Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Si Pembunuh.
Mengingat pemberitaan tentang pembunuh berantai yang pernah diceritakan Hwi Sol Oppa, aku langsung berlari menuju kamarnya dan menceritakan semua yang baru saja terjadi.
"Seolhwa, tenang dulu, ya. Tenang." Hwi Sol Oppa menuntunku untuk duduk. "Oppa akan menghubungi Taeseo dan memintanya menyelidiki masalah ini."
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, Oppa?" suaraku bergetar. "Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Minseo."
Melihat kepanikanku, Hwi Sol Oppa segera memelukku erat. Kehangatan tubuhnya sedikit demi sedikit meredakan gemuruh ketakutan di dadaku. Tangannya mengusap rambutku dengan lembut, berusaha menenangkanku.
"Minseo akan baik-baik saja. Oke?" ujarnya pelan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Taeseo Oppa datang bersama beberapa anggota timnya. Ia memintaku memutar ulang panggilan terakhir dari Minseo.
Tanpa membuang waktu, mereka segera melakukan investigasi dan melacak lokasi terakhir ponsel Minseo. Syukurlah, ponselnya masih aktif sehingga lokasi terakhirnya dapat ditemukan dengan cepat.
Aku dan Hwi Sol Oppa mengikuti mobil polisi dari belakang.
Sesampainya di lokasi, sebuah mobil terlihat terparkir di tepi jalan dengan salah satu pintunya masih terbuka. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Minseo di dalamnya.
Jantungku seketika berdegup semakin cepat.
Yang lebih mengerikan, bercak-bercak darah terlihat di sekitar jalan dan di bagian depan mobil tersebut.
Tim kepolisian segera menyisir area sekitar. Aku hanya bisa menunggu dengan cemas sambil menggenggam erat ujung pakaianku.
Tak lama kemudian, salah seorang petugas berteriak memberi tanda.
Minseo ditemukan.
Tubuhnya tergeletak di sebuah tanah lapang yang gelap di samping jalan.
Aku menatap dari kejauhan dengan napas yang terasa tercekat.
Ya Tuhan... tolong selamatkan sahabatku.
Aku terus mengulang doa itu dalam hati.
Beberapa petugas bergegas memeriksa kondisinya. Saat mereka mengangkat tubuh Minseo, aku akhirnya bisa bernapas lega.
Minseo masih hidup.
Namun, tubuhnya telah berlumuran darah, dan wajahnya tampak pucat tak berdaya.
Minseo segera dilarikan ke rumah sakit.
Aku dan Hwi Sol Oppa mengikuti ambulans yang membawanya dengan perasaan cemas yang tak terkira.
Sepanjang perjalanan, Oppa mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tanganku erat. Sesekali ia mengusap punggung tanganku, berusaha menenangkanku yang sejak tadi tak mampu berhenti gemetar.
"Minseo akan baik-baik saja, Seolhwa," ucapnya lembut.
Aku hanya mampu mengangguk pelan meski hatiku dipenuhi ketakutan.
Sesampainya di rumah sakit, Minseo segera mendapatkan penanganan darurat. Tak lama kemudian, kedua orang tuanya datang dengan wajah pucat dan penuh kecemasan.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Aku terus menatap pintu ruang perawatan yang tertutup rapat sambil memanjatkan doa dalam diam.
Sekitar dua jam kemudian, dokter akhirnya keluar.
Kami semua segera berdiri menghampirinya.
"Pasien berhasil melewati masa kritis," ujar dokter. "Terdapat robekan pada bagian kepala akibat pukulan keras sehingga harus dijahit. Namun, syukurlah kondisinya tidak sampai memerlukan operasi."
Aku mengembuskan napas lega yang sejak tadi tertahan.
"Selain itu, kami tidak menemukan tanda-tanda kekerasan seksual pada tubuh korban. Akan tetapi, terdapat beberapa luka sayatan pada area tangan dan sekitar bibirnya. Kemungkinan besar pasien juga akan mengalami trauma psikologis setelah kejadian ini."
Setelah dokter selesai menjelaskan, suasana mendadak terasa sunyi.
Dadaku terasa sesak.
Tubuhku mendadak kehilangan tenaga.
"Oppa..." lirihku dengan suara bergetar. "Ini semua salahku. Kalau saja Minseo tidak mengantarku pulang malam itu, semua ini tidak akan terjadi padanya."
Air mataku kembali jatuh.
Hwi Sol Oppa segera menggeleng.
"Bukan. Ini bukan salahmu, Seolhwa."
Tatapannya begitu tegas saat menatapku.
"Apa pun yang terjadi pada manusia sudah menjadi bagian dari ketetapan-Nya. Orang yang bersalah dalam kejadian ini adalah pelakunya, bukan dirimu."
Aku menunduk sambil mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat.
Bayangan Minseo yang terbaring tak berdaya di tanah lapang kembali terlintas di kepalaku.
Rasa takut perlahan berubah menjadi kemarahan.
"Aku ingin pembunuh itu menerima balasan atas perbuatannya, Oppa," kataku dengan suara bergetar menahan emosi. "Aku sangat membencinya."
Hwi Sol Oppa terdiam beberapa saat sebelum mengusap lembut puncak kepalaku.
"Dia akan mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya," ucapnya pelan.
***
Di sisi lain, Taeseo dan timnya masih sibuk melakukan penyelidikan.
Semua bukti yang ditemukan di lokasi kejadian mengarah pada satu kesimpulan yang sama.
Pelakunya kemungkinan besar adalah pembunuh berantai yang selama ini mereka buru.
Namun, ada sesuatu yang terasa janggal.
Pola serangannya berbeda.
Korban memang diculik dan disakiti, tetapi tidak dibunuh.
Taeseo berdiri di depan papan investigasi sambil menatap foto-foto korban yang tertempel di sana. Keningnya berkerut, berusaha menyusun kepingan-kepingan fakta yang belum menemukan jawabannya.
"Kalau memang ini dilakukan oleh orang yang sama," ujar salah seorang anggota timnya, "mengapa dia tidak membunuh korban?"
Ruangan itu mendadak hening.
Anggota tim tersebut melanjutkan, "Dia juga tidak melakukan kekerasan seksual seperti yang terjadi pada korban-korban sebelumnya."
Taeseo tetap diam.
Tatapannya berpindah dari foto Minseo ke foto para korban lain yang telah meninggal.
Semakin lama ia memperhatikan, semakin jelas perbedaan pola itu terlihat.
Bukan hanya caranya menyerang.
Motifnya pun terasa berbeda.
Jari Taeseo mengetuk pelan meja di hadapannya.
Otaknya bekerja keras mencari kemungkinan yang selama ini terlewat.
Lalu sebuah dugaan tiba-tiba muncul di benaknya.
Tatapan matanya berubah tajam.
"Mungkinkah..." gumamnya pelan.
Ia kembali menatap foto Minseo.
"Mungkinkah ini bukan sekadar pembunuhan berantai?"
Sebuah firasat buruk merayapi pikirannya.
"Mungkinkah pelaku menyimpan dendam pribadi terhadap korban?"
Tak lama setelah itu, Taeseo menghubungi Hwi Sol.
Ia mengatakan bahwa dirinya membutuhkan kesaksian Seolhwa. Ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan sebagai bagian dari penyelidikan, mengingat Seolhwa adalah sahabat korban dan menghabiskan hampir sepanjang hari bersama Minseo sebelum kejadian terjadi.
Seolhwa pun langsung menyatakan kesediaannya untuk membantu.
Kurang dari lima belas menit kemudian, Hwi Sol dan Seolhwa tiba di kantor polisi.
Meski berusaha terlihat tenang, Seolhwa tetap merasa gugup saat memasuki ruang pemeriksaan.
"Seolhwa," ujar Taeseo lembut. "Kamu tidak perlu khawatir. Jawab saja pertanyaan yang memang kamu ketahui."
Aku mengangguk pelan.
"Baik, Oppa."
Taeseo membuka buku catatannya sebelum mulai bertanya.
"Apa ada sesuatu yang aneh atau mencurigakan selama kamu bersama Minseo hari ini?"
Aku mengernyit, berusaha mengingat.
"Bisa ceritakan secara detail ke mana saja kalian pergi dan siapa saja yang kalian temui?"
Aku menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Pagi tadi Minseo menjemputku untuk pergi ke toko rotiku. Karena kami sudah lama tidak bertemu, dia memilih menemaniku bekerja."
Aku berhenti sejenak, mencoba mengingat setiap detail.
"Sebagian besar waktu dia berada di ruanganku. Bahkan sempat tertidur di sana."
Taeseo mencatat keteranganku.
"Setelah itu?"
"Kami makan siang di sebuah kedai kaki lima dekat toko. Lalu kembali ke bakery. Menjelang sore, kami pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja beberapa kebutuhan."
Taeseo mengangguk pelan.
Lalu ia mengangkat pandangannya dan menatapku lekat.
"Selama di tempat-tempat itu, apa ada seseorang yang memperhatikan kalian? Mengikuti kalian? Atau melakukan sesuatu yang menurutmu tidak biasa?"
Aku menggeleng.
"Seingatku tidak ada."
Ruangan itu mendadak hening.
Taeseo menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Coba ingat sekali lagi, Seolhwa."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini terdengar lebih serius.
"Terkadang petunjuk paling penting justru berasal dari hal-hal kecil yang kita anggap tidak berarti."
Aku menunduk.
Memaksakan diriku mengingat setiap kejadian sejak pagi.
Kedai makan.
Bakery.
Pusat perbelanjaan.
Tempat parkir.
Orang-orang yang berpapasan dengan kami.
Aku memejamkan mata selama beberapa detik.
Lalu tiba-tiba sebuah kejadian terlintas di benakku.
Mataku langsung terbuka.
"Tunggu..."
Aku menatap Taeseo dan Hwi Sol secara bergantian.
"Ada satu hal yang baru saja kuingat."