Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INTRIK DI BALIK TEMBOK ISTANA
Kapal Naga Geni membelah ombak dengan kemegahan yang tak tertandingi, namun bagi Tirta, kemewahan kabin kapal kerajaan ini terasa mencekik. Ia lebih terbiasa dengan bau tanah basah dan asap kayu bakar daripada bau wangi kayu cendana dan tirai sutra yang melambai ditiup angin laut. Di sampingnya, Mayangsari telah berganti pakaian dengan kebaya sutra berwarna biru pucat yang diberikan oleh Dyandari. Ia nampak seperti seorang putri yang baru pulang dari pengasingan, namun matanya tetap waspada, tangannya tak pernah lepas dari bungkusan yang menyembunyikan Mustika Samudra.
"Kita akan memasuki muara sungai dalam satu jam," Dyandari masuk ke kabin tanpa mengetuk, zirah emasnya kini telah dilepas, digantikan oleh pakaian perwira yang lebih santai namun tetap berwibawa. "Ibukota Pajajaran bukan tempat yang ramah bagi mereka yang membawa harta sebesar itu, Tirta. Di sana, senyum pejabat bisa lebih tajam daripada parang bajak laut."
Tirta berdiri, membetulkan letak Sasmita Dwipa yang kini ia bungkus dengan kain beludru hitam agar tidak menarik perhatian. "Kami hanya ingin mengantarkan mustika ini ke tangan yang benar, Gusti Ayu. Kami tidak punya urusan dengan kursi kekuasaan."
Dyandari tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti denting logam yang halus. "Masalahnya, mustika itu adalah kekuasaan. Siapa pun yang memegangnya bisa mengontrol perdagangan laut dan irigasi di seluruh wilayah selatan. Kau pikir Raja dan para menterinya akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah melihatnya?"
Tirta terdiam. Ia menatap Dimas dan Sekar Wangi yang duduk di pojok kabin. Dimas nampak sibuk mengagumi hiasan emas di dinding kapal, sementara Sekar sedang asyik menajamkan pisau kecilnya, seolah bersiap jika penyambutan di istana berubah menjadi jebakan.
Saat kapal merapat di pelabuhan utama kerajaan, pemandangan yang menyambut mereka sangat luar biasa. Tembok-tembok kota terbuat dari batu putih yang kokoh, dengan menara-menara pengawas yang dijaga oleh pemanah-pemanah handal. Ribuan rakyat berkumpul di dermaga, bersorak melihat kapal panglima kebanggaan mereka kembali. Namun, di antara kerumunan itu, terdapat barisan prajurit elit berbaju zirah perak yang berdiri kaku—Pasukan Bhayangkara Istana.
Di depan pasukan itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan kumis tipis dan mata yang sipit penuh perhitungan. Ia mengenakan jubah kebesaran menteri dengan bordir benang perak.
"Itu Mangkubumi Wiradipa," bisik Dyandari pada Tirta saat mereka menuruni tangga kapal. "Dia adalah tangan kanan Raja, tapi hatinya sedingin salju di puncak gunung. Hati-hati dengan bicaramu."
Wiradipa melangkah maju, membungkuk sedikit namun tatapannya tetap tertuju pada bungkusan di tangan Mayangsari. "Selamat datang kembali, Panglima Dyandari. Kami telah mendengar kabar tentang keberhasilanmu menyelamatkan... aset berharga ini dari tangan pemberontak."
"Mereka bukan aset, Paman Wiradipa. Mereka adalah pahlawan yang merebut kembali Mustika Samudra dengan darah mereka sendiri," sahut Dyandari tegas.
Wiradipa tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak mencapai matanya. "Tentu saja. Mari, sang Raja sudah menunggu di Balairung Utama. Beliau ingin mendengar langsung kisah kepahlawanan pemuda... siapa namamu? Tirta?"
Tirta hanya mengangguk singkat. Ia merasakan hawa dingin yang berasal dari Wiradipa—bukan hawa murni pendekar, melainkan hawa licik seorang politikus.
Perjalanan menuju istana melewati pasar-pasar besar dan kuil-kuil megah. Rakyat berbisik-bisik saat melihat Tirta yang berjalan dengan langkah tegap, dikawal ketat oleh pasukan kerajaan. Namun, saat mereka memasuki gerbang utama istana, suasana mendadak sunyi.
Balairung Utama adalah sebuah ruangan raksasa dengan pilar-pilar kayu jati yang diukir dengan kisah para dewa. Di ujung ruangan, di atas singgasana emas, duduk seorang pria dengan wajah yang memancarkan kewibawaan luar biasa—Prabu Jayawikrama.
Tirta, Mayang, Dimas, dan Sekar berlutut sesuai instruksi Dyandari.
"Bangunlah, Pendekar," suara Raja terdengar berat namun tenang. "Di ruangan ini, keberanian lebih dihargai daripada protokol. Dyandari telah menceritakan semuanya. Kau adalah murid dari Mpu Sengkala dan putra dari Baskara."
Tirta mendongak. "Benar, Gusti Prabu."
"Mustika itu..." Prabu Jayawikrama menunjuk bungkusan di tangan Mayang. "Banyak orang di kerajaan ini yang rela membunuh demi memilikinya. Mereka bilang, mustika itu bisa menjamin kemakmuran Pajajaran selama tujuh turunan. Tapi aku melihat beban di matamu, Tirta. Apa yang ingin kau lakukan dengan benda itu?"
Sebelum Tirta bisa menjawab, Mangkubumi Wiradipa menyela.
"Gusti Prabu, sesuai hukum kuno, benda apa pun yang ditemukan di wilayah perairan kerajaan yang bisa mengancam keamanan nasional, harus diserahkan sepenuhnya ke perbendaharaan istana untuk dijaga oleh para rahib kerajaan."
"Hukum kuno itu dibuat untuk benda mati, Mangkubumi," Sekar Wangi tiba-tiba angkat bicara, suaranya lantang hingga membuat para menteri terkesiap. "Mustika ini hidup. Ia terikat dengan darah Mayangsari. Jika kalian mengambilnya secara paksa, kalian hanya akan mendapatkan sebongkah batu yang tak berguna."
Ruangan itu menjadi tegang. Para prajurit Bhayangkara mempererat pegangan pada tombak mereka. Wiradipa menatap tajam ke arah Sekar. "Beraninya seorang gadis hutan bicara tentang hukum di depan Raja!"
"Cukup!" Prabu Jayawikrama mengangkat tangannya. "Tirta, aku memberimu waktu tiga hari. Tinggallah di paviliun tamu istana. Dalam tiga hari itu, aku ingin kau membuktikan bahwa mustika itu lebih aman berada di tanganmu daripada di tangan kerajaanku. Jika kau gagal meyakinkanku, aku terpaksa mengikuti saran Mangkubumi demi keselamatan rakyatku."
Tirta mengangguk. "Tiga hari sudah cukup, Gusti Prabu."
Malam harinya, di paviliun tamu yang mewah, Tirta berdiri di balkon, menatap lampu-lampu istana. Ia merasa lebih terancam di sini daripada saat di Benteng Karang Bolong. Di benteng, musuhnya terlihat jelas. Di sini, musuhnya bersembunyi di balik senyum dan aturan.
Pintu paviliun diketuk pelan. Dyandari masuk dengan wajah yang nampak cemas.
"Tirta, kau harus waspada," bisik Dyandari. "Wiradipa tidak akan menunggu tiga hari. Aku baru saja mendapat informasi bahwa ia telah memanggil beberapa pendekar bayaran dari sekte rahasia untuk menyusup ke paviliun ini malam ini. Ia ingin mencuri mustika itu dan menyalahkan 'penyusup' agar kalian kehilangan kepercayaan Raja."
Tirta menghela napas, ia menarik kain penutup pedangnya. Cahaya perak Sasmita Dwipa terpantul di matanya. "Jadi, mereka ingin bermain di kegelapan? Baiklah. Dimas, Sekar, siapkan diri kalian. Mayang, tetaplah di belakangku."
"Gusti Ayu," Tirta menatap Dyandari. "Jika terjadi sesuatu malam ini, aku butuh kau menjadi saksi di depan Prabu. Bahwa musuh yang sebenarnya tidak selalu datang dari luar tembok istana."
Dyandari mengangguk mantap. "Aku akan berada di bayang-bayang. Semoga cahaya Sinar Gadhing-mu tidak redup di sini, Tirta."
Malam semakin larut, dan kabut istana mulai turun. Di balik kemegahan tembok putih itu, sebuah tarian kematian baru saja akan dimulai. Bukan melawan monster atau bajak laut, melainkan melawan pengkhianatan yang berakar di jantung kekuasaan.