Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Senja mulai menyelimuti langit.
Cahaya jingga yang hangat memantul di kaca mobil hitam yang melaju perlahan meninggalkan taman kota. Jalanan tidak terlalu ramai. Pohon-pohon di sepanjang jalan bergoyang pelan tertiup angin sore.
Di kursi belakang, Layla memeluk boneka kelinci kesayangannya sambil sesekali melihat ke luar jendela.
Namun, senyum di wajah gadis kecil itu tidak kunjung hilang.
Ahber yang sedang menyetir melirik putrinya melalui kaca spion.
Sudah beberapa kali ia melihat Layla tersenyum sendiri.
"Ada apa?"
Layla langsung menoleh.
"Hm?"
"Sejak tadi senyum terus."
Layla terkikik kecil.
"Hehe..."
"Ceritanya lucu?"
"Iya."
"Ayah juga boleh dengar?"
Layla mengangguk cepat.
"Hari ini Layla senang sekali."
"Karena main ayunan?"
"Bukan."
"Karena makan es krim?"
"Bukan juga."
Ahber tersenyum tipis.
"Lalu karena apa?"
Layla memeluk boneka kelincinya lebih erat.
"Karena Layla punya teman."
Ahber kembali melirik melalui kaca spion.
"Raka?"
"Iya!"
"Dia baik sekali."
"Dia pinjamkan Layla pesawat kertas."
"Terus dia bilang nanti mau ngajarin Layla bikin."
Ahber mendengarkan tanpa menyela.
"Ayah..."
"Hm?"
"Kalau nanti ketemu lagi..."
"...Layla mau kasih gambar buat Raka."
"Gambar apa?"
"Gambar taman."
"Kenapa taman?"
"Soalnya kita ketemu di taman."
Ahber tersenyum hangat.
"Itu ide yang bagus."
Layla terlihat semakin bersemangat.
"Ayah tahu?"
"Apa?"
"Raka juga suka gambar."
"Oh ya?"
"Iya."
"Berarti kalian punya hobi yang sama."
Layla mengangguk berkali-kali.
"Iya!"
Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki halaman rumah.
Begitu mobil berhenti, Layla langsung membuka pintu.
"Papa, cepat!"
Ahber tertawa kecil.
"Pelan-pelan."
"Nanti jatuh."
"Aku nggak bakal jatuh."
Layla berlari kecil menuju pintu rumah sambil menunggu Ahber membuka kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Rumah yang semula sunyi perlahan dipenuhi suara langkah kaki kecil Layla.
"Aku pulang!"
Tentu saja tidak ada jawaban.
Namun Layla tetap tersenyum.
Ia memang sudah terbiasa menyapa rumah setiap kali pulang.
Ahber meletakkan tas kerjanya di atas meja.
Hari itu ia sengaja tidak membawa pekerjaan kantor pulang.
Ia ingin menghabiskan malam bersama Layla.
"Papa."
"Iya?"
"Lapar."
Ahber mengangguk.
"Kalau begitu kita masak."
"Mie?"
"Bukan."
"Nasi goreng?"
"Bukan."
Layla memiringkan kepalanya.
"Lalu?"
Ahber tersenyum tipis.
"Hari ini Papa mau coba bikin sup ayam."
Mata Layla langsung membesar.
"Serius?"
"Iya."
"Nggak keasinan?"
Ahber tertawa.
"Itu sudah lama."
"Papa sekarang sudah belajar."
Layla tertawa geli.
"Kalau asin lagi?"
"Kita pesan makanan."
"Hahaha!"
Suara tawa mereka memenuhi rumah yang selama bertahun-tahun hanya dihiasi keheningan.
Beberapa menit kemudian...
Mereka berdiri berdampingan di dapur.
Layla mendapat tugas mencuci wortel kecil.
Sementara Ahber memotong sayuran dengan hati-hati.
"Papa."
"Hm?"
"Kalau Mama masih ada..."
"...Mama pasti senang lihat Papa masak."
Tangan Ahber berhenti sesaat.
Ia menarik napas pelan.
"Mungkin."
"Tapi sekarang Papa masak buat Layla."
Layla tersenyum lebar.
"Berarti Layla beruntung."
Ahber mengusap kepala putrinya.
"Iya."
"Papa juga beruntung punya Layla."
Tak lama kemudian aroma sup ayam mulai memenuhi dapur.
Layla menghirup aromanya dalam-dalam.
"Wangi."
"Semoga rasanya juga enak."
Setelah makan malam selesai, Layla berlari mengambil buku gambar dan kotak krayon.
Ia duduk di karpet ruang keluarga.
"Papa."
"Iya?"
"Aku mau gambar."
"Gambar apa?"
"Teman baru."
Ahber duduk di sofa sambil memperhatikan putrinya.
Layla mulai menggoreskan krayon warna-warni.
Perlahan terbentuk gambar dua anak kecil yang sedang berdiri di bawah pohon.
Di samping mereka ada sebuah ayunan.
"Sudah selesai."
Layla mengangkat hasil gambarnya dengan bangga.
"Bagaimana?"
Ahber menerima gambar itu.
Senyumnya perlahan mengembang.
"Bagus sekali."
"Ini Layla."
Layla menunjuk gadis kecil di gambar.
"Yang ini Raka."
Ahber mengangguk.
"Lalu ini?"
"Itu Papa."
"Papa lagi duduk di bangku."
Ahber tertawa kecil.
"Ternyata Papa juga digambar."
"Iya."
"Soalnya Papa selalu jagain Layla."
Ucapan sederhana itu membuat hati Ahber terasa hangat.
Ia memeluk putrinya.
"Terima kasih."
Layla membalas pelukan itu.
"Papa."
"Hm?"
"Besok kita ke taman lagi, ya?"
Ahber terdiam beberapa detik.
Kemudian ia mengangguk.
"Kalau pekerjaan Papa sudah selesai..."
"...kita pergi lagi."
Layla langsung mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji?"
Ahber mengaitkan jari kelingkingnya.
"Janji."
Malam semakin larut.
Setelah membacakan sebuah dongeng, Ahber menyelimuti Layla yang sudah mulai mengantuk.
"Selamat tidur."
Layla tersenyum kecil.
"Selamat tidur, Papa."
Tak lama kemudian gadis kecil itu tertidur pulas sambil memeluk boneka kelincinya.
Ahber mematikan lampu kamar, lalu berjalan keluar dengan langkah pelan.
Ia berhenti di ruang keluarga.
Matanya kembali tertuju pada gambar buatan Layla yang masih berada di atas meja.
Dua anak kecil.
Satu pertemuan sederhana.
Tak ada yang menyangka...
Bahwa pertemuan singkat di taman itu adalah awal dari sebuah takdir yang perlahan akan menghubungkan kembali kisah-kisah lama yang telah terpisah selama lima belas tahun.
Di suatu tempat yang lain...
Seorang anak laki-laki juga masih menyimpan pesawat kertas di samping tempat tidurnya.
Sebelum memejamkan mata, ia berbisik pelan,
"Semoga aku bisa bertemu Layla lagi."
Tanpa mereka sadari...
Takdir telah mulai bergerak.
like + bunga biar semangat deh/Smile/