PROSES REVISI. KALO ADA CERITA NGEGANTUNG DAN NGGAK NYAMBUNG MOHON DI MAKLUMI, AKAN SEGERA DI REVISI. TERIMA KASIH.
"Jessii, ini permintaan terakhir kakek kamu jangan di tolak dongg!"
"Pliss maa! aku nggak mau di jodohin.. Apa lagi sama orang sombong kek dia!!"
Meliana mengusap dadanya agar bisa lebih tenang untuk menghadapi sikap keras kepala yang di miliki anak bungsunya itu.
Ya, Jessica Relieta anak dari Meliana dan Reta itu mendapat pesan terakhir dari Kakek Jessica bahwa dia ingin melunasi hutang - hutangnya dengan menjodohkan cucu nya.
Karena dijodohkan dengan keluarga kerajaan Raden Agung Yagsa, seorang Jessica yang pecicilan itu pasti susah untuk mengubah diri menjadi seseorang yang anggun.
Namun karena juga hutang kakek Jessica yang sangat tidak mendukung, mau tak mau Jessica menerima perjodohan itu dengan berat hati.
Tetapi ketika sang pangeran meminta untuk di cintai apakah Jessika bisa mengabulkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi (REVISI)
"Apa maksud lo?" tegas Putra.
"Eh jangan salah paham dulu!" seru Bianca.
Camila menghembuskan nafasnya.
"Maksud gue tuh, kalau Jessi minta cerai jangan lo kabulin, coba aja lo jadi cinta pertamannya Jessi." Jelas Camila.
"Cinta pertama?" Putra terkekeh.
Camila memutar kedua matanya.
"Emangnya kenapa lo ngomong gini?" tanya Riana kepada Putra.
"Iya! Jangan-jangan lo cemburu ya, Jessica punya cowok lain?" seru Farel.
"Iyaya, bisa jadi--"
"Nggak! Gue cuman nanya doang." Tegas Putra yang langsung berdiri.
"Gue yang bakal bayar semuanya." Sambungnya lalu pergi begitu saja dari sana.
♡♡♡
"Begitu nona Jessi." Jelas Binan mengakhiri ceritanya.
"Owh begitu. Panjang juga ya ceritanya sampai aku lupa lagi gimana cerita awalnya." Ucap Jessica.
Bruak.
"Nona Jessi masa tidak bisa mengingat cerita semulus itu?" panik anak buah Binan yang ikut menemaninya.
"Iya, padahal kami sudah menceritakannya dengan sangat perlahan dan jelas agar bisa masuk ke memori Nnona Jessi," Sambung temannya.
"Huh, aku nggak tau gimana caranya ngapalin sejarah kek gitu semua! Yang aku bisa hafal cuman rumus!" seru Jessica.
"Tapi kan di pelajaran ini tidak ada rumus nona Jessi," ucap Binan.
"Iya benar! Nona Jessi tidak perlu menghafal rumus sekarang, Nona Jessi hanya perlu menghafal sejarah." Sambung anak buahnya.
Jessica menghembuskan nafasnya kasar. Dia benar-benar jengkel mendengarkan marahan dari para pelayannya itu. Namun apa boleh buat? Jika Jessica tidak tahu itu semua, ia pasti akan dipermalukan di depan seluruh keluarga bangsawan.
"Oh iya nona Jessi. Menantu keluarga tuan Cayapata akan berkunjung ke sini untuk meminta maaf kepada Nona karena pada saat pernikahan ia tidak bisa hadir dikarenakan sedang hamil muda." Jelas Binan.
"Wah, bakal seru tuh! Aku sama dia beda berapa tahun?" tanya Jessica dengan penuh semangat.
"Sekitar dua tahun." Jawab Binan.
"Hm, lumayan deket sih. Siapin penyambutannya yang meriah ya! Pasti dia seneng!" seru Jessica. Para pelayan pun mengangguk.
Tok tok tok.
Salah satu pelayan membukakan pintu kamarnya begitu mendengar suruhan dari atasannya dengan sopan dan perlahan. Setelah terbuka sempurna, nampak lah seorang gadis kecil yang tersenyum ceria kearah Jessica.
"Kakak ipar!!" seru Putri yang langsung menghamburkan pelukannya ke tubuh Jessica.
"Hai Putri! Gimana kabar kamu sekarang? Putri udah gede ya setahun nggak ketemu kakak." Balas Jessica yang memeluk Putri dengan penuh kasih sayang.
"Kakak, kita cuman nggak ketemu sehari kemaren doang kok dibilang setahun?" tanya Putri sedikit kesal.
"Wah masa? Haha, kayaknya sehari nggak ketemu adik kecil berasa setahun!" seru Jessica dengan gemas.
"Kakak ipar! Ayah bilang bakal ada bayi baru di keluarga kita, apa kakak yang punya bayi itu?" tanya Putri dengan berbinar-binar.
Jessica terkejut dengan pertanyaan Putri yang sama sekali tak pernah melintas di pikirannya. Bagaimana bisa seorang bocah berumur sepuluh tahun ini bisa bertanya tentang bayi?
"Hm, emangnya bayi itu dari mana?" tanya Jessica.
Para pelayan langsung terkejut dan saling menatap satu sama lain.
"Ibu bilang, itu karena kakak ipar dan kakak saling mencintai!" jawab Putri polos.
"Owh gitu. Kayaknya nggak bakal bisa deh Put," jawab Jessica dengan sedih.
"Kenapa nggak bisa kak?" tanya Putri kecewa sambil mengecutkan bibirnya.
"Karna kakak nggak cinta kakak kamu!" jawab Jessica kembali dengan wajah yang berbinar-binar.
"Loh kenapa? Kakak kan ganteng, kok kakak ipar bisa nggak sukaa?" tanya Putri terheran-heran.
"Hmm, mungkin belum saatnya." Jawab Jessica.
"Kalo gitu kakak ipar harus cepet cinta sama kakak biar kakak ipar punya bayi!" seru Putri kembali.
"Haha, iya kakak bakalan coba buat cinta sama kakak kamu." Jawab Jessica sedikit memberi harapan.
"Oke! Aku tunggu ya kak!" ucap Putri sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Oke!" balas Jessica.
Putri pun bangkit dan pergi dari kamar Jessica.
"Cinta doang? Ternyata gampang ya bikin anak!" seru Jessica sambil merilekskan badannya.
"HAH!!" pekik para pelayan kompak yang membuat tubuh Jessica ngagebeg saking terkejutnya.
"Kalian kenapa? Buat aku kaget aja!" balas Jessica kesal.
Binan yang melihatnya juga ikut cemas. Ternyata kepolosan Jessica itu tidak dibuat-buat! Dia benar-benar tidak tahu bagaimana cara datangnya seorang anak.
"No--nona J-Jessi ng--nggak tahu bi--bikin anak?" tanya anak buah Binan tegang.
"Mencintai doangkan?" tanya Jessica memastikan.
Putra yang baru datang itu langsung menegang di tempat.
"Bukan tuan putri!! Membuat anak it--"
"Keluar." Titah Putra yang mengejutkan para pelayan.
Para pelayan itu segera bangkit dari duduknya dan pergi dari kamar Jessica dan Putra.
Jessica yang melihatnya hanya acuh dan kembali memakan buah-buahan yang ada di mejanya itu.
***
"Nyo--nyonya besar!" seru para pelayan yang baru saja pergi dari kamar Jessica.
Taya yang mendengarnya langsung terkejut dengan para pelayannya yang tiba-tiba datang dengan kekhawatiran.
"Kalian ini tidak punya sopan santun kepada keluarga bangsawan ya! Kalian akan saya pe--"
"Melati, sudah lah mereka masih muda. Ada apa?" tanya Taya baik-baik.
"Mohon maaf sebelumnya Nyonya, tapi kita ingin menyampaikan informasi penting me--mengenai, Nona Jessi." Jelas Binan mewakili para bawahannya.
Taya mengerutkan dahinya dan menatap anak dan juga menantunya itu.
"Kenapa Jessica?" tanya Tirta keheranan.
"Ehm, a--anu Tuan," ucap Pelayan itu kaku.
"Katakan yang jelas!" tegas Melati.
"Mohon maaf Nyonya besar, Nona Jessica tidak tahu tentang hubungan suami istri." Jawab Binan mewakili kembali.
Taya membulatkan matanya lebar-lebar. Seperti berita orang meninggal, alangkah terkejutnya dia mendengar kabar seperti ini.
"Ya ampun!"
Tirta yang mendengar itu bukannya panik malah tertawa yang mengundang tatapan sinis dari para wanita.
"Haha, mungkin wajar saja karena Jessica itu masih muda," ucap Tirta.
"Tapi Tir--"
"Kalian jelaskan saja pada dia, apa susahnya?" potong Tirta memberi saran.
Taya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Benar! Kalian jelaskan saja pada dia bagaimana caranya berhubungan suami istri!" seru Taya.
Melati hanya bisa menghembuskan nafasnya yang berat itu.
"Ibu, apa sebaiknya kita sendiri yang menjelaskan itu?" tanya Melati sedikit ragu. Taya menoleh.
"Wah itu lebih bagus. Baik lah, kita yang akan menjelaskannya."
♡♡♡
Jessica kebingungan karena dia tiba-tiba dipanggil oleh nenek dan juga ibu mertuanya. Awalnya ia sangat curiga kalau dia telah melakukan kesalahan dan akan dimarahi. Namun ketika dia berfikir kembali, selama dua hari setelah pernikahannya ini, dia sepertinya tidak pernah melakukan kesalahan.
"Jessica, kamu tahu kenapa kamu bisa di panggil ke sini?" tanya Taya. Jessica hanya menggeleng.
Melati menghembuskan nafasnya kasar.
"Kita akan menjelaskan kepada kamu, bagaimana caranya seorang istri melayani suaminya dengan baik." Tegas Melati.
Jessica terbelak.
"Ma--maksudnya?" tanya Jessica.
"Kita akan menjelaskan kepada kamu bagaimana cara membuat anak yang sebenarnya," sambung Taya.
Jessica mengerutkan dahinya.
"Bukannya cuman saling cinta bayi bakal tumbuh sendiri ya Nek?" tanya Jessica kembali dengan polos.
Taya terkekeh.
"Kamu kan anak IPA, apa yang dijelaskan guru mengenai anak?" tanya balik Taya.
"Hmm, itu terjadi karna, ****** ketemu sel telur." Jawab Jessica seadanya.
"Nah itu tahu!" seru Taya.
"Kamu tahu cara untuk mempertemukan mereka?" tanya Melati lebih dalam.
Jessica sempat berfikir. Dan langsung menggeleng.
Taya tersenyum.
"Cara mempertemukannya yaitu dengan cara ..."
Botol sih jadi orang.
Tirta, Taya, tidakkah kalian berkomunikasi dengan Putra? Bahkan besan meninggalpun tak ada yang muncul.