NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Hening malam di rumah orang tua Bagas terasa begitu mencekam. Jarum jam dinding di ruang tengah yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam berdentang pelan, memecah kesunyian yang merayap sejak kepulangan Bagas yang mendadak.

​Ibu Bagas, yang masih terjaga dan duduk di sofa ruang tamu sembari mengunyah camilan sisa tadi sore, langsung menegakkan punggungnya begitu mendengar deru motor sport anak kesayangannya berhenti di teras. Wanita tua itu mengernyitkan kening dalam-dalam. Dahinya berkerut heran. Baru saja sekitar satu jam yang lalu anak laki-lakinya itu pamit pulang ke kontrakan dengan sejuta kesombongan untuk mengambil berkas penting dan mendiamkan istrinya. Namun kini, Bagas sudah kembali lagi dengan wajah yang tampak begitu kacau.

​Bagas melangkah masuk melewati pintu depan. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah-olah ada beban berton-ton yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Tatapan matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa arah yang jelas. Tangannya yang menggenggam map berisi dokumen kantor tampak bergetar tipis.

​"Lho, Gas? Kok kamu sudah balik lagi ke sini?" tanya ibunya keheranan, matanya menyelidik penampilan Bagas yang tampak kusut. "Bukannya tadi katanya mau tidur di kontrakan biar Dinda tahu rasa? Berkasnya sudah ketemu?"

​Bagas tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan melewati ibunya seolah wanita tua itu hanyalah hembusan angin lalu. Mulutnya terkunci rapat, bungkam seribu bahasa. Ada rasa sesak yang begitu padat di tenggorokannya, membuat satu kata pun enggan untuk keluar.

​Ibunya yang merasa diabaikan langsung berdiri dari sofa, nadanya berubah agak kesal. "Gas! Ibu nanya lho ini! Kamu kok malah diam saja seperti orang linglung begitu? Ada apa? Apa Dinda ngamuk lagi?"

​Tetap tidak ada jawaban. Bagas terus melangkah lurus menuju kamar masa kecilnya yang terletak di bagian belakang rumah. Ia membuka pintu kayu kamar itu, masuk ke dalam, lalu menutupnya kembali dengan perlahan tanpa menimbulkan suara keras.

​Di dalam kamar yang remang-remang, Bagas melemparkan map dokumen kantornya ke atas meja belajar yang berdebu. Tubuhnya yang terasa lemas seketika ambruk di atas kasur kasur kapuk tua milik ibunya. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang tampak buram dalam kegelapan. Napasnya naik turun dengan cepat, tidak teratur.

​Di dalam kepalanya, bayangan kondisi rumah kontrakan yang gelap gulita, kosong melompong, dan berdebu tipis tadi siang terus berputar seperti kaset rusak. Setiap sudut ruangan yang tidak lagi menyisakan barang-barang Adinda dan Dimas seolah berteriak memperolok harga dirinya yang setinggi langit. Surat pendek yang ditulis Adinda dengan bolpoin hitam di atas kertas nota katering itu seakan-akan tercetak jelas di pelupuk matanya.

"Rumah ini sudah saya kembalikan fungsinya seperti semula... Jangan cari saya atau Dimas lagi. Surat resmi dari pengadilan akan segera sampai ke tanganmu."

​"Pengadilan..." bisik Bagas pelan, suaranya terdengar serak di dalam kesunyian kamar.

​Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengusir rasa cemas yang mulai merayap di dadanya. Rasa panik yang sempat mencengkeram jantungnya saat berada di kontrakan tadi kini perlahan-lahan mulai berbenturan dengan ego dan kesombongannya yang tidak mau runtuh begitu saja. Sebagai seorang pria yang selalu dominan dan merasa di atas angin, Bagas menolak untuk mempercayai kenyataan bahwa Adinda benar-benar berani menceraikannya.

​"Tidak mungkin," gumam Bagas pada dirinya sendiri. Ia membalikkan tubuhnya ke samping, menekuk lututnya ke dada. "Dinda tidak akan mungkin berani mengambil langkah se-nekat itu. Dia itu perempuan lemah. Dia tidak punya apa-apa."

​Otak Bagas yang manipulatif mulai bekerja keras, menyusun berbagai macam penyangkalan demi menenangkan hatinya yang bergemuruh. Di bawah kegelapan kamar, ia mulai menerka-nerka dan merangkai skenario yang masuk akal di dalam kepalanya agar egonya tetap terjaga.

​"Dia pasti cuma sedang ngambek," pikir Bagas, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Ya, dia sengaja mengosongkan rumah dan membawa semua barangnya hanya untuk menggertakku. Dia ingin aku panik, mencari-carinya, dan memohon-mohon agar dia kembali."

​Bagas tersenyum sinis dalam kegelapan, meskipun senyuman itu terasa sangat hambar dan dipaksakan. Ia merasa telah berhasil membaca taktik istrinya. Di matanya, Adinda adalah wanita yang terlalu naif untuk bisa hidup mandiri di luar sana tanpa perlindungan dari status pernikahan mereka. Bagas sangat yakin bahwa katering kecil-kecilan milik Adinda tidak akan pernah cukup untuk membiayai sewa rumah baru, biaya hidup harian, dan uang sekolah Dimas yang terus membumbung tinggi.

​"Lalu, ke mana dia pergi membawa barang-barang sebanyak itu dalam waktu singkat?" tanya Bagas dalam hati, keningnya kembali berkerut.

​Ia mulai menebak-nebak tempat pelarian istrinya. Tidak mungkin Adinda menyewa rumah kontrakan baru secara mendadak mencari kontrakan yang layak di kota ini membutuhkan uang muka yang tidak sedikit, dan Dinda tidak akan punya uang tunai sebanyak itu dalam sekejap tanpa sepengetahuannya.

​"Pasti dia pulang kampung ke rumah Mas Danu," tebak Bagas dengan keyakinan yang mendadak membuncah di dadanya.

​Ya, Mas Danu. Kakak kandung Adinda satu-satunya yang tinggal di luar kota itu adalah satu-satunya tempat bersandar yang paling masuk akal bagi Adinda.

Bagas sangat yakin bahwa kemarin, setelah ia pergi bekerja dengan kemarahan besar, Adinda langsung menelepon kakaknya sembari menangis tersedu-sedu, mengadu tentang keributan rumah tangga mereka, lalu meminta tolong agar dijemput atau dikirimi uang untuk ongkos pulang kampung.

​"Tentu saja! Dia pasti kabur ke rumah kakaknya untuk mencari perlindungan dan simpati," batin Bagas, merasa tebakannya sangat jitu. "Mas Danu itu kan memang selalu menganggap dirinya pahlawan di keluarga mereka karena merasa sudah sukses jadi pengusaha. Pasti dia yang menyuruh Dinda mengosongkan rumah untuk membalas dendam padaku."

​Mengingat nama Mas Danu, rasa dongkol di hati Bagas kembali membakar dadanya. Ia selalu membenci kakak iparnya yang satu itu. Mas Danu yang berwibawa, sukses, dan selalu bersikap dingin padanya selalu membuat Bagas merasa inferior dan tidak berdaya setiap kali mereka bertemu. Bagas menduga bahwa keputusan Adinda untuk pergi kali ini adalah akibat dari hasutan Mas Danu dan istrinya, Mbak Anita.

​"Baguslah kalau dia pulang ke sana," gerutu Bagas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. "Biar dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menumpang di rumah orang lain bersama anaknya. Biar dia tahu kalau hidup menumpang itu tidak senyaman tinggal di rumah suaminya sendiri, meskipun rumah kontrakan."

​Bagas mengambil napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana baru untuk menghadapi 'aksi ngambek' istrinya ini.

​"Aku tidak akan mencari atau menghubunginya," putus Bagas dengan sombong. "Aku akan biarkan dia tinggal di rumah Mas Danu selama satu atau dua minggu. Biar dia merasakan bagaimana dinginnya sikap ipar dan repotnya hidup menumpang. Nanti, kalau uangnya sudah habis dan dia mulai merasa tidak enak hati di rumah kakaknya, dia pasti akan pulang sendiri ke sini dengan kepala tertunduk dan meminta maaf padaku."

​Sedangkan soal ancaman surat resmi dari pengadilan yang ditulis Adinda di kertas nota tadi, Bagas mengibaskan tangannya di udara seolah-olah kertas itu hanyalah debu yang tidak berarti.

​"Surat pengadilan? Halah, itu pasti cuma gertakan Danu saja untuk menakut-nakuti aku agar aku datang menjemput Dinda dan sujud meminta maaf," gumam Bagas dengan nada meremehkan. "Mana mungkin perempuan kampung seperti Dinda punya keberanian dan uang untuk menyewa pengacara dan mendaftarkan gugatan cerai? Mengurus berkas-berkas di pengadilan itu rumit dan butuh biaya besar. Dia tidak akan sanggup."

​Dengan segala pikiran penyangkalan yang ia rangkai sedemikian rupa, Bagas perlahan-lahan mulai merasa lebih tenang. Egonya yang terluka kembali mendapatkan asupan kebohongan yang menenangkan jiwanya yang sebenarnya sedang ketakutan setengah mati. Ia menutup matanya, mencoba untuk tidur agar besok pagi bisa datang ke kantor dengan wajah segar tanpa ada beban pikiran yang terlihat di depan rekan-rekan kerjanya.

​Namun, jauh di luar kamar yang sunyi itu, malam terus berjalan membawa kenyataan yang tidak akan pernah bisa diubah oleh penyangkalan sekecil apa pun dari seorang Bagas. Sementara pria itu tertidur dalam buaian kesombongannya yang palsu, di tempat lain, Adinda dan Dimas sedang menikmati malam pertama mereka di bawah atap kontrakan baru yang tenang, siap untuk menyongsong hari esok bersama Mas Danu dan Mbak Anita yang sudah berada di batas kota untuk membawa badai keadilan yang sesungguhnya ke dalam hidup Bagas.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!