masa lalu terkadang bisa membuat semua di masa depan berantakan. dia yang berasal dari masa lauku, dia yang sudah lama aku lupakan. datang lagi tanpa pemberitahuan.
aku harus bagaimana menanggapi perjodohan ini. setauku dia mencintai wanita lain dan bukannya aku. tapi ini permintaan mendiang ibuku
apa aku boleh menjadi anak yang tidak patuh akan permintaan terakhir ibuku...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiapuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senin kelabu
Senin pagi walau masih di selimuti rasa kesal, aku tetap melakukan tugas sebagai seorang istri. Hari ini toko sengaja aku minta untuk buka setengah hari saja.
"Good morning honey." Keenan mencium pipiku begitu sampai di ruang makan.
"Sayang, mba Ari mana ya?" Tanya Keenan mencari ART rumah kami.
"Mba Ari lagi di taman belakang." Jawabku singkat padat dan jelas.
"Di belakang nggak ada yang bawa HT ya?" Tanya Keenan padaku lagi.
"Tadi ada tukang bebersih kebun, aku yang minta mba Ari buat ngawasin." Jawabku tanpa menatapnya, aku memilih untuk mengemasi kotak bekal makan siang untuk Keenan.
"Ayo makan dulu." Ajak Keenan yang ku jawab dengan anggukan saja.
"Ini bekal untuk kakak." Kataku memberinya kotak bekal dan botol minum 1.5 liter.
"Udah aku bawain bekal dari rumah. Kalo sampe Keenan makan siang sama orang lain. Awas aja ya." Batinku.
"Makasih banyak istriku." Keenan mencium telapak tangannya dan meniupkannya ke arahku.
"Tangkap dong kiss dari aku hon." Katanya sedikit merajuk.
"Kakak nih geli bangeeeet." Kataku akhirnya sedikit menahan tawa.
Selesai sarapan aku mengantar Keenan ke depan rumah.
"Nanti bilangin mba Ari ya suruh bersihin kama tamu." Katanya menitip pesan.
"Aku berangkat dulu. Ya kalo ada apa apa hubungin aku. Kalo di telfon angkat ya ma Cherie, kadang rindu itu datang secara mendadak." Katanya yang hanya ku angguki.
Keenan mengecup keningku, menyatukan hidung kami dan saat dia akan mengecup bibirku aku sedikit mundur.
"Apa kita belum maafan?" Katanya bingung.
"Kakak berangkat gih. Hati hati ya." Kataku memutar badannya dan sedikit memaksanya beranjak dari tempatnya tadi.
"Semangat kerjanya ya." Kataku saat Keenan membuka jendela kaca mobilnya.
Aku dan Keenan saling melambaikan tangan satu sama lain.
00
Hari ini aku lebih memilih berangkat ke pemakaman mama di banding bekerja.
Hatiku rasanya belum sepenuhnya rela dengan penjelasan Keenan kemarin.
Aku memarkirkan mobilku di pemakaman umum. Dan segera keluar membawa payung karna begitu sampai di sana cuaca berubah gerimis.
Aku meletakkan buket bunga mawar putih kesukaan mamaku di dekat batu nisannya.
"Selamat pagi ma." Sapaku sambil mengusap batu nisan mama.
"Ma, apa mama ngerasain sakitnya di selingkuhi seperti aku sekarang ini selama bertahun-tahun? Apa mama menahan sakit itu?" Tanyaku yang aku yakin nggak akan ada yang menjawabnya, aku hanya mencoba tersenyum.
"Ma, seandainya mama masih hidup. Mama pasti bakal ceritain pengalaman mama, mama pasti bakal kasih tau Nana caranya untuk tetap kuat walau di khianati sama papa. Mama pasti bakal jadi orang pertama yang kuatin nana kaaan." Tak terasa air mataku turun dengan deras seperti hujan yang sekarang semakin deras.
"Ma, Nana bahagia kok. Jujur saja Nana bahagia bisa nikah sama orang yang selama ini nana suka. Nana janji bakal jadi sekuat mama. Nana bakal berusaha untuk bisa hidup bareng Keenan terus." Aku mengusap batu nisan itu lagi.
"Nana kangen. Kangeeeeen bangeeet. Nana pengen ketemu mama, Nana pengen peluk mama. Hiks."
Aku menangis, bukan hanya karna rindu dengan mamaku. Tapi juga karna masalah di awal pernikahanku.
"Semoga Keenan beneran udah nggak ada hubungan sama Jasmine, juga sama perempuan lain. Semoga kita bisa sama sama bahagia ya ma. Mama harus bahagia disana ya. Maa, Nana pulang yaa. Ini payungnya Nana taro sini yaa biar mama nggak ke Hujaman." Kataku menancapkan payung ku tadi ke tanah untuk menutupi batu nisan mamaku dari air hujan.
Aku berjalan menjauh dari peristirahatan terakhir mama. Rasanya hujan yang mengguyur tubuhku ini semakin deras.
Aku kaget saat hujan tidak lagi mengenai tubuhku. Aku segera menoleh ke belakang.
"Hai." Sapanya dengan memegang payung ke arahku.
"Hai." Kataku lagi.
"Ah, saya belum berterimakasih secara langsung soal parcel makanan yang di kirim Nana cafe ke kantor saya." Katanya yang kini jadi sedikit basah.
Aku mengarahkan payungnya agar melindunginya dari hujan.
"Harusnya saya yang berterimakasih karna sudah di kirimi hadiah apron yang sangat bagus." Jawabku berusaha tersenyum dengan tulus.
Laki laki di depanku ini bergerak mendekatiku agar kami sama sama tidak terkena hujan.
Kami hanya saling menatap satu sama lain seakan berbagi kesedihan yang di miliki masing masing.
"Ayo saya antar. Anda pasti kedinginan kan." Katanya sangat sopan.
"Terimakasih." Kataku yang mulai berjalan bersama dengannya.
"Selama ini saya hanya melihat name tag anda. Tapi kita belum pernah berkenalan secara resmi." Katanya memulai pembicaraan.
"Nama saya Ibrahim, biasa di panggil Ibra." Ibrahim mengulurkan tangannya.
"Oh, nama saya Nana." Kataku menjabat tangannya.
"Saya lihat dari kejauhan tadi, sepertinya anda sangat menyayangi orang yang terbaring disana ya?" Tanyanya.
"Ia, saya sangat menyayangi mama saya." Kataku singkat.
"Ah saya turut berduka atas kepergian mama anda Nana."
"Terimakasih ya. Kalau Ibra sendiri disini?" Tanyaku padanya.
"Mantan istri saya meninggal 3 tahun lalu. Saya terkadang datang kesini." Jelasnya padaku.
"Ini mobil saya. Terimakasih banyak sudah mengantarkan saya. Sampai jumpa lagi." Kataku berterimakasih padanya.
"Nana sendiri saja?" Tanya Ibra.
"Ia. Saya duluan ya." Kataku menutup jendela kaca mobil dan berjalan menjauh dari area pemakaman.
00
Aku kembali ke rumah untuk mengganti bajuku yang basah karna hujan. Tadinya aku berniat untuk mampir ke toko sebelum tutup. Tapi keadaan berkata lain.
Sampai di rumah ada mobil Keenan terparkir di depan pintu masuk. Biasanya mobil itu parkir di depan pintu jika Keenan sedang buru buru.
Saat aku masuk ke rumah ada sekretaris Keenan yang duduk di sofa ruang tamu sendirian. Yang langsung berdiri dan memberi salam padaku saat aku masuk.
"Mita Mita, telfon pihak lapangan sekarang untuk siapin tempat rapat." Keenan keluar dari lift dengan tergesa dengan membawa Map.
"Honey kamu udah pulang?" Tanya Keenan yang langsung mencium keningku.
"Kamu kok basah gini? Kamu dari mana?" Tanya Keenan berusaha fokus padaku.
"Aku nggak papa. Kakak kayanya sibuk banget, jadi urusin kerjaan kakak dulu ya." Kataku menasehatinya.
"Oh ia, sayang aku harus pergi ke tepat proyek mungkin 3 hari disana. Udah nggak sempet lagi soalnya jadi nanti malem aku nggak pulang ya. Terus Mita bakal nginep disini buat urus berkas. Aku berangkat lagi ya." Keenan mengecup keningku lagi setelah bicara sangat cepat seperti di kejar rentenir.
"Ia hati hati ya. Jangan lupa kabarin kalau udah sampai." Kataku.
"Kamu nggak ikut ke kantor Mita?" Tanyaku pada Mita yang tetap di tempatnya.
"Saya di minta untuk membereskan berkas di ruang kerja pak Keenan Bu." Jelasnya masih sopan.
"Oh ia." Kataku memilih ke kamar.
Kalau aku melihat Mita sekretaris Keenan, rasanya seperti aku nggak berguna. Mita lebih mengenal rumah ini dan juga mba Ari di banding denganku. Lebih tau semua hidup Keenan dari jam 8 pagi sampai 5 sore di hari Senin sampai Jumat. Nggak seperti aku yang hanya tau dia via telfon. yang hanya bisa mengobrol langsung di malam hari.
Entah kenapa sekarang aku malah menyesal sudah memilih menikah dengan Keenan tanpa mengenalnya dengan baik lebih dulu.
.
.
.
.
.
.
.
To be continue!!
07.08.2020
Nadiapuma
Penyesalan itu datangnya di akhir. Kalo di awal itu namanya janji manis.