NovelToon NovelToon
Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cilia

Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

XXXII - Foto yang Bocor

TING!!!

TING!!!

TING!!!

Pukul 05.30, ponsel Kirana berdering berkali-kali sebelum akhirnya ia terbangun dan meraihnya dari nakas. Belasan notifikasi memenuhi layar, semuanya dari Nadia.

Kir, bangun. Sekarang.

Foto itu udah tersebar.

Ada di semua portal berita besar.

Kirana duduk tegak, jantungnya berdegup cepat. Ia membuka salah satu portal berita yang dikirim Nadia, dan di sana, di halaman utama, foto dirinya bersama Radit di parkiran basement gedung Wibowo Group terpampang jelas, judulnya tertulis besar: "Terungkap! Momen Intim CEO Cipta Prada Land dan CEO Wibowo Group di Tengah Krisis Bisnis Kedua Perusahaan".

Jarinya meng-scroll layar ponselnya ke bawah, membaca sekilas isi artikel itu. Sumbernya ditulis "orang dalam yang enggan disebutkan namanya", tapi Kirana tau persis siapa yang dimaksud media tersebut.

Ponselnya berdering. Nadia menelepon.

"Kir, lu udah liat?" Nadia bertanya, suaranya panik.

"Udah," Kirana menjawab, suaranya nyaris tidak keluar. "Gimana ini bisa sampe ke media besar? Dia bilang mau kasih kesempatan, tapi —"

"Kayaknya dia berubah pikiran," Nadia memotong. "Atau emang dari awal dia nggak pernah niat buat nahan diri."

Kirana turun dari ranjang, berjalan cepat ke ruang tamu apartemennya, menyalakan televisi. Hampir semua saluran berita pagi membahas hal yang sama, beberapa bahkan sudah mengundang narasumber untuk membahas "skandal" ini, lengkap dengan analisis dan spekulasi yang semakin liar setiap detiknya.

"Gua harus ngapain, Nad?" Kirana bertanya, suaranya bergetar menahan panik yang mulai naik.

"Sekarang, jangan komentar apa-apa dulu ke media," Nadia berkata. "Gua udah hubungi tim humas, mereka lagi siapin pernyataan buat perusahaan. Tapi soal foto pribadi lu, itu di luar kendali kita."

"Gua harus telepon Radit," Kirana berkata.

"Tenang dulu, Kir," Nadia berkata. "Sarapan atau minimal minum air dulu sebelum lu telepon siapa pun. Lu kedengeran kayak mau pingsan"

Kirana tidak menjawab, hanya menarik napas panjang sebelum akhirnya memutus sambungan teleponnya dengan Nadia.

...****************...

Di apartemen Valerie, ia terduduk di lantai dengan punggungnya bersandar ke sofa, matanya masih bengkak karena menangis semalaman. Ponselnya menyala di sampingnya, layarnya menampilkan riwayat pengiriman foto ke salah satu wartawan yang ia kenal lewat ibunya.

Ibunya masuk ke apartemen itu tanpa mengetuk, wajahnya menampakkan emosi marah bercampur dengan cemas begitu melihat berita yang sudah menyebar sejak subuh tadi.

"Val, apa yang kamu lakuin?" ibunya bertanya, suaranya tinggi. "Kamu sebar foto itu sendiri?"

"Aku nggak punya pilihan lain, Ma," Valerie menjawab, suaranya datar, seperti sudah kehabisan tenaga. "Radit udah jelas milih Kirana. Kalau aku nggak lakuin ini, semua yang udah aku korbanin bakal sia-sia."

"Kamu pikir ini bakal bikin Radit balik ke kamu?" ibunya bertanya, nyaris tidak percaya. "Ini bukan cuma ngerusak Kirana, Val. Ini juga ngerusak nama keluarga kita, nama kamu sendiri."

Valerie tidak menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya, membaca komentar demi komentar yang terus bertambah di bawah artikel yang ia sendiri bantu sebarkan.

"Kamu harus siapin pernyataan," ibunya melanjutkan, suaranya mulai lebih tenang meski masih tegang. "Kalau media mulai nanya ke kamu, kamu harus udah punya jawaban."

"Aku nggak tau harus jawab apa, Ma," Valerie berkata, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku nggak nyangka bakal secepat ini nyebarnya. Aku pikir aku bisa kontrol siapa yang liat, kapan, dan gimana."

"Kamu udah nggak bisa kontrol apa pun sekarang," ibunya berkata tajam. "Yang bisa kamu lakuin cuma nunggu dan liat seberapa parah ini nantinya."

Valerie menutup matanya, membiarkan kepalanya bersandar ke sofa di belakangnya. Untuk pertama kalinya sejak semua rencana ini dimulai, ia merasa benar-benar kehilangan kendali atas segalanya.

...****************...

Di kantor Wibowo Group, Farrel sudah menunggu di depan pintu ruang kerja Radit begitu Radit tiba pukul 09.00, wajahnya terlihat tegang.

"Dit, lu harus liat ini sebelum masuk," Farrel berkata, menyodorkan tabletnya.

Radit membaca judul berita itu, rahangnya mengeras seketika. "Dia beneran lakuin ini."

"Sejak subuh tadi, berita ini udah jadi topik nomor satu di media sosial," Farrel berkata, mengikuti Radit masuk ke ruang kerjanya. "Bukan cuma media ekonomi, media hiburan juga ikut angkat berita ini. Orang-orang mulai spekulasi macem-macem soal hubungan lu sama Kirana, soal alasan lu batalin… eh, belum resmi batal, sih, tapi orang udah nganggep pertunangan lu sama Valerie dibatalin."

Radit duduk di kursinya, mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. "Saham? Gimana?"

"Baru buka pasar sepuluh menit lalu, udah turun tiga persen," Farrel menjawab. "Kalau ini terus berlanjut, bisa lebih parah dari minggu lalu."

"Tim humas udah nyiapin sesuatu?" Radit bertanya.

"Rancangan pernyataan standar," Farrel menjawab. "Tapi menurut gua itu nggak akan cukup. Orang-orang nggak butuh pernyataan formal lagi, Dit. Mereka butuh lu ngomong langsung, jujur, bukan lewat kalimat yang disusun tim humas."

DRRTT.

Ponsel Radit bergetar. Pesan dari Hartono.

Ke rumah sekarang. Ini sudah keterlaluan.

Radit menatap pesan itu lama sebelum meletakkan ponselnya kembali ke meja.

"Lu mau ke sana?" Farrel bertanya, ia mengintip sekilas pesan dari Hartono yang diterima Radit.

"Nanti," Radit menjawab. "Sekarang gua harus mikirin cara ngadepin ini semua dulu. Ayah gua bisa nunggu."

Farrel duduk di kursi seberang meja, memperhatikan Radit yang masih menatap layar tabletnya, membaca komentar demi komentar yang terus bertambah di setiap portal berita.

"Lu mau ngapain, Dit?" Farrel bertanya. "Diem aja bukan pilihan lagi sekarang. Semua orang nunggu reaksi lu."

"Gua tau," Radit menjawab. "Tapi gua nggak mau bikin pernyataan buru-buru cuma buat nenangin netizen sesaat. Kalau gua bicara, gua Cuma bisa bicara sekali, dan itu harus jelas."

"Berarti lu udah punya rencana?" Farrel bertanya, alisnya terangkat.

"Belum, sih," Radit mengaku. "Tapi gua tau satu hal. Gua nggak mau lagi biarin orang lain yang nentuin gimana cerita ini diceritain ke publik."

"Lu udah kabarin Kirana?" Farrel bertanya.

"Belum," Radit menjawab. "Gua mau selesai mikir dulu sebelum ngomong sama dia. Dia pasti lagi kacau juga di sana."

Farrel mengangguk, lalu berdiri untuk keluar dari ruang kerja Radit. "Gua siapin tim humas biar selalu standby, siapa tau lu butuh mereka cepat. Tapi keputusan tetep di tangan lu, Dit."

"Makasih, Rel," Radit berkata, menatap layar tabletnya sekali lagi sebelum meletakkannya menghadap ke bawah.

...****************...

Siang itu, Kirana menghubungi Radit lewat telepon, suaranya masih menyimpan sisa syok sejak pagi tadi.

"Gimana keadaan di sana?" Kirana bertanya.

"Kacau," Radit menjawab jujur. "Saham turun, media nggak berhenti ngehubungin kantor aku, dan Ayah udah nyuruh aku pulang dari tadi."

"Kamu udah ketemu Ayah?" Kirana bertanya.

"Belum," Radit menjawab. "Aku masih di kantor. Ada hal lain yang lebih penting buat aku pikirin sekarang."

"Aku minta maaf, Dit," Kirana berkata pelan. "Ini semua gara-gara aku."

"Jangan bilang gitu," Radit memotong cepat. "Ini bukan salah kamu. Ini salah Valerie yang milih cara paling buruk buat nyelesain masalahnya sendiri."

"Tapi kalau aku nggak pernah balik ke hidup kamu lagi," Kirana berkata, suaranya mulai bergetar, "mungkin… Mungkin masalahnya nggak akan sejauh ini. Pertunangan kamu nggak akan terancam, saham Wibowo Group nggak akan anjlok, keluarga kamu juga nggak akan terpecah kayak sekarang."

"Kirana, dengerin aku," Radit berkata tegas. "Kalau aku harus milih lagi, aku tetep akan milih jalan yang sama. Aku nggak pernah nyesel sama satu detik pun waktu yang udah kita lewatin lagi bareng, meskipun harganya mahal banget kayak sekarang ini."

Hening sesaat di ujung telepon.

"Aku udah capek diem, Kirana," Radit berkata akhirnya, suaranya lebih tenang. "Aku capek biarin orang lain yang nentuin cerita kita..."

"Maksud kamu?" Kirana bertanya, meski sesuatu di dalam dirinya sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Aku mau ambil alih semuanya," Radit berkata tegas. "Aku mau ngomong sendiri ke publik, sebelum orang lain yang ngomong ngatas namain kita. Bukan lewat pernyataan tim humas, bukan lewat spekulasi media. Aku sendiri, di depan kamera, ngomong yang sebenarnya."

"Kamu yakin?" Kirana bertanya. "Setelah semua yang udah terjadi minggu ini, kamu masih mau ambil risiko lagi?"

"Aku lebih takut kalau kita terus diem," Radit menjawab. "Diem cuma bikin orang lain terus nulis cerita versi mereka sendiri soal kita. Udah waktunya kita yang pegang kendali."

"Gimana caranya?" Kirana bertanya. "Konferensi pers lagi? Atau pernyataan tertulis?"

"Belum tau," Radit menjawab. "Tapi aku mau kamu ada di sana bareng aku, kalau kamu mau. Bukan buat ngasih pernyataan bareng, tapi biar orang liat kita berdua berdiri di sisi yang sama, bukan sembunyi-sembunyi kayak yang mereka gambarin di media."

Kirana terdiam sesaat, mempertimbangkan tawaran itu. "Aku perlu waktu buat mikirin ini, Dit."

"Nggak perlu buru-buru jawab sekarang," Radit berkata. Ia menutup telepon setelah memastikan Kirana akan baik-baik saja, lalu duduk kembali di kursinya, menatap kosong ke layar tablet yang masih menampilkan berita yang terus bertambah.

Ia sudah memutuskan. Dia yang harus bicara lebih dulu, sebelum orang lain yang berbicara — dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil alih narasi itu darinya.

1
MayAyunda
cerita bagus aku suka
Scheiv
Greget bangetttt sumpah benci sama hartono😭
MayAyunda
lanjut kak
ArsyilaQi
keren nih
Arni Arlinawati pratiwi
bau bau cowo yang patah hati nih.. udah embat aja thor di bikin cowok lu thor, sian..
Arni Arlinawati pratiwi
udah dit.. balikan lagi jug, /Tongue/
author_rabbit18✍︎
deg-degan ini pasti
Ade Chubi
karya yg bagus bikin deg deg an sport jantung
Cilia: Makasih banyak kak review nya❤️
total 1 replies
Nnisa
semangat kak 😍💪
author_rabbit18✍︎
jodoh kali
MayAyunda
awal aja sudah keren ..lanjut ..👍👍
Arni Arlinawati pratiwi
hah.. gak ngeri lagi sama pembawaan narasi mu kak.. nangis aku, kalau kaka orang sunda makin bangga aja aku.. /Cry/
Arni Arlinawati pratiwi: kan suhuuuuuu.. butuh elmu na thor lah, hayang jiga kitu, lah..
total 2 replies
Arni Arlinawati pratiwi
suka nanget ih bawain narasinya, author suhu dengan sebidang ilmu.. lah aku apalah daya ku minim pencerahan, 🤣🤣🤣
Cilia: Terimakasih udah suka❤️ yuk bisa riset2 biar bikin cerita kakak jadi lebih menarik😆
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kayaknya aku tau deh kemana ceritanya.. tapi simak lagi yu, seru nih.. kepo tetep, /Proud/
Arni Arlinawati pratiwi
ketemu mantan ya anda..!
Arni Arlinawati pratiwi
lah malah jadi musuh, saingan kerjaan
Cilia: Ada plot twist nanti mak, lanjut baca terus yaahh
total 1 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kan bener.. 🤭
Arni Arlinawati pratiwi
emmm.. mantan toh, /Chuckle/
Scheiv
🥹
Scheiv
Betul
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!