NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Restoran yang mereka tuju berada di lantai atas sebuah gedung tinggi, dengan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke Danau Jenewa dan Pegunungan Alpen. Berada di ketinggian itu, pemandangan terbentang luas tanpa halangan. Saat malam tiba, lampu-lampu kota menyala terang dan pantulannya terlihat indah di permukaan air danau.

Sambil menunggu hidangan datang, Laras menikmati pemandangan yang memanjakan mata, sedangkan Raka sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian makanan pun tiba, disajikan dengan rapi dan rasa yang sangat lezat.

Bagi Laras, makan malam ini terasa sangat istimewa, meski suasana di antara mereka masih terasa kaku. Rasanya seperti sedang menikmati mimpi yang indah, apalagi ditemani oleh lelaki yang sangat dicintainya.

Setelah selesai makan, Raka segera meminta pulang dengan alasan sudah sangat lelah. Laras pun tak memaksa, meski hatinya ingin terus menikmati keindahan malam itu.

Sesampainya di kamar hotel, Raka langsung merebahkan diri dan tertidur lelap, tak mempedulikan Laras yang masih duduk di dekat jendela memandang ke luar.

“Andai saja hatinya sama seperti hatiku, pasti perjalanan ini akan terasa jauh lebih indah. Meskipun ini tempat impianku, rasanya tetap ada yang kurang tanpa rasa cinta darinya,” gumamnya pelan.

“Ya Tuhan, tolong lunakkan hati suamiku. Bimbinglah ia agar bisa mencintaiku sepenuh hati, seperti aku mencintainya,” doanya dalam hati.

*****

Keesokan paginya, Raka terbangun dengan perasaan yang lebih tenang dan nyaman, semalam ia tidur dengan sangat lelap dan damai.

“Tunggu dulu… kenapa rasanya seperti ada yang memeluk?” Raka masih belum sadar, bahwa Laras ternyata masih terlelap di sampingnya sambil memeluk tubuhnya dengan erat.

Begitu ia menoleh ke samping dan melihat keadaan itu, Raka langsung menyingkirkan tangan Laras dari perutnya dengan kasar.

“Sialan… bangun kau!” bentaknya dengan suara keras dan penuh emosi.

Laras yang baru terbangun setengah sadar langsung duduk tegak, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang belum pulih.

“Apa sih? Kenapa berisik sekali, mengganggu orang tidur saja,” gumamnya masih mengantuk.

“Dasar wanita tak tahu diri! Berani-beraninya kau tidur memelukku, apalagi berani tidur satu ranjang denganku. Siapa yang memberi izin?” hardik Raka dengan nada tinggi.

“Memangnya ada aturan yang melarang? Kakak lupa ya, kita sudah resmi menjadi suami istri. Jadi apa yang salah kalau tidur bersama?” jawab Laras dengan tenang dan santai.

“Aku tidak akan pernah lupa pada pernikahan  yang mengubah hidupku menjadi seperti neraka. Menikahimu adalah bencana terbesar dalam hidupku. Ingat baik-baik, aku menerima ini hanya karena dipaksa oleh orang tua. Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu seperti istri yang kucintai. Hanya Rara yang pantas mendapat tempat itu, hanya dia yang layak mendampingiku dan menjadi ibu bagi anak-anakku nanti,” ucap Raka dengan nada sombong dan dingin.

“Tapi wanita yang kau puja-puja itu justru yang pergi meninggalkanmu tanpa alasan yang jelas. Pantaskah pengecut dan tidak setia seperti itu menjadi ibu dari anak-anakmu? Cobalah buka hatimu sedikit saja pada orang yang sudah menyelamatkan keluargamu dari rasa malu karena ulahnya,” balas Laras tak kalah tegas.

Merasa kesal dan perih mendengar ucapan suaminya, Laras langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari itu suasana hatinya sudah rusak sejak pagi hanya karena tingkah Raka yang masih tak bisa melupakan mantan kekasihnya.

“Sabar, Laras. Jangan terlalu dipikirkan kata-katanya. Nikmati saja waktumu di sini, karena perjalananmu ke depan pasti tidak mudah dan butuh banyak kesabaran,” bisiknya pada diri sendiri untuk menenangkan hati.

Setelah selesai mandi dan berpenampilan rapi, Laras duduk menikmati sarapan yang sudah disiapkan di meja. Tak lama kemudian Raka keluar dari kamar mandi dan ikut duduk di hadapannya.

“Kak, hari ini kita mau berkeliling kemana lagi?” tanya Laras sambil terus mengunyah makanannya.

“Tidak kemana-mana. Aku ingin tidur saja. Apa kakimu itu tidak pernah lelah? Seharian kemarin sudah jalan terus, masih saja ingin bergerak,” jawab Raka ketus.

“Baru sehari saja sudah mengeluh capek. Ternyata benar kata orang, usia tidak bisa dibohongi ya,” canda Laras sambil tersenyum miring.

Raka menatap tajam ke arah istrinya, merasa tersinggung dengan ucapan itu.

“Santai saja, Kak. Masa bercanda sedikit saja langsung marah? Aku cuma bercanda kok,” kata Laras sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah.

Hari itu Laras memutuskan tetap berkeliling sendiri menjelajahi keindahan Swiss. Raka memang menolak ikut dengan alasan lelah, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Laras.

Ia mengunjungi banyak tempat menarik, mulai dari kawasan perbelanjaan mewah di pusat kota, hingga jalan setapak yang menawarkan pemandangan danau dan pegunungan yang menakjubkan. Tak lupa ia juga berbelanja beberapa barang yang menarik perhatiannya.

Sebagai anak tunggal dari keluarga berada, Laras memang terbiasa hidup dengan segala kemewahan sejak kecil. Ia dan ibunya sering berbelanja barang-barang bermerek dan berkualitas tinggi. Namun meski hidup berkecukupan, ia tetap dididik dengan baik oleh orang tuanya. Ia tidak tumbuh menjadi orang yang sombong, melainkan selalu peduli dan siap membantu siapa saja yang membutuhkan.

Memang benar, Laras sangat dimanja oleh ayah dan ibunya. Karena sejak kecil ia sering sakit, orang tuanya selalu memperlakukannya seperti putri raja, memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya. Hal itu membuatnya tidak terbiasa mengurus rumah tangga atau memasak.

Bukan hanya soal dilarang memasak, hampir seluruh kegiatannya dibatasi. Ia tidak punya banyak teman karena orang tuanya selalu mengawasi pergaulannya. Bahkan keinginannya melanjutkan kuliah di luar negeri pun ditolak, dengan alasan tempat itu terlalu jauh dan tidak aman.

Semua larangan itu bukan tanpa alasan. Mereka hanya ingin menjaga putri satu-satunya sebaik mungkin, terlebih lagi Laras mengidap penyakit serius yang sudah dideritanya sejak lahir.

 

Darma dan Lina sempat terpukul berat saat mengetahui putri tercintanya mengidap penyakit paru kronis bawaan yang membuatnya mudah lelah dan sensitif terhadap perubahan cuaca. Namun keduanya segera menerima kenyataan itu dengan lapang dada, lalu berusaha merawatnya sebaik mungkin.

Sejak saat itu, mereka sangat melindungi Laras, mengikuti semua saran dokter dan menjalani pengobatan rutin agar kondisinya tetap terjaga. Berkat perawatan yang konsisten, kini keadaan paru-parunya sudah jauh lebih baik dan lebih stabil, membuat hati Darma dan Lina sedikit lebih tenang.

Itulah sebabnya mereka sangat menjaga dan memanjakan Laras. Sayangnya, hal ini membuatnya sering diejek teman-temannya saat sekolah, dijuluki “anak manja dan sakit-sakitan”, terutama saat kondisinya sedang kambuh.

*****

Seharian berkeliling membuat tubuh Laras terasa lelah. Begitu sampai di kamar hotel, ia segera membersihkan diri dan langsung berbaring, bahkan melewatkan makan malam. Ia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan suaminya.

Melihat tingkah istrinya, Raka makin kesal. Di matanya, Laras hanyalah gadis manja yang kegiatannya hanya menghabiskan uang. Apalagi ia pulang membawa banyak kantong belanjaan.

“Dasar gadis manja, hidupnya cuma bisa menghamburkan uang. Istri macam apa ini, seharian keluar dan pulang-pulang langsung tidur, bahkan tidak menyapa suaminya sekalipun,” gerutunya dalam hati.

*****

Waktu berlalu begitu saja, dan masa bulan madu mereka pun berakhir. Tidak ada momen romantis seperti layaknya pasangan baru menikah. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing. Laras sudah berusaha membangun komunikasi, namun ia harus bersabar karena Raka sama sekali tidak mau membuka diri.

Bahkan saat diajak berjalan-jalan, Raka lebih sering menolak. Ia tega meninggalkan Laras sendirian di kamar hotel, lalu pergi menjelajahi kota Swiss seorang diri. Laras hanya bisa mengalah dan memilih menikmati kebebasannya sendiri, sesuatu yang jarang ia rasakan saat masih tinggal bersama Darma dan Lina.

Besok mereka akan terbang kembali ke Indonesia. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda pada diri Laras. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, dan napasnya terasa sedikit sesak serta lelah luar biasa.

Wajah Laras tiba-tiba berubah sangat pucat, napasnya tersengal-sengal seolah udara di ruangan itu tidak cukup untuknya. Melihat keadaan itu, Raka langsung mendekat dengan perasaan cemas yang tak biasa.

“Laras, kenapa? Apa yang terjadi?” tanyanya, nada bicaranya sudah hilang dinginnya.

Laras hanya bisa menekan dadanya yang terasa tertekan berat, lalu matanya menatap ke arah sudut ruangan dimana barang-barang bawaannya tersusun rapi.

“Bawa… yang di dalam… barangku…” ucapnya dengan susah payah, ucapnya terputus-putus.

Raka segera mengerti dan mengambil kotak penyimpanan obat yang tersembunyi di antara pakaian-pakaiannya. Begitu barang itu ada di tangannya, Laras segera meraihnya, meminum obat yang ada di dalamnya, lalu berbaring kembali sambil mencoba menenangkan napasnya yang masih tak beraturan.

Raka masih berdiri di samping tempat tidur, hatinya penuh rasa bingung dan khawatir. Setelah beberapa saat, ketika keadaan Laras mulai sedikit membaik, ia bertanya lagi dengan nada yang lebih lembut, “Kamu kenapa?”

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!