NovelToon NovelToon
Galeri Rasa Suka

Galeri Rasa Suka

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: suziehloranda

Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.

Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Second Choice

Badan Celine kembali ambruk pagi ini begitu bangun tidur, tapi ia memilih untuk mengabaikan. Tidak ingin melewatkan hari ini, karena ada kuis dadakan dari wali kelas.

"Kata mama tadi gak usah masuk hari ini, Kak," kata Herry memberitahu, anak laki-laki itu sudah rapi dengan ransel di punggungnya.

"Ada kuis hari ini, kalau aku gak masuk harus nunggu minggu depan buat ngulang. Aku gak mau duduk sendirian di meja guru menghadapi wali kelas garang itu," ujar Celine setengah duduk, ia memejamkan mata. "Udah ah, panas doang gak bakal buat aku pingsan di tengah jalan."

Perempuan itu bangkit berdiri, menghiraukan peringatan Herry. Ia melangkah menuju meja makan, duduk sendirian di sana. Rumah sepi menyisakan kesunyian yang biasa Celine lihat. Ayah dan ibunya sudah pergi sejak dini hari untuk bekerja.

"Bandel banget kakak!" seru Herry kemudian ikut duduk di meja makan. Ia melipat kedua tangan di dada, mengamati Celine dari atas ke bawah seolah menilai.

"Ngawur kamu, udah ah makan! Jangan sampai kamu yang jadi sakit karna gak sempat sarapan, udah mau setengah tujuh ini," tukas Celine menyendok nasi.

Pahit rasanya makanan yang coba Celine cicipi. Dia meletakkan sendoknya begitu merasa tidak enak di perut, seolah diaduk-aduk. Ia menutup mulutnya.

"Kenapa kak?" tanya Herry khawatir, tapi Celine hanya menggeleng dan tersenyum getir, ia menelan salivanya susah payah. Diraihnya segelas air putih lantas meneguknya sampai tandas.

"Kakak udah kenyang, lanjut aja makannya."

Celine menghela napas panjang, bulu kuduknya meremang begitu udara dingin menusuk. Ia mengeratkan cardigan yang membalut tubuhnya. Menyatukan kedua tangan mencari sedikit kehangatan.

Bel rumah berbunyi memecah keheningan di meja makan. Celine melirik sebentar ke arah pintu besar yang menjulang tepat ke arahnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah Herry yang masih sibuk dengan sarapannya. Akhirnya, perempuan itu bangkit berdiri berniat membuka pintu.

"Ada perlu apa ..." Perkataan Celine menggantung di udara begitu wajah Gabriel muncul di balik pintu. Ekspresinya berubah sepersekian detik jadi jengkel, ia hendak menutup pintu.

"Eh, eh tunggu dulu!" seru Gabriel panik, dia menahan pintu dengan kakinya. Cengiran khasnya membuat pagi Celine jauh lebih buruk. Dia teringat betapa menyebalkannya laki-laki di depannya semalam.

"Ngapain kamu datang? Mau mastiin aku udah sembuh?" tanya Celine, matanya menatap ke arah rantang mini di tangan laki-laki itu. "sweet banget ya, tahu aku sakit langsung dibawain makanan. Tapi maaf aku udah makan! Udah kan? Sekarang kamu bisa pergi."

Gabriel menarik napas panjang, menantang Celine dengan tatapan tajam. Hal itu menyulut amarah perempuan di depannya, ia berkacak pinggang yang secara otomatis memberi Gabriel akses penuh untuk masuk.

"Tante nitipin aku ini tadi pagi, aku beli dari warung. Kata tante sih mana tahu kamu gak selera makan. Beliau juga bilang kalau kamu ngeyel masuk sekolah biar aku yang jaga, jadi jangan kepedean karna aku perhatikan," kata Gabriel. "Ini sebatas formalitas tentangga baik hati. Tapi setelah kulihat, kau baik-baik aja tampaknya. Berenergi banget!"

Gabriel lebih dulu melangkah menuju meja makan, mendapati Herry yang sudah selesai makan dan siap untuk berangkat. Supir sudah menunggu di luar rumah.

"Duluan aja Herry, gak usah tunggu kakakmu. Dia berangkat samaku," tukas Gabriel.

"Oke, kak!"

Celine hendak protes, tapi mulutnya sudah terlebih dahulu dibekap oleh Gabriel yang tidak ingin mendengar bantahan. Celine menahan napas sesaat begitu rantang dibuka, semerbak aroma bubur ayam membuatnya meneguk ludah kasar. Perutnya seolah meronta, tapi ia memilih untuk memalingkan wajah.

"Gak mau?"

"Enggak, udah makan kok tadi," katanya.

"Yaudah kalau gitu, aku yang makan."

Celine melotot horor melihat Gabriel yang sedang meniup bubur ayam yang masih mengepul, mengundang selera Celine yang tenggorakannya mulai basah.

Benar-benar makanan orang sakit.

"Mama tadi bilang nitip sama kamu? Karna ini dari mama bakal aku makan!" kata Celine lantas merebut rantang, dia mengaduk buburnya sebentar.

"Gengsi selangit, gak mau ngalah banget. Bilang mau aja susah,"

"Berisik!" cetus Celine lantas mengambil suapan pertama. Rasa kaldu ayam memenuhi rongga mulutnya, seolah merangsang indra penyecapnya.

Untuk pertama kalinya Celine dapat menerima keberadaan Gabriel dalam radarnya. Bahkan membiarkan Gabriel mengantar dirinya sampai di parkiran sekolah. Perempuan itu mengeratkan cardigannya begitu turun dari motor.

"Makasih," kata Celine singkat tanpa menoleh.

"Apa, gak dengar,"

Celine mengulum bibirnya, senyumnya culas, mengeja kata yang dia ucapkan. "Ma-ka-sih!" ketusnya.

"Kelihatan banget gak ikhlasnya,"

"Emang!" seru Celine. Ia mengambil langkah lebar menjauh dari parkiran, meninggalkan Gabriel seorang diri yang kini menatap punggungnya penuh makna.

Tepat di gerbang sekolah, Ares yang baru saja melangkah, berhenti sesaat. Ia mengepalkan kedua tangannya begitu perasaan kesal menggerogoti rongga dadanya. Matanya menyipit ketika memperhatikan interaksi dari dua orang yang dikenal tidak pernah akrab. Dia merasa Celine telah membohongi dirinya.

Ares mengehela napas gusar, meletakkan tangannya di saku celana, berjalan melewati parkiran. Dengan sengaja berhenti di sebelah Gabriel yang masih mematung di tempatnya.

Ia berkata tanpa pertimbangan, "Hubungan kalian tampak lebih baik dari sebelumnya."

Gabriel menoleh, menaikkan sebelah alisnya. Ia tersenyum sinis. "Masalahnya denganmu?"

"Aku hanya merasa kasihan second choice," kata Ares lantas melanjutkan langkah. Enggan melihat ekspresi Gabriel yang diliputi kekesalan. Laki-laki itu tampak begitu marah, jemarinya memutih karena terlalu kuat dikepal.

"Berengsek, maksudnya apa. Ngerasa udah hebat banget?"

Sedangkan Ares kini duduk anteng di bangkunya, bahkan Bian yang sedari tadi berusaha mengalihkan atensinya tidak digubris. Pikirannya berperang dengan sesuatu hal yang sedari tadi mengusik.

Semenjak dia melangkah masuk ke dalam kelas, tak sekalipun Celine menoleh ke arahnya. Perempuan itu sibuk membenarkan posisinya, mengeratkan kedua tangan. Bibirnya tampak gemetar.

Apa yang terjadi, pikirnya.

Namun dia tidak melakukan apa pun, ia menoleh ke arah jendela. Matanya sibuk menatap sepasang burung merpati yang bertengger pada dahan pohon yang menjulang tinggi di taman sekolah.

"Apa mereka jauh lebih dekat akhir-akhir ini?" batinnya.

"Weh dengar gak sih apa yang kubilang dari tadi. Capek dah ngomong panjang lebar dianggap radio rusak!" seru Bian kesal. Dia menarik napas gusar, menatap tajam pada Ares yang akhirnya memberi sedikit perhatian.

"Diem, mending kau buka buku. Baca, biar nanti gak planga plongo waktu kuis. Bentar lagi masuk, malah bahas yang tidak perlu."

Bukan berarti Ares tidak mendengar apa yang dibicarakan Bian sejak tadi. Tentang seorang perempuan yang menarik perhatiannya, cantik katanya, baik pula. Anak 11 IPS 2, begitu informasi yang didapatnya.

"Peace," Bian cengengesan.

Dari meja sebelah Berlian dibuat panik setengah mati melihat wajah pucat Celine. Dia memeriksa suhu tubuh temannya itu, ia meringis. "Udah sepanas ini masih maksa masuk? Ngadi-ngadi banget elah!"

Ares menoleh, dahinya mengerut.

1
seonghyeon
cemburu? ngakak
seonghyeon
author jadi ini sama anak tetangga atau my crush nih
Suzie: 🤭 itu rahasia negara
total 3 replies
seonghyeon
semangat author, ditunggu bab berikutnya /Tongue/
seonghyeon
lama-lama kesel sama ares
seonghyeon
gila ceritanya penuh emosi banget, absolut sinema banget sih ini
seonghyeon
yah gambar Celine lah /Proud/
seonghyeon
antara orang lama atau orang baru/Doge/
seonghyeon: orang baru sih/Applaud/
total 2 replies
seonghyeon
ah sepertinya sama-sama pengagum rahasia nih
seonghyeon
bian ikut campur bangett /Curse/
seonghyeon
sengaja berarti,bangsut/Curse/
Suzie: 🤣 aduhh jangan gituu
🤭
total 1 replies
seonghyeon
Bagus banget author cocok nih yang suka gendre percintaan+komedi anak sekolahan.🥰

Salut banget sih author lucu gemes
Suzie: 🤭 senang dehh, kalo sukaa😍
total 1 replies
seonghyeon
lucu banget pliss, sampe lupa waktu gua baca perbab kemudian perbab lagi /Facepalm//Facepalm/
seonghyeon
dipegang nih/Slight/
seonghyeon
kalo aku malu kepikiran tujuh turunan itu 🗿
seonghyeon
hm, senyum "sendiri gw/Facepalm//Facepalm/
seonghyeon
jangan bilang kita Ares itu pemberian Jasmine /Determined//Determined/
seonghyeon: *itu bukan kita,typo thor 🗿
total 1 replies
seonghyeon
😭😭
seonghyeon
ngakak /Facepalm/
seonghyeon
guna-guna nggak tuh /Bye-Bye/
seonghyeon
aku curiga sama Gabriel /Doge/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!