masalahnya.”

Ia berbalik, mengambil satu map hitam dari laci. “Kau sudah satu kali menolak rekomendasi unit khusus,” katanya.

“Kau tahu tidak berapa banyak perwira yang rela menjual idealisme demi map ini?”

Map itu diletakkan di meja. Perlahan. Seolah benda berbahaya.

“Ini tawaran kedua.”

Raska menatap map itu. Sekilas saja. “Siap. Unit yang sama?” tanyanya.

“Lebih tinggi.”

Jenderal menatapnya tajam. “Lebih gelap. Lebih sunyi. Dan tidak semua orang pulang dengan jiwa utuh.”

Beberapa perwira saling pandang. Mereka tahu reputasi unit itu.

Raska diam terlalu lama.

Lalu—

“Siap. Saya menolak.”

Satu kata itu membuat ruangan terasa sempit.

Kolonel yang tadi marah mengumpat pelan. “Kau gila.”

Raska mengangkat kepala. “Siap. Mungkin.”

Brigadir Jenderal menyipitkan mata. “Alasanmu?”

Raska menjawab jujur. Tanpa heroisme. “Siap. Kalau saya masuk ke sana,” katanya pelan, “saya akan berhenti pulang sebagai manusia.”

Ia mengangkat pandangan. “Dan ada seseorang… yang masih membutuhkan saya sebagai manusia.”

Tak ada yang langsung menanggapi.

Akhirnya Jenderal itu menghela napas berat. “Kau ini masalah, Kapten Raska.”

“Siap.”

“Terlalu efektif untuk dipinggirkan," ujar Kolonel.

“Dan terlalu berbahaya untuk dikekang," tambah Jenderal.

Ia menutup map hitam itu kembali.

“Pergi.”

"Siap." Raska memberi hormat. Berbalik.

Saat pintu hampir tertutup—

“Kapten.”

Raska berhenti.

Suara Jenderal itu kali ini lebih pelan. “Kalau suatu hari kau berubah pikiran…”

Raska menjawab tanpa menoleh, “Siap. Tapi bukan hari ini.”

Pintu tertutup.

Di dalam ruangan, seorang perwira bergumam lirih, “Dia menolak kekuasaan… dua kali.”

Brigadir Jenderal menatap pintu itu lama. “Itulah sebabnya,” katanya pelan, “kalau perang sungguhan pecah… dia yang akan kita cari.”

Malam itu, nama Raska kembali dibicarakan.

Bukan sebagai pahlawan. Bukan pula pembangkang. Melainkan sesuatu yang lebih sulit ditangani:

Perwira yang selalu menang , tapi tidak pernah bisa diprediksi.

Dan jauh di tempat lain, seorang perempuan menatap anaknya tidur... Tanpa tahu, setiap keputusan “manusiawi” yang diambil seorang pria di medan perang,

adalah alasan kenapa ia terus menolak menjadi senjata.

***

Di sebuah kamar berdinding putih, lampu tidur menyala temaram.

Elvara merapikan selimut kecil yang menutupi tubuh Rava. Bocah itu sudah setengah mengantuk, rambutnya masih sedikit lembap sehabis mandi.

“Doa sebelum tidur, ya,” ucap Elvara lembut.

Rava menurut. Tangannya yang kecil terlipat rapi di dada. Setelah doa selesai, Elvara mencondongkan tubuh, mengecup kening anak itu dengan penuh kasih.

“Good night, Baby.”

Ia baru melangkah satu langkah ketika suara kecil itu memanggil lagi.

“Mommy…”

Elvara menoleh. “Yes?”

Rava menggeliat sedikit, matanya terbuka setengah. “Mommy doctor… you can draw, right?”

Elvara tersenyum kecil. “Yes, Baby.”

Ada jeda singkat. Rava terlihat ragu, lalu bertanya dengan suara yang terlalu jujur untuk usia sekecil itu.

“Mommy bilang kita nggak punya foto Papa… karena ponsel Mommy hilang.”

Elvara terdiam.

Rava menatap langit-langit, lalu berbisik, “Can you draw… Papa’s face? Rava ingin tahu wajah Papa.”

...🔸🔸🔸...

..."Setiap keputusan manusiawi di medan perang, adalah alasan kenapa seseorang masih berani menyebut dirinya suami."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
mery harwati
Terimakasih author atas karya²mu yang menghibur readers & memberi wawasan dalam dunia nyata yang kau ceritakan dalam novel karyamu 😘
Sehat selalu author & lancar rejekinya juga ya 🤲💪
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Terima kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
Uthie
keren banget ceritanya 👍👍👍👍
penuh pengetahuan, pemahaman soal kemiliteran 👍👍👍👍
juga mengajarkan arti bertahan, kesetiaan, dan dedikasi yg besar pada tanggung jawab dan pada negara 👍👍👍👍

super duper banyak hal yg didapat dari cerita ini 👍👍👍👍
Well done.. sukses selalu 💞💞💞💞
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Makasih Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Siti Jumiati
terimakasih atas karyanya kak nana ditunggu karya-karya selanjutnya.
semangat,sehat dan sukses selalu🤲
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Makasih Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Syarifah
Sukses selalu ya mbk Nana ceritanya the best semua aq suka
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Makasih Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
love_me🧡
karna sudah tamat apakah akan ada kisah anak" Raska kak ??
atau ganti judul lain ??
semoga Lea & Ayza up tiap hari ya kak gassss !!🥰
🌠Naπa Kiarra🍁: Insyaallah, Kak. 🤗🙏
total 1 replies
love_me🧡
makasih kak sudah berbagi ilmu, kukira suami/bpk kak Nana yg tentara soalnya ceritanya detail banget
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗
total 1 replies
Dek Sri
akhirnya tamat juga dan aku doakan semoga lolos penilaian 80 terbaik ya kak
anonim
Roy datang di Hari Ulang Tahun Rava - berjongkok di depan Rava, dengan ucapan selamat ulang tahun serta doanya untuk Rava.

Raska pribadi yang baik - Roy diakui sebagai adiknya. Roy terharu mendengarnya. Dan di terima sebagai keluarga.

Elda selalu mendoakan kebahagiaan keluarga putrinya.

Akhir cerita yang bagus. Banyak diambil hikmahnya. Author memang keren abis. Terima kasih Author, telah menghibur dan menambah pengetahuan dalam bidang militer. Semoga sehat selalu, dilancarkan rejekinya, dan senantiasa dalam perlindunganNya 🙏🏻💖🌹
🌠Naπa Kiarra🍁: Aamiin. Semoga KK juga demikian 🤗🙏🙏
total 1 replies
Cicih Sophiana
Aamiin Allahumma amiin 🤲🤲🤲😍😍 bintang lima untuk para pahlawan negara qta yg berjasa atau pun yg tanpa tanda jasa nya dan untuk kak Nana nya...👍🙏🏻 😍😍
Wardi's
terimakasih untik karyanya.., bagus nya pake banget. diawal gregetannya pake greget yg banget2..,

sukses untuk karya ini dan karya2 selanjutnya..,
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🙏❤️
total 1 replies
Tiara Bella
akhir yg bahagia makasih Thor banyak ilmu yg dipelajari dr cerita ini ... 😍
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
Sri Hendrayani
cerita novelmu keren2 smua thor😍
Dew666
🌻🌻🌻🌻🌻
abimasta
trimakasih thor
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Sugiharti Rusli
sekarang pun dia juga akhirnya mau mengakui si Roy sebagai seorang meski mereka tidak ada hubungan darah sama sekali,,,
Sugiharti Rusli
dulu ketiga sahabatnya dia percayakan mengelola aset" nya di saat di sibuk di pendidikan militer dan terjun di sana
Sugiharti Rusli
di balik sikap Raska yang terkesan dingin dan kaku, sejatinya dia pribadi yang hangat dan kekeluargaan yah,,,
Anitha Ramto
terimakasih kak Nana...
akhirnya Happy Ending
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Eka Burjo
Aamiin,
Alfatihah.
terimakasih. ditunggu novel novel berikutnya👍
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama Kak 🤗🙏
total 1 replies
asih
ternyata bener kak Nana Dari keluarga tentara,
cara menulis selalu keren bahasanya juga jelas 👍👍👍
semangat berkarya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!